Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Jasmine Flower Buds



Acara di dalam aula kantor JFB masih di penuhi tamu undangan. Blitz kamera meramaikan catwalk ketika para fotografer membidik model yang berlenggak lenggok memperagakan gaya mereka.


Tampilan mereka begitu memukau, mengenakan pakaian hasil rancangan Valonia Jasmine dan perhiasan terbaru dari JFB. Padu padan yang bagus dan menarik minat para penontonnya. Terlebih kaum hawa yang cinta dengan perhiasan atau aksesoris lainnya.


Para model itu menampilkannya dengan sempurna tanpa cela sedikit pun. Mereka sudah profesional dalam profesinya, Valonia dan Mia dapat bernafas lega. Saat melihat tampilan dari model-model itu. Tak hanya model wanita namun JFB juga menghadirkan model pria.  Valonia merasa bangga atas kerja samanya dengan JFB.


"Mari Nyonya, sebagai desainer nya anda harus tampil." Endi datang menghampiri Valonia. Laki-laki ini terlihat sangat tampan mengenakan pakaiannya saat ini. Mengejutkan lagi ia juga mengenakan jas dari Jasmine Boutique yang dibawa Valonia.


"Baiklah terimakasih."


Valonia menghembuskan nafas panjang mengusir rasa gugupnya. Ia tak mungkin menolak dan mempermalukan dirinya di hadapan orang banyak.


Tiba di atas catwalk, Valonia langsung digandeng seorang model pria. Ia mengangkat wajahnya penuh percaya diri. Tatapan tegas dari manik matanya menggambarkan sosok seorang Valonia Jasmine.


Di kursi tamu undangan, Pak Johan mematung. Tak menyangka perkembangan Valonia dalam dunia usaha cukup membuatnya takjub. Apa lagi JFB perusahaan baru langsung meliriknya. Itu tandanya jika Jasmine Boutique tak bisa di pandang sebelah mata. Di kursi yang tak jauh dari catwalk Tita semakin kesal, saat Valonia Jasmine melangkah bersama model pria tampan.


Banyak pasang mata, menyaksikan keberhasilan Valonia Jasmine. Mereka berdecak kagum atas kesuksesannya itu. Di antara wanita paruh baya mulai bergumam ingin menjadikan Valonia Jasmine sebagai kandidat menantu.


Siapa yang tidak ingin menikahkan putranya pada Valonia. Selain cantik, tegas dan berwibawa. Dia juga sukses dalam karirnya.


"Baiklah, kita sambut CEO JFB." MC memanggil pemilik kantor baru itu.


Suara tepuk tangan menggema di aula ketika MC, menghadirkan sang CEO yang ditunggu sejak tadi. Malam ini adalah malam yang semua orang nantikan untuk melihat wajah perintis usaha sukses dalam satu tahun sebagai pendatang baru.


"Sebelum CEO kita keluar. Saya minta untuk owner Jasmine Boutique naik kembali. Karena CEO kami ingin didampingi oleh anda." Endi tersenyum ke arah Valonia agar wanita itu naik kembali.


Valonia hanya bisa menurut meski ia berat hati dan merasa bersalah pada suaminya. Tita tak membuang kesempatan ia akan menjadikan hal ini untuk senjata mendapatkan Keyan.


Dari belakang, melangkah sesosok laki-laki tegap. Mengenakan jas putih senada dengan Valonia Jasmine. Semua mata tertuju pada laki-laki itu. Ya, dia CEO JFB. Namun sayang tak bisa melihat wajahnya, karena dia mengenakan topeng.


Semua orang semakin penasaran terlebih kaum wanita. Sudah tak sabar, setampan apa wajah CEO itu di balik topengnya. Jika wanita lain bergumam menebak rupa CEO JFB. Maka lain hal pada Valonia. Ia terfokus pada benda yang menempel di leher laki-laki yang melangkah ke arahnya.


