Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Endi Yang Kacau



Pergerakan sekon di benda segi empat. Yang bertengger cantik di atas nakas sisi kasur king size milik Valonia. Tanpa terasa memangkas waktu. Baru saja makan malam berlalu, namun ibu hamil itu tiba-tiba ingin makan sesuatu. Sehingga suami tampannya melanglang buana di kota itu hanya untuk memenuhi keinginannya.


"Sayang, ini pisang ijo nya. Sudah aku kasih es batu. Maaf lama sekali karena penjualnya rata-rata buka pagi hingga sore hari saja. Tadi aku sedikit memaksa saat penjualnya mau tutup." Keyan meletakkan mangkuk pisang ijo di atas nakas. Makanan khas Makassar itu sudah diidamkan Valonia saat pulang dari pantai.


"Terimakasih. Sini kita makan berdua."


"Buat kamu saja." Keyan tersenyum mengecup singkat kening Valonia. Hatinya membeludak bahagia melihat lahapnya sang pujaan hati menyantap makanan yang ia bawa. Binar senang itu memancar indah di manik matanya yang tajam.


"Sayang, aku tidak menyangka jika Sera menolak Endi."


"Itu yang aku pikirkan sejak tadi." Keyan menyandarkan tubuhnya di dinding kasur. "Dia pasti patah hati sekali." Sambungnya sambil menerawang ke masa lalu. Di mana saat dirinya pernah mengalami penolakan. Namun yang menggelitik hatinya adalah penolakan dengan alasan yang kuat bukan karena perasaan yang tidak sama.


"Sama seperti kamu dulu ya. Tidak terima ditolak." Bibir Valonia melengkung. Tersirat ejekan di senyuman itu.


"Jangan mengingatnya sayang, aku malu." Keyan membenamkan wajahnya di pundak Valonia. Ia sangat menyesali tindakannya yang pernah membenci istrinya dimasa dulu.


Valonia menyelesaikan makan es pisang ijo nya. Kemudian menyeka mulutnya dengan tissue.


Keyan menarik tubuh Valonia untuk bersandar di dadanya. Ia meletakkan telapak tangannya di atas perut istrinya. Posisi setengah memeluk itu membuat Valonia merasa nyaman. Sepasang suami istri itu belum merasa mengantuk jadi memutuskan untuk menonton televisi.


"Ponselmu bergetar sayang." Valonia meraih ponsel milik suaminya dari atas nakas. "Endi." Ucapnya melihat nama si pemanggil.


"Ada apa, En ?" Jawab Keyan setelah ponsel itu berada di genggamannya. Perasaanya sedikit gelisah mengingat patah hati yang dialami laki-laki itu.


"Selamat malam. Pak ! Betul ini Tuan Keyan Ganendra? "


"Iya saya sendiri." Keyan menegakkan posisi duduknya dengan raut wajah tegang dan berdebar. Benar kegelisahan itu terbukti, kini yang menyahutnya bukan suara sahabatnya itu.


"Begini, maaf saya menelpon anda. Karena kontak terakhir yang ada dalam panggilan keluar di ponsel ini nama anda. Saya hanya ingin mengabari pemilik ponsel ini sedang mabuk berat di bar XX. Saya harap anda datang untuk menjemputnya."


"Baiklah, terimakasih informasinya. Saya akan datang. Tolong ponsel dan dompetnya amankan dulu." Keyan menyingkap selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Laki-laki ini tergesa-gesa melangkah ke ruang ganti dengan tangan masih menempelkan ponsel di kupingnya.


"Iya Tuan kami tunggu."


"Ada apa sayang?"


"Endi mabuk berat di bar XX. Aku akan menjemputnya. Kamu tidurlah bila sudah mengantuk." Keyan merangkak di atas kasur dan mengecup kening istrinya. Ia meraih kunci mobil yang tergantung di dinding.


"Hati-hati."


...----------------...


Rembulan muncul sempurna di dinding langit. Terangnya sangat cantik menimpa bumi. Hingga, para penikmat angin malam dapat melihat pesonanya di ketinggian sana. Jika langit berpenampilan cantik malam ini. Maka tidak dengan seseorang yang tengah duduk di kursi bar. Beberapa botol whisky termahal di sana telah kosong. Botol-botol kosong itu tersusun rapi di atas meja. Sementara pelaku peminumnya menundukkan kepalanya di atas meja.


Beberapa jam lalu, selepas dari pantai. Endi langsung menuju tempat itu. Laki-laki berparas manis ini langsung meminta sebotol whisky pada bartender. Hatinya terkoyak setelah mendapatkan penolakan dari Sera. Tak menyangkan pendekatan selama ini tidak membekas di hati wanita berambut sebahu itu.


Keyan menghembus nafas lega berdiri sejenak menatap Endi dari jarak yang tidak jauh. Baru malam ini ia melihat sosok Endi yang begitu rapuh. Ya, Keyan tahu rasanya ditolak dan sakit hati. Ia memaklumi kondisi hati temannya itu.


Kaki Keyan melangkah mendekati Endi yang masih di posisinya. Laki-laki itu menundukkan kepalanya di atas meja. Iris mata Keyan tertuju pada deretan botol kosong di atas meja. Tak lama seseorang yang menelponnya datang memberikan ponsel dan dompet milik Endi.


"Maaf saya harus menelpon anda malam seperti ini. Karena dia sudah mabuk berat. Saya khawatir ada yang memanfaatkannya. Melihat dari tampilannya dia bukan orang biasa. Saya membuka ponselnya dengan sidik jarinya. Silahkan anda cek dulu ponsel dan isi dompetnya." Ucap bartender berjenis kelamin laki-laki ini.


"Saya percaya. Terimakasih sudah menelpon saya. Kami pulang dulu." Keyan mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai tip. Ia menaruhnya di stoples tempat tip yang tersedia.


Endi yang mabuk hanya menurut saja saat Keyan memapahnya untuk keluar dari tempat itu. Keyan datang tidak sendiri, ia membawa sopir yang bertugas membawa mobil milik Endi.


"Apa aku jelek?" Endi meracau saat Keyan memasang sabuk pengamannya. "Dia menolak ku." Ucapnya lagi sambil tertawa pelan. "Hei kamu mendengarkan ku ?!" Sambungnya menoleh pada Keyan. "Rasanya begitu sakit." Tangannya terangkat menyentuh keningnya. "Kenapa berputar? Aku tidak gila, 'kan?" Tanyanya tiba-tiba muntah.


"Aish !" Desis Keyan kesal. Kalau bukan sahabatnya dan sedang patah hati. Tidak akan mungkin dia datang menjemput Endi. Laki-laki tinggi ini hanya menelan kekesalannya karena kecipratan muntahan sahabatnya itu.


Sementara itu, Endi sudah terlelap tak mendengarkan Keyan yang kesal karena ulahnya. Mobil mewah itu melaju dibawah sorot lampu penerang jalan. Suasana sunyi karena hampir tengah malam membuat Endi mengatur posisi duduknya untuk lebih nyaman.


"Berjuanglah sekali lagi. Kamu pasti mendapatkannya." Kata-kata itu hanya terdengar oleh Keyan seorang. Manik matanya menatap iba pada Endi.