
Kemilau pagi menyeruak masuk melalui celah ventilasi udara. Di bawah temaramnya lampu tidur yang belum dimatikan. Seorang laki-laki tengah mengamati wajah bantal istrinya yang masih pulas. Ya, itu disebabkan oleh dirinya sendiri membuat lelah istrinya.
Raut bahagia dengan seulas senyum pudar di wajah Keyan. Ketika menatap lekat wajah Valonia Jasmine. Kenapa wanita yang kini menjadi istrinya ini seakan memberi jarak antara mereka ? Apakah hanya perasaannya ? Kenapa selama ini Valonia masih bersikap biasa saja ? Bahkan istrinya tak memiliki panggilan khusus untuknya.
Tidak ingin mengganggu kenyamanan sang istri. Keyan beranjak dari kasur dengan perlahan-lahan. Hari ini ia ada kegiatan di luar kota bersama Endi. Guyuran air tak meluruhkan perasaan yang bersarang di hati Keyan.
"Kamu sudah bangun ?" Valonia menyingkap selimutnya lalu membantu mengeringkan rambut Keyan.
"Kalau masih lelah, kamu tidur lagi. Biar Mia yang menggantikan mu." Keyan berucap dengan lembut. Bibirnya tersenyum melihat jejak kepemilikannya tercetak jelas di bagian dada istrinya. Perasaan sesaat yang mengganggunya tertepis ketika melihat tanda percintaan mereka.
"Jangan membahasnya aku malu." Semburat merah terlihat di wajah Valonia. Ia membenamkan wajahnya di dada Keyan. Suaminya itu seolah bangga atas karyanya yang terlukis bukan dari pensil atau pun kuas ini.
Keyan terbahak. "Jangan malu, aku suamimu. Dari ujung kepala hingga kakimu adalah milikku. Dan sudah tak terhitung berapa kali kita melakukannya." ucapnya mengecup pucuk kepala istrinya. Perasaan yang mengganjal di hatinya kembali hadir ketika netra nya bertemu dengan iris mata Valonia Jasmine.
"Key aku ke kamar mandi dulu." Valonia melangkah cepat dan masuk ke kamar mandi. Bukan menghindar dari kunci manik mata suaminya tapi memang kantung kemihnya yang telah penuh.
Keyan tersenyum dengan tatapan kosong ke arah pintu kamar mandi. Kenapa pikirannya mengganggu
dan juga meresahkan hatinya ? Tak ada ucapan cinta balasan dari Valonia secara langsung padanya. Meski pun istrinya itu pernah mengakui di hadapan Bunda Arini bahwa mencintainya. Namun Keyan butuh pengakuan itu di hadapannya secara langsung.
Valoni menatap heran pada suaminya. Bukan bersiap tapi Keyan hanya berdiri mematung menghadap ke arah luar jendela, sorot matanya menatap lepas jauh tak terukur.
"Key, kenapa belum bersiap-siap ?"
Suara Valonia membuyarkan lamunan Keyan. Iris matanya kembali menatap wajah wanita yang amat dicintainya ini. Ada sedikit sesal dalam hatinya, karena memaksa Valonia menikah dengannya. Keyan pun mulai meragu jika pengakuan yang pernah Valonia ucapkan di hadapan Bunda Arini hanyalah kata penghibur untuk ibunya.
Apakah ia mencintai sendiri ? Karena takut kehilangan Valonia Jasmine. Keyan tak pernah terpikirkan apakah istrinya ada rasa untuknya ? Enam tahun bukankah perasaan seseorang bisa berubah ? Membayangkannya saja Keyan tidak sanggup. Tubuhnya tiba-tiba lemas hatinya terasa sakit dan hampa, takut jika itu nyata.
"Kamu akan mengantarku ke bandara, 'kan ?"
"Iya, ayo aku bantu bersiap" Valonia tersenyum lembut dan melangkah ke ruang ganti mengambil baju kerja suaminya.
Keyan menatap punggung istrinya yang menghilang di dalam ruang ganti. Melihat dari perlakuan Valonia selama menikah. Istrinya terlihat bahagia. Hanya kemarin saja, Keyan melihat kesedihan di wajah Valonia saat Ayah Johan datang ke butik istrinya.
"Apa kamu bahagia menikah denganku ?"
Valonia mendongak ke atas lalu kembali fokus mengancingkan kemeja suaminya sambil berkata. "Kenapa kamu menanyakan itu ?"