CEO JFB mengenakan dasi berwarna maroon. Valonia ingat dasi itu pernah ia lihat di kamar Keyan waktu itu. Tak ingin berprasangka Valonia berpikir mungkin hanya mirip saja.


Laki-laki itu menarik tangan Valonia agar mengapit lengannya. Ia tersenyum dalam topengnya, melihat wajah cantik menatap penuh heran ke arahnya. CEO itu melangkah bersama Valonia Jasmine di atas catwalk. 


Jika dilihat lagi mereka pasangan serasi tapi tidak untuk Tita dan Sindy. Valonia sangat tidak pantas berada di sana apa lagi melangkah bersama CEO JFB, terlebih owner Jasmine Boutique itu sudah menikah. Bukankah ? Hal ini melukai perasaan suaminya nanti. Namun Valonia hanya bersikap profesional atas kerja sama ini.


"Perkenalkan dia adalah CEO JFB. KEYAN GANENDRA."


Tubuh Valonia terhuyung, namun tangan kekar Keyan sigap merangkulnya. Manik matanya membulat ketika topeng itu terlepas dari wajah pria yang kini memeluknya. Tak hanya Valonia yang terkejut. Ayah Johan juga mematung di kursinya, hal sama juga terjadi pada pak Anton. Tapi tidak pada Pak Andre, ia tersenyum bangga sambil bertepuk tangan.


Tita dan Sindy terperangah. Niat hati ingin memisahkan Keyan dan Valonia dari acara ini. Malah dikejutkan dengan kehadiran Keyan sebagai CEO misterius selama ini.


"Keyan."


Lirih Valonia masih tak melepaskan tatapannya pada sang suami. Keyan menyerahkan topengnya pada Endi. Ia tersenyum lalu mengecup lembut kening istrinya.


Pernyataan Keyan sontak saja mematahkan harapan kaum wanita paruh baya yang akan menjodohkan  putra mereka pada Valonia Jasmine. Hal sebaliknya pun juga sama para pebisnis tua yang berniat menjadikan putri mereka sebagai umpan menggaet pengusaha muda itu. Gagal sudah.


"Mungkin diantara tamu yang hadir penasaran dengan sepak terjang seorang Keyan Ganendra atau pun kehidupan pribadinya. Di malam ini kami beri kesempatan kalian  bertanya diwakili oleh para teman-teman jurnalis. Persilahkan." Endi memberikan kesempatan pada jurnalis untuk bertanya.


"Tuan Keyan. Dari kabar yang kami dengar, selama mendirikan JFB anda tidak pernah sekali pun muncul di media. Boleh kami tahu alasannya ?"


Keyan tersenyum, lalu mengajak Valonia duduk di kursi yang baru disediakan. "Karena saya ingin memberikan kejutan pada istri saya. Dan membuktikan pada semua orang yang memandang saya sebelah mata jika seorang Keyan bisa sukses ! Meski pun langkah saya lebih dulu dipatahkan."


Sindiran halus itu langsung menohok hati Ayah Johan dan Pak Anton. Mereka berdua sama-sama melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Dinginnya ruangan itu tiba-tiba terasa panas untuk mereka berdua.


"Kenapa anda memberi nama perusahaan ini dengan nama JFB ? Apa dari tiap huruf tersebut memiliki arti sendiri untuk anda ?"


"JFB adalah kepanjangan dari  Jasmine Flower Bud." Keyan menoleh pada Valonia dan menatapnya penuh cinta. "Artinya kuncup bunga melati." Sambung Keyan mengecup lembut punggung tangan Valonia Jasmine. Kemudian ia berkata "Jasmine atau Jasminum adalah nama latin dari bunga melati, Saya menyukai bunga melati dan terinspirasi dari kuncup nya yang cantik sebagai model perhiasan yang akan saya buat. Jadi,  produk yang dikeluarkan oleh JFB ada sentuhan bunga melati tiap modelnya. Intinya, JFB berdiri untuk istri saya dan Valonia Jasmine hidup untuk saya sendiri."


