Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Patah lagi



Menunggu beberapa menit. Seseorang yang dimaksud Yenika. Menginjakkan kakinya di kantor keamanan itu, langkah kakinya memasuki ruangan interogasi memenuhi gendang telinga semua orang yang masih berdiri menatap Yenika dengan opini masing-masing.


"Sera."


Jantung Endi berdegup kencang. Manik matanya melebar ketika melihat sosok yang dia cintai berdiri dengan raut wajah kacau dan juga lusuh.


Ya, dia adalah Sera. Wanita itu datang dijemput oleh beberapa petugas wanita. Tampilannya kacau dan juga pucat, matanya bengkak seperti bekas menangis. Tatapannya sendu mengarah pada laki-laki yang menyebut namanya dengan lirih. Tanpa membalas, Sera langsung digiring masuk ke dalam ruangan interogasi.


"Apa maksudnya ini?" Valonia bersuara setelah sadar dari rasa terkejutnya. Kenapa karyawannya ada disini ? Wanita hamil itu semakin pusing seolah mengurai benang kusut yang belum menemukan ujungnya.


"Nyonya, dia adalah kaki tangan Yenika."


"APA ?!" Tubuh Valonia terhuyung. "Anda yakin?" Tanyanya tak percaya begitu saja. "Saya mengenalnya dengan baik." Sambung Valonia lagi.


"Kita dengarkan pengakuannya dulu." Keyan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. Meskipun tangannya merengkuh tubuh lemah Valonia. Namun, matanya mengarah pada asistennya itu.


Endi mengusap wajahnya kasar, hatinya sakit mengetahui fakta ini. Namun, ia tak ingin gegabah mempercayainya. Tidak hanya jantungnya yang berdebar, tulang belulangnya serasa lepas dari cupunya. Wanita yang masih terpatri di hatinya kini berada di dalam ruangan interogasi. Ada perasaan yang tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata.


Tatapan Endi sayu dengan rahang yang mengeras. Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Laki-laki ini berusaha kuat untuk meredam amarahnya, jika memang benar Sera terlibat dengan Yenika.


"Nona Sera, apa benar anda terlibat masalah ini dalam kata lain sebagai kaki tangan Nona Yenika ?"


"Iya." Angguk Sera lemah. "Saya terlibat." Sambungnya lagi.


Endi semakin naik pitam, kenapa orang yang dicintainya itu tega melakukannya ? Sakit ! Hatinya semakin terkoyak mendengar pengakuan itu.


Valonia menegakkan posisinya. Kakinya tiba-tiba kuat penopang tubuh beratnya. Wanita hamil ini menatap tajam pada gadis yang telah mengkhianatinya itu.


"Kenapa anda melakukan itu?"


"Karena dia sepupu saya." Sahut Yenika nyaring seolah sengaja memberitahukan status mereka. "Dia harus membalas budi atas kebaikan yang telah saya lalukan padanya." Sambung wanita itu lagi.


"Karena saya telah sudi mengadopsi anak haramnya itu. Dia hamil di luar nikah, ayah biologis putrinya tidak bertanggung jawab bahkan laki-laki itu pergi meninggalkannya dalam keadaan hamil."


"Cukup !" Bentak Sera. Buliran air matanya mengucur deras membasahi wajahnya. "Jangan sebut putriku anak haram." Mohon nya pada Yenika. "Ya, saya melakukan itu semua karena balas budi. Putri saya hidup berkecukupan dan memiliki status yang jelas dalam pengasuhannya. Maka dari itu saya membantunya mencuri rancangan milik JFB dari laptop milik Tuan Endi." Jelasnya singkat untuk mempercepat interogasi itu.


Endi dan Valonia sama-sama shock fakta baru yang mereka tidak ketahui terungkap hari ini. Selain pengakuan Sera tentang pencurian rancangan, fakta dia ibu satu anak sangat menjungkir balikan dunia Endi dan Valonia.


"Bisa anda jelaskan, bagaimana rancangan itu bisa anda curi ?"


