Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Pertemuan



Di salah satu resto ternama di kota itu, Ayah Johan mengajak anak dan calon menantunya makan siang. Tidak hanya Keyan dan Tita yang datang ada juga Pak Anton, Pak Andre dan Alvan. Mereka baru selesai membahas pekerjaan.


Sambil menunggu makanan diantar, mereka berbincang mengenai rencana pertunangan Keyan dan Tita. Kemarin laki-laki itu sudah membicarakannya pada kedua orang tuanya dan keluarga Tita.


Dua keluarga itu menyambut dengan suka cita.  Tapi, tidak untuk bunda Arini. Ada terselip sesal yang mendalam dalam hatinya. Jauh dalam lubuk hatinya. Ia ingin Keyan bahagia.


Apakah putranya itu bahagia bersama gadis yang akan jadi calon istrinya? Terlepas dari rasa yang berkecamuk itu. Bunda Arini bahagia jika memang putranya bahagia.


"Kapan, pertunangan anak-anak kalian dilaksanakan ?" Pak Andre bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Satu bulan lagi Ndre, mereka harus menyiapkannya dengan sempurna. Di pertunangan ini aku mengundang kolega kita. Mereka juga harus menyiapkan cincin dan baju." Jelas Ayah Johan. Guratan bahagia itu tercetak sangat jelas di wajahnya.


"Kalau ingin pesan baju, aku rekomendasikan di Jasmine Boutique saja." Usul pak Andre dengan yakin.


"Jasmine Boutique !" Sahut Alvan tiba-tiba ingat pada Valonia, saat mengikuti gadis itu. Ia sempat membaca nama butiknya.


"Kenapa, Al. Kamu  terkejut ? Apa kamu mengenal pemiliknya ? Dia gadis muda dan cantik. Tapi, sudah sukses dan mandiri. Hasilnya pun tidak mengecewakan." Jelas pak Andre tersenyum.


"Tidak apa-apa. Apa pakaian kerja Papa juga dari butik itu ?" Alvan bertanya penuh dengan rasa penasaran.


"Iya, baju Papa semua dari butik itu. Nanti kamu ke sana ya, pesan baju kerja di sana." Pak Andre menepuk pundak Alvan.


Ayah Johan diam menyimak, mendengar nama Jasmine Boutique. Ia teringat kembali dengan gadis lima tahun lalu yang bernama Valonia Jasmine. Mungkin hanya ujung namanya yang sama begitu pikirnya.


"Kalau tidak salah itu butik langganan Mama mu, Nak." Rupanya Pak Anton mengingat nama butik langganan sang istri.


"Benarkah ? Aku juga lihat gaun Mama bagus-bagus. Bagaimana, Key. Apa kita ke butik itu saja ?" Tita sangat antusias setelah mendengar jika butik yang direkomendasikan pak Andre juga butik langganan Mamanya.


"Terserah kamu, aku mengikuti saja." Keyan tersenyum hangat. Kemudian menoleh pada Ayahnya. " Bagaimana Yah ?" Ia meminta pendapat Ayah Johan


"Menurut Ayah, kalian diskusikan pada Bunda dan Tante Tania. Jika mereka setuju ayah juga mengikuti." Papar Ayah Johan.


"Mama pasti setuju, Om." Tita mengatakan begitu yakin


"Kalau begitu, Alvan ikut kalian saja ke butik itu. Jadi sekalian pesan baju kerjanya. Untuk sementara... kamu pakai baju yang ada saja dulu." Pak Andre memberi saran pada tiga anak muda itu.


"Iya, Pa." Alvan setuju. Ia masih menyimpan jutaan penasaran pada Valonia. Ia juga tidak berniat menceritakan pertemuan mnya dengan Valonia pada Keyan.


...----------------...


Para pejuang rupiah kembali bertebaran dengan profesinya masing-masing. Deru mesin kendaraan hilir - mudik sudah memadati badan jalanan. Semua sudah berada di posisinya masing-masing. Siap beraktivitas dengan tubuh segar.


Di Jasmine Boutique karyawannya mulai berdatangan. Mereka adalah karyawan pilihan yang memiliki bakat. Valonia sangat senang dengan kepiawaian karyawannya dalam melayani pelanggan. Terlebih, barang yang ada di dalam butik adalah hasil rancangan Valonia sendiri. Jadi hanya ada dua atau tiga model pakaian yang sama.


