Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Kedatangan Tita



Keberadaan Valonia disisi Keyan sangat berpengaruh. Dalam setiap usaha laki-laki ini, Valonia ikut andil di dalamnya. Begitu juga perasaan keduanya, semakin hari perasaan itu juga berkembang. Lambat laun, Valonia merasakan getaran untuk Keyan. Perlahan-lahan perasaan suka itu tumbuh di hatinya. Perasaan yang tak asing ia rasakan. Namun Valonia menanggapinya dengan biasa saja.


Sebentar lagi, perhiasan yang dipesan oleh Keyan di pabrik akan selesai. Setelahnya baru menentukan langkah selanjutnya. Keyan belum mengundurkan diri dari kantor Pak Andre. Ia ingin melihat hasil kerja kerasnya dalam beberapa bulan terakhir bisa tembus pasaran atau tidak.


...----------------...


Matahari merangkak naik, Hawanya semakin terasa panas. Hanya AC membantu mendinginkan suhu ruangan. Jam makan siang beberapa menit lagi, seluruh karyawan mulai merapikan meja dan mematikan laptop. Mereka harus menyudahi pekerjaan untuk mengisi perut.


Keyan dan Alvan juga beristirahat, dua laki-laki tampan ini keluar dari ruangan masing-masing menuju kantin. Seperti biasanya para kaum hawa akan berbisik-bisik memuji ketampanan keduanya. Banyak diantara mereka yang mencoba mencari perhatian hanya untuk makan satu meja. Namun, Keyan dan Alvan tak menggubris semua itu.


"Key, Al."


Keyan dan Alvan mencari sumber suara yang memanggil nama mereka.


"Tita."


Tita menghampiri Keyan dan Alvan sambil tersenyum. Ia tak menghiraukan tatapan orang-orang yang mencibirnya, Tita langsung mendaratkan tubuhnya di kursi samping Keyan.


"Apa kabar, Key ?" Tita menatap lekat laki-laki yang masih menghuni hatinya ini. Ia merindukannya hingga datang ke kantor pak Andre.


"Kabarku baik, Ta." Keyan terlihat menjaga jarak dengan gadis itu. Ia bersikap sedikit dingin.


"Bagaimana pekerjaanmu." Tita melipat kedua tangannya di atas meja.


"Lancar." Keyan menjawab sambil menyantap makan siangnya. Begitu pun Alvan. 


Tita menghela nafas panjang dan berkata. "Kembalilah, Key ! Ke rumah. Ayo kita mulai dari awal. Semua belum terlambat."


Keyan meletakkan sendok nya lalu meraih tissue menyeka mulutnya. "Aku tidak bisa, ini pilihanku." Paparnya kemudian minum.


"Pikirkan lagi, Key ! Kamu adalah penerus Om Johan. Apa susahnya menerimaku. Apa kamu sadar Valonia sudah membuatmu susah seperti ini? Bekerja Jadi karyawan om Andre. Yang seharusnya kamu adalah pemimpin. Dia membawa pengaruh buruk untukmu." Tita berusaha membujuk. Dan memburukkan Valonia Jasmine.


"Jangan memaksaku ! Hidup ini milikku, aku yang menjalaninya. Satu lagi ! Jasmine adalah segala nya untukku." Keyan gegas meninggalkan kantin. Selera makannya tiba-tiba hilang.


Tita terdiam, tak menyangka jika respon Keyan seperti tadi. Ia pikir kedatangannya bisa membujuk laki-laki itu seperti yang telah lalu. Dimana dia bisa mengendalikan Keyan dengan mudah.


"Jangan libatkan Valonia dalam masalah kalian ! Aku sudah mengatakannya beberapa kali. Meski dia alasan Keyan. Tapi kamu tidak berhak memberi penilaian seperti itu ! Jika kalian tidak menggubris ucapan ku. Maka aku akan bertindak. Valonia Tidak ada sangkut pautnya dengan keputusan Keyan."


Setelah mengeluarkan kalimat yang begitu panjang, Alvan meninggalkan Tita yang terpaku sendirian. Ia begitu kesal, ia beranggapan keputusan Keyan saat ini adalah pengaruh dari Valonia.


...----------------...


Valonia hari ini tidak ada kegiatan menggambar, ia dapat tugas mulia dari Levin yaitu menjaga putranya Fendi. Anak berusia dua tahun itu lagi senangnya belajar bicara, dia akan meniru apa saja yang orang lain katakan padanya.


"Mami, minum susu." Khas logat anak kecil itu menggemaskan di telinga Valonia.


"Sebentar ya, Mami buat dulu. Fendi duduk di sini sama Tante Mia." Valonia mengecup pipi gembul Fendi sebelum membuatkan susu.


Hari ini, butiknya ramai pengunjung. Beberapa rak pajangan terlihat kosong. Kondisi Valonia sedikit membaik. Gadis itu tidak lagi merasa lelah yang amat berat ditubuhnya. Karena ia tidak lagi menguras tenaganya agar cepat mengantuk.


