Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Cinta Varen



Seminggu sudah berlalu, kelompok belajar yang di pimpin oleh Valonia Jasmine. Lancar tanpa kendala, mereka memecahkan permasalahan secara bersama. Mencari solusi dengan baik dan berdiskusi, sejauh ini hubungan mereka terlihat baik dan semakin akrab.


Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, seperti mencari buku dan jalan-jalan. Keyan dan Alvan sangat senang atas sikap tiga teman barunya itu. Mereka terbuka dan selalu menolong.


"Jasmine." Keyan mendaratkan tubuhnya di kursi depan meja Valonia. Pria ini datang membawa sebotol susu dingin kemasan. "Ini untuk mu, sepertinya sore ini aku tidak ikut belajar. Ada pertemuan keluarga di rumahku, tidak apa-apa, 'kan ?" Keyan menyodorkan susu itu lalu melipat kedua tangannya di atas meja.


Valonia melihat susu itu kemudian berkata. "Tidak apa-apa. Nanti akan aku titipkan pada Alvan, materi yang kami pelajari sore nanti." Paparnya halus.


Keyan mengangguk. "Terimakasih, sekarang nilaiku membaik. Aku ke kelas dulu ya." Pamitnya lalu berdiri dari kursi dan melangkah ke luar.


Valonia meraih botol susu rasa coklat itu. Seutas senyum tipis melengkung di bibirnya. Rasanya, ia senang mendapatkan perhatian seperti itu. Selama mengenal Keyan, pria itu terlihat baik dan hangat.


"Hei, kenapa tersenyum sendiri?" Rara baru saja tiba dari toilet. Ia duduk di kursinya sebelah Valonia, matanya tertuju pada botol susu yang ada di genggaman sahabatnya ini. "Dari Keyan lagi ?" Tanyanya pelan.


"Iya, dia ke sini tadi, katanya sore nanti tidak ikut belajar. Ada pertemuan keluarga di rumahnya." Valonia menjelaskan sambil tersenyum melihat kembali botol susu.


"Dia sangat tahu rasa kesukaan mu, apa dia menyukai mu?" Rara memicingkan matanya menggoda Valonia. "Apa pendapat mu tentangnya? Sejauh aku mengenalnya, Keyan laki-laki baik dan hangat." Sambung nya lagi.


Pipi Valonia memerah, ia menundukkan wajahnya. "Kamu benar, dia baik dan hangat." Jawabnya pelan. Tiba-tiba dia merasakan aura panas di wajahnya.


Rara tertawa, lalu mengangkat dagu sahabatnya itu menggunakan telunjuknya. "Wah, rona apa ini ? Pipi mu pink." Ia tertawa semakin nyaring.


Valonia menutup mulut Rara dengan telapak tangannya. "Jangan keras-keras, aku malu." Wajah putihnya semakin merona merah.


Rara menghentikan tawanya. Lalu menggenggam kedua tangan Valonia. "Jangan malu padaku, wajar jika kita memiliki rasa suka pada lawan jenis. Karena itu pertanda kita normal." Tuturnya lembut.


Valonia mengangguk. "Aku menyukainya bukan karena ingin menjadi kekasihnya, tapi aku menyukainya karena dia baik hati dan mau berteman denganku." Jelasnya. Setelah menekan rasa malunya. "Dalam artian aku hanya mengaguminya. Entah nanti aku tidak tahu."


Rara mengangguk paham, dia dan Valonia memiliki tipe berbeda. Jika Valonia tertutup jika menyangkut urusan hati, maka dirinya terbuka dengan urusan hati dan perasaannya.


Mereka berbincang sambil bercerita, melupakan cerita tentang Keyan. Kini mereka berganti topik tentang Varen. Apa penyebab, pria itu putus dengan kekasihnya Tita. Bukankah ? semua orang tahu jika mereka terlihat baik-baik saja selama ini.


"Kalian menyebut nama ku? Ada apa ?" Varen tiba-tiba masuk ke kelas. Dia mendengarkan namanya di sebut Valonia dan Rara.


" Tidak ada apa-apa." Rara tersenyum canggung, meski mereka berteman. Tapi Varen tidak terlalu terbuka pada nya, seperti kepada Valonia.


" Ayo ke kantin." Varen menyeka keringatnya dengan tissue saku milik Valonia.


Hari ini, mereka tidak belajar di kelas. Tapi praktek di lapangan saat mata pelajaran olahraga. Mereka bertiga langsung bergegas ke kantin.


...----------------...


Malam menyapa dengan cuaca yang cukup bersahabat. Di atas langit, bulan bersinar separuh. Di kelilingi ribuan bintang yang cantik, hembusan sang bayu malam. Menampar wajah dua orang anak manusia yang tengah duduk di balkon kamar. Mereka sama-sama menengadahkan wajah ke atas langit, menikmati tampilan langit malam ini. Mereka adalah Valonia dan Varen.


