
Pergerakan waktu semakin membawa mereka ke acara puncak. Yaitu peluncuran produk baru JFB. Sementara para tamu undangan juga penasaran dengan apa yang akan ditampilkan oleh JFB malam ini. Keyan berpamitan sopan pada tamu istimewanya, Zevin Kavindra. Untuk memulai acara peluncuran produk baru. Di dalam aula sudah ditunjang berbagai teknologi canggih. Hingga para tamu bisa melihat dari tempatnya duduk.
"Malam ini kami akan meluncurkan produk baru yang bernama Baby Jasminum." Keyan memencet tombol remote di tangannya.
Munculah bermacam perhiasan dilayar proyektor. Satu persatu perhiasan itu ditampilkan dari berbagai sudutnya. Seiring itu pula gumaman para tamu dan juga jurnalis tak enak didengar. Sebab, mereka juga tahu dua jam lalu. Yenika meluncurkan produk terbaru yang sama persis.
Dalam hitungan detik laman komentar akun resmi JFB dan Jasmine Boutique mulai dimasuki komentar negatif. Di kursinya Zevin memicingkan matanya menelaah apa yang terjadi. Laki-laki ini mulai mempelajari masalah ini.
Sementara di kursi lain. Ayah Johan dan kedua istrinya mulai cemas dan tak menerima komentar yang terdengar di gendang telinga mereka. Namun di sana nampak berbeda, Keyan dan Endi terlihat tenang dengan senyum tipis di bibir mereka.
"Tuan, Keyan Ganendra. Anda menjiplak karya saya !"
Suara lantang dari seorang wanita terdengar nyaring di dalam gedung aula. Semua kamera tiba-tiba terfokus padanya. Para awak media tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Blitz kamera memancar putih mengambil gambar seorang wanita yang melangkah mendekat ke catwalk sambil memegang mikrofon.
"Selamat datang Nona Yenika. Terimakasih sudah menghadiri undangan kami. Silahkan duduk." Keyan tersenyum ramah dan mengarahkan tangannya ke kursi tamu.
"Terimakasih, Tuan ! Saya meluncurkan produk baru juga malam ini. Tapi kenapa sama persis ?" Sudut bibir Yenika terangkat. Dengan hati yang bahagia karena melontarkan pertanyaan yang bisa memojokkan CEO JFB itu. Tanpa basa basi wanita cantik ini langsung melakukan penyerangan.
"Benarkah ?!" Keyan kembali memencet tombol remote dan menampilkan karya-karya barunya. "Ini hasil rancangan saya sendiri. Anda juga bisa melihatnya. Jadi, dimana letak sama persisnya?" Tanyanya dengan raut wajah yang menenangkan seolah masalah itu bukan masalah besar.
"Boleh saya minta waktu. Tolong putar ini." Yenika memberikan flashdisk yang telah dipersiapkannya. "Di dalamnya adalah rancangan terbaru saya. Kalian semua yang telah menghadiri acara malam ini bisa melihatnya. Dua jam lalu saya lebih dulu meluncurkannya. Itu artinya JFB menjiplak milik saya." ucapnya tersenyum. "Dan saya bisa menuntut JFB atas masalah ini." Lanjut Yenika dengan tatapan serius.
Atas ijin Keyan. Seorang pengawal mengambil flashdisk itu dan membawanya ke podium untuk memperlihatkan isinya. Gumaman tipis dari orang-orang mulai memenuhi aula.
Sementara Yenika tersenyum puas, dendam yang dimilikinya pada kelurga Ganendra terbalas malam ini. Ya, wanita ini mendendam atas masa lalu ayahnya. Ia tak terima saham sang ayah di ambil alih oleh Ayah Johan kala itu. Padahal jika dilihat lagi memang kesalahan itu adalah ayahnya yang memulai dengan mencurangi ayah Johan. Yenika datang untuk membalas semua itu melalui Keyan yang sama profesi dengannya.
"Kalian semua bisa melihat ini adalah karya Nona Yenika." Endi mengambil alih mikrofon.
Keyan meninggalkan podium dan mendaratkan tubuhnya di sisi Valonia Jasmine. Laki-laki ini tersenyum pada Zevin yang melihat ke arahnya.
"Bukan begitu, saya hanya menjalankan rencana untuk peluncuran produk baru JFB. Tapi siapa sangka ada hal semacam ini. Tapi nikmati saja acaranya siapa tahu bisa menghilangkan penat." Keyan membalas senyuman Zevin dengan lebar. Aura laki-laki ini mulai terlihat gila.
"Saya menunggu ledakan acaranya, Tuan." Sahut Dias menoleh pada Keyan.
"Kamu pikir bom ?!" Seru pria dingin dan wajah sedatar layar LCD. Erik menyahut tanpa menoleh, tatapannya lurus ke arah podium.
"Sayang, tersenyum sedikit kalau bicara." Maura menyentuh lengan suaminya itu dan tersenyum.
"Senyumku hanya untukmu." Erik menoleh dengan tatapan binar cinta pada istrinya. Bibirnya melengkung indah tersenyum.
Maura tersenyum malu. Perkataan Erik memang selalu menggelitik hatinya hingga menciptakan bunga-bunga bahagia.
"Kalian bisa melihat, 'kan? Rancangan ini sama persis."
Suara Yenika menarik kembali perhatian Keyan dan yang lain ke arah podium. Di sana menayangkan dua produk yang sama, milik Yenika dan juga JFB
"Benar sekali, sangat mirip. Apakah ? JFB menjiplak karya Nona Yenika. Mengingat peluncuran ini telah dilakukan lebih dulu oleh Nona Yenika?" Perang pendapat mulai terdengar diantara awak media.
"Sesuai perkataan saya tadi. Saya sebagai pemilik rancangan ini akan menuntut JFB karena menjiplak karya saya." Yenika kembali bicara dengan raut wajah serius.
"Anda terlalu buru-buru, Nona !" Endi angkat bicara setelah gumaman orang-orang menyurut. Ia juga masih membiarkan kolom komentar diserang dengan hujatan.
"Tentu, karena saya tidak akan membiarkan plagiat berjaya di atas perjuangan seseorang." Sahut Yenika lantang penuh keyakinan.
"Saya setuju." Endi melayangkan tatapan tegasnya. "Sekarang saya ingin memberikan waktu untuk teman-teman media bertanya pada Nona Yenika. Apa saja yang menginspirasinya hingga terciptanya rancangan ini ?" Tekannya penuh tuntutan.
Yenika mengepalkan tangannya. Ia tak sempat memikirkan nama dan segala hal tentang rancangan itu. Yang ia ingin hanya meluncurkannya lebih dulu dari JFB. Wanita ini semakin gugup karena tidak bisa menjawab pertanyaan para jurnalis.