
Tiga Hari Kemudian...
Berita tentang Volonia Jasmine sudah mereda. Esok, butik kesayangannya itu akan kembali buka. Keyan sudah memperbaiki kerusakannya akibat penyerangan.
Keyan merasakan hasil kerja kerasnya selama ini. Untuk ini lah, ia dicambuk agar mandiri dan sukses. Sebagai suami, ia mampu melindungi Valonia Jasmine dalam hal apa pun selagi ia mampu.
"Sayang, hari ini ikut ke kantor ya." Keyan melingkarkan tangannya ditubuh Valonia ketika wanita itu tengah memasang dasinya. Di sela kegiatan istrinya itu. Keyan mencuri ciuman di bibirnya.
"Iya, apa kamu yakin untuk membalas mereka. Ingat, ini akan menyeret nama Ayahmu." Valonia selesai merapikan tampilan Keyan. Dan memberikannya kecupan singkat di bibir suaminya.
"Aku dijebak sayang. Mereka sengaja mengatur jamuan makan siang itu. Mereka tahu aku tidak bisa menolak dan mewakilkannya pada Endi. Karena Ayah yang mengundangku. Mau tidak mau aku harus menghadirinya. Tapi mereka memanfaatkan itu untuk membuat stori dan memojokkan mu." Papar Keyan panjang lebar. Ia menangkup kedua pipi istrinya lalu mengecup kening Valonia penuh cinta.
"Aku percaya padamu. Apa yang jadi keputusanmu, pasti itu sudah kamu pikirkan dengan baik." Valonia tersenyum lembut sembari memeluk tubuh Keyan.
"Kalau begitu ayo bersiap."
Valonia mengangguk lalu meraih tasnya. Ia tak meragukan keputusan suaminya. Karena sejujurnya Valonia juga akan melakukan hal yang sama jika diposisi Keyan Ganendra. Cukup membiarkan dalang di balik penyerangan butik itu di atas angin. Sekarang waktunya angin itu menghempaskan mereka sendiri.
"Kak, Valo. Mama titip salam." Derry membuka pintu mobil untuk Keyan dan Valonia.
"Salam balik ya." Valonia tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya di dada Keyan yang sudah merentangkan tangannya.
Di perjalan tidak ada lagi pembicaraan. Semua sudah Keyan atur dengan baik. Ia juga siap dengan resiko yang akan ditanggungnya setelah ini. Ya ! Mungkin saja rasa tidak suka Ayah Johan semakin bertambah.
Mobil Keyan berhenti di halaman kantor JFB. Rupanya sampai hari ini setelah kejadian. Para pemburu berita masih saja datang ke sana. Kali ini Keyan akan melayani mereka dengan menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan.
Para pengawal langsung menyambangi pintu mobil Keyan. Untuk memberi jalan pada CEO nya agar bisa membelah kerumunan wartawan. Valonia menggenggam erat tangan Keyan. Situasi ini membuatnya sedikit takut meski pun Keyan bersamanya.
Di saat semua orang menyerbu dengan banyaknya pertanyaan. Tiba-tiba ada yang melemparkan batu ke arah Valonia. Tapi Keyan sigap mengganti posisi hingga batu itu mengenai punggungnya. Para pengawal JFB segera mengejar pelakunya yang berusaha lari.
"Kamu tidak apa-apa?" Keyan memeriksa kondisi istrinya. Kejadian ini luar dugaannya.
"Aku baik-baik saja. Punggungmu pasti sakit." Valonia meraba punggung Keyan penuh ke khawatiran.
"Aku mengenakan Coat sebagai lapisan luar jadi tidak terlalu sakit. Ayo masuk." Keyan mengandeng Valonia posesif.
Derry menyaksikan kejadian ini bisa melihat betapa besarnya cinta Keyan. Dan bagaimana egoisnya Ayah Johan. Dari jauh Endi berlari, ia menyesal tak sempat menghalangi kejadian tadi. Hingga Keyan jadi sasaran.
"Maaf, aku terlambat. Apa kamu terluka ?"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Arahkan mereka di aula. Waktunya klarifikasi." Titah Keyan melanjutkan langkah bersama Valonia.
Setiba di ruangan CEO. Valonia langsung melepaskan Coat dari tubuh Keyan. Ia juga melepaskan kancing jas dan meletakkannya di atas sofa. Melihat apa yang dilakukan istrinya. Keyan tersenyum, fantasi nakal menggerayangi otak tampannya.
"Aku akan melihat punggungmu." Valonia melepaskan kancing kemeja hingga nampak lah dada bidang suaminya yang berisi. Kulit putih bersih itu sangat menggoda Valonia untuk mengecupnya.
"Sayang jangan menggodaku." Keyan memejamkan matanya merasakan sensasi sentuhan bibir sang istri di dadanya.
"Aku gemas." Valonia tersenyum. "Ayo duduk aku akan melihat punggungmu." Ia menuntun Keyan duduk di sofa dan membelakanginya. "Tuh 'kan ! Memar. Ini pasti sakit batunya cukup besar tadi." Valonia meniup memar di kulit Keyan.
"Pakai salep nanti juga sembuh." Keyan berpaling menghadap pada istrinya. Ia mendekatkan wajahnya bersiap untuk menyerang bibir sang istri.
"Keyan."
Aksi Keyan terhenti. "Bunda." Ia tersenyum lalu berdiri memeluk Bunda Arini.
"Bukan begitu Bunda. Tadi punggung Keyan kena lemparan batu."
Valonia menerima pelukan ibu mertuanya, sambil menjelaskan kenapa Keyan tidak mengenakan baju. Sementara suaminya itu hanya tersenyum, padahal di otaknya tadi sesuai dengan perkataan Bundanya. Ia akan membiarkan para wartawan menunggu di aula sebagai pembalasan karena menghadang kedatangannya tadi.
"Apa terluka ?" Bunda Arini ikut melihat punggung Keyan dan mengusapnya pelan.
"Hanya sakit sedikit bunda." Sahut Keyan sembari tengkurap di atas sofa.
Valonia mengompresnya agar tidak bengkak. Tak lupa juga mengoleskan salep yang tersedia di kantor. Usai merawat Keyan, kini mereka bersiap untuk ke aula. Dalam klarifikasi ini Valonia tidak diikutkan ke dalam aula. Ia akan menunggu di ruang kerja suaminya bersama Derry.
"Bunda ikut Keyan dulu ya." Bunda Arini meraih tasnya sambil berpamitan pada menantunya.
"Sayang aku ke aula dulu. Jangan kemana-kemana. Tunggu aku di sini, ada Derry menemanimu. Tapi duduknya jauh-jauh. Kamu di ujung sini dan Derry di ujung sana."
Derry berdecak kesal. "Kalau kami sama-sama duduk di ujung bagaimana kami berbicara?"
"Main game saja di ponsel masing-masing." Keyan melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya. Laki-laki ini tidak menyembunyikan rasa cemburunya atau bermain cantik pada kecemburuan. Tapi ia akan memperlihatkannya.
...----------------...
Keyan duduk di kursi tunggal lalu sebelahnya Bunda Arini juga duduk dengan elegan. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Saatnya membela anak dan menantunya dari tudingan miring beberapa hari ini.
"Selamat pagi semuanya. Teman-teman di sini pasti penasaran atas kejadian beberapa hari kemarin. Permasalahan yang menyangkut owner Jasmine Boutique yang tak lain adalah istri saya sendiri. Semua pemberitaan tentang istri saya dan hujatan pedas untuknya saya ucapkan terimakasih." Ucapan terimakasih Keyan mengandung makna tersendiri. "Istri saya tidak merebut siapa pun. Saya lah yang mengejarnya selama beberapa tahun." Lanjut Keyan. Ia juga terlihat santai dan ramah.
