
Suara barang-barang berjatuhan memekakkan telinga. Di dalam ruangan bernuansa abu-abu. Seorang pria mengamuk karena gagalnya rencana menyingkirkan Valonia Jasmine. Yang ia anggap sebagai orang yang tahu rahasia seorang Derry.
Nafasnya naik turun, Ia menarik kasar dasi yang menjadi lambang karismanya. Keringat di wajahnya bercucuran. Mengeluarkan tenaga untuk meluapkan amarah, membuatnya lelah hingga menghembuskan nafas kasar berulang kali.
"Besok pagi kamu bereskan orang-orang mu itu. Jangan sampai mereka membuka mulut untuk bicara dan membocorkan masalah ini." Perintahnya seolah tak terbantahkan. "Setelah itu, kamu menghilanglah sementara waktu. Biarkan kondisi tenang lebih dulu. Namun, sebelumnya kamu cari surat perjanjian itu di apartemen Marisa."
"Baik Tuan, saya akan lakukan. Kalau begitu saya pamit." Penguntit yang mengikuti Derry dan Valonia di pemakaman kemarin meninggalkan ruangan yang seperti kapal pecah itu.
Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Nafasnya bagai tertindih belum juga teratur, belum selesai melenyapkan surat perjanjian antara dirinya dan ibu Marisa. Kini Derry seolah mencari perlindungan pada orang lain, yaitu Valonia Jasmine.
...----------------...
Di rumah sakit kondisi Valonia Jasmine membaik, luka goresan di kulit lengannya juga mengering. Ia tersenyum melihat suaminya begitu cekatan dalam merawatnya. Keyan memilih tidak masuk ke kantor demi menemani Valonia.
"Sayang, tidak usah mandi. Aku seka saja tubuh mu ya." Keyan membawa baskom kecil yang berisi air hangat kuku dan handuk.
"Padahal aku mau mandi." Rengek Valonia manja. Bibirnya mengerucut ke depan khas anak kecil.
"Biar luka gores di tanganmu cepat sembuh sayang !" Gemas Keyan mengecup singkat bibir istrinya.
Sangat telaten Keyan menyeka tubuh setengah telanjang itu. Ia mengunci pintu dan menutup kaca agar tidak ada orang lain melihat tubuh istrinya. Saking gemas dengan tubuh mulus di hadapannya, Keyan menggigit pelan bahu istrinya. Laki-laki ini, selalu mencuri kesempatan menyesap memberi tanda kepemilikannya di kulit mulus Valonia Jasmine.
"Sayang hentikan !" Valonia merasa geli. Tangan Keyan bukannya menyeka malah merayap kemana-mana.
"Iya-iya sebentar lagi." Keyan tertawa mengakhiri membersihkan tubuh Valonia. Ia memakaikan baju yang di kirim oleh Bi Noni.
"Apa aku hari ini boleh pulang ?"
"Iya, tapi nanti ya agak siang. Tunggu Sonny benar-benar memastikan kamu bisa rawat jalan." Keyan bicara sambil membersihkan peralatan yang ia gunakan membersihkan tubuh Valonia.
"Aku ingin ke ruangan Alvan."
Keyan mengangguk lalu membantu Valonia turun dari atas brankar. Ia menuntun istrinya melangkah ke luar ruangan. Valonia merasa dirinya lebih baik dari tadi malam. Meski kadang bayangan kejadian kemarin terus saja berseliweran dibenaknya.
"Selamat pagi, Om."
"Selamat pagi." Pak Andre membalas sapaan Keyan. Bibirnya tersenyum menyambut sepasang suami istri yang melangkah masuk ke dalam kamar rawat putranya.
"Al, bagaimana kondisimu pagi ini ?" Valonia duduk di sisi ranjang Alvan. Ia menatap sahabat suaminya itu dengan perasaan bersalah. "Demi menolongku, kamu terluka. Aku minta Maaf." Sambung Valonia tulus.
Alvan tersenyum. "Itu pergerakan refleks, karena melihat salah satu mereka mengarahkan pisau padamu."
"Tetap saja, aku berterima kasih padamu. Apa lukanya masih terasa sakit?"
"Lukanya masih terasa sakit. Tapi tidak separah tadi malam. Lukanya juga tidak dalam sekali. Beberapa hari lagi aku akan pulih." Yakin Alvan.
"Syukurlah." Valonia menghela nafas panjang. Pertanda ia senang mendengar tentang kondisi Alvan.
"Bagaimana, Key. Apa kamu tahu tujuan orang-orang itu?"
"Hari ini Endi akan mencari tahunya, Om. Varen dan Bang Levin juga ikut serta. "
"Apa kamu mencurigai seseorang?" Alvan ikut bertanya.
"Apa mungkin Ayah ? Atau... Tita dan Om Anton ! Dilihat dari kejadian ini hanya mereka yang tidak menyukai Jasmine. Bisa saja, mereka melakukannya."
Pak Andre tersenyum. "Ayahmu tak sejahat itu, Nak. Mungkin, dia egois. Tapi untuk melenyapkan seseorang dia tidak akan melakukannya. Meski pun dia memang tidak menyukai istrimu. Namun Johan tak akan melukainya."
"Semoga saja memang begitu, Om."