Keyan mengikis jarak antara mereka, iris mata suami istri ini saling mengunci. "Karena kamu layak bahagia."
"Aku Bahagia."
Jawaban itu tak langsung Keyan percaya. Bisa saja istrinya berpura-pura bahagia. Tak ingin berlanjut menjadi debat, Valonia menyelesaikan tugasnya.
"Aku sangat mencintaimu" Keyan memeluk erat tubuh Valonia seolah takut terpisahkan.
Usai sarapan pagi, Keyan dan Valonia segera melaju ke bandara di antar oleh Derry. Laki-laki yang muda tiga tahun dari Keyan itu nampak tampan mengenakan pakaian kerjanya. Mereka tiba di bandara, di sana Endi sudah menunggu. Laki-laki itu tersenyum melihat kedatangan Keyan dan Valonia.
"Selamat pagi Valo..."
"Kamu hanya menyapa istriku !" Suasana hati Keyan yang kurang baik sejak dari rumah membuatnya cepat memanas.
"Pagi Endi." Valonia terkekeh melihat wajah cemburu suaminya. Keyan memang tidak menutupi rasa cemburunya.
"Aku tidak perlu menyapamu." Endi tersenyum mengesalkan di mata Keyan.
"Jika sempat pulang sore, aku akan ambil penerbangan malam. Tapi bila urusan di sana belum selesai aku akan pulang besok." Keyan menghadap pada Valonia menutupi istrinya dari pandangan Endi. Ia memeluk Valonia erat. Tak ingin istrinya di pandang oleh asistennya itu.
"Iya hati-hati. Jangan sembarang makan apa pun yang disajikan dalam pertemuan."
Keyan mengangguk. "Kamu juga hati-hati." Tubuhnya berpaling dan melangkah berharap istrinya mengatakan sesuatu yang bisa memperbaiki mood nya. "Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu ?" Keyan menghentikan langkahnya dan menghadap kembali pada Valonia.
"Mengatakan apa?"
"Lupakan saja" Keyan kembali menghadap ke depan. Entahlah ia benar-benar ingin mendengar kalimat balasan cinta dari istrinya sebelum mengudara.
"KEY, AKU MENCINTAIMU. AKU PASTI MERINDUKANMU."
Langkah Keyan terhenti mendengar teriakan istrinya. Tubuhnya terpaku lalu detik berikutnya Keyan berlari kencang menabrakkan tubuhnya pada Valonia, tak hanya memeluknya ia juga menggendong tubuh Valonia sembari berputar.
Endi yang menyaksikan itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Karena aksi Keyan menjadi pusat perhatian orang. Keyan yang beraksi Endi menahan malunya.
"Katakan sekali lagi sayang." Nafas Keyan tersengal. Wajahnya berseri penuh kebahagiaan. Telapak tangannya dingin dengan iris mata kemerahan. Jantungnya bertalu menabuh cinta yang merekah.
"Aku mencintaimu sayang. Sekarang berangkatlah. Endi sudah menunggumu." Valonia menangkup wajah suaminya sambil tersenyum.
"Ayo ikut ! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri di sini. Nanti aku merindukanmu bagaimana?" Rengekan Keyan terdengar menggelikan di telinga Endi.
"Untuk saat ini aku tidak bisa ikut. Karena gaun pengantin tertunda aku kerjakan kemarin. Jadi aku harus menyelesaikannya hari ini."
"Baiklah, ingat pesanku. Jangan bicara pada laki-laki lain secara berlebihan, jangan menerima makanan dari orang yang tidak dikenal dan jangan berinteraksi dengan laki-laki lain atas nama klien. Jangan terlambat menjawab telpon ku, jangan mengabaikan pesanku."
Andai Endi bisa memuntahkan huruf-huruf perangkai kalimat posesif itu, mungkin ia akan memuntahkannya. Sudah kenyang ia mendengarkan kalimat-kalimat larangan itu. Sampai-sampai Endi hafal dengan ucapan Keyan saat akan berpisah dengan istrinya setiap hari untuk bekerja.
Sebagai seorang lajang tak memiliki pengalaman dalam cinta, Endi hanya bisa mengusap dada dengan sabar menunggu sang CEO. Mengucap salam perpisahan yang hanya berlangsung beberapa jam ke depan.
Sungguh miris, pemandangan mesra membuat hati Endi iri sekaligus jengah. Karena Keyan belum juga melepaskan tautan mesranya di tubuh Valonia.