
Langit pagi masih belum terlalu terang. Matahari masih malu-malu untuk merangkak, udara pun masih terasa sejuk dan dingin. Tetesan embun terlihat belum mengering, permukaan tanah juga masih terasa lembab. Namun, seorang pria paruh baya sudah duduk menyendiri di dalam mobil sembari memantau pergerakan seseorang yang berada di dalam gedung tingkat tiga di hadapannya.
Tidak puas dengan jawaban sang istri. Ayah Johan Ganendra berniat menemui Valonia seorang diri. Ia sangat yakin gadis itu tahu keberadaan putranya. Di sinilah, ia menunggu pintu butik terbuka. Pagi buta pria yang masih terlihat berkarisma di usianya saat ini, sudah mengenakan pakaian kerja lengkap.
Dari jauh seorang gadis datang dengan langkah kecilnya. Dia terlihat cantik mengenakan jeans panjang dan kemeja sebagai atasannya. Gadis itu membuka kunci rolling door lalu menempel kartu yang ada di tangannya. Setelah terbuka, Mia menggeser pintu kaca.
"Tunggu."
Suara Ayah Johan menghentikan langkah Mia yang akan melangkah masuk. Gadis itu berbalik untuk mengetahui pemilik suara. Seketika mata sipitnya melebar saat mengenali wajah orang yang di hadapannya ini.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Tuan ?"
Mia menyapa dengan ramah. Ia sangat mengenali wajah Ayah Johan. Yang selalu muncul di televisi atau majalah bisnis. Kiprahnya di dunia usaha membuat Ayah Johan sering diundang ke stasiun televisi.
"Saya ingin bertemu pemilik butik ini. Di mana dia ?"
"Kak Valonia masih di atas. Sebentar lagi dia akan turun. Anda boleh menunggu di dalam."
Ayah Johan mengangguk lalu mengikuti Mia. Manik matanya mengamati seluruh isi ruangan itu. Pertama kalinya setelah lima tahun berlalu, ia bertemu kembali pada Valonia Jasmine. Tak menyangka gadis ini bisa menjadi orang sukses.
"Selamat pagi, anda yang ingin bertemu dengan saya. Apa ada yang bisa saya bantu ?"
Suara Valonia meruntuhkan kaca-kaca lamunan Ayah Johan. Manik matanya terpaku pada sosok yang tersenyum tipis di hadapannya. Benar, kabar yang ia dengar Valonia tidak mengenalinya. Tepatnya lupa padanya. Atau hanya dugaannya saja, tak mungkin gadis ini tidak mengenali wajahnya. Sementara Valonia juga merambah dunia bisnis.
"Apa butik ini tidak memiliki ruangan lain ?" Pertanyaan mengandung sindiran itu terlontar dari bibir Ayah Johan. Nada angkuh juga melekat dalam kalimatnya. Penekanan untuk menghina juga terdapat di dalamnya.
"Jadi anda ingin bicara secara pribadi, harusnya anda mengatakannya lebih awal. Mari ikut saya." Balasan yang dingin dari Valonia membuat Ayah Johan terhenyak.
Mereka menaiki tangga tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Ayah Johan bisa merasakan gadis ini masih seperti dulu hanya saja terlihat lebih dewasa. Valonia mempersilahkan Ayah Johan duduk di sofa. Ia tahu, tamunya pagi ini adalah Johan Ganendra ayah dari Keyan. Karena Varen sudah memberitahunya. Sekali lagi netra pria paruh baya itu mengamati isi ruangan itu.
"Di mana Keyan ?"
Valonia terkekeh, seolah pertanyaan itu lucu terdengar. "Apa saya pengasuhnya ? Dalam sepekan ini sudah tiga orang mencarinya ke sini."
Pak Johan mengepalkan tangannya. Gadis didepannya ini memiliki keberanian yang tak diduganya. "Katakan saja ! Di mana Keyan?" Intonasi Ayah Johan meninggi dan sedikit tidak sabar.
