
Tita dan Sindy bersiap meninggalkan ruangan. Setelah melihat Valonia membeku di tempatnya duduk atas brankar. Tanpa mereka sadari dua pasang mata memperhatikan tindakan mereka.
"Tidak semudah itu, kamu pergi setelah mengguncang mental istriku !"
Suara dingin syarat akan kebencian itu menusuk di gendang telinga Tita. Bahkan, Sindy terpaku di tempatnya berdiri melihat sosok mengerikan berdiri di ambang pintu.
"Ke—keyan. A—aku hanya membantu dia untuk mengingat." Elak Tita. Sambil melangkah mundur. Tak dipungkiri ia takut setengah mati karena ketahuan.
"Dan kamu berhasil." Keyan bertepuk tangan serta melirik istrinya yang tak bereaksi apa-apa hanya diam dengan tatapan kosongnya. Sedetik kemudian ia melayangkan pukulannya ke wajah Tita. Telapak tangan lebarnya mencetak lebam di wajah mulus gadis itu.
Tita shock mendapatkan tamparan dari laki-laki yang dicintainya itu. "Ka—kamu memukulku. Hanya demi dia, Key." Lirihnya tak percaya. Buliran air mata tumpah membasahi wajahnya.
"Iya, demi dia istriku ! Membunuh kamu pun aku bisa. Tapi itu tidak aku lakukan karena akan membuatku dalam lingkaran yang sama dengan wanita menjijikan sepertimu !" Tegas Keyan mengapit dagu Tita. Netra nya sangat merah pertanda amarahnya telah memuncak. "Dan kamu, anak pungut harusnya sadar diri."
Bagai hujaman anak panah tak kasat mata. Kalimat rahasia itu telak menusuk hati Tita. Serangan mental dibalas serangan mental pula oleh Keyan. Ia tersenyum melihat reaksi Tita sama persis dengan Valonia.
Sindy terbelalak ketika tangan kokoh sudah mendarat di lehernya. "Ren, jangan lakukan ini." Mohon nya menahan pergelangan Varen yang perlahan mencekiknya.
"Kamu, wanita simpanan ayah sahabatmu sendiri ! Dasar tidak tahu malu."
Kalimat pendek itu membuat Tita menoleh pada Sindy dengan tatapan terkejut dan penuh pertanyaan. "A—apa maksudmu"? Ia terbata belum selesai dengan keterkejutannya mendengarkan penuturan Keyan. Kini Tita dikejutkan lagi dengan kalimat Varen.
"Karena Tante Tania tidak bisa memiliki anak, mereka mengadopsi mu dari kepala asisten rumah yang kamu tempati saat ini. Saat itu beliau sakit-sakitan dan Ayahmu telah tiada. Tante Tania menyayangimu dan sepakat bersama Om Anton untuk mengadopsi mu." Jelas Keyan berdiri tegap menghadap Tita.
Tubuh Tita limbung, tangannya berpegangan erat di tepi brankar Valonia. Ia berusaha tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Semenjak Sindy jadi sekretaris ayahmu. Mereka menjalin hubungan terlarang, sampai disini kamu paham anak pungut !" Varen menyambung penjelasan Keyan dan menghempaskan tubuh Sindy dengan kasar ke atas sofa.
Tita melorot ke lantai dengan tatap tak percaya pada Sindy yang telah menangis tersedu-sedu. Rahasia yang Sindy jaga selama ini terbongkar oleh laki-laki yang ia cintai sendiri. Karma terbayar dalam hitungan menit atas perlakuannya pada Valonia Jasmine.
Keyan berjongkok lalu berkata pada Tita. "Orang yang kamu panggil Papa dan Mama bukan orang tua kandungmu !"
"Ada apa ini ?"
Levin datang bersama Rara dan Mia. Tak lama menyusul Mama Merry. Mereka terkejut melihat Keyan dan Varen berbuat kasar pada Tita dan Sindy. Namun lebih terkejut lagi melihat kondisi Valonia bak patung di atas brankar.
