Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Keyakinan Keyan



Hari ini nampak cerah, secerah hati beberapa anak manusia yang akan pergi piknik. Mereka merealisasikan rencana beberapa hari yang lalu.


Keyan telah bersiap, Ia membawa kameranya di dalam tas dan persiapan lainnya. Hari ini tidak ia sia-siakan meski teman-temannya ikut pergi piknik, setidaknya masih ada waktu bersama Valonia Jasmine.


"Selamat pagi, Bunda. Ayah !" Keyan menghampiri kedua orang tuanya di meja makan.


"Pagi, Key. Mau kemana sudah rapi begini ? "Bunda  Arini bertanya sambil mengambilkan sarapan untuk Keyan.


"Mau piknik, Bun. Sebelum ujian akhir." Keyan menjawab sambil memakan sarapannya


"Tita ikut?"


Pertanyaan ayah Johan, menghentikan tangan Keyan saat ingin menyuap kembali makanannya.


"Tidak, Yah." Keyan menjawab pendek lalu melanjutkan sarapannya.


"Key, jangan mengabaikan Tita ! Demi menemani kamu, Om Anton mengijinkannya kuliah di Amerika." Ayah Johan kembali membahas tentang kuliah di Amerika.


"Aku tidak memintanya untuk menemaniku !" Ketus Keyan lalu meraih gelas air putih. "Bun, aku berangkat." Pamitnya kemudian meninggalkan meja makan.


"Hati-hati, Key." Bunda Arini membalas pamitan putranya. "Yah, jangan terlalu keras pada Keyan."


"Anton sahabat Ayah, dia mendukung kita dari nol. Bahkan putrinya juga mendukung Keyan untuk kuliah di Amerika. Apalagi yang dibutuhkan Keyan ? Masalah teman-temannya, di sana pun dia bisa mendapatkannya juga." Ayah Johan tetap pada keinginannya.


"Tapi jangan memaksakannya juga, Yah ! Bagaimana jika Keyan tidak kuliah dengan benar ? Bunda senang akhir-akhir ini nilainya membaik, Keyan juga belajar dengan giat." Bunda Arini berusaha memberikan pengertian.


"Ayah tahu, Keyan ikut kelompok belajar pada Valonia Jasmine, gadis itu cerdas." Ayah Johan mengakui kecerdasan seorang Valonia Jasmine.


"Apa karena itu, Keyan tidak mau ke Amerika ? Maksud bunda, apa putra kita menyukai gadis itu? " Bunda Arini tersenyum  senang. Mengingat putranya tidak pernah jatuh cinta.


"Key, sudah memiliki jodohnya sendiri. Yang pantas mendampinginya. Cerdas tak menjamin dapat pengakuan dariku. Menantu Johan Ganendra adalah wanita pilihan !" Tegas ayah Johan lalu meninggalkan meja makan.


...----------------...


Di bagian barat kota itu, lima anak manusia ini menggelar tikar. Mengatur perbekalan di tengah-tengahnya. Tak lupa mendirikan tenda, jika tiba-tiba turun hujan. Mereka juga menyiapkan ponsel dan kamera untuk mengabadikan momen itu.


"Ra, ambil fotoku" Alvan setengah berteriak karena posisinya agak jauh.


Rara berlari menghampiri Alvan, ia membawa kamera milik Keyan. Sementara si pemiliknya hanya duduk diam di atas tikar. Selagi Alvan dan Rara sibuk berfoto. Varen meraih gitarnya dari dalam tenda, dengan kepiawaiannya. Varen mulai bernyanyi .


Valonia sangat menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh Varen. Tanpa menyadari raut wajah Keyan yang sendu menatapnya.


"Giliran mu. "Varen menyodorkan gitar pada Valonia Jasmine.


"Aku ? "Valonia menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku malu..." Lirihnya pelan.


Keyan menjadi penasaran, raut wajahnya juga berubah tidak  se-murung tadi. "Kamu bisa nyanyi?" Tanyanya berbinar.


Valonia hanya tersenyum, ia meraih gitar itu dan menekan kunci pada senar gitarnya. Rara yang hafal petikan serta lagu yang akan dinyanyikan langsung menoleh.


"Ayo, Al ! Kita ke sana Valo bernyanyi." Rara antusias berlari membawa kamera di tangannya.


Dalam sekejap mereka sudah duduk mengelilingi Valonia Jasmine yang bernyanyi. Sekali lagi Keyan terpukau dengan kelebihan yang Valonia miliki. Alvan tidak membuang kesempatan, ia mengabadikan momen itu di kamera milik Keyan.


