Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Cinta Yang Besar



Setelah drama pagi yang menguras kesabaran karena tingkah Keyan. Valonia meminta Mia menutup butik. Karena hari ini, ia ada urusan bersama Keyan. Matahari perlahan mampu menembus awan yang masih menyisakan kehitaman. Meski tak terik tapi cukup memberi penerangan di hari yang mendung.


Cuaca alam tak sejalan dengan suasana hati Keyan. Mungkin, alam semesta mendukung suasana hati Alvan. Sekian lamanya ia mencari celah agar bisa memiliki Valonia, sayangnya celah itu tak terlihat. Cinta Keyan yang amat besar menutup celah-celah itu.


"Jadi, kapan kak Keyan pulang ?" Mia meletakkan nampan di atas meja. Matahari memang ada tapi hawa dingin itu masih terasa.


"Tadi malam." Valonia membagi cangkir teh di tas meja. Ia tersenyum lalu berkata. "Sonny lama-lama matamu rabun jika tidak berkedip."


Merasa namanya disebut, Sonny salah tingkah. "Mia, kamu ada waktu luang ?"


"Ada, hari ini butik tutup."


"Ayo jalan-jalan." Ajak Sonny. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu bersama Mia. Gadis mungil yang mencuri hatinya sejak lama.


"Ayo." Mia menjawab cepat.


Sonny sengaja, tidak mengungkapkan perasaannya. Ia harus memastikan perasaan Mia melalui Valonia. Agar tidak mengalami penolakan seperti Keyan. Ia tidak mau jadi laki-laki gila seperti sahabatnya itu.


"Sayang, aku sudah mandi." Keyan keluar dari kamar dengan rambut basah. Di tangannya ada handuk kecil. Tanpa malu ia menyodorkannya kepada Valonia. "Keringkan rambutku." Ucapnya lalu duduk di karpet membelakangi Valonia.


"Karena kamu sudah pulang. Papa, mengirim pesan. Katanya makan malam di rumah kami malam ini." Alvan menunjukkan pesan di ponselnya.


"Baiklah." Keyan berpindah naik ke sofa. Tangannya merangkul pundak wanita yang disebutnya istri di sampingnya.


"Aku akan telpon Rara." Valonia meraih ponselnya. Sahabatnya itu pasti akan mengomel jika tidak di ikut sertakan.


"Kalau begitu aku telpon bang Levin." Varen mengeluarkan ponselnya.


Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama. Semenjak kepergian Keyan. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.


...----------------...


"Key, aku minta maaf telah melupakan kamu dan Alvan."


"Ka—kamu ingat ?!" Keyan antusias tapi juga berhati-hati. Ia tidak ingin salah kalimat.


Valonia menggeleng lemah. "Aku bukan mengalami kewajaran dalam hal ingatan seperti yang dikatakan Varen selama ini. Tapi faktanya aku memang kehilangan ingatan. Aku melupakan siapa diriku dan semua memori. Varen tidak sanggup untuk terus menerus menutupinya" lirihnya pelan.


"Varen hanya tidak ingin kamu sakit. Jangan marah padanya. Aku tidak perduli kamu melupakan aku yang telah ada lima tahun lalu. Terpenting saat ini kamu bersamaku." Keyan menggenggam tangan Valonia lalu mengecup buku-buku jarinya.


"Ya, kamu benar tanpa ingatan itu kembali. Aku masih bisa merasakan jika kita saling mengenal." Valonia tersenyum haru. Kristal bening dari netra nya yang indah meluncur lancar di pipinya. Padahal Varen tidak menyinggung masalah kisah cinta Keyan saat bercerita, namun sisi lain hati Valonia merasa bersalah.


"Jangan menangis, ayo kita awali semuanya dari awal." Keyan menyeka jejak air mata di pipi Valonia.


"Terimakasih, sudah memberikan cinta yang begitu besar padaku."


Keyan mengecup kening Valonia begitu lembut. "Terimakasih juga karena mau menerimaku meski terlupakan di memori mu."


Dua insan yang tengah di landa rindu itu. Mengekpresikan perasaan mereka. Saling berpelukan memandang langit malam di roftoop butik. Usai memenuhi undangan Pak Andre. Keyan segera membawa Valonia pulang.


...----------------...


Ketika tiap insan sedang menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta. Maka, lain hal disebuah kamar yang temaram. Ia sengaja mematikan lampu utama. Agar wajah muramnya tak terlihat nyata.


Alvan menyendiri di balkon kamar. Hawa dingin menusuk kulitnya. Tapi ia abaikan. Cinta sendirinya pupus sudah. Hasratnya kalah dengan cinta yang besar dimiliki Keyan.


Alvan tak setangguh Keyan. Meski pun ia menyukai Valonia. Alvan laki-laki penuh perhitungan, tidak seperti Keyan dengan gampangnya menentukan langkah. Sahabatnya itu siap menghadap masalah apa pun. Tapi belum tentu dengan dirinya. Apa ia bisa menjadi seperti Keyan berdiri di samping wanita pujaan hati menjadi tameng kokoh untuknya ?


"Selamat, Valo ! Aku bahagia bila kamu bahagia." Lirihnya pelan tersenyum pada bulan yang tergantung di dinding langit.