Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Tidak Semua



Tiga hari kemudian...


Setelah melakukan jumpa pers tentang rancangan yang telah dicuri Yenika dan Sera. JFB berjalan seperti biasanya, begitu juga dengan Jasmine Boutique. Para karyawan Valonia itu tidak menyangka jika Sera tega mengkhianati owner mereka. Terlebih Nanda kekasih Alvan sangat shock dengan kejadian ini. Sebagai teman dekat selama beberapa bulan, dia sangat tidak tahu kalau Sera sudah memilik putri. Pribadi wanita itu sangat tertutup.


Semenjak tiga hari ini pula, Endi dan juga Valonia bermurung diri. Masih menata hati mereka untuk menerima kejadian ini. Istri Keyan itu banyak diam hanya berbicara seperlunya saja. Para karyawannya bergantian menghiburnya termasuk Mia dan juga Nanda.


Dukungan dari teman-teman mereka datang silih berganti, Keyan sengaja tak mengijinkan Endi untuk pulang ke apartemennya. Bahkan CEO JFB ini meminta beberapa orang asisten rumah tangganya mengemas seluruh barang asistennya itu untuk pindah ke rumahnya. Keyan tidak ingin,  Endi bersedih seorang diri. Ia sangat tahu jika asistennya itu masih merasa bersalah karena kesalahannya mempercayakan begitu saja laptopnya dipinjam oleh Sera. Padahal dia sangat tahu file di dalam laptopnya tidak dikunci.


"Sayang, kamu masih memikirkannya ?" Keyan menjatuhkan tubuhnya di tepi kasur. Jari-jarinya terangkat menyelipkan anak rambut istrinya yang berjatuhan, sementara wanita itu hanya diam mematung dengan tatapan kosong. "Jangan seperti ini." Sambungnya menarik tubuh Valonia ke dalam pelukannya.


"Maaf..."


"Maaf untuk apa sayang ?" Keyan mengecup lembut pucuk kepala istrinya itu.


"Karena karyawan ku, JFB hampir saja mengalami masalah besar. Meskipun, kita bisa menyelesaikannya dengan baik, tapi aku masih merasa bersalah padamu dan juga Endi."


"Sayang dengarkan aku." Keyan melonggarkan pelukannya. Telapak tangannya menangkup wajah Valonia. Menuntun mata mereka untuk saling mengunci. "Masalah itu bukan salahmu atau juga Endi. Kita tidak tahu jika dia akan berbuat semacam itu." Tegasnya enggan menyebutkan nama Sera secara langsung. "Kita mempercayainya karena hati kita berprasangka baik pada semua orang. Maka dari itu jangan menyalahkan diri sendiri." Sambungnya lagi.


"Iya." Valonia mengangguk dan menghembus nafas panjang.


"Aku tidak mau kamu bersedih hanya karena masalah ini dan juga dia di dalam sini ikut merasakan kesedihan mamanya." Keyan menempelkan telapak tangannya dibulatan perut Valonia.


...----------------...


Angin berhembus kencang menyapu awan untuk menjadi satu. Terik matahari begitu menyengat hingga air laut menguap ke atas. Jam terus saja berdetak dan memasuki sore. Alam begitu sendu menyambut senja. Meski ramalan cuaca mengatakan hujan tapi belum tentu juga alam akan menangis.


"Sayang, Endi kemana ? Kenapa belum pulang ?" Valonia bertanya sambil memakan potongan buah yang telah disiapkan oleh suaminya.


"Entahlah, tadi katanya ingin ke rumah Derry. Tapi sampai sekarang belum kembali."


"Kasihan dia, aku tidak menyangka jika Sera tega membodohi nya. Endi pasti sakit hati sekali." Valonia masih melahap buahnya.


"Tidak semua kisah cinta berakhir dengan indah sayang. Hanya aku yang beruntung, cinta pertama menjadi cinta terakhir. Wanita pertama menjadi wanita terakhir."


"Kamu manis sekali sayang." Valonia terharu bercampur gemas. Ia meraih  tubuh suaminya itu ke dalam pelukannya.


Dua insan itu saling bercanda dan bermanja. Keyan menuntun istri cantiknya itu untuk berbaring di atas karpet bulu dan menjadikan pangkuannya sebagai bantal. Laki-laki ini mencurahkan rasa sayangnya tanpa batas. Jari-jarinya mengelus-elus lembut perut buncit sang istri dan bibirnya sibuk menghujani wajah Valonia dengan kecupannya.


"Sayang tolong ponselku." Valonia menunjuk benda pipih persegi panjang itu di atas sofa.


"Mia." Baca Keyan pada pemanggil di ponsel istrinya. Laki-laki ini menyerahkan ponsel itu dan membantu Valonia untuk duduk.


"Iya Mia." Valonia menjawab sambil membenarkan posisi duduknya.


"Kak, bisa ke rumah sakit sekarang ? Kak Endi kecelakaan. Sekarang masih ditangani di UGD, rumah sakit milik Papa Ariel "


"Ba—baiklah." Valonia terbata. Tubuhnya tiba-tiba gemetar, kilas balik di otaknya segera bermunculan. Kilatan keringat dingin terlihat di keningnya. Iris matanya sayu menoleh pada suaminya.