Mereka semua tersentuh dengan lirik lagu yang dibawakan oleh Valonia. Lagu bertema persahabatan. Selesai bernyanyi Varen meletakkan gitarnya.


"Ayo kita makan cemilan ini, kenapa didiamkan?" Varen membuka satu bungkus makanan itu. Kemudian di ikuti oleh yang lainnya.


"Setelah kelulusan kalian lanjut kuliah dimana?" Rara membuka perbincangan.


"Aku terserah papa saja." Alvan ikut menimpali. Pria ini tengah berusaha membuka tutup botol air putih.


"Kamu, Key?" Rara melemparkan pertanyaan pada Keyan.


Keyan sebenarnya ingin menghindari topik pembicaraan ini. Tapi dia tidak bisa. "Ayah, ingin aku lanjut ke Amerika. Aku menolak ! Tapi Ayah tetap memaksa." Jelasnya dengan berat hati.


"Kenapa tidak mau ? Andai aku punya kesempatan seperti itu, aku pasti senang. Tapi kedua orang tuaku tidak mau aku jauh dari mereka." Rara bicara sambil mengunyah cemilannya dan menatap wajah temannya satu persatu.


"Kamu dimana, Val ?"


Akhirnya pertanyaan itu tertuju pada Valonia Jasmine dari Alvan. Gadis ini sejak tadi memilih diam mendengarkan pembicaraan teman-temannya.


Valonia tersenyum sebelum menjawabnya. Ia meletakkan bungkusan cemilannya di dalam plastik yang dijadikan tempat sampah. "Aku di sini saja." Jawabnya pendek


"Kamu, Ren ?" Alvan kembali bertanya.


Suasana menjadi cair, setelah Alvan mengajak mereka bercanda. Rupanya langit sangat mengerti dengan muramnya hati Keyan. Di atas sana terlihat awan hitam mulai menggumpal.


"Ayo masuk ke tenda. Sebentar lagi hujan." Rara membereskan sisa cemilan mereka dan memasukkannya kembali  ke dalam paper bag


Varen meraih gitarnya dan membawa masuk kamera serta beberapa bantal kecil yang mereka bawa.


Sementara itu, Alvan menggulung tikar dan memasukkannya ke dalam tenda. Semua peralatan yang mereka bawa dimasukkan semua. Beruntung mereka mendirikan dua tenda.


Rupanya prediksi mereka tepat, hujan mulai berjatuhan. Keyan refleks menarik tangan Valonia memasuki tenda kosong di depan tenda yang dimasuki Varen, Alvan dan Rara.


Hujan mulai rata berjatuhan. Pantulannya terlihat di rerumputan, cuaca seketika berubah, hawa terasa mulai dingin. Terbukti Valonia beberapa kali mengusap telapak tangannya.


Melihat hal itu, Keyan meraih selimut yang mereka bawa. Rupanya persiapan  piknik ini tidak tanggung-tanggung karena lokasinya agak jauh dari kota. Keyan membungkus tubuh Valonia dengan selimut itu.


"Pakai ini, biar kamu tidak kedinginan."  Keyan tersenyum sambil membenarkan selimut itu.


Dari tenda satunya, Rara melihat perlakuan Keyan begitu manis. Ia beberapa kali mengambil foto Keyan dan Valonia.


Keyan dan Valonia sama-sama memandang pantulan hujan di atas rerumputan. Suara derasnya hujan terdengar indah saat seperti ini.


"Jasmine, ayo kuliah di Amerika." Keyan mengulangi ajakannya saat di telpon. Karena kemarin tidak sempat membahasnya.


Valonia menoleh ke arah Keyan. "Key, kamu boleh menceritakan apa masalahmu padaku." Ujarnya sambil memberikan seulas senyum pada laki-laki itu.


"Ayah memintaku kuliah di sana, sebenarnya aku tidak mau. Tapi ayah memaksa." Cerita Keyan menatap manik mata Valonia Jasmine.


"Kenapa ? Bukankah ? itu pilihan yang bagus?" Valonia memutuskan tatapan mereka lalu  beralih melihat pantulan hujan di atas tenda yang dihuni Varen dan dua temannya lagi.


"Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, hatiku menolak untuk pergi. Bisakah ? Kamu ikut dengan ku. Aku yang bertanggung jawab atas semuanya." Keyan tetap pada pendiriannya.


Valonia mengulurkan telapak tangannya, lalu membiarkan hujan menjatuhinya. "Kenapa mengajakku ?" Ia perlu alasan untuk perkataan Keyan.


