
Cuaca malam seolah tidak bersahabat. Angin bertiup sedikit lebih kencang dari biasanya, di atas sana langit menggelap. Sudah ada pancaran kilat yang menerobos awan.
Valonia dan Rara memutuskan pulang cepat. Tidak ingin terjebak hujan di jalanan meski menggunakan mobil, Rara tidak mau ambil resiko atas diri Valonia Jasmine. Kondisi yang serupa, saat ingatan sahabatnya terampas malam itu.
Selama dua tahun ini, mereka selalu menghindari berkendara malam hari saat akan turun hujan. Selama itu pula mereka menjaga emosi Valonia Jasmine. Bukan jahat, tapi mereka tidak mau jika ingatan itu kembali dan membuat gadis itu terpuruk lalu menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang mereka hanya akan mencari cara agar Valonia bisa sembuh dari insomnia nya dan melupakan mimpi buruk itu.
"Aku pulang ya, hati-hati di rumah." Rara mengantarkan Valonia hanya di depan butiknya lalu berpamitan untuk pulang.
"Kamu juga hati-hati."
Valonia melihat ada mobil Varen, sepertinya laki-laki itu ada di sana. Valonia bergegas naik ke lantai tiga. Angin semakin bertiup kencang disertai petir nya, hujan sudah tidak sabar menunggu.
Valonia menekan sandi pintu bertepatan dengan Varen yang juga akan membuka pintu. Ia cemas karena Valonia belum juga datang.
"Valo, kamu kehujanan?"
Varen mengambil alih beberapa paper bag belanjaan sepupunya itu.
"Tidak, hujan turun aku sudah di dalam sini." Valonia meletakkan sepatunya dan mengganti dengan sandal rumahan.
"Kamu sudah makan ?" Varen juga ikut duduk di samping sepupunya itu.
"Belum ! Tadi rencananya mau makan. Tapi Rara buru-buru mengajak ku pulang, cuaca gelap sekali." Cerita Valonia sambil melangkah ke dalam kamarnya.
"Aku sudah masak, ganti baju dulu. Baru kita makan." Varen pergi ke dapur lalu menyiapkan makanan. "Mami dan Papi pergi menjenguk Nenek dan Mama Merry. Jadi aku akan menginap disini selagi mereka di sana." Ia menoleh pada Valonia yang menghampirinya.
"Baiklah. Ayo makan." Valonia segera mengambil makanan.
Sudut bibir Varen terangkat melihat sepupunya itu makan dengan lahap. "Besok kita belanja, persediaan di kulkas sudah habis."
...----------------...
Di kediaman Johan Ganendra. Suasana begitu memanas. Mereka sedang menghakimi Keyan yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pertunangan. Di sana tidak hanya ada Ayah Johan dan Bunda Arini. Tapi ada Tita dan juga kedua orang tuanya.
"Jelaskan, Key ! Kenapa kamu mengambil keputusan sepihak seperti ini? Tanpa memikirkan perasaan Tita dan kedua orang tuanya. Kami malu Keyan !" Suara Ayah Johan meninggi. Ia benar-benar marah.
"Aku yang salah, tanpa berpikir lebih panjang untuk mengajak Tita bertunangan. Aku juga salah memberikannya harapan, tapi aku tetap tidak melanjutkannya. Aku tidak mau menyakiti Tita. Karena hatiku tidak bisa menerimanya menjadi calon istriku." Keyan mengakui kesalahannya. Dia terlihat tidak takut sedikit pun. Meski wajahnya sudah lebam karena mendapatkan tamparan dari sang Ayah.
"Apa karena gadis itu. Key ?!"
"Ya, aku akan memperjuangkan Jasmine. Aku mencintainya. Tapi kenapa kalian teganya meminta dia menjauhiku. Ayah dan Bunda sudah menemuinya, 'kan? waktu itu. Dia dan aku sudah mengikuti keinginan kalian ! Jadi untuk saat ini jangan lagi menghalangiku. Aku sudah dewasa dan lulus kuliah." Suara Keyan tak kalah nyaringnya.
"Apa yang kamu harapkan dari dia, Key ? Valonia hilang ingatan ! Otomatis dia juga lupa sama kamu !" Bentak Tita. Ia sudah geram dengan kekerasan hati Keyan.
"Dia boleh lupa padaku. Tapi aku yakin dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada aku di sana."
Keyan menatap tajam pada Tita. Karena tidak secara langsung mematahkan harapannya.
"Key, apa kurangnya Tita. Dia selama ini selalu bersamamu. Lima tahun dia mendukungmu." Om Anton ikut bersuara untuk putrinya.
Keyan berdiri dari tempatnya duduk. Lalu melangkah ke arah tangga meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamarnya.
"Jadi, kamu memilih menolak Tita. Dan mengejar gadis hilang ingatan itu?!" Ayah Johan mendaratkan tubuhnya di sofa. Nafasnya memburu dengan wajah merah karena amarah.
