Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Sekali lagi



Malam semakin larut, hawa dingin kian menusuk pori-pori kulit. Tamparan angin malam semakin tak nyaman terasa, berkendara lumayan jauh untuk menjemput Endi. Sedikit kantuk Keyan datang mendera, beberapa kali laki-laki ini mengerjapkan matanya agar lebih terang melihat.


Hati Keyan lega ketika melihat gerbang rumahnya, penjaga pos sigap memencet tombol pagar. Mobil Keyan terhenti di halaman, ia segera mematikan mesin mobil dan membantu Endi keluar dari sana.


"Selamat malam Tuan, apa yang bisa saya bantu?" Bi Noni kepala asisten masih bangun menunggu sang pemilik rumah pulang.


"Bi, siapkan kamar tamu." Keyan bersusah payah memapah Endi untuk melangkah. Rasanya ia sudah tidak sabar menanggalkan pakaiannya agar terbebas dari aroma alkohol.


"Sudah Tuan ! Tadi Nyonya meminta saya menyiapkannya, segala keperluan Tuan Endi sudah di dalam."


"Terimakasih. Panggilkan asisten rumah laki-laki untuk membantunya bersih-bersih, jangan ada wanita yang masuk ! Dia mabuk berat." Keyan menjatuhkan tubuh Endi di atas sofa. Ia menepuk bahunya yang terasa kebas.


Sementara itu, Bi Noni memanggil salah satu asisten rumah laki-laki. Di rumah Keyan tidak hanya wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangganya, namun ada juga laki-laki yang bisa mengurus pekerjaan di luar rumah.


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Pak, Tolong bantu dia bersih-bersih. Lepaskan pakaian luarnya saja setelah itu seka tubuhnya pakai air hangat biar aroma alkoholnya hilang. Saya mau ganti baju dulu."


"Baik, Tuan." Jawab pria paruh baya itu sambil memulai tugasnya.


Bi Noni datang membawa baskom kecil untuk menyeka tubuh Endi. Ia mematuhi perintah Keyan hanya menunggu di luar kamar.


...----------------...


Matahari kembali bersinar di ufuk timur, tanpa lelah selalu memberi penerangan pada makhluk penghuni bumi. Teriknya begitu hangat dan menyilaukan mata, tanpa ijin ia menyusupkan dirinya melalui ventilasi udara. 


Di kamar tamu kelopak mata Endi perlahan terbuka, kepalanya masih sedikit terasa pusing. Tubuhnya juga terasa pegal, netra nya bergulir memindai isi dalam ruangan yang telah ditempatinya saat ini.


Endi berusaha bangun dari posisinya yang tengkurap, laki-laki ini memperhatikan bagian tubuhnya yang sudah berganti baju. Perlahan kesadarannya terkumpul. Endi menyadari jika saat ini, ia berada di kediaman Keyan Ganendra.


Laki-laki ini menjatuhkan tubuhnya kembali dengan posisi duduk. Tangannya terangkat mengusap wajahnya lalu merambat mengacak-acak rambutnya sendiri. Masih terasa denyutan pening di kepalanya.


Segaris senyum tertarik di bibirnya. Tepatnya, senyum penuh kekecewaan pada dirinya sendiri. Hanya karena wanita, ia melakukan hal konyol dengan menyakiti tubuhnya sendiri. Seolah esok hari telah kiamat.


"Bodoh ! Bodoh ! Bodoh !"


Umpat Endi pada dirinya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya lagi dan menarik selimut hingga ke atas kepalanya.


"Jangan memaki diri sendiri. Pelampiasan itu wajar, tapi jangan menyusahkan diri sendiri dan menimbulkan masalah untuk orang lain."


"Key, kamu mengejutkanku !" Endi menghela nafas panjang. Dadanya berdegup kencang karena terkejut, ia menurunkan kakinya ke lantai dan duduk di sisi kasur. Tangannya terangkat menekan pangkal keningnya yang berdenyut.


"Masih pusing ?" Keyan melangkah menghampiri asistennya itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di sisi Endi. "Aku tahu kamu ditolak. Harusnya jangan pergi ke sana, tapi datang ke sini." Sambungnya lagi.


"Ternyata sakit."


"Memang sakit. Preman sekalipun akan merasakan sakit bila berurusan dengan hati. Jangan patah hanya karena satu kali penolakan. Berjuang lagi !" Keyan menepuk pundak Endi lalu membalik tubuhnya untuk keluar dari kamar tamu itu.


Endi tersenyum tipis. Mungkinkah ? Ia buru-buru. Hatinya kembali bersemangat setelah mendapat dukungan dari atasannya itu. Ya, jangan hanya gagal sekali membuatnya mundur begitu saja. Ini adalah tantangan dan dia harus mengalahkan tantangan itu.


Laki-laki jangkung ini gegas ke kamar mandi. Senandung kecil terdengar merdu mengawali pagi harinya yang sempat suram. Endi tersenyum tanpa henti di bawah guyuran air shower. Ia berharap hati yang kemarin tersayat kembali sembuh hari ini. Meskipun masih tersisa nyeri di bagian dalam tubuh bernama hati.


"Pagi Valo !" Endi menyapa dengan seutas senyum di bibirnya. Guratan wajah laki-laki ini lebih baik dari sebelumnya. Ada semangat dan juga tegas tercetak di sana.


"Pagi, En !" Valonia menoleh dan tersenyum. Wanita hamil ini tengah mengisi piring untuk suaminya. "Apa kabar hatimu?" Tanyanya lagi setelah laki-laki itu mendaratkan tubuhnya di kursi


"Hatiku, tidak baik-baik saja. Tapi aku akan berusaha tetap baik, biar lukanya cepat sembuh dan berjuang sekali lagi."


"Semoga berhasil." Valonia memberikan piring kosong untuk Endi agar mengisinya sendiri.


"Apa jadwal hari ini ? Apa Anggun sudah memberitahumu?" Keyan bertanya sambil menyeka mulutnya dengan tissue. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya.


"Hari ini, ada klien ingin bertemu." Endi menyahut kemudian meraih gelas air putih di sisi kanannya. "Dia Yenika, perancang berbakat. Sudah banyak pengusaha yang memakai jasanya." Sambungnya menjelaskan.


"Kenapa dia ingin bertemu ?"


"Aku dengar dari Anggun, dia ingin bergabung dengan JFB."


"Sampaikan pada Anggun. JFB tidak menerima kerja sama untuk bagian perancangan." Laki-laki ini nampak tegas mengambil keputusan. Selama JFB berdiri, Keyan memang menolak kerja sama dalam perancangan.


"Baiklah."


"Kenapa tidak menerimanya?" Seru Valonia Jasmine ikut menimpali pembicaraan dua laki-laki itu.


"Karena itu bagian ku sayang, aku tidak ingin mencampurkan rancangan ku pada orang lain. Karena ada sentuhan khusus di dalamnya." Jelas Keyan sambil tersenyum.