"Karena kamu, aku tidak ingin pergi." Keyan menatap lekat wajah Valonia dari samping. Ia menarik tangan Valonia lalu menggenggamnya. "Aku menyukaimu Valonia Jasmine. Aku tidak bercanda dengan perasaanku." Tegas Keyan sekali lagi.


Valonia membalas tatapan Keyan tak kalah dalamnya. "Jangan jadikan aku alasan untuk menolak keinginan ayahmu. Karena tanpa kamu sadari kehidupan kita beberapa tahun ke depan pasti mengalami perubahan. Jangan jadikan alasan sukamu padaku lalu membuang kesempatan untuk menjadi orang hebat." Pernyataan lembut dari Valonia melepaskan genggaman tangan Keyan secara perlahan-lahan.


"Apa aku terburu-buru?" Keyan tidak berani menatap wajah Valonia.


"Tidak, wajar jika kita memiliki perasaan pada lawan jenis. Itu tandanya kita normal." Valonia meniru kata-kata yang pernah Rara lontarkan.


Keyan kembali mengangkat wajahnya. "Jadi, apa kamu mau ikut denganku? Aku tidak bisa jauh dari kamu Jasmine. Aku bisa membicarakan ini pada kedua orang tuamu."


Valonia menggeleng. "Untuk ikut ke Amerika, maaf aku tidak bisa. Banyak hal yang aku pertaruhkan jika pergi jauh. Aku akan tetap kuliah disini." Keputusan yang telah Valonia ambil sesuai dengan perencanaan matang.


"Kalau begitu beri aku satu kekuatan untuk menolak permintaan Ayah, agar aku tetap bisa kuliah disini dan bersamamu." Harap Keyan benar-benar terlihat dari netranya. "Kamu mau jadi kekasihku ? Aku akan mempertaruhkan hak istimewaku pada Ayah. Karena aku benar-benar tidak bisa tinggal di Amerika."


Valonia terdiam, membahas hal sensitif ini harus dengan hati-hati. Bukan hanya menyangkut dirinya dan Keyan saja, tapi beberapa orang dewasa akan terlibat di dalamnya. Hak istimewa yang dibicarakan Keyan. Sanggupkah ? Valonia melihat laki-laki itu hidup seadanya.


"Untuk jawaban itu, bolehkah ? Aku  memberikannya setelah ujian akhir kita. Jangan dijadikan beban, buat jadi penyemangatmu. Jawaban apa yang akan kuberikan nanti." Valonia  tersenyum meyakinkan Keyan.


Keyan nampak berpikir. "Baiklah, aku harap jawabanmu tidak mengecewakan ku." Ia setuju atas permintaan Valonia.


Keyan juga akan meminta bantuan bunda Arini. Untuk membujuk Ayah Johan membatalkan keinginannya.


Hujan mulai mereda, mereka berkemas untuk pulang. Cukup hari ini menghabiskan waktu bersama. Perlahan-lahan wajah Keyan ceria kembali. Pernyataan rasa di hatinya mengurangi beban di dadanya. Tinggal menunggu jawaban dari Valonia Jasmine.


"Kamu sudah bicara pada Valo." Alvan menyetir mobil di perjalanan pulang. Setelah mereka mengantarkan Varen, Valonia dan Rara.


"Iya, aku lega sekali." Keyan tersenyum menatap arah jalanan.


"Apa jawaban calon kekasihku itu?" Alvan nampak antusias.


"Dia calon kekasihku ! "Keyan kesal karena Alvan masih menyebut Valonia calon kekasihnya. "Jasmine belum memberikan jawabannya. Dia akan menjawabnya setelah ujian selesai." Sambung Keyan.


"Bagaimana jika dia menolakmu?" Pertanyaan sensitif yang Alvan lontarkan membuat perasaan Keyan tak nyaman.


"Aku yakin dia menerimaku, aku yakin ada cinta untukku." Keyan sangat yakin atas cintanya.


Alvan mengangguk. "Jika nanti Valonia menerima mu. Apa kamu siap meninggalkan hak istimewamu? Dan hidup seadanya sambil kuliah. Kamu tidak bisa bekerja, Key ! Selama ini kamu dimanjakan harta." Ia meragukan kemampuan Keyan.


"Aku akan berusaha." Keyan mulai memikirkan perkataan Alvan. Apa dia benar-benar bisa? Tapi demi pemilik hatinya itu. Keyan akan berusaha.


Demi cinta, Keyan siap mengambil keputusan berat di usia yang masih labil. Apakah definisi cinta sesederhana itu ? Apakah Keyan mengerti dengan baik tentang kata cinta itu sendiri ? Bagi pemula sepertinya kadang bisa terlihat buta walau bisa melihat. Kadang bisa tuli walau bisa mendengar.