" Yang kamu dengar siang tadi di sekolah, benar ! Kami membicarakan tentang mu. Kenapa putus dengan Tita? Selama ini kalian terlihat baik-baik saja."


Varen tertawa." Jadi aku belum cerita ya? baiklah, aku akan menceritakannya. " paparnya kemudian mulai bercerita.


...----------------...


Kilas Balik...


" Apa-apaan ini?" Varen menghampiri Tita dengan perasaan marah. Namun, dia tak langsung menghakimi nya. "Jelaskan padaku?" Ia mengepalkan tangannya berusaha menahan diri agar tidak memukul pria yang bersama kekasihnya itu.


" Ren, aku sengaja meminta mu untuk datang ke sini. Aku ingin kita putus." Jelas Tita. Tanpa melepaskan lingkaran tangannya pada lengan pria di sampingnya.


Varen tertawa kesal. " Putus, kenapa ? Apa aku berbuat salah ? Katakan ! biar ku perbaiki." Ia berusaha mempertahankan hubungan itu.


Tita melangkah maju menghampiri Varen. "Sebenarnya, aku tidak menyukai mu. Aku mencintai orang lain." jelasnya tanpa rasa bersalah.


Varen menunduk melihat ujung sepatunya. Berusaha meredam amarah yang menggebu di dadanya. Kepalan tangannya semakin erat, Kenapa Tita baru mengatakannya sekarang ? Saat dirinya, benar-benar menyukai gadis itu.


"Kamu dijadikan taruhan Varen Azka !" tiba-tiba pria di belakang Tita bersuara.


"Maaf" Lirih Tita.


Varen mengangkat wajahnya, kemudian menatap tajam pria bernama Sonny itu. Tanpa kata-kata, Varen langsung meninju rahangnya.


" Sialan !" Sonny meringis mengusap sudut bibirnya yang pecah.


Tak hanya menerima, Sonny pun membalas pukulan Varen. Rasa benci dan amarah mereka tumpahkan berdua. Permusuhan karena menjadi rival basket itu semakin menjadi.


Tita melihat hal itu, menjadi panik dan berusaha melerai kedua nya. Namun, tidak ada yang menghiraukannya. Kini ia menyesal sudah meminta bantuan Sonny untuk menemaninya malam ini. Andai dia tahu jika Sonny dan Varen  bermusuhan sejak lama. Tita pasti mencari cara lain untuk memutuskan Varen.


Wajah kedua kapten basket itu sudah membiru dan mengeluarkan darah. Tita akhirnya meminta bantuan pada beberapa orang. Untuk memisahkan Varen dan Sonny.


"Ini minumlah !" Tita meletakkan botol air mineral. Di hadapan kedua laki-laki yang masih saling menatap penuh permusuhan itu.


"Ren, aku tidak mau berpura-pura lagi. Selama ini aku tidak mencintai kamu. Sonny benar, aku dan teman-teman ku bertaruh. Saat kalian tanding basket beberapa bulan lalu. Siapa yang bisa menjadikan kamu kekasih di antara kami, maka akan mendapatkan tiket gratis untuk pergi liburan." Sekali lagi Tita menjelaskan tanpa rasa sesal sedikit pun.


Varen terdiam, kemudian berdiri lalu melangkah menuju arah motornya yang terparkir. Ia meninggalkan tempat itu dengan rasa yang sakit. Sakit di hatinya, sakit juga di tubuhnya.


Kilas balik selesai...


...----------------...


Valonia menghembuskan nafas kesal, kenapa Tita seperti itu? Apa kalangan orang berkecukupan akan se-enaknya mempermainkan hati orang lain?


" Maaf, membuat mu jadi mengingat ini lagi." Valonia bisa merasakan sakit hati seorang Varen.


"Aku sudah melupakannya, sudah malam. Masuklah !" Varen meraih gitar miliknya lalu melangkah menuju balkon kamarnya.


Tita menyukai Keyan


Varen berbalik, melihat pada Valonia yang  menggeser pintu balkon. Sebagai laki-laki, ia bisa melihat ada rasa pada diri Keyan untuk Valonia Jasmine.


Epilog


Beberapa hari lalu, Sonny datang menemui Varen. Pria itu datang dengan niat baiknya, Sonny meminta maaf secara tulus pada Varen. Ia juga menceritakan kenapa bisa membenci Varen. Itu disebabkan karena dia juga menyukai Tita, Sonny pun merasa di permainkan. Setelah membantu Tita malam itu, ternyata orang yang di sukai Tita bukan dirinya melainkan Keyan.