
Valonia mengerjapkan matanya, pandangannya tertuju pada laki-laki yang tidur di sampingnya dengan posisi telungkup dalam keadaan duduk. Ia teringat saat Keyan menemaninya ketika mimpi itu datang lagi. Laki-laki itu menenangkannya dan berkata penuh kelembutan. Keyan dengan sabar menemaninya, hingga tertidur lagi.
Ini adalah hal yang baru, ketika terbangun karena mimpi buruk dan Valonia berhasil tidur lagi. Semuanya karena laki-laki yang masih pulas tidur duduk itu. Garis rahang yang bagus. Alis tebal dan tegas. Bibir kemerahan. Sungguh pahatan Tuhan yang nyaris sempurna. Dada bidang yang berisi, serta postur tubuh yang memanjakan mata.
Sangat membuat Valonia merasa nyaman dan tenang dalam pelukannya. Laki-laki asing tapi tidak asing yang pertama kali memeluknya tanpa canggung. Begitu tertulis dibenaknya.
"Terimakasih."
Valonia tersenyum lalu beranjak dari kasur. Ia segera ke dapur membuatkan dua gelas susu. Lalu mengambil selai serta menatanya di atas meja. Valonia membersihkan tubuhnya, tanpa berniat membangunkan Keyan. Ia tahu jika laki-laki itu tidak tidur dengan benar.
"Kamu sudah bangun?"
"Selamat pagi." Keyan duduk di atas kasur lalu menoleh pada Valonia yang baru keluar dari kamar mandi.
"Selamat pagi, kalau kamu bawa baju ganti. Mandilah, aku tunggu di meja makan." Valonia keluar dari kamar.
"Iya."
Keyan mengambil tas kecil, Ia selalu membawa baju gantinya. Karena malas pulang ke rumah bila sedang bertengkar dengan ayahnya saat dulu.
"Ayo sarapan, hanya ada roti."
"Tidak apa-apa. Aku bangun kesiangan, jadi tidak membuatkan mu sarapan."
Keyan mengambil roti lalu memberinya selai. Ia juga meminum susu yang dibuatkan Valonia Jasmine. Hal sederhana tapi sangat membuatnya bahagia. Keyan tidak ingin ini cepat berlalu. Sisa air di ujung rambutnya memberikan sentuhan begitu sempurna hingga Keyan terlihat tampan berkali lipat.
"Tunggu saja sebentar lagi Sonny datang dan mengomel. Karena dia disuruh mengantarkan sarapan." Valonia terkekeh mengingat sahabatnya itu.
Keyan tertular senyuman gadis dihadapannya ini. Ia berharap senyum itu tidak pernah hilang dari wajah Valonia Jasmine. Selalu ada dan tetap ada.
"Valo, aku bawakan sarapan. Lama-lama aku berganti profesi." Sonny datang sambil menggerutu. Ia mengganti sepatunya dengan sandal rumahan. Tangannya terhenti ketika matanya tak sengaja melihat ada sepatu laki-laki di sana. Ia terburu-buru memasang sandalnya lalu melangkah lebar untuk masuk.
"Keyan !"
"Sonny."
Keyan tersenyum, begitu juga Valonia mereka berdua masih duduk di meja makan. Sonny meletakan rantang makanan dengan tatapan memindai Keyan.
"Sejak kapan kamu di sini ?"
Pertanyaan versi interogasi itu terlontar dari bibir Sonny. Tatapannya masih penuh selidik. Netra yang selalu terlihat hangat itu coba ia tajam kan.
"Sejak tadi malam." Keyan menjawab sambil tersenyum. Ia juga bersikap tenang dan santai, seakan tatapan penuh selidik itu bukan sebuah ancaman.
Tatapan Sonny berpindah pada Valonia. "Kamu aman, 'kan ? Dia tidak menjahati mu ? Katakan padaku jika dia memperlakukanmu tidak baik." Sonny menoleh pada Keyan yang tengah menyantap makanan yang dibawanya "Biar aku mengulitinya pakai pisau bedah dan dijadikan dendeng."
Keyan tersedak hingga wajahnya merah. Ia menatap tajam pada Sonny yang melihatnya dengan senyuman lebar.
"Aku tidak seburuk itu dokter Sonny !"
"Sudah jangan bertengkar ! Keyan, tadi malam menginap disini. Dan aku aman serta baik-baik saja." Valonia meyakini Sonny.