"Pengawal, bawa mereka ! Jangan sampai lepas begitu saja. Pelajaran hari ini belum berakhir."
Keyan berdiri lalu menghampiri istrinya. Ia meraih Valonia kedalam pelukannya lalu mengecup pucuk kepalanya penuh cinta. Keyan tak terkejut sewaktu-waktu ini memang akan terjadi. Namun yang ia herankan dari mana Tita dan Sindy dapat informasi itu?
"Aku akan menemui kalian setelah ini." Varen membiarkan pengawal menarik Sindy yang masih terkejut dengan fakta dirinya terungkap di depan Tita.
Tita melangkah gontai mengingat asal usul dirinya yang anak seorang kepala asisten rumah tangga di rumahnya sendiri. Ia menurut pasrah ketika para pengawal yang ia kelabui tadi menariknya untuk keluar dari ruangan.
"Valonia." Mama Merry menangis melihat kondisi putrinya yang terluka mentalnya. Tak ada air mata hanya tatapan kosong dan otaknya yang bekerja mencerna kejadian hari ini. "Mama kira mereka teman-temannya yang datang. Jadi Mama membiarkan mereka di dalam." Sesal Mama Merry.
"Ma, yang penting kita bangunkan Jasmine dari kondisi seperti ini." Keyan menepuk pelan pundak Valonia dan menghujani banyak kecupan cinta.
"Dari mana Tita dan Sindy tahu rahasia itu?" Levin duduk dengan kebingungan di atas sofa.
"Entahlah." Varen melangkah menghampiri sepupunya itu. Lalu menangkup wajahnya dengan telapak tangannya. "Valo lihat aku. Fakta itu benar, kamu mengalami kecelakaan bersama Papa Danu dan Mama Merry. Tapi ada yang tidak benar, kamu bukan penyebab Papa meninggal."
"AKU PEMBUNUH PAPA ! AKU PEMBUNUH ! PAPA MENINGGAL KARENA AKU !" Teriak Valonia histeris dan meronta dari dekapan Keyan.
"Valo, itu tidak benar. Nak !" Tangis Mama Merry pecah melihat goncangan yang di alami Valonia.
"AKU PEMBUNUH ! "
"Sayang, itu tidak benar. Itu kecelakaan murni." Keyan berusaha menahan tubuh Valonia sembari memegang pergelangan tangan istrinya yang berceceran darah akibat infusnya yang terlepas.
"Valo. Kamu lihat aku" Rara tak kuasa menahan air matanya. Hari ini ia dapat melihat sahabatnya itu benar-benar rapuh. "Mereka mencoba memprovokasi kamu."
"Jasmine, tenanglah ini tak sepenuhnya benar." Levin juga ikut menenangkan Valonia. Ia bisa melihat jika Keyan kewalahan karena Valonia terus meronta dengan ucapan mengatakan dirinya seorang pembunuh.
"Maaf aku terlambat." Sonny segera menyuntikan penenang ke tubuh Valonia. "Hari ini aku sibuk. Jadi tidak mengawasinya, aku sudah dapat kabar dari Mia. Dia yang meneleponku tadi." Sonny merasa bersalah karena tidak ada di tempatnya.
"Sayang, tenang ya. Aku mencintaimu. Aku tak perduli apa yang terjadi di masa lalu, itu musibah bukan kesalahanmu." Keyan mengelus pundak Valonia yang masih bergumam. Tubuhnya masih gelisah dan meronta.
"Kalian jaga Valonia. Aku akan menemui Tita dan Sindy." Varen melepaskan tangannya yang menahan kaki Valonia.
"Pergilah. Aku tetap di sini." Rara mengambil alih kaki Valonia dan menahannya agar tidak bergerak.
"Aku ikut." Levin menoleh sebentar pada Valonia. Kemudian berputar mengikuti langkah Varen. Ia merasa bersalah karena meninggalkan ruangan Valonia tadi.
"Jangan menyalahkan diri kalian." Sahut Keyan masih dalam posisi memeluk istrinya.