Valonia menatap dingin lawan bicaranya ini dan berkata. "Sayang sekali, anda harus kecewa. Karena saya tidak tahu dimana dia !"
Ayah Johan tertawa kesal. "Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya ? Atau dia di rumahmu sebagai ayah sambung putra yang kamu lahirkan tanpa seorang ayah itu ?!"
Valonia diam mencerna perkataan yang baru saja masuk ke gendang telinganya. Ia langsung mengingat percakapannya saat bersama Tita. Gadis ini mengangguk dan tersenyum tipis. "Rupanya rumor tentang putra saya cepat menyebar ! Malang sekali kamu, Nak." Gumamnya pelan. "Bayi-bayi saya tidak perlu ayah sambung seperti putra anda. Laki-laki yang belum memiliki masa depan ?"
"Jaga bicaramu ! Keyan akan jadi seorang pemimpin !" Ayah Johan tidak terima putranya dihina. Naluri seorang Ayah bermain disaat yang tepat. Ketika orang menghina anaknya makan refleks dia tidak terima. "Dan dia juga akan memiliki anak jika nanti menikahi Tita. Tidak perlu memungut anak yang tidak tahu siapa ayahnya."
"Saya sedang sibuk dan anda juga sudah mendengar jawaban saya ! Tentang putra anda saya tidak tahu, dan tidak mau tahu !"
Valonia berdiri dari tempatnya duduk lalu melangkah menuju meja kerjanya. Ayah Johan terlihat begitu marah. Tanpa pamit ia meninggalkan ruangan Valonia Jasmine.
"Huuff" Valonia menghela nafas panjang. "Awas kamu, Keyan ! Pergi tanpa pamit malah meninggalkan masalah untukku ! Bila kita bertemu kembali aku akan menjambak mu, dan menjadikanmu samsak tinju." Luapan amarah tadi mengurangi sedikit kekesalan di hatinya.
"Jangan dijadikan samsak. Tapi jadikan guling penghangat saja." Suara horor itu membuat Valonia kembali kesal. Api emosi yang telah padam kembali berbara.
"Sonny ! Gara-gara kamu ! Keyan jadi gila. Dia berhalusinasi dengan bunga-bunga itu." Valonia melepaskan kekesalan lagi. Kali ini bukan pada angin yang tak terlihat. Namun pada benda yang berwujud.
Sonny terbahak. "Dia memang sudah gila, kamu saja yang tidak tahu."
"Ada apa ?" Ketus Valonia. Kesal itu seketika lenyap dari hatinya. Karena tawa penghibur dari sahabat yang setia menemaninya.
"Ini vitamin untukmu. Dari hasil pengamatan ku berat badanmu naik. Ayo timbang !" Sonny mengambil timbangan di samping lemari peralatan Valonia.
Tanpa bantahan gadis itu menurut. Valonia senang berat badannya bertambah, itu artinya dia tidak sekurus kemarin.
"Aku tidak sekurus kemarin, Son !" Valonia girang.
"Makan teratur, istirahat yang cukup. Jangan memforsir tenaga lagi. Serta tenangkan pikiran." Sonny tersenyum puas.
"Jangan takut ada aku. Varen dan yang lainnya. Kami selalu ada bersamamu, jangan merasa sendiri." Sonny menepuk pundak Valonia
Valonia mengangguk. "Tadi pak Johan kemari mencari Keyan. Di mana dia, Son ?"
"Aku juga tidak tahu." Jawab Sonny cepat.
"Jika kamu bertemu dengannya, katakan pada Keyan. Semua orang mencarinya, orang tuanya cemas. Dia mengirimkan aku surat saat menitipkan bunga-bunganya. Jika dia tidak muncul maka bayi-bayi Jasminum akan cari Papi baru !"
Mata Sonny terbelalak. "Papi baru ?!"
...----------------...
