Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Kegundahan Keyan



Valonia dan teman-temannya sudah tiba di kafe. Mereka langsung menempati meja yang biasa mereka pakai. Di sana Levin baru saja pulang dari kampusnya. Ia terlihat sangat tampan hari ini.


Levin menghampiri meja yang ditempati Valonia. Ia tersenyum melihat gadis cantik itu di sana. "Jasmine, kamu sudah makan?" Ia tak segan menunjukkan perhatiannya. "Dimana Varen ?" Tanyanya lagi karena tidak melihat pria itu di sana.


Valonia menunjuk ke atas panggung. "Varen membereskan alat musiknya, Bang. Karena dua minggu ke depan dia tidak manggung, untuk mempersiapkan ujian akhir. Abang bertanya aku sudah makan apa belum? Jawabannya, aku belum makan dan baru saja ke sini." Pertama kalinya Valonia bicara panjang lebar pada Levin.


Levin tersenyum. "Kalian mau makan apa, nanti waiters mengantarnya kesini. Untuk Jasmine, aku yang buat untukmu tunggu disini." Tangannya terulur menepuk pelan pucuk kepala Valonia Jasmine.


Di meja yang sama, Keyan menahan rasa cemburunya. Ia tidak suka atas perlakuan Levin pada gadis pujaannya itu. Keyan harus bertindak cepat, jangan sampai didahului Levin.


Keyan mengulurkan tangannya juga lalu meniru perlakuan Levin. Mengusap lembut pucuk kepala Valonia. Hingga gadis itu tersentak.


"Kenapa, Key ?" Valonia bertanya dengan raut wajah heran.


"Tidak ada apa-apa." Keyan menjawab sambil tersenyum


Aku menghapus jejak tangannya Jasmine


Alvan mendekat lalu berbisik. "Caramu patut ditiru kawan !" Bibirnya tersenyum kemudian mengulurkan tangannya menuju kepala Valonia Jasmine.


"Jasmine, sebelum ujian dimulai. Apa kamu mau jalan-jalan denganku?" Keyan menepis tangan Alvan. Dan mengalihkan perhatian Valonia.


"Jalan-jalan kemana?" Valonia menoleh pada Keyan.


"Terserah kamu memilihnya." Keyan tersenyum lembut. Berharap Valonia setuju. Disaat itu juga, ia akan mengatakan rencananya untuk mengajak Valonia kuliah di Amerika. Karena hari ini keadaan tidak mendukung untuk membahas permintaannya saat di dalam telpon.


"Bagaimana jika kita piknik. Satu hari saja sebelum ujian dimulai. Biar fresh !" Rara tiba-tiba mendapatkan ide.


"Setuju ! Ide bagus, Ra." Alvan mengacung jempolnya pada Rara. "Piknik di tempat yang terdekat saja."


"Boleh..." Sahut Valonia setuju.


Keyan menatap tajam pada Alvan yang tertawa senang. Ia juga melemparkan tatapannya pada Rara yang mencetuskan ide itu. Maksud hatinya ingin berdua dengan Valonia Jasmine. Tak disangka teman-temannya pun ikut.


"Kenapa kalian terlihat senang?" Varen datang ikut bergabung. Ia melihat Valonia, Rara dan Alvan nampak senang. Sementara Keyan menampilkan wajah tidak sukanya.


Rara menoleh pada Varen. "Ren, kita berencana piknik sebelum ujian di mulai. Apa kamu setuju ?"


Varen mengangguk, kini ia paham apa yang terjadi dengan teman-temannya


"Oke, aku setuju !" ia memberikan keputusannya.


"Aku yang mencari tempatnya." Rara mengangkat tangannya ke atas. Semua mengangguk setuju.


"Jasmine, Kamu ingin membahas apa ?" Keyan teringat isi pesan Valonia di grup sebelum mereka berkumpul di kafe


"Begini, ujian akhir tinggal menghitung hari. Jadi untuk belajar kelompok kita hentikan. kisi-kisi soal juga sudah kita pelajari. Anggap saja untuk mengistirahatkan otak. "


"Jadi maksud mu, kita tidak ada lagi belajar kelompok ?" Alvan memastikan perkataan Valonia.


"Iya, belajar kelompok kita tiadakan." Valonia memperjelas lagi.


"Aku setuju." Rara mengerti maksud dari penjelasan Valonia. Bagaimana pun juga mereka harus memiliki waktu istirahat yang cukup.


Keyan hanya diam, pikirannya berkecamuk. Hari keputusan ayah Johan semakin dekat. Bagaimana lagi menolak permintaan ayahnya itu ?


"Kamu kenapa, Key."


Pertanyaan Rara membuyarkan lamunan Keyan. Semua mata melihat padanya.


"Aku tidak apa-apa. Aku juga setuju dengan rencana kalian." Keyan tersenyum paksa.


Perbincangan mereka terhenti, mengingat sebentar lagi meninggalkan bangku SMA yang penuh cerita. Ada rasa kehilangan yang mereka rasakan. Meski pun nanti di perguruan tinggi mendapatkan teman baru, dan banyak organisasi yang mereka ikuti. Apakah seindah di bangku SMA ?


Suasana di meja itu menjadi hening. Tidak seramai tadi. Apakah mereka bisa bertemu lagi ? Atau mereka sudah berpencar menggapai mimpi masing-masing. Mungkin mereka akan bertemu beberapa tahun lagi dengan memboyong sebuah keluarga.


Mengingat hal itu, Hati Keyan terasa sakit. Bagaimana jika dirinya tidak bertemu lagi dengan Valonia Jasmine? Kuliah di Amerika menjadi beban untuknya. Tapi permintaan ayah Johan tidak main-main.


Mungkin sekarang zaman canggih, Tapi masih membuat Keyan tidak yakin. Ia takut Valonia dimiliki laki-laki lain. Meski ia belum mengungkapkan perasaannya, tapi Keyan yakin jika Valonia akan membalas perasaannya. Apakah Valonia bisa menunggunya ? Apakah Valonia bertahan dalam hubungan jarak jauh ? Pikiran itu juga menjadi beban untuknya.


"Kalian kenapa ?"


Suara Levin membangunkan mereka semua. Ia datang dengan beberapa waiters mengantarkan makanan.


"Jasmine ini untukmu." Levin menaruh piring berisi makanan yang ia masak khusus untuk Valonia Jasmine.


" Terimakasih, Bang. "Valonia tersenyum pada levin. Ia menerima piring itu dengan perasaan senang. Levin selalu memanjakan lidahnya jika ia datang ke kafe itu.


Keyan terdiam, hal ini pun ditakutinya. Melihat tatapan Levin pada Valonia sama seperti ia menatap gadis itu. Jalan satu-satunya adalah, dengan membujuk Valonia agar mau kuliah bersamanya di Amerika. Mungkin ini dianggapnya aman dan bisa memantau Valonia Jasmine di dekatnya.