Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Sudah Tiada



Keyan berpindah duduk di samping istrinya. Laki-laki ini masih menatap kosong tanpa suara. Sementara itu Valonia berusaha menguatkan dirinya agar tidak mengingat kembali peristiwa yang pernah dialaminya. Setelah semua ingatannya kembali, malam ini adalah pertama baginya merasakan reaksi yang tidak pernah terjadi selama kehilangan ingatannya. Seolah trauma itu masih ada.


"Bagaimana ?" Levin langsung menghampiri Sonny yang melangkah tertatih dari depan pintu.


Sonny menatap wajah sahabatnya satu persatu. Air mukanya tidak seperti tadi. Dengan bibir bergetar dan amat berat, ia berkata. "Sahabat kita, sudah tiada. Endi meninggalkan kita semua."


Dunia persahabatan itu terguncang seketika, meluluh lantakan kasih sayang sebagai penguat mereka selama ini. Berusaha menolak, tapi itu sebuah fakta yang harus mereka terima. Tanpa Aba-aba lagi mereka menyerobot ingin masuk.


"Puas kalian bercanda ?! Sudah aku katakan Endi akan sembuh dan baik-baik saja."


Suara Keyan menghentikan langkah para sahabatnya itu. Tatapannya kosong, namun telinganya mendengar. Ia masih diam di tempatnya duduk.


Varen berbalik dan melangkah menghampiri Keyan. "Key, ini tidak bercanda." Ucapnya mengguncang bahu adik iparnya ini. Dengan sisa tenaganya, ia merangkul pundak Keyan mengajaknya berdiri. "Ayo kita masuk." Sambungnya lagi.


Bak patung Keyan menuruti Varen, kakinya melangkah seakan tidak berpijak. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Isak para wanita di sekelilingnya seolah tak terdengar.


Di ranjang putih itu, mata Endi tertutup sempurna. Para perawat mulai melepaskan peralatan medis yang menunjang hidupnya beberapa detik lalu. Netra Keyan langsung menajam melihat tangan-tangan para perawat melepaskan alat-alat itu.


"Apa yang kalian lakukan ?! Kenapa melepaskannya ? Kalian ingin membunuhnya ! Dia akan baik-baik saja." Kekuatan Keyan kembali. Ia melangkah cepat dan menepis tangan para perawat itu. "Om, kenapa diam saja ?! Pasang kembali alat itu." Bentak Keyan. Ia seperti kesetanan melindungi tubuh Endi.


"Key, jangan seperti ini. Relakan Endi." Varen menangkap tangan Keyan dan berusaha menjauhkannya dari tubuh Endi.


"Hei kalian buta ! Endi masih bernafas, perawat itu akan membunuhnya !" Keyan meronta sekuat tenaganya. "Om Ariel tolong lakukan sesuatu." Laki-laki ini berhasil melepaskan dirinya lalu melangkah mengusir para perawat itu lagi.


"Key, Om minta Maaf... Endi sudah sampai janjinya. Segala pertolongan sudah kami berikan." Ujar Pak Ariel lembut. Ia bisa melihat jika sahabat putranya ini terguncang.


Keyan tertawa seperti orang bodoh. "Kamu mempermainkan ku, hah ! Aku tahu kamu bercanda, tapi tidak seperti ini juga, En ! Tolong jangan seperti ini." Ucapnya menggerakkan  lengan Endi.


"Key, dengarkan aku. Endi sudah tiada dan kita harus percaya itu." Alvan menangkup wajah sahabatnya itu dengan telapak tangannya.


"Sayang, percaya kepada mereka. Endi sudah tidak bersama kita lagi "


Suara Valonia menghentikan rontaan Keyan dari genggaman Levin dan Alvan. Laki-laki itu terdiam lalu melihat ke atas brankar. Manik matanya melihat wajah Derry yang bersimbah air mata di sisi Jenazah asistennya itu. Netra nya bergulir menatap wajah orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Semua wajah penuh air mata.


"En, kamu meninggalkan ku ?" Intonasi Keyan merendah. Ia menguatkan kakinya melangkah untuk menghampiri brankar. "Kamu meninggalkan ku." Tangis Keyan pecah tak terbendung. Dengan sisa tenaga, ia angkat jenazah Endi dengan posisi duduk. Laki-laki ini memeluknya erat. "Kamu ingin jadi orang pertama menggendong bayiku setelah lahir, 'kan? Aku mengizinkanmu. Gendonglah nanti saat dia lahir. Ta—tapi buka matamu. Di—dia menunggumu." Suara Keyan terputus-putus karena tangisnya. "Kamu ingin belajar bersamaku untuk jadi suami dan juga ayah yang baik, 'kan? Ayo kita rawat bayiku bersama. Kamu ingin hadiah rumah ketika menikah, 'kan? Rumah itu sudah ada. Jadi, aku mohon bangun dan buka matamu. Beberapa bulan lagi Jasmine melahirkan. Kita akan menggendong bayiku bersama." Tangis Keyan semakin pilu.


Laki-laki ini belum berniat melepaskan tubuh Endi dari dekapannya. Meskipun, Sonny berulang kali memintanya. Tak hanya Keyan, namun yang lainnya juga merasa kehilangan. Endi sosok laki-laki hangat dan bertanggung jawab. Sahabat yang baik dan juga pengertian.


Valonia memberanikan diri menghampiri brankar. Tangannya gemetar menyentuh bahu suaminya yang masih menangis histeris sambil berbicara pada Endi.


"Sa—sayang, baringkan Endi lagi."


Keyan melonggarkan pelukannya lalu melihat wajah Endi yang putih seperti kapas. Luka-lukanya mengeluarkan darah sedikit karena guncangannya. Dengan perasaan tak rela, Keyan membaringkan tubuh Endi lagi di atas brankar. Keyan menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat sambil mengecupnya berulang-ulang.


"Ta—tangan ini berjasa dalam hidupku. Tangan ini, yang mengurusku saat jauh darimu sayang. Tangan ini yang selalu terbuka menerima keluh kesah ku saat berjuang memantaskan diri agar bisa bersamamu. Tangan ini yang berjuang bersamaku. Ta—tapi tangan ini telah melepaskan ku."


"Aku mengerti. Sampai akhir pun, dia masih mendampingi mu." Valonia membawa tubuh rapuh suaminya itu di dalam pelukannya.


"Key, sekarang kita urus jenazah Endi lebih dulu." Sonny menyeka air matanya berusaha kuat sebagai dokter dan juga sahabat.


"Bawa pulang ke rumah kami. Biarkan Endi diberangkatkan dari sana." Putus Valonia. "Derry sini." Sambungnya meraih tangan adik iparnya itu dan memeluk kakak - adik itu.