"Hari ini aku akan pulang. Dan aku akan setiap hari datang bersama Keyan. Aku bisa menggantikan Om Andre untuk menjagamu." Valonia beralih duduk di samping suaminya.
"Tidak perlu, Nak. Om masih bisa pulang pergi dari sini." Pak Andre tak ingin Valonia kelelahan dan merasa bersalah terus menerus.
"Kalau kalian tidak keberatan. Baiklah ! Om sangat berterimakasih." Om Andre senang saat dirinya dan Alvan merasa sendiri ada Keyan dan Valonia yang datang menemani.
Perbincangan bergulir begitu saja, hingga menghabiskan waktu satu jam. Valonia merasa senang karena Alvan sudah membaik. Tak hanya menjenguk Alvan, ia juga menjenguk Pak Ardi.
Keyan merasakan getaran ponselnya, dilihatnya tertera nama Endi di sana. Tak ingin mengganggu perbincangan Valonia dan Pak Andre, Keyan memilih keluar dari ruangan.
"Key, ada berita buruk."
"Katakan !" Pinta Keyan cepat. Dadanya berdebar takut dugaannya benar. Harus bagaimana ia mengambil sikap ? Jika pelakunya benar-benar Ayahnya.
"Para penyerang itu sudah tewas."
"APA ?! Bagaimana bisa ?" Keyan terkejut. Siapa yang bermain-main ? Kenapa para penyerang itu dilenyapkan nyawanya ? "Apa Ayahku terlibat ?"
"Sebaiknya kamu datang kemari, melihat langsung kejadian ini. Di sini Varen juga datang bersama Bang Levin. Tentang Ayahmu, aku belum memastikannya."
"Baiklah."
Telpon terputus, Keyan masih berdiri di posisinya. Pikirannya tiba-tiba kosong. Tidak mungkin Ayahnya dan para sekutunya itu melakukan kejahatan ini. Keyan limbung sesaat di kursi tunggu, Ia ingin segera menyusul Endi dan yang lainnya untuk ke melihat kejadian ini secara langsung setelah kesadarannya kembali.
Dengan menguatkan langkah, Keyan kembali ke ruangan Alvan. Ia menetralkan rasa keterkejutannya agar Valonia tidak curiga dan bertanya.
"Telpon dari siapa sayang ?" Valonia menoleh ke arah pintu saat suaminya mendorong pintu untuk masuk.
"Dari Endi, sekarang kembali ke ruangan mu ya."
"Baiklah." Valonia berpamitan pada Pak Andre dan Alvan.
Sepasang suami istri itu keluar dari ruangan Alvan. Tanpa Keyan tahu sahabatnya itu menatap curiga padanya. Kegelisahan Keyan bisa Alvan lihat dengan baik.
Valonia mendorong pintu ruangannya, langkahnya terpaku ketika melihat sosok yang ia rindukan duduk di sofa seorang diri.
"Mama"
"Valo, dari mana saja ? Lukamu belum kering sempurna, Nak." Mama Merry menghampiri Valonia dengan perasaan cemasnya.
"Maaf, Ma. Kami tidak tahu jika Mama sudah datang dan menunggu lama di sini." Keyan menyalami ibu mertuanya itu. Dengan perasaan bersalah karena ketidak tahuannya atas kedatangan ibu Merry.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama juga baru sampai di antar oleh Papi Zaki. Dia titip salam saja tidak bisa mampir ada pertemuan penting di kantor." Mama Merry menuntun Valonia untuk kembali ke atas brankar nya.
" Aku habis menjenguk Alvan, Ma." Valonia berbaring. ia meringis karena merasa permukaan kulitnya kembali sakit dan perih.
"Sayang, kamu sakit lagi ?" Keyan meniup kulit tangan Valonia yang terluka.
"Rasanya sakit lagi, Kulitku perih." Rintih Valonia. Ia gelisah karena luka gores di kulitnya serasa terbuka.
Keyan menekan tombol di kepala ranjang. Dengan perasaan paniknya berusaha menenangkan istrinya yang merintih kesakitan.
"Apa kulitmu sakit lagi ?" Sonny datang dengan seorang perawat wanita.
"Iya."
"Valo, lukamu memang kering. Tapi di permukaan kulit saja. Di dalamnya masih basah. Jadi, saranku jangan banyak bergerak dulu ya. Luka ini memang sedikit tapi sangat sakit karena goresan kaca. Anti nyerinya juga sudah habis." Sonny menyuntik kembali anti nyeri di selang infus.
Mungkin luka di tangan Valonia terlihat kecil dan sedikit hanya tergores di permukaan kulit. Namun tetap saja menyisakan rasa perih ketika luka itu terbuka kembali. Usai merawat Valonia, Sonny kembali bekerja.
"Ma, titip Jasmine sebentar ya. Aku ada urusan sedikit. Nanti sore dia bisa pulang." Keyan menyibak rambut istrinya yang telah tertidur.
"Iya, Nak."
Keyan mengecup kening Valonia sebelum meninggalkan ruangan rawatnya. Ia juga menempatkan beberapa keamanan JFB untuk berjaga. Seiring langkah dan hentakkan sepatu Keyan, perasaannya tidak nyaman. Apa penyebabnya ? Keyan juga belum tahu.