Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Rasa Penasaran



Waktu terus berputar, matahari telah naik separuh. Hingga tanpa terasa bel pulang telah berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelasnya masing-masing. Termasuk Valonia Jasmine dan kawan-kawan.


"Val, sore nanti aku ke rumah kamu ya." Rara berhenti tepat di sebelah motor  Varen sebelum menaiki sepeda motornya sendiri.


"Iya, aku tunggu. Hati-hati di jalan." Valonia menaikan tubuhnya di atas motor besar milik Varen.


"Kalian juga." Rara meninggalkan parkiran sekolah lebih dulu.


Seperti biasanya Valonia akan pulang dan pergi sekolah bersama Varen. Karena rumah mereka  berdekatan hingga para ibu mereka meminta keduanya berangkat bersama. Varen tidak keberatan, ia sangat senang membonceng gadis cantik itu.


"Val, kita mampir ke kafe dulu ya." Teriak Varen sambil memacu gas motornya. Dia selalu ada kegiatan untuk mengisi waktunya sepulang sekolah.


"Iya, cuma satu jam. Nanti mama mencari kita."Valonia mendekatkan sedikit kepalanya pada telinga Varen agar laki-laki ini mendengar suaranya.


Motor Varen melaju dengan santai. Sudut bibirnya terangkat saat melihat rambut indah Valonia berterbangan di tiup angin. Wajah Valonia sangat manis di dalam helm bewarna putih itu.


"Kita sampai."Varen mematikan motor dan memarkirkannya dengan baik. Ia juga melepaskan kancing helm yang di kenakan Valonia.


"Kamu kerja ?"Valonia merapikan rambutnya sambil mengimbangi langkah Varen.


"Ya, hanya sebentar. Ayo masuk !" Varen menarik tangan Valonia agar masuk bersamanya. Ia pun ikut mengurai rambut Valonia yang terlihat berhamburan.


Di dalam kafe, pemiliknya sudah menunggu. Varen ikut menanam saham di kafe itu. Layaknya anak muda, Varen memang tergolong anak berjiwa bebas, kerap kali mendapat pandangan negatif dari orang-orang. Selain memiliki saham di situ, Varen juga anak band yang manggung di kafe ini.


"Valo... Kamu di sini?" Sapa seseorang dan tanpa ijin mereka duduk bergabung. Salah satu dari mereka memberikan senyuman manisnya dan satunya lagi memberikan tatapan menyelidiki.


"Ha ? Iya." Jawab Valonia canggung.


Kenapa dua laki-laki populer ini ada di sini ? Satu meja dengannya.


Mereka adalah Alvan dan Keyan. Mereka  tak sengaja melihat Valonia duduk bersama pemilik kafe itu. Tanpa canggung Alvan dan Keyan duduk bergabung di sana.


"Kamu bersama siapa kesini?" Alvan merasa heran. Bagaimana seorang Valonia Jasmine, bisa nongkrong di kafe duduk bersama pemiliknya.


"Varen." Valonia  menjawab pendek tanpa melihat lawan bicaranya. Netranya tertuju pada sosok laki-laki yang terlihat sibuk.


"Varen?" Ulang Alvan dibalas anggukan Valonia. Dia mulai berpikir apa hubungan Varen dan Valonia ? Apa mereka sepasang kekasih ?


Keyan hanya diam memperhatikan interaksi sahabatnya dan gadis pendiam itu. Matanya mengikuti arah pandang Valonia yang melihat pada Varen.


"Permisi, ini jus untuk mu dipesan oleh Varen." Seorang waiters menaruh gelas di atas meja.


"Terimakasih."Valonia melihat ke arah waiters itu dan tersenyum ramah.


Manis...


Keyan tersenyum tipis.


Pertama kalinya, ia duduk berhadapan dengan Valonia Jasmine. Dia dapat melihat kecantikan yang dimiliki oleh Valonia. Sangat natural, tapi kenapa gadis ini seperti tidak menunjukan pancaran kagumnya? Seperti gadis-gadis lain jika berhadapan dengan Keyan. Selalu menatap penuh damba dan memuja.


Cukup lama menunggu sambil meminum jus, Valonia lega akhirnya pekerjaan Varen selesai. Dari jauh laki-laki itu tersenyum kemudian turun dan melangkah mendekati Valonia. Ia baru saja selesai mengecek alat musik di sana karena malam ini tidak ada manggung.


