
Malam tak pernah bosan memberi ruang untuk orang-orang berhenti dari aktivitas. Malam menyajikan pemandangan gelap memberi secuil waktu untuk terpejam. Valonia menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke rumah. Sejak sore ponsel Keyan sudah tidak bisa dihubungi. Mungkin laki-laki itu tengah mengudara.
Valonia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamar. Ia teringat kembali saat berkenalan dengan ibu Marisa. Wanita itu nampak menyimpan bongkahan luka yang amat besar. Ada goresan yang tak bisa sembuh ia sembunyikan.
"Sayang."
Keyang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia memeluk istrinya penuh rindu. Padahal baru kemarin pagi bertemu sebelum pergi ke luar kota.
"Pantas saja aku telpon tidak bisa." Valonia membelai rambut suaminya yang menindih memeluknya.
"Ponselku lowbat, aku merindukanmu rasanya aku ingin pulang tadi malam tapi pekerjaanku masih ada."
Hembusan nafas Keyan menggelitik kulit ceruk leher Valonia. Suaminya itu benar-benar merindu. Tanpa membersihkan tubuhnya Keyan langsung memeluk Valonia Jasmine di atas kasur.
"Mandi dulu"
"Kamu mencintaiku, 'kan?" Keyan mengangkat wajahnya menatap lekat iris mata istrinya.
"Tentu saja, jika aku tidak mencintaimu. Kenapa aku mau menikah denganmu ?" Valonia tersenyum.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu ! Jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang terjadi. Aku bisa gila." Keyan kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Valonia.
...----------------...
Di ruang tengah Valonia dan Keyan duduk setelah makan malam. Laki-laki ini menarik tubuh istrinya agar bersandar nyaman di dadanya.
"Kamu kemana saja hari ini ?"
Keyan mengecup pucuk kepala Valonia. Walau sebenarnya tahu dari laporan Derry. Tapi ia ingin Valonia bercerita dan ia siap jadi pendengar tiap cerita serta keluh kesah istrinya.
"Aku pergi bersama ibunya Derry ke mall. Kami berkenalan tadi, ternyata Tante Marisa baik dan lembut." Valonia antusias sekali saat bercerita. Ia merubah posisi duduknya untuk saling berhadapan dengan Keyan.
"Tante Marisa memang baik. Aku sering ke sana bila ada waktu luang." Keyan mengecup gemas pipi istrinya.
"Kami bertemu dengan ayahmu, pak Anton dan juga Tita. Wanita itu tidak henti-hentinya menggangguku."
"Biar aku yang menyelesaikannya." Keyan menarik tengkuk Valonia. Karena tidak tahan melihat bibir tanpa polesan lipstik itu sangat menggodanya.
Dua insan yang dilanda rindu itu menyalurkan kerinduan mereka. Para asisten rumah tangga seolah tahu jika tuan rumah sedang bermesraan di ruang tengah. Bi Noni memberi perintah kepada bawahannya agar kembali ke rumah belakang.
Saling membalas, memagut penuh kelembutan. Keyan dan Valonia terbuai dengar rasa bahagia mereka. Kissing itu semakin menuntut hingga nafas mereka terengah karena pasokan oksigen yang menipis. Keyan tertawa lalu menarik tubuh istri kembali ke dalam pelukannya.
"Jadi, seperti itu caranya berciuman ?"
Iris mata Valonia melebar mendapati empat pasang mata melihat ke arahnya dan Keyan. Wajahnya tiba-tiba panas namun tak mengikis jarak dari pelukan suaminya.
"Ka—kalian sejak kapan di situ ?" Valonia terbata dan malu. Rasanya ingin ia mencari lubang semut untuk sembunyi.
"Sejak kalian berciuman."
Ucapan santai dari Sonny semakin membuat Valonia malu. Berbeda hal dengan Keyan, ia merasa biasa saja bahkan dalam hatinya merasa senang bisa membuat iri para sahabatnya itu. Karena bisa melakukan apa saja dalam hubungan yang sah dengan Valonia Jasmine tanpa batasan.
"Kenapa kalian ramai-ramai ke rumahku?" Keyan bertanya dengan nada menyebalkan.
"Kami membawa jagung bakar, ini masih hangat." Rara meletakkan plastik yang ia bawa.
"Bagaimana perjalananmu kemarin?" Varen menjatuhkan tubuhnya ke sisi Valonia. Tanpa segan ia meletakkan kepalanya di atas bahu sepupunya itu.
"Eh, jauhkan kepalamu ! Jasmine milikku. Sana di bahu Rara." Bukan menjawab pertanyaan Varen, suami Valonia itu malah sibuk dengan rasa cemburunya.
"Oh, salah orang ya." Varen memindahkan kepalanya di bahu Rara. Entah sejak kapan gadis ini tidak menolak lagi dengan bahasa tubuh Varen.