"Iya, aku menolak untuk melanjutkan pertunangan itu. Dan aku akan mengejar gadis yang aku cintai." Keyan berbalik dan menatap penuh keyakinan pada ayahnya.
"Key, pikirkan sekali lagi." Bujuk ibu Tania. Ia iba melihat putrinya menangis sejak tadi siang.
"Tidak ada yang harus aku pikirkan lagi Tante."
"Baiklah, jika ini pilihanmu. Mulai sekarang tinggalkan rumah ini, lepaskan segala fasilitas yang ku beri. Hiduplah dengan gadis itu di luar sana ! Aku ingin melihat seberapa kuatnya kamu bertahan hidup tanpa apa-apa dariku ! Bawa barang mu semua jangan ada yang tertinggal satu pun. Cukup milikmu sendiri !"
Semua orang tercengang, keputusan apa ini ? Bunda Arini sudah tidak dapat bicara lagi. Hanya menangis. Keputusan suaminya adalah mutlak tak bisa ia bantah.
"Baik." Keyan menjawab pendek lalu kembali melangkah meneruskan ke arah tangga.
"Key, jangan lakukan ini. Aku mohon ! Kita lanjutkan pertunangan ini, maka kamu akan tetap hidup tanpa kekurangan apa pun." Tita berlari memeluk tubuh Keyan dari belakang.
Keyan berpaling lalu menjauhkan tubuh Tita dan memegang kedua pundaknya. "Ta, aku minta maaf sudah menyakitimu. Sudah memberikan harapan untukmu. Aku salah,Ta. Kamu temanku, bukan pelarian ku karena kecewa. Aku yakin ada laki-laki lebih baik dariku yang bisa memberimu cinta." Keyan membawa tubuh Tita kedalam pelukannya. Tangis gadis itu pecah terdengar begitu pilu. "Aku gegabah, maafkan aku." Keyan melepaskan pelukannya lalu berlari menaiki tangga. Tita luruh ke lantai menangis sejadi-jadinya.
Ibu Tania tidak tega melihat putrinya seperti itu. "Pa, ayo pulang." Ajaknya pada sang suami. Ibu Tania merangkul pundak Tita untuk berdiri dan menggiringnya keluar.
"Johan, Arini. Kami pulang dulu." Pamit pak Anton. Ia membiarkan istri dan anaknya keluar lebih dulu.
"Maafkan kami, aku sengaja mengusirnya. Kita lihat apa dia bisa bertahan di luar sana? Tentang gadis itu aku rasa tidak masalah karena dia sudah lupa pada Keyan. Aku yakin anak itu akan merengek pulang jika sudah tidak mampu berhadapan dengan dunia luar." Ayah Johan menepuk pundak pak Anton.
Setelah keluarga Tita pulang. Disusul oleh Keyan, laki-laki ini menggeret empat koper besar miliknya. Ia tidak menyisakan satu pun barang pribadinya. Keyan akan membuktikan jika dirinya bisa beradaptasi di luaran sana. Ia juga bisa bekerja tanpa embel-embel sang pewaris.
"Key, jangan lakukan ini. Nak !" Bunda Arini menangis menghampiri putranya.
"Aku kecewa sama Bunda."
Keyan menarik kopernya berlalu begitu saja.
"Jika kamu tidak keras kepala, tidak mungkin ayah dan bunda melakukan ini padamu !" Bentak Bunda Arini marah.
"Aku berkeras tetap tinggal disini, aku akui itu salah. Hingga Ayah dan Bunda menekan Jasmine yang menjadi alasanku. Tapi penghinaan kalian padanya tidak bisa aku lupakan begitu saja. Agar aku menuruti semua keinginan Ayah, kalian menyeret Jasmine di dalamnya."
Keyan semakin melangkah menuju pintu keluar. Ia tidak perduli pada tangis Bunda Arini. Sementara ayah Johan hanya diam menyaksikan putranya keluar dari rumah.
Ya, mereka saling menyalahkan. Keyan yang tidak dewasa waktu itu, lalu Ayah Johan dengan keangkuhannya. Serta Bunda Arini dengan permohonan ke keibuannya. Semua menekan posisi seorang Valonia Jasmine.
Ayah Johan tidak menyukai kedekatan putranya dan Valonia. Hingga berpikiran untuk memisahkannya. Baginya semua harus terlihat sempurna. Memiliki anak yang pintar dan menantu dari keluarga setara dengannya. Berbesanan dengan rekan bisnisnya adalah keinginannya sejak dulu. Pak Anton dan Ayah Johan adalah bersahabat.
Bunda Arini yang tidak ingin putranya hidup menderita di luaran sana. Terpaksa ia meminta bantuan pada Valonia yang menjadi alasan Keyan tidak ingin pergi ke Amerika waktu itu.