"Iya, Ayo !" Valonia berdiri dari tempatnya duduk. Menyambut tangan Varen dan membiarkan laki-laki ini menggenggam jemarinya.


"Bang, kami pulang dulu ya." Pamit Varen pada pemilik kafe.


"Oke, hati-hati di jalan ! Besok malam jangan sampai telat ya." Levin nama pemilik kafe itu.


Tanpa basa basi pada Alvan dan Keyan. Varen menggandeng tangan Valonia keluar dari kafe. Alvan menatap penuh tanda tanya, kenapa laki-laki urakan seperti Varen bisa dekat dengan gadis pendiam itu?


"Mereka pacaran ?"


Pertanyaan Keyan dijawab dengan kebisuan Alvan. Dia pun juga bertanya tentang hal itu. Apa keistimewaan Varen sampa bisa menaklukan seorang Valonia Jasmine ? Semua orang tahu jika Varen menjalin hubungan dengan seorang gadis cantik di sekolah itu.


...----------------...


Hari bersambut sore, sesuai janjinya kini Rara sudah berada di rumah Valonia. Hari ini ia akan belajar bersama Valonia. Tidak melewati kesempatan Varen juga ikut bergabung. Meski terbilang nakal, tapi Varen masih unggul dalam pelajarannya. Ia bisa dikatakan pintar karena tidak pernah mengabaikan pelajarannya. Varen meloncat dari balkon kamarnya ke balkon kamar Valonia.


"Eh, kenapa tidak sopan?!" Pekik Rara kaget. Karena Varen berdiri di  pintu penghubung kamar dan balkon Valonia.


"Kelamaan." Varen membuka bukunya duduk di samping Valonia.


Rara dan Varen menyimak dengan baik penjelasan Valonia. Tidak ada candaan atau keusilan yang mereka lakukan. Siapa pun ingin lulus dengan nilai terbaik dan bisa masuk ke universitas impian tanpa kendala.


...----------------...


Keyan baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Lalu berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamarnya.


"Valonia Jasmine." Gumamnya pelan.


Nama Valonia tidak terlalu asing di telinga seorang Keyan. Pria tampan merupakan idola sekolah ini, selalu mendengar nama Valonia Jasmine diucapkan di pengeras suara. Apabila, ada acara tertentu dan olimpiade. Bahkan, dipengumuman peringkat umum sekolah. Saat ujian kenaikan kelas selalu nama Valonia Jasmine yang pertama diucapkan baru setelahnya menyusul nama pria urakan Varen Azka.


Keyan bisa dikatakan mengenal di nama, tapi dengan pemilik nama itu. Dirinya tidak pernah bertegur sapa atau bicara panjang lebar. Baru hari ini, ia berhadapan dengan seorang Valonia Jasmine. Cantik, putih  itulah tertangkap netranya saat melihat gadis pendiam itu.


Selama ini, Keyan tidak memperhatikan sekelilingnya. Baru tadi ia benar-benar memperhatikan wajah dan mendengar suara seorang Valonia. Selama ini ia tak acuh saja jika Alvan membahas gadis itu . Ia juga melihat betapa senangnya Alvan jika membicarakan Valonia Jasmine.


Keyan menjadi penasaran, setelah melihat reaksi Valonia yang tidak menunjukkan ketertarikan seperti gadis lainnya di sekolah itu. Valonia cukup tak acuh dan tenang saat mereka satu meja tadi siang.


Saat sibuk dengan pemikirannya, Ponsel Keyan bergetar di sisi bantalnya, ia meraihnya dan melihat nama pemanggilnya adalah Alvan.


"Ada apa, Al?" Keyan menjawab dengan nada malas. Ia juga mulai merasa ngantuk.


"Key, bukannya ? Varen kekasih Tita. Bagaimana Varen bisa dekat dengan calon kekasih ku itu?"


Keyan refleks duduk. "Siapa yang kamu maksud calon kekasih mu?" Selidiknya dengan memasang pendengaran yang tajam.


"Valonia Jasmine."


"Jangan macam-macam." Keyan tiba-tiba kesal.


Ia mematikan panggilan telpon kemudian berbaring kembali.