Perlahan-lahan. Tubuh Valonia melemah setelah beberapa menit disuntik. Ia menjadi tenang, Keyan membaringkannya di kasur lalu merapikan anak rambut istrinya. Ia mengecup keningnya sejenak lalu menaikan selimut ke batas dada Valonia.
"Maafkan Mama, Key. Harusnya Mama tidak meninggalkan dia." Mama Merry masih menangis dalam penyesalan.
"Jangan menyalahkan diri mama. Istriku baik-baik saja sekarang." Keyan tersenyum hangat pada ibu mertuanya itu. Meski hatinya terluka kelihat kondisi istrinya saat ini.
...----------------...
Angin berhembus pelan. Di kaki langit sebelah barat matahari perlahan tenggelam. Malam bersambut dengan sendu, segaris cahaya berakar memancar cepat di balik awan. Bintang pun kalah pesona dengan pekatnya ketebalan awan hitam.
Di dalam sebuah ruangan bernuansa biru tua. Dua orang gadis duduk merenungi keadaan masing-masing. Di atas atap mulai terdengar rintik hujan yang berjatuhan. Suasana sepi sangat terasa dilingkup mereka berdua.
Hanya air mata yang mengalir di wajah keduanya yang nampak kacau. Bibir mereka seolah terkunci rapat untuk bicara satu sama lainnya. Ada yang terpuruk dalam lembah penyesalan. Ada pula yang berusaha menepis fakta kehidupan palsu selama ini.
Di ambang pintu, Varen dan Levin berdiri sambil melayangkan tatapan penuh kebencian pada dua wanita yang melihat ke arah mereka.
"Kenapa kalian lakukan ini padaku?" Suara Tita bergetar sendu. Nampak lemah dan putus asa.
"Kenapa mengusik Valonia ?" Jawaban berupa pertanyaan dibalas oleh Varen.
"Karena dia mencuri Keyan dariku !" Intonasi Tita sedikit meninggi. Ia masih tak terima jika Valonia hidup bahagia.
"Keyan dan Valonia sejak awal memang sudah bersama. Hanya saja kalian yang egois memisahkan mereka." Sahut Varen. Sambil melangkah mendekat ke arah kursi di mana Tita dan Sindy duduk.
"Dari mana kalian tahu tentang kecelakaan itu?" Kini Levin ikut bertanya sembari mendaratkan tubuhnya di meja.
Tita tersenyum tipis. "Itulah resiko memiliki istri bodoh." Sarkas nya tersenyum remeh.
Alis Levin hampir menyatu. Berusaha mencerna kata-kata Tita. Ia tak berkedip berharap dugaannya tidak benar. Api amarah di tubuhnya mulai menyala dan tangannya terkepal, jika benar istrinya terlibat. Maka Levin tidak akan membiarkan wanita yang jadi ibu anaknya itu senang begitu saja.
"Katakan dengan jelas !" Tegas Varen.
"Ka—kami dapat informasi itu dari Fanny." Sindy menjawab dengan terbata. Ketakutan masih saja merajainya saat berhadapan dengan Varen.
Tanpa bicara lagi, Levin meninggalkan ruangan itu. Emosinya sampai pada tingkat tertinggi. Ia tak menyangka istri yang susah payah ia cintai terlibat dalam masalah hari ini.
Sementara Varen langsung menghampiri Tita dan berkata. " Kami menuntutmu atas kejadian hari ini dan beberapa waktu lalu."
"APA ?! Ja—jangan lakukan itu, Ren. Aku berjanji tidak lagi mengganggu Keyan dan Valonia. Aku mohon !" Tita menangkup dua telapak tangannya disertai derai air mata.
"Aku bahkan curiga penyerangan pada Valonia kemarin sore adalah ulah kalian. Jika terbukti maka aku tidak akan melepaskan kalian."
Tita menggeleng. "Bukan kami, sungguh ! Kami tidak tahu itu." Sanggahnya cepat.
"Kita lihat saja nanti."
