
Dua Tahun Kemudian...
Valonia Jasmine, memulai harinya dengan mengurus pendidikannya di perguruan tinggi. Gadis itu kembali seperti semula. Bicara hanya seperlunya. Tanpa orang tahu, waktu itu ia masih mengantarkan kepergian Keyan di bandara. Valonia pergi bersama Varen untuk melihat Keyan di sana.
Apakah dirinya sedih ?
Apakah dirinya merasa kehilangan ?
Hanya Valonia yang tahu jawaban itu. Rara berusaha mengorek isi hatinya, tapi jawaban Valonia tetap sama. Semuanya akan baik-baik saja.
Selain memulai harinya sebagai mahasiswa, Valonia juga disibukan dengan kegiatannya di butik. Gadis itu benar-benar bertekad mengembangkan butik Mama Merry. Renovasi sedikit demi sedikit sudah membuahkan hasil.
"Val, istirahatlah !" Varen menarik lembaran kertas di depan Valonia. Ia menyimpannya di laci. "Jangan seperti ini..." Sambungnya lagi. Varen melewati butik Valonia saat pulang dari kafe nya. Lampu lantai dua masih menyala itu tandanya jika sepupunya itu belum pulang.
Valonia melepaskan pensil di tangannya, ia menyandarkan tubuhnya kursi. "Ren, apa dia akan membenciku selamanya. Aku tahu keputusanku itu sangat menyakitinya." Rupanya Valonia masih terpikirkan tentang penolakannya pada Keyan dua tahun lalu. Meski pun sudah lama tapi masih terpatri di ingatannya .
"Aku tahu, setiap keputusan yang kamu ambil sudah terpikirkan dengan matang." Varen menepuk pundak Valonia. "Ayo pulang, sudah malam." Ajaknya sambil menutup tirai jendela.
"Ya, kamu benar. Aku tidak pernah menyesali keputusanku. Apa yang aku ucapkan ada alasan kuat di baliknya. Biarkan Keyan beranggapan dengan hasil pikirannya sendiri. Aku hanya berharap dia bisa bahagia disana." Valonia berdiri meraih tasnya dan tersenyum pada Varen.
...----------------...
Di belahan bumi yang lain, Keyan dan Alvan menempati apartemen yang sama. Sementara Tita, menempati unit yang tidak jauh dari mereka.
Alvan mengeringkan rambutnya kemudian duduk di sofa. "Key, kamu merindukan Valonia?" Iseng pertanyaan itu ia lontarkan. Karena sudah dua tahun ini. Keyan diam-diam sering membuka kamera miliknya.
Keyan menatap dingin pada Alvan. "Jangan menyebut namanya. Aku membencinya !" Ucapnya datar dan penuh penekanan.
Alvan mengangguk. "Jangan terlalu benci, kamu tidak tahu alasan apa hingga dia menolakmu."
Keyan tertawa kesal. "Alasannya adalah dia tidak bisa menerimaku apa adanya, karena aku tidak memiliki apa-apa setelah hak istimewaku dicabut !"
Alvan tidak membalas, ia pun malah berpikiran sama. Apa Valonia malu jika memiliki kekasih yang tidak memiliki apa-apa? Dia yang dulu sempat mengagumi, perlahan rasa itu terkikis.
Keyan masuk kedalam kamarnya, ia merenung sendiri di dalam sana. Kenapa, Valonia tega menolaknya ? Mengingat penolakan itu rasa bencinya berkoar kembali. Meski sudah dua tahun berlalu, tapi rasanya baru kemarin ia mengalaminya.
Di dalam memorinya masih tersimpan foto dan vidio Valonia. Keyan melihatnya satu persatu. Wajah yang cantik, senyum yang tulus milik Valonia.
"Jadi perhatian dan sikapmu dua tahun lalu. Hanya menyenangkanku saja. Tidak membekas sedikit pun di hatimu. Aku membencimu Jasmine ! Aku sangat membencimu. Akan kubuktikan bukan hanya kamu wanita, satu-satunya yang bisa membuatku jatuh cinta." Tangan Keyan tergerak menghapus seluruh foto dan vidio Valonia.
Rasa rindu bercampur kecewa, menjadikannya sebuah emosi. Rasa cinta dan benci saling berlomba mengunggulkan dirinya. Cinta yang Keyan miliki belum pudar hingga dua tahun ini. Tapi rasa bencinya juga tak kalah kuatnya.
Saat tenggelam dengan dunianya sendiri, ponsel milik Keyan bergetar di atas meja. Ia melihatnya sebentar kemudian meraihnya.
"Iya Ta. Ada apa?"
"Key, temani aku keluar sebentar. Aku ada keperluan untuk tugas di kampus."
"Baiklah." Keyan memutuskan sambungan telpon. Netranya tertuju pada kamera di atas kasur. Tidak ada lagi jejak Valonia Jasmine yang tertinggal di sana.
...----------------...
Percikan hujan memantul di kaca jendela kamar Valonia Jasmine, gadis itu menatap jauh pekatnya malam. Matanya tak mampu menerobos kegelapan. Ada remang lampu jalanan memberikan sedikit cahaya di dalam derasnya hujan. Valonia berpangku tangan, berdiri bersandar di tembok. Berpikir menata masa depan yang baik.
"Valo, kamu belum tidur. Nak." Mama Merry. Masuk ke dalam kamar Valonia.
"Iya Ma, belum mengantuk." Valonia menoleh dan berpindah duduk di kasur.
"Jangan terlalu larut. Tubuhmu juga butuh istirahat. Begini, Nak. Beberapa Minggu lagi Mama dan Papa akan pulang ke kampung Nenek. Sepertinya akan menetap di sana. Apa kamu mau ikut ?" Mama Merry mengurai rambut panjang putrinya dengan jari-jarinya.
"Ma, aku sudah nyaman di sini. Butik kita juga di sini. Aku tidak bisa meninggalkannya, usahaku dua tahun ini sudah mulai terlihat. Sayang jika ditinggalkan." Valonia meraih telapak tangan Mama Merry dan mengenggamnya.
Mama Merry terlihat sedih. "Lalu apa rencanamu ?" Ia tidak tega jika meninggal putri semata wayang sendirian di kota ini.
"Aku akan tetap tinggal di sini. Masih ada Mami Dilla dan Varen. Aku juga bisa pulang ke sana jika liburan semester. Tapi maaf aku tidak bisa mengantar Mama dan Papa untuk ke kampung Nenek." Valoni memberi senyum tulus meyakinkan.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Mama menyetujui ini semua karena ada Mami Dilla dan juga Varen." Mama Merry mau tidak mau menyetujui keputusan Valonia.
Malam semakin larut, perbincangan ibu dan anak itu semakin seru. Mama Merry bercerita bagaimana jatuh bangunnya untuk memulai usaha butiknya, banyak dapat penolakan dan kritikan hasil rancangannya. Ada yang tidak puas. Tapi Mama Merry jadikan pemicu semangat agar terus belajar dan belajar. Mendengar cerita dari ibunya Valonia juga harus bekerja keras. Butik itu adalah usaha satu-satunya. Mama Merry memutuskan tidur di kamar Valonia Jasmine.