Matahari telah sempurna di posisinya. Bahkan panasnya sangat menyengat. Di jam makan siang seperti ini, tiga sekawan luar Levin berkumpul di salah satu kafe cabang Ren's cafe. Kemarin, Varen sudah menyerahkan kafe induk akan dikelola oleh Levin. Tiga sekawan ini tengah menyantap makan siangnya.
"Tadi pagi, Pak Johan menemui Valo di butiknya."
Varen dan Alvan bersama mengangkat wajah mereka melihat ke arah Sonny. Sementara yang dilihat acuh masih menyuapi makanannya. Seolah pembahasan itu tidak terlalu penting.
"Lalu." Alvan bertanya sambil melanjutkan makannya.
"Seperti yang sudah diajarkan, Valonia langsung mematahkan harapan orang-orang itu."
Varen menghela nafas tenang lalu berkata."Syukurlah."
Varen sengaja, mengajarkan Valonia bersikap angkuh untuk mematahkan keangkuhan yang lainnya. Ia juga membuat Valonia tangguh untuk menjaga dirinya sendiri, karena tak seterusnya Varen atau Sonny terlebih Levin yang beristri selalu berada di samping Valonia. Ada kalanya gadis itu sendiri. Di tengah perbincangan, ponsel Alvan bergetar.
"Key." Alvan mengaktifkan pengeras suaranya. Meletakan ponselnya di atas meja.
"Bagaimana kabar orang rumah?"
"Tante Arini dan Om Johan sehat, mereka juga mencari mu. Tapi hubungan Ayah dan Bundamu sedikit tidak baik." Alvan yang selalu bertugas memantau kondisi orang tua sahabatnya ini menyampaikan hasil pengamatannya.
"Syukurlah, jika mereka sehat. Akan tiba waktunya semua kembali normal. Biarkan Ayah merasakan dijauhi oleh Bunda."
Tersemat licik dari kalimat itu. Keyan diam-diam ingin Ayahnya merasakan dijauhi orang tercinta.
"Key, ada kabar sedikit buruk."
"Ada Sonny juga." Keyan mengenali suara Sonny "Bagaimana kondisi Jasmine ?"
Sonny berdecak kesal, padahal ia sudah tidak sabar menyampaikan kabar yang sedikit buruk menurutnya. Sonny meletakkan sendok nya lalu berkata. "Di sini juga ada Varen. Kabar Valonia baik, berat badannya juga naik. Selera makannya membaik. Tapi tadi pagi dia mengatakan, akan cari Papi paru !"
"APA !! EN... Siapkan tiket ! aku akan pul—"
"Awas kamu pulang !!" Ancaman keluar dari bibir Varen menghentikan teriakan Keyan di dalam telpon.
"Varen ! Apa kamu tidak menjaga gadisku ?! Kamu dengar, dia mau cari Papi baru untuk bayi-bayiku." Rengek Keyan minta dikasihani.
"Kamu boleh pulang setelah kamu sudah siap jadi pengganti ku di sisi Valonia. Tapi bila kamu memaksa jangan harap bertemu dengannya. Aku akan menyembunyikannya di lubang semut ! Biar tubuhmu yang seperti gorila itu tidak bisa menemukannya."
"Ren, sekali saja aku pulang ya. Aku merindukan Jasmine !"
"Tidak ! Aku yang memastikannya agar dia tidak cari Papi baru buat bayi-bayimu itu !" Tegas Varen. Senyum puas menjahili Keyan tercipta di bibirnya.
"Jasmine aku merindukanmu. Sepupumu begitu jahat padaku. Menelpon kamu saja tidak boleh."
Tawa Sonny pecah, seakan dapat membayangkan betapa kumalnya wajah Keyan saat ini.
"Key, aku harus kembali ke kantor." Alvan mengakhiri pembicaraan.
"Baiklah aku juga harus bekerja." Keyan mematikan sambungan telpon.
Laki-laki itu bisa ditenangkan oleh Varen. Meski terdengar jahat tapi itulah cara Varen tak ada yang bisa menebaknya.