Varen bergegas meninggalkan tempat itu dan ingin kembali ke rumah sakit. Tita meraung, meronta di tempatnya duduk. Sementara Sindy tak mampu mengangkat wajahnya pada Tita.
...----------------...
Levin masuk tanpa mengetuk pintu. Tangan kekarnya mendorong keras daun pintu. Hingga Fanny terkejut di ruang tengah, perasaannya tiba-tiba tidak nyaman melihat raut wajah suaminya yang tak biasa. Fanny sadar atas kesalahannya, terbukti ia bergetar ketakutan saat ini.
"Ma—maafkan aku." Fanny menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di hadapan Levin. Tangisnya tak dapat ia sembunyikan lagi, rasa sesal menghukumnya saat ini juga.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Levin berusaha bicara dengan nada rendah agar tak membuat istrinya ketakutan.
"A—aku terhasut mereka. Aku terbawa perasaan." Fanny mengakui jika dirinya terpengaruh oleh Tita dan Sindy.
"Itu artinya kamu minim kepercayaan padaku." Sekuat tenaga Levin menahan amarahnya agar tidak berlaku kasar pada istrinya. "Kamu tahu resiko dari kecerobohanmu ! Jasmine mengamuk di rumah sakit. Jika ia tak bisa mengendalikannya akan berujung depresi. Kamu puas melakukan kejahatan itu, pada wanita yang telah baik padamu?"
Mata Fanny membulat sempurna, ia tak menyangka jika Valonia benar-benar terguncang. "AKU CEMBURU ! CEMBURU, KARENA PERHATIANMU PADANYA ! Tita mengatakan jika kamu masih ada perasaan pada Valonia Jasmine. Maka dari itu aku menceritakan semuanya." Fanny meluapkan perasaan terpendamnya selama ini.
"Apa kamu sadar atas ucapanmu ?! Andai aku masih mencintainya, mana mungkin aku mau menikahi dan menyentuhmu hingga lahirnya Fendi. Kenapa pikiranmu dangkal ?! Aku memperhatikannya karena aku sayang pada Jasmine. DIA DAN VAREN ADALAH KERABAT YANG AKU MILIKI SAAT AKU TAK PUNYA APA-APA ! "Intonasi Levin meninggi. Sekuat apa pun ia menahan amarahnya tetap saja meledak. "Valonia Jasmine akan terhubung denganku selamanya. Karena perbuatan baik Om Danu." Nada bicara Levin merendah. "Bukankah? Aku pernah mengatakannya padamu, Om Danu yang selama ini berada di belakang layar membantuku semasa aku kuliah. Dosen ketat aturan yang membayar semesteran dan lain-lainnya. Beliau seperti malaikat nyata di hidupku. Sampai mati pun aku akan tetap terikat pada keluarganya. Mereka menjadikan aku keluarga tanpa tahu asal - usulku. Hingga Varen datang menawarkan bantuan padaku waktu itu. Kamu sendiri tahu bagaimana Varen ikut balapan dan yang lainnya untuk membantu aku membangun kafe itu. Haruskah ? aku menceritakannya lagi." Air mata Levin tumpah di wajahnya. Ia membawa tubuhnya yang gemetar di atas sofa.
"Aku minta maaf." Tangis Fanny tak kalah pecahnya. Terlebih melihat suaminya sampai mengeluarkan air mata. Itu tandanya laki-laki itu benar kecewa.
"Aku pernah menyukai Jasmine dan ingin menikahinya karena merasa berhutang budi pada ayahnya. Tapi kami tidak berjodoh, Tuhan menjadikan kami saudara dari kebaikan Om Danu. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu selama pernikahan kita. Tapi kenapa kamu tega padanya? Sekarang kamu puas melihat dia tidak baik-baik saja. Jangan mencari ku jika kamu belum menyadari kesalahanmu." Levin bangkit dari sofa langsung keluar dari rumah. Tanpa menoleh lagi kebelakang. Ia benar-benar marah dan kecewa.