"Bagaimana tanggapan anda tentang kejadian yang menimpa istri anda?"
"Saya kecewa dengan orang-orang yang terkait dengan insiden ini." Aura tegas Keyan terlihat di kamera, netranya juga memancarkan kekecewaan yang mendalam secara khusus. "Mereka menyerang Jasmine Boutique dan menghujat pemiliknya tanpa tahu cerita sesungguhnya." Keyan menghela nafas menandakan jika ia benar-benar kecewa.
"Benarkah ? Jika anda dipisahkan dari keluarga Ganendra oleh istri anda sendiri."
"Tidak, saya yang memilih untuk hidup bersamanya." Keyan menutupi terusirnya dirinya dari keluarga Ganendra.
"Apa benar jika kehadiran istri anda. Membuat rencana pertunangan anda dengan putri pebisnis Anton Pramuja batal?"
"Tidak ! Bukan karena kehadirannya. Tapi karena cinta saya padanya." Keyan mengungkapkan kata cintanya dengan tersenyum.
"Bisakah ? Anda menceritakan kisah cinta anda dan Nyonya Valonia Jasmine."
Keyan tersenyum dan berkata. "Istri saya adalah cinta pertama saya. Ketika SMA saya jatuh cinta padanya. Tapi, dia menolak saya tanpa memberitahu alasan yang tepat hanya saja dia mengatakan cinta itu tidak sederhana. Sejak itu saya kecewa. Padahal, disaat yang bersamaan saya siap hidup tanpa hak istimewa dari keluarga Ganendra. Saya berpikir jika dia menolak saya karena tidak ingin hidup sederhana. Kemudian saya menerima tawaran untuk melanjutkan kuliah di Amerika. Saya pergi dengan membawa kecewa, cinta pertama yang telah mematahkan hati saya. Lima tahu saya memupuk rasa benci tapi ternyata itu bukan benci melainkan cinta. Untuk menutup sakit hati ini saya menerima perjodohan keluarga dan disaat itu pula saya menerima kenyataan jika wanita yang saya cintai banyak mengalami hal pahit. Saya berpikir itu pura-pura dan tidak terima. Sampai pada akhirnya fakta terungkap jika dia mengorbankan perasaannya demi kesuksesan saya. Sejak itu lah saya membatalkan perjodohan itu dan mengejar Valonia Jasmine."
"Kisah cinta anda sangat menyentuh tuan. Anda layak mendapatkan kebahagiaan. Lalu bagaimana tanggapan anda tentang pertemuan kemarin, terlihat di foto anda tidak hanya bersama Pak Johan."
"Kemarin saya merasa dijebak. Saya pikir jamuan itu khusus untuk saya dan pak Johan, tapi ada rencana yang tersembunyi. Bukan pembahasan serius namun lebih ke lelucon menurut saya karena pembahasan tentang istri kedua." Keyan tersenyum licik.
"Maksud anda ?"
"Keluarga Ganendra tidak menyetujui pernikahan saya dan Valonia Jasmine. Maka dari itu mereka ingin melanjutkan perjodohan dan wanita yang akan dijodohkan dengan saya siap jadi istri kedua." Jelas Keyan tentang pertemuan beberapa hari lalu.
"Menantu saya tidak melakukan apa pun untuk memisahkan Keyan dari kami atau membatalkan perjodohan itu. Semuanya karena keegoisan kami sebagai orang tua. Hanya untuk melebarkan sayap bisnis kami berniat melakukan pernikahan bisnis juga. Tapi putra kami telah menemukan jodohnya yang berusaha kami tentang. Intinya menantu saya tidak melakukan apa pun yang ditudingkan kepadanya." Sahut Bunda Arini.
Tanya jawab serta klarifikasi dari Keyan dan di bantu oleh Bunda Arini mengalir begitu saja. Hingga satu jam lebih.