Tepuk tangan kembali menggema, para gadis mengatupkan bibir mereka menahan iri atas cinta Keyan terhadap Valonia.


Tita mengepalkan tangannya kesal, kenapa cinta Keyan sebesar ini ? Kenapa cinta itu tak bisa ia miliki ? Bertahun-tahun ia mengejar cinta Keyan sampai mempermainkan hati Varen yang tulus padanya, hanya untuk terlihat keren di mata sang pujaan hati karena ia menaklukan seorang kapten basket di zamannya.


"Dari cerita anda tadi dapat kami simpulkan. Bahwa Anda sangat mencintai Nyonya Valonia."


"Iya, saya sangat mencintainya. Jika orang-orang diluar sana berpikiran bahwa dia kelemahan saya. Maka, sebaliknya. Jasmine saya adalah kekuatan saya. Hadirnya JFB adalah karena dirinya dan hanya untuknya. Demi pantas bersanding dengan wanita sehebat dia. Saya harus setara dengannya."


Netra Valonia berembun, ia terharu atas ungkapan suaminya. Sebesar inikah Keyan mencintainya ?


Alvan mengusap sudut matanya sambil tersenyum. Cinta yang ia miliki untuk Valonia tak sebesar cinta tulus sahabatnya. Perjuangan Keyan tak dapat ia tiru. Alvan salut dengan keberhasilan sahabatnya itu.


Di kursi yang tak jauh, Varen dan Sonny melipat kedua tangannya di dada. Bangga atas pernyataan Keyan, jika sepupunya itu adalah kekuatan untuk sahabatnya. Tak sia-sia cambukan melalui kalimatnya selama ini membentuk seorang Keyan Ganendra lebih kuat seperti saat ini.


"Tuan Keyan. Terimakasih sudah mau menjawab pertanyaan kami."


Keyan mengangguk. "Di antara yang hadir pasti bertanya, kenapa malam ini saya menggandeng Jasmine Boutique ? Kenapa bukan butik lain. Apakah karena owner nya istri saya ? Jawabannya adalah, para model hadir malam ini meminta sendiri jika mereka bersedia bekerja sama pada JFB dengan syarat mengenakan pakaian rancangan terbaru dari Jasmine Boutique. Itu tandanya mereka mengakui kualitas karya istri saya."


Mia dan Rara tersenyum senang. Perjuangan Valonia merambah dunia fashion membuahkan hasil yang fantastis jauh dari perkiraan mereka yang tak memiliki target tinggi. Padahal mimpi seorang Valonia Jasmine hanya menjadi perancang busana untuk butiknya dan membuatnya berkembang. Tapi, tak disangka sebelum digandeng JFB, butiknya sudah dilirik para pencinta fashion berkelas atas. Banyak piagam perhargaan yang Valonia peroleh ketika mengikuti event tertentu.


Ayah Johan gegas pulang  tanpa pamit pada Pak Andre dan Pak Anton. Perasaannya bercampur aduk. Ia tak bisa menunggu acara ini hingga selesai.


Tak jauh berbeda, Tita dan Sindy juga langsung keluar dari aula. Membawa harapan hampa. Rencana yang telah tersusun rapi sejenak buyar tak menentu.


"Selamat ulang tahun Valonia."


Valonia menoleh kebelakang, di sana Bunda Arini berdiri membawa kue untuk sang menantu. Valonia semakin tak mampu berkata-kata. Atas apa saja yang baru terjadi. Dari CEO misterius yang tak lain adalah suaminya sendiri. Dilanjutkan berdirinya perusahaan JFB karena dirinya. Ditambah lagi ulang tahun yang ia lupakan.


"Selamat ulang tahun sayang. JFB hadiah untukmu." Keyan memeluk erat Valonia Jasmine dan mengecup lembut pucuk kepalanya.


Endi mengendalikan suasana. Pembukaan kantor induk baru diakhiri acara ulang tahun sang Nyonya CEO.