"Bagus kalau begitu." Sonny menepuk pundak Valonia. Perasaannya lega karena tidak terjadi hal buruk.
"Jauhkan tanganmu, atau aku yang akan menggergajinya biar putus." Keyan menunjukkan taringnya. Laki-laki itu terlihat santai setelah mengancam.
Sonny bergumam-gumam kesal pada Keyan, lalu menoleh lagi pada Valonia. "Mia belum datang ?" Tanyanya malu-malu.
"Sudah." Valonia menunjukkan pesan di ponselnya. Karena Mia baru saja tiba dan membuka butik.
"Hari ini aku libur, jadi biarkan aku membantu Mia." Sonny mengedipkan matanya lalu melemparkan begitu saja jaketnya di atas sofa. "Dan kamu, Key ! Pulanglah sudah pagi."
Keyan melirik kesal. "Aku memang mau pulang."
...----------------...
Matahari telah merangkak naik, siang pun telah menjelang. Terik panasnya tak memudarkan semangat para pejuang rupiah. Meski peluh membasahi sekujur tubuh.
Di hari libur akhir pekan. Jalanan sangat padat dari hari biasanya. Begitu pun dengan rumah makan, kafe, salon, serta tempat lainnya. Semua orang saling berlomba ambil bagian tempat untuk menyenangkan hati orang yang disayangi.
Sejak pukul delapan pagi. Varen dan Levin begitu sibuk. Pengunjuk kafe lumayan ramai. Bahkan Varen turun langsung melayani pengunjung, hal serupa juga terjadi pada Levin. Ia turun langsung ke dapur. Fanny sang istri juga tak beranjak dari kursi kasir.
"Kak, Fanny. Varen mana?"
"Di belakang, Key."
Keyan datang ke kafe, ia bermaksud membicarakan perihal Valonia Jasmine pada Varen. Namun Keyan tidak melihat keberadaan laki-laki itu di tempat biasanya duduk.
Keyan meninggalkan Fanny yang mengangguk padanya. Kakinya langsung melangkah menuju dapur. Rupanya Varen sedang mengatur para pegawai kafenya. Ia nampak berkarisma, tidak disangka. Seorang Varen yang sering mendapatkan pandangan negatif dari orang-orang bisa sesukses sekarang, di usia yang masih muda. Keyan iri untuk hal itu.
"Key."
"Bang."
Keyan mengangkat tangannya. Saat Levin menyapanya. Varen menoleh ke asal suara, ia melihat Keyan berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, Key ?"
"Aku ingin bicara padamu, tapi sepertinya kamu sibuk."
Keyan menghampiri Varen yang tengah membubarkan pegawainya. Rupanya, ia memberikan sedikit instruksi untuk mengatasi keterlambatan mengantar pesanan.
"Kalau kamu mau menunggu, silahkan masuk ke ruangan ku. Tunggu pengunjung agak sepi." Tawar Varen.
"Iya, aku akan menunggumu." Keyan langsung melangkah menuju ruangan Varen.
...----------------...
Satu jam kemudian...
Varen masuk ke ruangannya untuk menemui Keyan. Rupanya laki-laki itu tengah terlelap di sofa. Varen tidak berniat membangunkannya. Ia tahu jika Keyan kurang jam tidurnya saat menemani Valonia.
Mengingat sepupunya itu, Varen tak kurang usaha. Bahkan ia pernah mengalami tidak tidur semalaman saat Valonia baru mengalami insomnia. Jadi tak heran kenapa Keyan bisa terlelap di sofa.
Kelopak mata laki-laki berparas tampan itu perlahan terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku.
"Ren, maaf aku ketiduran." Keyan duduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Tidak masalah, kamu pasti kurang tidur." Varen membawa dua minuman kaleng dari kulkasnya. "Kamu ingin bicara apa ?" Tanyanya to the point.
"Jasmine, tadi malam aku sudah melihat keadaannya. Dia sengaja membuat tubuhnya lelah dengan lari atau jalan kaki di malam hari. Karena merasa lelah, dia akan mengantuk dan tidur. Jasmine akan tidur hanya dua jam setelahnya bangun lagi. Nah, disitulah ketakutan menyerangnya. Dia memilih tidak tidur setelah bangun karena takut mimpi itu akan datang lagi. Tapi tadi malam aku bisa membuatnya tidur lagi setelah bangun dari mimpi buruknya."
"Kamu tidak berbuat hal macam-macam, 'kan?"