Hari ini Mia memajang beberapa rok panjang dengan model yang berbeda-beda. Mereka juga memajang sepatu wanita dan pria. Kemudian ada juga kebaya pengantin.


"Kak, Valo.  Tadi ada telpon dari keluarga Ganendra. Mereka akan berkunjung setelah jam makan siang. Mereka ingin bertemu kakak secara langsung. " Mia menyampaikan pesan dari Bunda Arini yang menelpon pagi-pagi sekali.


"Baiklah, tapi kenapa mereka ingin bertemu denganku ?" Valonia merasa tidak memiliki urusan pada keluarga itu.


"Katanya, putra mereka akan bertunangan. Jadi mereka ingin memesan gaun." Jelas Mia kembali.


Valonia mengangguk pelan, ia mulai memikirkan pola untuk gaun pertunangan yang cocok. Tapi, ia akan menunggu kedatangan tamunya itu lebih dulu. Setelahnya baru Valonia bisa memutuskan gaun seperti apa yang akan dibuatnya.


...----------------...


Di langit, matahari benar-benar terik. Hingga hari benar-benar terasa panas. Valonia masih mencoret-coret kertas di atas meja. Ia tiba-tiba ingin membuat satu pasang pakaian untuk anak laki-laki. Ia tersenyum membayangkan betapa lucunya jika anak laki-laki ini memakainya nanti.


"Kak, tamunya sudah datang." Mia memberitahukan jika tamu yang dimaksudnya tadi pagi sudah datang


"Bawa mereka langsung ke sini saja." Valonia merapikan meja kerjanya. Kemudian membersihkan tangan dengan tissue basah.


Mia kembali turun ke lantai bawah. Beberapa detik kemudian, ia masuk di ruangan Valonia dengan tiga orang di belakangnya.


"Silahkan masuk." Valonia tersenyum ramah pada tamunya. Gadis ini langsung melangkah ke arah sofa dan berdiri di sana.


Di ambang pintu, tiga orang itu bergeming sambil menatap tak percaya pada sosok yang tengah menyambut mereka dengan senyum manisnya.


"Valonia / Jasmine"


Mereka adalah Keyan, Alvan dan Tita. Hanya Alvan yang tidak terkejut. Karena memang dirinya sudah tahu. Tita melirik pada Keyan yang terlihat menatap datar pada Valonia Jasmine.


"Cari butik lain."


Keyan memutar tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu. Namun, tangan Tita mencegahnya.


Keyan kembali melihat ke arah Valonia Jasmine yang masih berdiri di samping sofa. Mungkin, ini kesempatan untuk mengatakan rencana pertunangannya pada Valonia begitu pikirnya.


"Silahkan duduk. Tuan, Nona."


Panggilan Valonia membuat Keyan dan Tita saling pandang dengan raut wajah terkejut. Berbeda dengan Alvan ia masih diam memperhatikan Valonia.


"Terimakasih, Valo." Balas Tita tersenyum canggung. Ia menarik baju Keyan dan Alvan untuk memberi isyarat jika mereka harus duduk.


Valonia melupakan wajah Alvan yang menolongnya malam itu. Hingga ia tidak membahasnya dipertemuan mereka ini.


"Silahkan diminum." Mia meletakkan minuman kaleng di atas meja.


"Tadi pagi, kami dapat telpon jika keluarga Ganendra akan berkunjung di butik kami. " Valonia duduk di sofa tunggal. Ia mengabaikan tatapan dingin dari Keyan dan tatapan bingung dari Alvan dan Tita. Bahkan sorot mata Valonia juga tidak kalah dinginnya.


"Iya benar, itu calon mertuaku. Kami ingin kamu membuatkan gaun pertunangan. Karena bulan depan kami akan mengadakan pertunangan." Jelas Tita atas tujuan mereka. Senyum di bibirnya tidak luntur sambil melirik pada Keyan.


"Kami ada beberapa koleksi gaun pertunangan. Jika anda ingin melihatnya dulu boleh... Siapa tahu ada yang cocok." Tawar Valonia melihat pada Tita. Sementara Keyan dan Alvan memilih diam.


"Benarkah ? kalau begitu aku akan melihatnya." Tita tersenyum senang. Lengannya selalu bergelayut di tangan Keyan. Menandakan jika laki-laki itu miliknya.