"Perjalananku kemarin lancar." Keyan kembali ke topik pertanyaan Varen. "Aku menyetujui ikut dalam pameran mereka. Setelah aku melihat persiapan yang sangat baik. Kamu tahu ? Targetku adalah menggaet pengusaha hebat yang mampu menggerakkan dua usaha yang berbeda. Dia juga menghadiri pameran ini, aku berharap bisa bertemu dan bekerja sama dengannya. Lalu menghadirkan dia sebagai tamu spesial saat ulang tahun JFB tahun depan. Semoga aku bisa mencapainya." Harap Keyan .
"Aku dengar dia mantan dokter hebat."
"Iya, kamu benar. Dia mantan dokter hebat dan istrinya dokter kandungan. Mereka memiliki dua anak sepasang baru berusia lima dan tiga tahun." Keyan sangat tahu banyak tentang pengusaha yang akan jadi targetnya.
"Semoga secepatnya kamu bisa bertemu dengannya."
"Valo."
"Iya." Valonia menoleh pada Sonny yang memanggilnya. Ia sangat penasaran tentang pengusaha hebat yang di bicarakan suami dan sepupunya itu.
"Ayo ajari aku berciuman."
"Sonny praktekkan langsung pada Mia sana." Keyan kembali kesal dan cemburu. Tangannya serta merta posesif menarik tubuh Valonia ke pelukannya.
"Aku belum pernah kissing dengan Mia. Makanya aku belajar dulu." Polos Sonny.
Wajah malu Valonia hilang mendadak berganti tawa. Haruskah ? Sahabatnya itu jujur tentang hal semacam itu.
"Wah, kamu payah !" Ejek Keyan merasa menang. Ia mengecup singkat pipi istrinya dengan sengaja menunjukan kebebasannya dalam memeluk dan mencium wanitanya. Dan berharap dua laki-laki yang ada di rumahnya ini segera menyebarkan undangan pernikahan.
"Aku takut dia menggigit bibirku." Lagi-lagi Sonny mengocok perut teman-temannya. "Apa yang akan aku jelaskan pada rekan kerjaku jika mereka bertanya tentang bibirku. Tidak elit, 'kan? Jika aku menjawab karena di gigit."
"Nanti aku memberi refrensi untukmu." Sahut Varen sambil menyeka sudut matanya. Tak menyangka laki-laki keren seperti Sonny tidak pernah mencium kekasihnya.
"Refrensi apa kak ?" Mia baru saja datang membawa piring setelah lama kebingungan di dapur.
"Mencium mu."
Mia membuang wajahnya malu. Bagaimana bisa Sonny membahas tentang ciuman di hadapan teman-temannya. Rasanya ingin ia lari dari situasi seperti ini.
"Ini salah Keyan dan Valo. Mereka mencemari otak Sonny." Seru Rara menghentikan tawanya.
"Kenapa kami?" Valonia bertanya sambil tertawa pada Rara. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa Mia bisa jatuh cinta pada Sonny yang jarang serius.
"Kenapa berciuman di ruangan terbuka ? Harusnya kalian melakukannya di kamar." Ketus Rara lagi.
"Sah-sah saja, Jasmine istriku. Dan kami tidak tahu kedatangan kalian." Bela Keyan sambil mengecup pipi istrinya. Tak hanya mencium ia juga memeluk Valonia dengan erat.
"Aku sering mencium Mia di pipi."
Mia terbatuk mendengar kejujuran kekasihnya itu. Jagung bakar yang ia makan langsung di tempelkannya ke mulut Sonny. Agar kekasihnya itu berhenti bicara yang aneh-aneh.
...----------------...
Di tempat lain, Tita mengeram kesal. Pertemuannya pada Valonia masih menyisakan amarah di hatinya. Ia menggenggam botol wine lalu meminumnya tanpa gelas. Ia seperti kehausan hingga minuman itu tumpah dari mulutnya.
"Harusnya aku yang berada di sisi Keyan. Bukan wanita itu ! Harusnya aku yang mendapatkan semuanya." Racau Tita setengah kesadarannya. Tampilan acak-acakan. Tubuhnya basah dan bau alkohol.
"Ta, sudahlah. Ayo pulang !" Sindy merayu sahabatnya ini agar cepat pulang.
"Suruh Keyan menjemput ku." Tita tertawa. Tubuhnya sempoyongan karena semakin mabuk.
"Dia tidak akan datang. Jangankan menjemputmu, untuk bertemu juga kita susah."
Tita menoleh pada Sindy dan menatapnya tajam. "Keyan milikku ! Dia peduli padaku. Wanita itu yang mengambilnya dariku ! Keyan milikku !" Tubuh Tita ambruk tertelungkup di atas meja.