Tatapan Varen menghunus netra Keyan. Laki-laki itu terkesiap, kenapa isi pikiran Varen dan Sonny sama. Apa dia terlihat jahat ? Rasanya Keyan ingin cepat-cepat berkaca guna melihat wajahnya. Apakah ? dirinya terlihat seperti penjahat kelamin.
"Kamu pikir aku serendah itu ? Aku terlahir dari seorang wanita. Otomatis aku menjunjung kehormatan semua wanita. Aku bukan laki-laki yang begitu mudah menghancurkan masa depan mereka. Meski seorang ****** sekali pun. Karena aku laki-laki yang juga ingin dibanggakan oleh pasanganku nanti."
Ucapan panjang lebar itu hanya ditanggapi anggukan pelan dari Varen. Padahal Keyan benar- benar kesal.
"Lalu, bagaimana caramu agar dia bisa tertidur lagi ?" Varen penasaran, karena selama ini baik dirinya mau pun sahabatnya tidak ada yang berhasil.
"Aku menenangkannya, lalu meyakinkannya tidak boleh takut. Sebelumnya aku sudah menyiapkan musik pengantar tidur, musik itu aku putar agar dia fokus lalu mengantuk. Dan aku berhasil." Keyan tersenyum senang.
Varen juga merasa senang. Padahal metode itu pernah ia lakukan bersama Sonny atas saran dokter yang menangani Valonia. Tapi mungkin mereka kurang meyakinkan dimata Valonia Jasmine
"Terimakasih untuk bantuan mu itu." Varen meraih kaleng minumannya.
"Aku minta ijin mu, agar bisa setiap malam menemaninya."
Tangan Varen terhenti saat berniat minum lagi. Matanya menatap tajam pada Keyan. Sungguh itu bukan permintaan masuk akal.
"Dia bukan istrimu !"
"Aku akan menikahinya !"
Kedua laki-laki ini saling mengunci tatapan mereka. Ada yang berusaha memberi keyakinan dan ada yang menelisik keseriusan. Varen tertawa pelan. Lebih tepatnya tawa palsu, tatapannya ia lemparkan ke luar jendela.
"Permintaanmu tidak bisa aku setujui. Pernikahan bukan hanya untuk satu atau dua hari. Tapi seumur hidup. Ketika sumpah pernikahan itu kamu ucapkan, maka Tuhan menyaksikannya. Dan didengar oleh semua orang. Apa kamu yakin, keluargamu akan diam saja ?"
"Mereka bukan sebuah alasan untuk kamu menolak ku, Ren. Pikirkan juga Jasmine."
Keyan tidak terima dengan alasan penolakan Varen. Kenapa sesulit ini ? Sedikit lagi gadis pujaan hatinya itu akan dalam pelukannya untuk selamanya.
"Satu, Valo lupa padamu. Dua, belum tentu dia juga memiliki perasaan yang sama padamu setelah lima tahun lalu. Bisa saja perasaan itu hilang bersama ingatannya. Tiga, belum tentu juga Valonia setuju. Mengingat kerasnya sepupuku itu. Tidak mudah kamu atur begitu saja. Andai dia gadis pemakai perasaan, maka sejak dulu dia sudah menikah dengan Bang Levin. Apa yang kamu niatkan saat ini sudah pernah Bang Levin lakukan, hasilnya dapat penolakan dari Valonia." Jelas Varen panjang lebar.
"Aku akan membicarakannya pada Jasmine." Keyan tetap pada keinginannya. Ia yakin jika Valonia setuju dengan niatnya.
"Sebelum kamu mencobanya maka akan kuberi tahu satu hal. Saat Bang Levin meminta sepupuku itu menikah dengannya. Valonia mengatakan jika, dirinya merasa aman dalam perlindungan Bang Levin sebagai kakak laki-laki bukan sebagai pasangannya. Dalam hatinya tidak ada cinta tapi ada rasa sayang sebagai saudara. Jika ingin lebih dekat dengannya maka rubah perasaan Bang Levin padanya. Jika tidak bisa maka Valonia akan menjauh dengan sendirinya. Dengan alasan tidak ingin melukai perasaan orang yang memiliki perasaan padanya karena sebuah penolakan. Valonia tidak ingin memulai hubungan dengan kata mencoba tapi dengan kata yakin."
Keyan membisu, benarkah ? Valonia Jasmine akan menjauh darinya jika ia tetap memaksa. Langkah pertama ia harus mendapatkan hati dan cinta Jasmine nya.