Valonia meminta Mia mengambil koleksi gaun pertunangan di lantai bawah. Tidak menunggu lama gadis itu datang membawa gaun yang di maksud. Netra Tita berbinar melihat gaun-gaun cantik itu.


"Sepertinya, aku akan ambil gaun yang telah jadi ini saja. Aku suka dengan modelnya. Tapi untuk laki-lakinya, apa kamu juga punya koleksi ?" Tita masih mengamati gaun yang ada di gantungan itu.


"Maaf, untuk laki-lakinya. Saya belum membuatnya." Lagi-lagi Valonia bicara formal.


"Kalau begitu pesan disini saja." Tita memutuskan untuk memesan di situ.


"Baiklah, jika kalian setuju. Jadi diantara mereka berdua yang mana Tuan Muda Ganendra?"


Pertanyaan Valonia membuat Keyan menegakkan tubuh nya. Begitu juga Tita yang menoleh pada Keyan dan Alvan bergantian.


Ada apa ini ?


Kenapa Valonia bersikap tidak mengenali mereka ?


"Permainan apa ini ?!"


Sinis Keyan menatap tajam pada Valonia. Ia sudah geram dengan sikap gadis itu. Namun, ia juga senang karena rencana pertunangannya dan Tita sudah terdengar oleh Valonia.


Valonia  terlihat bingung.


Permainan ?


Kenapa laki-laki ini tampak marah ?


"Permainan ? Saya tidak mengerti maksud anda Tuan ?" Valonia bertanya dengan raut wajah bingung.


Keyan bertepuk tangan dan berkata. "Wah ! Apa karena kejadian waktu itu. Kamu bersikap seperti ini ?! Sekarang sudah terlihat sifat asli mu Valonia Jasmine !"


Valonia tersenyum canggung. "Saya benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud anda ? Dan saya juga merasa ini pertemuan kita yang pertama. Jadi, saya tidak mengerti kejadian apa ?" Gadis ini merasa lucu dengan sikap Keyan marah-marah tak jelas.


"Valonia, apa yang terjadi ? Kenapa bersikap seolah tidak mengenal kami ? Dan malam itu juga kamu melakukan hal  yang sama. Kamu tidak mengenalku." Alvan bersuara setelah lama diam.


Keyan dan Tita menoleh bersamaan pada Alvan. "Kamu sudah bertemu dengannya ?" Keyan terkejut karena Alvan tidak bercerita apa pun.


"Iya, dia juga bersikap seperti ini." Lirih Alvan menatap lekat wajah Valonia yang diam. "Kamu sakit ?" Pertanyaan itu ia tujukan untuk Valonia. Ia bisa melihat lingkaran hitam di bawah mata gadis itu


Valonia mengangkat wajahnya menatap Alvan. "Saya sehat." Jawabnya pendek.


Keyan mengamati wajah Valonia. Benar yang dikatakan Alvan, gadis itu terlihat seperti orang lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya juga nampak meski ditutupi dengan bedak. Tubuhnya juga kurus.


"Kita cari butik lain. Entah permainan apa yang dimainkan gadis ini !"  Keyan meninggalkan ruangan Valonia lebih dulu.


Tita segera menyusul calon suaminya itu. Ia terpaksa menyetujui kehendak Keyan mencari butik lain. Ia juga merasa puas setelah melihat hubungan Keyan dan Valonia memburuk. Itu tandanya Valonia bukan ancaman lagi untuknya.


"Maafkan mereka." Alvan berdiri menghampiri Valonia yang melihat ke arahnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi ? kenapa kamu seperti ini ? Tapi , yang jelas kita saling mengenal. Aku datang kesini untuk memintamu membuatkan pakaian kerja untukku. Mungkin kamu mengenal Papaku. Pak Andre, beliau sering membeli pakaian kerja di sini." Jelas Alvan panjang lebar. Disertai senyum hangatnya.


"Jadi anda putra pak Andre. Di bawah ada koleksi pakaian kerja pria dengan beberapa model yang berbeda. Anda boleh mencobanya. Jika tidak cocok nanti kita akan ukur." Valonia membawa Alvan turun ke lantai bawah. Ia menggeser kaca tempat pajangan pakaian kerja pria.


Alvan memilihnya dengan teliti. Ayahnya benar, baju-baju itu terlihat bagus dan unik. Ia mengambil baju yang sudah jadi itu kemudian memberikannya pada Mia.