Akhir-akhir ini Valonia sering mendengarkan musik pengantar tidur yang diberikan oleh Keyan. Meski mimpi buruk itu selalu datang. Tapi Valonia bisa tertidur lagi.


"Kak, Ada Nona Tita di bawah." Mia memberitahu Valonia  melalui interkom.


"Katanya ingin bicara."


"Antarkan dia ke ruangan ku." Valonia menutup telpon lalu membaringkan Fendi di kasur kecil yang ada di ruangan itu.


Tak berapa lama, Tita datang dengan tampilan sedikit kacau. Matanya sembab dengan hidung kemerahan. Valonia bisa menebak jika gadis itu habis menangis.


"Silahkan masuk." Valonia tidak menunjukan keramahan seperti sebelumnya. Kejadian bersama Sindy waktu itu membekas di hatinya.


"Terimakasih." Suara Tita terdengar serak.


Valonia berdiri mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas. "Minumlah ! Ada apa ?" Tanyanya to the point


Tita meletakkan botol air itu setelah meminumnya sedikit. "Lepaskan Keyan !" Manik matanya menatap penuh permohonan.


"Dia bukan tahanan saya, Nona."


Valonia tersenyum tipis.Kenapa rasanya kesal sekali? Tapi ia berusaha bersikap tenang dan santai.


"Jangan berpura-pura polos Valonia ! Kita bukan anak SMA." Bentak Tita sedikit nyaring. Sorot matanya yang penuh harap hilang berganti amarah.


"Syutt Pelankan suara anda. Putra saya akan terganggu." Valonia menoleh ke arah kasur yang ditempati Fendi.


Tita terhenyak melihat ada anak laki-laki di ruangan itu, Apa tadi, putra? Siapa ayah dari anak ini?


"Lepaskan Keyan, bujuk dia untuk kembali pulang ke rumah lagi. Jangan bawa dia menderita bersamamu Valonia. Jangan memanfaatkan  Keyan !" Tutur Tita menggebu. Tangannya terkepal erat. Buku-buku jarinya memutih karena kepalannya yang kuat.


"Saya tidak memanfaatkannya. Laki-laki itu sendiri yang datang dan meminta maaf yang saya tidak tahu apa kesalahannya. Lagi pula terusirnya Keyan dari rumah dan keluarganya itu bukan urusan saya." Netra Valonia terlihat dingin.


Tita semakin panas, tubuhnya terasa gemetar. Ia baru sadar jika lawan bicaranya saat ini. Adalah gadis cerdas angkatannya. "Keyan terusir dari rumahnya, karena kamu Valonia ! Dia membatalkan pertunangan kami itu juga karena kamu !" ucapnya penuh amarah.


"Itu pilihannya !" Intonasi Valonia terdengar datar. "Memohonlah padanya untuk kembali jangan meminta pada saya !"


"Apa kamu hamil di luar nikah? kemudian meminta, Key. Jadi ayah putramu itu ! Makanya kamu tidak berniat membujuk Keyan untuk pulang." Ucap Tita sarkasme dan tak luput senyum sinis ia perlihatkan.


"Ayah putra saya banyak ! Tidak perlu mantan calon tunangan anda itu untuk jadi ayahnya." Valonia menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. Dia hanya ingin melihat sampai mana kemampuan gadis di hadapannya ini menggangu waktunya.


"Cih ! Dasar ****** ! Akhirnya kamu mengakuinya." Tita tersenyum  meremehkan sembari berdiri. "Atau butik ini juga berdiri dari hasil tubuhmu? Dari ini saja sudah terlihat jika kamu tidak pantas untuk Keyan." Sambung Tita sambil mengamati ruangan itu.


"Anda benar Nona. Saya bukan orang baik. Jadi tinggalkan butik saya ! Sebelum saya berubah pikiran." Valonia berdiri sambil mengelilingi tubuh Tita yang terpaku mendengar kalimatnya. "Dilihat dari postur tubuh anda, lumayan !" Valonia mengamati tubuh Tita dari atas sampai bawah.


"Kamu gila !" Bentak Tita merinding melihat tatapan Valonia yang memindai nya.


"Pergilah sebelum saya berbuat jahat." Bisik Valonia pelan melangkah dekat pada tubuh Tita. "Bisa saja nanti anda menghasilkan anak seperti putra saya." Sambungnya tertawa pelan.


Tanpa pamit, Tita langsung pergi meninggalkan butik Valonia Jasmine dengan perasaan campur aduk.


"Anda mengerikan, Nona"


Levin datang bersama Fanny untuk menjemput putranya. Mereka menyimak semua pembicaraan dua gadis itu. Valonia tertawa mengingat reaksi Tita yang terlihat takut.


"Aku kesal, Bang." Valonia mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa.