
Seperti terencana kemarin, Tita sudah berada di halaman Jasmine Boutique. Ia sengaja datang pagi sekali, hanya untuk tahu keberadaan Keyan. Kelopak matanya bengkak, tampilannya begitu lusuh dan kacau. Sepertinya gadis ini tengah dirundung kesedihan yang mendalam.
Tepat perkiraan. Valonia datang bersama Varen, dari dalam mobil laki-laki yang sering di cap sebagai berandalan ini menatap penuh selidik pada sang mantan kekasih itu.
"Untuk apa dia ke sini ? Dan kenapa dia terlihat kacau ?"
"Entahlah, tadi malam Mia telpon. Mengatakan kalau dia mencari Keyan."
Varen dan Valonia bersamaan keluar dari mobil. Tita segera menghampiri mereka berdua. Meski memiliki kepentingan pada Valonia tapi Tita tetap saja terlihat tak bersahabat.
"Valo ! Dimana, Keyan ?"
"Aku bukan Ibunya, Ayahnya atau istrinya. Kenapa mencarinya di sini ?" Valonia sudah merubah gaya bahasanya. Sementara Varen hanya diam sambil memainkan ponselnya
"Kamu pasti menyembunyikannya ! Cepat katakan dimana Keyan ?!" Bentak Tita emosi.
Valonia tersenyum sinis. "Laporkan pada keamanan. Bahwa Valonia Jasmine telah menculik atau menyembunyikan seorang laki-laki dewasa. Dengan begitu kamu tidak perlu repot mencarinya, detektif akan menyelidiki tempat ini dan aku." Ucapnya lalu meninggalkan Tita.
"Jika terbukti kamu menyembunyikan Keyan. Akan aku pastikan kamu merangkak di kakiku memohon pengampunan." Tita terlihat begitu marah. Dan sangat yakin atas dugaannya jika Keyan ada di tempat itu.
"Kamu bukan Tuhan. Untuk apa memohon pengampunan mu." Sahut Varen memasukan ponsel ke dalam saku coat nya.
Tita meninggalkan tempat itu dengan kemarahan yang membara. Dia harus membuktikan jika menghilangnya Keyan ada kaitannya dengan Valonia Jasmine.
...----------------...
Valonia menyirami bunga-bunga titipan itu. Sembari sesekali menghirup aromanya. Seulas senyum manis melengkung indah di bibirnya. Tanpa ia sadari jika ada yang mengabadikan moments itu.
"Apa aku minta beberapa orang untuk berjaga ?" Varen mengkhawatirkan sepupunya ini. Dia memang sangat yakin kepergian Keyan pasti menyisakan masalah untuk Valonia Jasmine.
Valonia duduk di sebelah Varen. "Sepertinya tidak perlu." Tolaknya lembut.
Varen mengangguk. "Jika ada yang datang lagi mencari Keyan. Hadapi saja, jika mereka pakai kekerasan minta seseorang menghubungiku."
"Di mana, Keyan ?"
Varen menoleh. "Aku tidak tahu. Tapi percayalah. Keyan sedang membentuk dirinya. Valo, selama ini Keyan menunjukan perhatiannya padamu. Itu semua tulus dari hatinya. Dia menyukai mu. Tolong, jaga hatimu untuknya. Suatu saat dia pasti kembali dan menemui mu. Meskipun kamu belum memiliki rasa padanya."
Valonia termangu. Rasa ? Yang gadis ini tahu ada debaran saat laki-laki itu di sampingnya. Ada kebahagiaan saat bersama, ada kekosongan setelah Keyan pergi. Ada kekecewaan ketika tidak tahu apa pun tentangnya. Ada bisikan tetap menunggu kedatangannya. Ada percaya, nyaman saat menatap manik matanya.
"A—aku. Ti—tidak tahu. Tapi ada kekosongan saat dia tidak ada. Aku juga merasa nyaman dan aman bersamanya." Ungkap Valonia dengan raut wajah serius dan terbata.
"Baiklah, aku dapat kesimpulannya. Sekarang aku ke kafe dulu. Nanti siang aku dan Rara ke sini. Kemarin dia minta jemput."
"Hati-hati di jalan." Valonia mengantarkan Varen hingga ke depan butik.
"Pagi, Kak !" Sapa Mia baru datang.
"Pagi, Mia."
Valonia membantu Mia membuka butiknya, tak lupa memajang beberapa pakaian. Di saat konsentrasi bekerja. Tiba-tiba mereka kedatangan tamu lagi.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
Valonia dan Mia sama-sama menyahut, lalu menoleh ke asal suara. Di ambang pintu masuk, berdiri seorang wanita paruh baya. Masih terlihat cantik di usianya yang sekarang. Wanita berambut sebahu itu tersenyum kaku.
"Silahkan masuk, Nyonya. Butik kami baru buka." Valonia tersenyum ramah menyambut tamu keduanya pagi ini.
"Terimakasih, saya kesini sengaja untuk menemui mu. Boleh kita bicara berdua ?"
"Maaf, dengan ibu siapa ya ?" Valonia tidak langsung menyetujui.
"Perkenalkan, saya Arini. Bundanya Keyan."
"Senang berkenalan dengan anda." Valonia menyambut uluran tangan Bunda Arini. "Mari ke ruangan saya saja." Ajaknya sambil mempersilahkan menaiki anak tangga.
Bunda Arini mengamati seisi ruangan itu. Tanpa bersuara ia mengikuti langkah Valonia. Gadis ini tumbuh dengan sukses dan mandiri pikirnya.
"Silahkan duduk."
"Maaf mengganggumu pagi seperti ini." Bunda Arini membuka pembicaraan.
"Tidak apa-apa, jadi apa yang membawa anda datang kemari dan ingin bicara berdua dengan saya ?" Valonia yang selalu bicara pada intinya tidak ingin membuang waktu hanya untuk berbasa-basi.
Bunda Arini menegakkan duduknya. Aura semacam ini masih sama seperti lima tahun lalu. "Begini, kamu pasti sudah mengenal Keyan. Sudah satu Minggu ini dia tidak ada kabar. Apa kamu tahu kemana dia ?"
Valonia tersenyum tipis. "Tentang putra anda, saya tidak tahu karena satu Minggu ini. Dia tidak datang mengacau di tempat ini."
"Mengacau ?" Bunda Arini terlihat heran mengacau yang seperti apa ? Begitu tanya dalam benaknya.
"Putra anda, sudah beberapa bulan ini mengacau di butik saya. Dia bertingkah seolah sudah mengenal saya sejak lama. Dia bertingkah aneh padahal kami baru bertemu saat dia dan calon tunangannya itu mencari gaun pertunangan." Jelas Valonia.
Jadi gadis ini benar-benar lupa pada, Key. Tapi kenapa ?
"Saya minta maaf atas tindakan Keyan yang membuatmu tidak nyaman. Tadinya saya mengira kamu tahu keberadaannya." Bunda Arini tersenyum kaku.
"Saya maafkan, sekarang anda tahu bukan ? Kalau putra anda sudah membuat saya tidak nyaman. Jadi tidak datangnya dia satu Minggu ini sangat membuat saya tenang tidak merasa terganggu. Sampai di sini anda paham maksud saya." Valonia berusaha menutup kenyataan agar orang-orang ini tidak lagi datang ke butiknya hanya mencari Keyan.
"Iya, paham. Keyan tidak ada disini, dan kamu tidak tahu kemana dia." Lirih Bunda Arini. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam atas hilangnya sang putra.
...----------------...
Ayah Johan pulang dengan terburu-buru. Ingin tahu informasi apa yang didapat sang istri saat pergi ke Jasmine Boutique tadi pagi. Sudah beberapa hari ini, sekretarisnya belum juga menemukan keberadaan Keyan. Segala tempat sudah ia datangi, termasuk bandara dan apa saja yang bersangkutan untuk keluar masuk kota itu.
"Bagaimana, Bun ? Apa gadis itu menyembunyikan, Key ?"
Bunda Arini melirik sinis suaminya. "Bahkan gadis itu bersyukur. Keyan tidak ada di sana. Dia merasa terganggu karena, Key. Selalu datang ke butiknya."
Ayah Johan menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. "Kemana anak itu ? Aku tidak memaafkannya jika dia kembali !"
"Semua gara-gara kamu ! Memaksakan kehendak pada Keyan. Inilah hasilnya, kamu egois ! Temukan, Key. Baik hidup atau pun mati." Bunda Arini masuk ke dalam kamar tamu. Semenjak hilangnya Keyan. Hubungannya dan Ayah Johan menjadi dingin.
Johan Ganendra duduk termenung di ruang tengah, matanya masih tertuju pada pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Sejak terusirnya Keyan, kondisi dalam rumahnya jauh dari kata kehangatan. Di tambah Keyan menghilang, Bunda Arini bersikap dingin pada suaminya. Bicara seperlunya saja.
"Andre ! Dia pasti tahu di mana, Key ?" Ayah Johan meraih ponselnya dari atas meja. Dengan penuh harap ia mencari nama pak Andre di daftar kontaknya.
"Iya, Han ada apa ?" Suara pak Andre masih terdengar ramah seperti biasa. Meski pun sempat berselisih pada Ayah Johan.
"Di mana, Key ?"
"Aku tidak tahu, aku sudah menuruti permintaanmu untuk memecatnya. Aku juga melepaskan proyek itu padamu." Ketus pak Andre. Dalam hatinya begitu kesal.
"Keyan menghilang, sudah satu Minggu ini. Aku sudah mengerahkan orang-orang ku untuk mencarinya. Tapi belum mendapatkan hasil." Lirih Ayah Johan. Tak di pungkiri sebagai seorang ayah dia sangat mencemaskan putranya itu. Bukan ini yang diinginkannya. Tapi kepulangan putranya.
"Maaf, Han. Aku tidak tahu di mana dia. Aku pikir Keyan sudah pulang ke rumah. Karena dapat dipastikan setelah kamu melumpuhkan pergerakannya, Keyan tidak bisa bekerja di mana pun dalam kota ini."
"Aku tutup telponnya." Ayah Johan menjatuhkan tubuhnya di sandaran sofa. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuknya.
...----------------...
Di kediaman Pak Andre, pria itu tersenyum puas. Biarlah ! Sahabatnya itu kalang kabut lebih dulu. Ia paham jika Ayah Johan mencemaskan Keyan. Tapi agar Keyan bisa sukses maka ia harus berkeras hati sementara waktu.
Pak Andre akan terus memantau Keyan, menggantikan Ayah Johan. Dia sudah pasang badan jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada anak sahabatnya itu.
"Tita, juga sering datang ke kantor untuk menanyakan, Key." Alvan datang membawa dua cangkir teh hangat.
"Biarkan saja. Kamu tahu, Nak ! Sebenarnya, Papa tidak terlalu menyukai gadis itu. Meski pun putri teman papa sendiri." Pak Andre menyesap teh hangat buatan putranya.
"Tita gadis baik, tapi obsesi membuatnya berubah."
Pak Andre mengangguk. "Bagaimana dengan gadis butik itu ? Lama tidak berkunjung ke sana, apa dia sehat ?"
"Valo sehat, Pa. Sekarang sudah bisa tidur beberapa jam. Meski terbangun tengah malam tapi dia berusaha untuk tidur lagi." Papar Alvan.
"Tapi, jangan lengah bisa saja dia kembali drop jika suasana hatinya kurang baik." Tutur Pak Andre.
"Varen menjaganya dengan ketat. Untuk saat ini meski jam tidurnya masih kurang dari delapan jam. Setidaknya tubuhnya tidak lemas seperti waktu itu."
Alvan dan pak Andre bercerita seputar kesehatan Valonia. Pria paru baya ini terkejut saat tahu kabar Valonia mengalami insomnia parah.