
Keyan menunduk dengan raut wajah yang merah. Dari sorot matanya terlihat jika laki-laki ini menyimpan amarah yang sangat besar. Tidak hanya dirinya, Alvan juga merasa kecewa atas sikap ayah Johan.
"Saat kita masih di sekolah, kamu ingat jika Valonia keluar dari sekolah. Saat itu ujian akhir kita sudah dekat." Varen melanjutkan kisahnya. Ia pikir sudah waktunya Keyan tahu semuanya.
"Aku ingat."
Keyan menjawab dengan nada yang begitu rendah. Sebagai sahabat Alvan berusaha menenangkan Keyan. Tangannya menepuk pelan pundak laki-laki itu.
"Saat itu ibumu yang datang, entah dari mana beliau mendapatkan nomor ponsel Valo dan mengiriminya pesan. Memintanya bertemu di kafe depan sekolah, Valo sudah siap bertemu ibumu jadi hatinya tidak sesakit menerima penghinaan ayahmu." Varen mengatakannya dengan geram.
Keyan semakin mengepalkan tangannya. Buku-buku tangannya memutih. Inikah yang dihadapi gadis tercintanya itu? Sungguh ia tidak tahu, di balik penolakan itu ada orang tuanya yang berperan besar.
...----------------...
Kilas Balik
Valonia menyelesaikan tugasnya dengan tenang, setelah menyerahkannya pada ketua kelas. Ia bergegas keluar dari sekolah dan menolak Varen yang ingin menemaninya.
Setiba di sana, ia melihat kembali pesan yang masuk beberapa menit lalu. Jika orang yang membuat janji dengannya sudah ada di sana dengan mengatakan nomor mejanya.
"Selamat siang Bu Arini. Saya minta maaf membuat anda menunggu." Valonia duduk berhadapan dengan Bunda Arini yang terlihat masih cantik.
Bunda Arini tersenyum, inikah Valonia Jasmine yang disukai putranya? Aura gadis ini berbeda. "Tidak apa-apa, ayo pesan makanan dulu baru kita bicara."
Valonia tersenyum tipis. "Maaf jika saya tidak sopan, kita langsung ke inti pertemuan ini saja." Tegasnya mencoba membentengi dirinya dari hinaan lagi.
"Baiklah, saya kesini membahas tentang Keyan." Raut wajah Bunda Arini berubah sedih dan tatapannya begitu sendu. Ia tahu ini salah tapi demi putranya biarlah menanggung kesalahan ini.
"Katakan saja, apa yang bisa saya bantu?" Valonia bersikap tenang dan santai. Ia tidak lagi menunjukkan keterkejutannya seperti saat bertemu Ayah Johan.
Bunda Arini terkesiap, gadis ini benar-benar tenang. "Terimakasih, atas bantuan mu pada Keyan selama ini. Setelah kelulusan nanti... ayahnya meminta, Key. Melanjutkan ke Amerika. Tapi anak itu menolak. Kamu tahu kenapa dia menolak ?" Tatapan Bunda seolah menyiratkan harapan besar agar gadis di hadapannya ini mau membantunya.
Valonia menggeleng. "Saya tidak tahu." Ia menjawab pendek memang karena tidak tahu.
"Karena kamu."
"Saya."
Valonia terkejut dan menunjuk dadanya sendiri. Pikirannya tiba-tiba kusut dan bingung. Kenapa dirinya jadi alasan?
"Dia menyukaimu, karena itulah. Keyan menolak untuk pergi, dia berkeras hati agar tetap kuliah di sini. Tapi konsekuensinya dia akan kehilangan hak istimewanya. Keyan belum mandiri, dia juga bukan seperti ayahnya pekerja keras. Saya yakin dia tidak akan bertahan dengan keadaan seadanya sambil kuliah. Saya mohon Valonia lakukan sesuatu." Bunda Arini menyentuh pergelangan gadis cantik ini.
Jadi ini alasannya, Pak Johan menegaskan Tita sebagai jodoh Key. Aku mengerti sekarang.
Valonia bahagia, perasaannya terbalas. Tapi secara tidak langsung sudah dapat penolakan dari keluarga Keyan. Haruskah ? dia egois demi balasan cintanya. Netra nya menyelami manik mata Bunda Arini. Ada ketakutan dan harapan seorang ibu di sana.
"Saya akan pikirkan dulu. Dengan cara apa saya bisa membantu kalian. Harusnya kalian jangan memaksanya." Valonia terlihat begitu kesal. Ia menilai orang tua Keyan cukup egois. Meski itu memang untuk masa depan putra semata wayang mereka.
"Key, tidak pernah hidup dalam kekurangan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya dia hidup sendiri sambil bekerja dan kuliah lalu memenuhi kebutuhannya. Sekali lagi saya mohon lakukan sesuatu. Masa depan Key, ada di tanganmu. Jika kamu juga menyukai putraku, maka dorong dia untuk menuruti keinginan ayahnya dengan begitu dia akan tetap hidup tidak kekurangan apa pun. Tapi bila kamu ingin dia di sisimu maka bersiaplah menyaksikan penderitaannya hidup di luaran tanpa bekal apa-apa." Setelah mengatakan itu bunda Arini langsung pergi meninggalkan kafe.
Valonia tak ingin memikirkannya dengan cepat. Gadis itu memutuskan untuk kembali ke sekolah.
Kilas Balik selesai
...----------------...
Keyan semakin tak berkutik. Perasaannya bercampur aduk. Ada amarah dan sesal bercampur kecewa. Itukah, alasan di balik penolakan Valonia padanya ? Keyan tertawa kesal, ia seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Semakin lama tawa itu berubah menjadi tangis.
"Ayah, Bunda. Bukankah ? Aku sudah katakan jangan libatkan Jasmine. Tapi kalian tidak mendengarkan ku." Tangis Keyan semakin terdengar. Ia mengingat kembali kata-kata buruk yang pernah ia lontarkan pada Valonia. Rasa benci yang ia tanamkan untuk gadis itu membuatnya semakin sedih.
"Di hari pengumuman kelulusan itu. Ibumu mengirim vidio pertengkaran mu dan pak Johan yang di ambil dari Cctv." Tambah Varen lagi.
Keyan semakin terkejut. Sebesar itukah keinginan orang tuanya, agar dia menurut kuliah di Amerikan dan berpisah dari Valonia. Tapi kenapa? Apa karena materi? Ia dapat memetik dari cerita Varen. Ayahnya tidak setuju apabila ia menjalin hubungan dengan Valonia Jasmine. Dan ayahnya sudah menjodohkannya pada Tita. Cukup bagus alasan kedua orang tuanya untuk menolak Valonia Jasmine dengan cara menekan kehidupan Keyan. Tentu saja Valonia tidak akan bisa melihat Keyan hidup dalam kekurangan.
"Perasaanmu terbalaskan, Key."
Keyan melihat ke arah Levin. Pria itu bicara sambil tersenyum. Keyan mengusap air matanya, rasa malunya sudah hilang karena amarah dalam hatinya.
"Maksud Abang ?"
"Jasmine juga menyukaimu. Dia mengorbankan perasaannya demi masa depanmu dan mengorbankan dirinya untuk kamu benci agar kamu tidak dibuang dari keluargamu."
"Tapi sekarang kami tidak tahu. Apa perasaan itu masih ada atau tidak. Ingatannya hilang, itu tandanya kalian pun juga hilang dari ingatannya. Valonia mengalami amnesia dua tahun lalu." Varen menambahkan berita baru.
Keyan semakin sesak. Mengetahui jika Valonia benar-benar tidak mengingatnya. Jangan ! Jangan sampai perasaan Valonia juga hilang. Keyan tidak mau itu terjadi. Cukup dirinya yang terlupakan di memori, jangan sampai terkikis juga dari hati Valonia Jasmine.
"Apa yang terjadi pada Jasmine ?"
...----------------...
Kilas Balik...
Langit malam seolah tak bersahabat, pancaran kilat menembus awan. Dentuman petir saling bersahutan. Cuaca cukup berangin.
Sudah empat hari Papa Danu dan Mama Merry menginap di rumah Mami Dilla. Mereka sengaja datang untuk menjenguk Valonia.
"Ma, Papa kenapa tidak keluar dari kamar ?" Valonia sejak sore tidak melihat Papa Danu bersantai di ruang tengah seperti biasanya.
"Papa, kurang sehat. Besok pagi rencananya mau ke dokter. Mama khawatir gula Papa mu naik." Mama Merry terlihat cemas.
"Kalau begitu, aku lihat Papa dulu ya..." Valonia bergegas melangkah menuju kamar tamu yang di tempati orang tuanya. Gadis itu membuka perlahan daun pintu. Netra nya tertuju pada Papa Danu yang terbaring di atas kasur. Posisinya mirip seperti orang tidur.
"Apa Papa bangun ?" Mama Merry menyusul putrinya.
Valonia tidak menjawab, ia menyentuh lengan Papa Danu. "Pa..." Tidak ada sahutan. Valonia kembali bersuara. "Papa bangun, makan malam dulu..."
"Pa, makan malam dulu yuk ! Dilla dan Zaki sedang keluar." Mama Merry naik ke atas kasur menggoyang lengan Papa Danu.
Merasa tidak ada respon, Mama Merry dan Valonia saling tatap. Perasaan mereka tiba-tiba tak karuan. Valonia kembali membangunkan Papa Danu, namun reaksinya sama tidak ada sahutan.
"Pa, bangun..." Mama Merry mulai terlihat panik. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya gemetar.
"Ma, sepertinya Papa tidak sadarkan diri..."
Mama Merry terkejut langsung mengambil apa saja yang ada di atas meja untuk menyadarkan suaminya. Sementara Valonia berlari ke kamarnya mengambil ponsel.
"Ren, angkat..." Lirih Valonia juga panik, keringat dingin bercucuran di wajahnya. Tubuhnya gemetar karena tidak ada jawaban, Valonia bergegas ke kamar pak Danu.
"Valo, kita ke rumah sakit..." Usul Mama Merry ketika melihat putrinya di ambang pintu.
"I—iya, Ma aku telpon Varen dulu." Valonia berulang kali menelpon Varen tak hanya itu ia juga menelpon Levin. Tidak putus usaha Valonia juga menelpon nomor telpon kafe.
"Cepat, Valo !" Desak Mama Merry sembari berusaha membangunkan suaminya.
"Iya, Ma..." Valonia memasukan ponsel di kantong celananya. Ia pergi mencari kunci mobil milik Varen, lalu kembali membantu Mama Merry membawa Papa Danu keluar dari kamar.
"Kenapa, Tuan Danu ?"
Suara Bibi asisten rumah tangga mengagetkan Valonia dan Mama Merry.
"Bi, bantu kami angkat Papa ke mobil." Valonia terengah-engah bernafas. Syukur mobil milik Varen masih terparkir di depan rumah.
Dengan bersusah payah akhirnya Papa Danu bisa dimasukan ke dalam mobil. Valonia bersiap membawa ayahnya ke rumah sakit. Tak memperdulikan hujan mulai turun. Valonia fokus mengemudi, dirinya benar-benar panik. Di belakang Mama Merry sudah menangis dan masih berusaha membangunkan suaminya.
"Valo, Papa belum bangun bagaimana ini ?" Suara Mama Merry bergetar ketakutan.
Valonia menambak kecepatan mobil, menerobos lebatnya hujan. Yang ia pikirkan adalah keselamatan Papa Danu. Semakin mendengar tangis Mama Merry, tubuh Valonia semakin bergetar, sesekali ia menyeka air matanya.
Separuh perjalan, Mobil tak terkendali. Valonia bertambah panik. Hingga mobil menghantam pembatas jalan. Mobil itu terseret jauh dan menabrak apa saja di hadapannya.
Kilas Balik selesai
...----------------...
"Itu yang diceritakan Mama Merry. Valonia koma satu bulan. Pemakaman Papa Danu kami yang melaksanakannya. Tanpa dihadiri oleh Valonia dan Mama Merry. Yang paling terpukul adalah Mama Merry karena Papa Danu meninggal. Setelah mengetahui fakta itu, Mama Merry kembali dihadapkan dengan kondisi Valonia yang koma. Lebih menyakitkan lagi, dia lupa pada dirinya saat sadar. Kami mengulang dari awal lagi saat bersama dengannya."
Keyan dan Alvan benar-benar terkejut mendengar cerita Varen. Ternyata Valonia banyak mengalami hal tanpa mereka tahu. Selama ini mereka berpikiran jika gadis itu hidup bahagia.
"Tante Merry menyalahkan dirinya sendiri setelah tahu, Jasmine tidak ingat apa-apa. Andai dia tidak panik dan bersikap tenang mungkin Jasmine juga tidak akan panik dan kecelakaan itu tidak terjadi." Sambung Levin. "A—aku pun menyesal sampai saat ini karena mengabaikan telpon saat sibuk."
"Saat itu jalanan tidak ramai, karena memang harinya hujan. Jadi kecelakaan itu melibatkan Valonia saja. Andai ada kendaraan lain... mungkin Valonia akan menghadapi perkara yang tidak mudah. Saat itu pula aku selalu membentengi dia dari orang-orang yang mempertanyakan kenapa Valonia lupa ?"