
Ikrar suci pernikahan sudah terucap dari bibir sang mempelai pria. Yang tak lain adalah Alvan, laki-laki bertubuh kurus ini sangat tampan mengenakan tuxedo hitam mewah dari Jasmine Boutique. Tak mau kalah pesona, Nanda bak boneka dalam balutan gaun yang sering ia impikan untuk dikenakan saat pernikahannya. Dan impian itu terwujud, Valonia merelakan satu gaun berharga fantastis untuk karyawan butiknya itu.
Semua karyawan wanita di Jasmine Boutique memiliki impian suatu saat mengenakan gaun pengantin yang mereka suka dari butik itu. Dan hari ini, Nanda berdiri cantik menjadi ratu sehari di pelaminan. Senyumnya dan Alvan mengembang sempurna menyambut uluran tangan para tamu undangan.
Lingkaran cincin pernikahan istimewa mempercantik jari-jari mereka. Hingga, Om Andre berulang kali menyeka sudut matanya karena pecahan kristal bening selalu terproduksi. Perasaan bahagianya tak dapat digambar atau diucap dengan kata-kata.
Seluruh sahabat dan juga keluarga datang memberi selamat dan restu disertai doa-doa yang baik untuk pasangan baru itu. Namun, sebahagia apa pun hari ini. Tetap terasa kurang karena hilangnya satu personil.
"Sayang." Valonia memegang bulatan perutnya bagian bawah. Ia merintih pelan merasakan sakit luar biasa di pinggulnya.
"Kenapa, kamu sakit ?" Keyan panik melihat istrinya kesakitan. Ia bingung harus berbuat apa ? "Bun...bunda ! Kemari, Jasmine sakit." Laki-laki ini ikut merasakan sakit di perutnya.
"Valo kenapa, Nak." Bunda Arini langsung menghampiri menantunya yang diam menahan sakit.
"Perutku sakit, Bun."
"Kak, Arini. Apa mungkin Valo mau melahirkan." Tebak Ibu Marisa
Melihat kondisi Valonia yang semakin kesakitan, Bunda Arini mengangguk. "Ayo ke rumah sakit ! Dimana, Key ?" Netra Bunda Arini bergulir ke sana kemari mencari sang putra.
"Kak, Keyan ke toilet. Bun !" Derry datang menghampiri.
Pesta masih berlangsung, namun disalah satu meja kepanikan datang mendera. Valonia mengeluarkan buliran keringat pertanda sakitnya begitu hebat.
Keyan tak karuan rasa melihat Valonia merintih sakit. Dengan sisa keberanian dalam kepanikannya. Ia memapah tubuh istrinya itu keluar dari gedung untuk pergi ke rumah sakit.
"Kalian mau kemana?" Sonny datang menghampiri sahabatnya bersama Mia.
"Jasmine mau melahirkan." Pita suara Keyan bergetar. Iris matanya merah dan berembun, selain panik ia juga tidak tega melihat istrinya kesakitan.
"Jangan panik, kamu bisa membuat Valonia takut nanti. Pergilah ke rumah sakit, hati-hati di jalan. Nanti aku menyusul." Sonny membuka pintu mobil Keyan.
...----------------...
Valonia diperiksa setelah sampai di rumah sakit. Perkiraan persalinannya kemungkin cepat melihat jarak sakit kontraksinya yang rapat. Keluarga besar Valonia dan Keyan berdatangan setelah kabar tersebar. Mereka menunggu dengan sabar dan antusias menyambut bayi pertama pasangan suami istri itu.
Valonia sesekali merintih menahan sakit ketika kontraksi semakin menekan perut bawanya dan seolah ingin memisahkan tulang pinggulnya. Hembusan nafas terdengar pelan dari bibirnya untuk mengurangi rasa melilit.
"Huhh." Valonia menghembus nafas. Tangannya berpegang erat di lengan suaminya. Tidak ada teriakan atau tangis yang keluar saat sakit itu kembali datang.
"Sakit sekali ya." Pita suara Keyan bergetar. Kaki dan tangannya dingin meresap bagaikan es. Kemejanya sudah lusuh tak sekencang saat di pesta pernikahan Alvan.
"Hm, sakit sekali. Tapi aku masih kuat jangan cemas nanti sakit ini hilang setelah dia lahir."
Meski pun penyampaian Valonia tenang. Namun tidak berhasil juga melegakan hati Keyan. "Kamu mau berdiri lagi ?"
"Tunggu." Valonia menggigit bibir bawahnya merasakan sakit yang amat luar biasa. Kemungkinan rasa itu akan membuatnya jera.
"Sayang air apa ini ?" Keyan terkejut bercampur panik melihat air mengalir hingga ujung kaki istrinya.
"Tuan, Nyonya. Sepertinya ini air ketuban silahkan naik ke atas brankar dan atur posisi." Seorang kepala bidan menuntun Valonia untuk naik.
"Ap—apa dia akan keluar sekarang ?" Kaki Keyan gemetar hebat disertai degup jantung yang kuat. Ya, sebentar lagi buah hatinya akan hadir di depan matanya sendiri.
"Iya, Tuan. Beri semangat untuk istri anda biar bisa melahirkan bayi kalian dengan sempurna. Siap Nyonya ! Ketika merasakan kontraksi dengarkan instruksi saya." Dokter obgyn berdiri di samping Valonia.
Valonia merasakan kontraksi seolah sesuatu akan keluar dan tidak bisa ia tahan. Sesuai instruksi dan aturan nafasnya. Valonia mengerahkan segenap tenaganya untuk mendorong buah hatinya.
"Sedikit lagi Nyonya. Baiklah atur nafas dulu."
"Kamu pasti bisa sayang." Keyan memberi semangat meski dalam keadaan takut.
Valonia mengatur nafas dan merasakan kontraksi lagi. Ia kembali mendorong dengan tenaganya yang baru. Gagal ! Bayi itu masih belum juga terlahir meski sudah dua kali mendorong.
"Atur nafas kembali, Nyonya ! Ayo semangat ini terakhir ya bayinya harus keluar."
Keyan semakin merasa lumpuh seluruh tenaganya habis tak tersisa. Laki-laki ini tidak lagi berdiri sempurna, ia bertumpu dengan kedua lututnya disertai lelehan air mata setelah menyaksikan perjuangan istrinya melahirkan bayinya.
Valonia menarik nafas setelah merasa kontraksi kembali. Ia mendorong sekuat tenaganya hingga buah hatinya menjerit nangis merasakan perbedaan suhu dari dalam kandungan.
"Selamat, Nyonya... Tuan ! Bayi kalian perempuan. Akan dibersihkan lebih dulu." Dokter kandungan bicara sambil mengurus bayi baru terlahir itu.
Isak Keyan terdengar. Ia terharu dengan statusnya yang baru, laki-laki ini membenamkan kecupan terimakasih di kening istrinya. Sementara Valonia tak mampu bersuara menahan lelah sambil tersenyum melihat ekspresi suaminya.