"Waktu itu saya meminjam laptop Tuan Endi. Kesempatan itu yang saya gunakan untuk menyalin filenya. Selama ini saya sengaja menerima segala ajakannya untuk pergi bersama, terlebih saya tahu dia asisten tuan Keyan Ganendra." Manik mata Sera terarah pada laki-laki yang ia sebutkan namanya.


Endi merasakan tubuhnya dijatuhkan dari pinggiran tebing yang curam. Tubuhnya semakin terasa lemas karena goresan ranting-ranting. Nafas laki-laki ini memburu, temperatur emosinya naik drastis. Sakit hati dan kecewa melebur menjadi satu.


"Terimakasih karena sudah menjawab semua pertanyaan saya."


"Andai kamu tidak melakukan kesalahan. Mungkin kita tidak berada di sini. Harusnya kamu juga mengambil file keterangan rancangan itu. Kamu memang bodoh ! Pantas saja Yudi mencampakkan mu. Sudah miskin ! Tidak berguna lagi." Maki Yenika penuh amarah.


Sera menangis tak mampu menjawab. Apapun yang dikatakan Yenika memang benar adanya. Andai dia tidak bodoh, maka kehamilan di luar nikah itu tidak terjadi. Karena kemiskinan, ia tergoda bujuk rayu seorang mantan kekasih yang telah mencampakkannya. Pria itu berjanji akan menikah dengannya. Namun sayang, ayah biologis putrinya itu pindah mengikuti orang tuanya. Berjanji kembali tapi tak kunjung datang hingga Sera melahirkan.


Usai melakukan interogasi dan mendapatkan pengakuan dari Yenika dan Sera. Status mereka sudah berubah. Kini mereka kembali dibawa masuk ke dalam ruangan tahanan untuk menunggu masa sidang yang akan berlangsung sebelum vonis dijatuhkan.


"Kamu mengecewakanku !"


Semua terkesiap ketika telapak tangan Valonia mendarat di wajah Sera. Saking kerasnya tamparan wanita hamil itu, wajah Sera berpaling  kesamping. Tanpa perlawanan wanita itu merima begitu saja, ia tahu perlakuannya saat ini sangat menyakiti Valonia Jasmine. Yang telah baik padanya dan yang menganggapnya ada setelah keluarganya mengabaikannya begitu saja.


Endi mendekat, cinta yang dulu tumbuh mekar di hatinya tercabut tanpa paksaan hingga ke akar-akarnya. Manik mata yang penuh binar cinta ketika menatap wajah Sera berubah datar dan dingin. Cinta itu musnah hanya tersisa kebencian dan juga kekecewaan.


"Harusnya, kamu katakan jika tidak suka dengan keberadaan ku di dekatmu. Harusnya, kamu menolak ketika aku dengan tidak tahu malunya mengajakmu menghabiskan waktu bersama meskipun Valonia memintanya. Harusnya, kamu tidak memberikanku harapan jika sebenarnya kesempatan itu tidak ada. Maka aku tidak merasakan sakitnya lebih dalam. Mungkin, aku bisa menyembuhkan luka yang kamu berikan ketika menolak perasaanku. Namun, aku tidak bisa menyembuhkan kecewa yang kamu torehkan saat mencuri rancangan itu dariku. Terimakasih karena sudi memberikan waktu untukku lebih dekat denganmu meskipun, itu jembatan agar kamu memuluskan rencana mu. Setidaknya aku memiliki kenangan itu." Endi berucap penuh dengan perasaan. Laki-laki ini memutar tubuhnya untuk meninggalkan Sera. Langkah Endi terhenti dan berkata tanpa menoleh kebelakang. "Satu yang perlu kamu tahu, aku tidak mempermasalahkan masa lalu mu. Tapi perlu kamu catat dalam ingatanmu. Laki-laki yang selalu mengejar cintamu ini, akan dimiliki oleh orang lain ketika kebebasan mu nanti."