
Matahari telah sempurna di posisinya. Keyan belum juga kembali ke rumah sakit. Mama Merry masih menemani Valonia bersama Bunda Arini. Mereka berbincang banyak layaknya teman lama, hubungan keduanya tidak canggung lagi.
"Selamat siang, Tante."
"Selamat siang."
Bunda Arini dan Mama Merry menoleh ke asal suara. Keduanya tersenyum melihat sosok yang datang.
Levin menyapa di ambang pintu. Ia membawa rantang makanan. Bibirnya tersenyum melihat Valonia menoleh ke arahnya. Ia melangkah masuk lalu meletakkan rantang makanan di atas nakas. Levin datang dengan tiga rantang makanan.
"Aku bawakan makan siang."
"Terimakasih, Bang." Valonia bersandar di bantalnya dengan posisi setengah duduk. Entahlah ia merasa tubuhnya agak demam. Mungkin efek kejadian kemarin baru ia rasakan sekarang. Padahal niatnya akan pulang ke rumah hari ini.
"Apa Keyan dan Varen belum kembali ?" Levin mendaratkan tubuhnya di samping Mama Merry. Laki-laki ini menyalami Mama Merry dan Bunda Arini bergantian.
"Belum, masih di apartemen Derry." Jawab Valonia baru mendapatkan kabar dari suaminya.
"Kamu mau makan sekarang, Val?" Tawar Mama Merry. "Lev, kamu sudah makan, Nak?" Lanjut Mama Merry bertanya pada Levin. Dibalas anggukan dari laki-laki itu. Pertanda dirinya sudah makan siang.
"Nanti saja, Ma. Masih kenyang." Sahut Valonia memejamkan matanya. Usai menengok Alvan tadi pagi, ia merasa tubuhnya tidak nyaman.
"Jasmine, kamu istirahatlah. Aku mengantarkan makanan ini ke ruangan Alvan dan Pak Ardi." Pamit Levin sambil berdiri meraih dua rantang di atas meja. Laki-laki itu langsung keluar dari ruangan.
"Nak, Bunda menengok Alvan dulu ya, kamu tidurlah." Bunda Arini juga ingin keruangan anak sahabat suaminya itu.
"Iya, Bun."
Mama Merry menaikan selimut ke tubuh Valonia hingga batas dada. Ia mengecup keningnya penuh cinta. Hatinya sedih ketika mendapatkan kabar jika Valonia Jasmine mengalami hal buruk hari kemarin.
"Tante, bagaimana kondisi Valonia ?" Rara datang bersama Mia untuk menjenguk Valonia Jasmine.
"Tadi pagi membaik. Tapi sekarang sepertinya demam." Ibu Merry meraba kening Valonia. Beliau merasakan tubuh putrinya itu hangat.
"Tante, istirahatlah biar kami yang menjaga, Kak Valo." Mia meletakkan buah di dalam wadah.
"Tidak apa-apa, Nak. Tante tidak lelah." Mama Merry tersenyum lembut.
Saling bercerita tanpa terasa hampir satu jam Mia dan Rara di sana. Kini dua gadis itu akan menengok Alvan dan membiarkan Valonia tidur setelah mendapatkan suntikan di infusnya dari perawat. Mama Merry merasa haus setelah berbincang dengan besannya Bunda Arini.
"Bu Merry, sepertinya saya harus pulang dulu. Ayah Keyan pasti mencari saya." Pamit Bunda Arini. setelah mengecup kening menantunya.
"Iya, Bu ! Mari saya antar kebetulan saya juga akan ke kantin. Di ruangan ini tidak ada minuman dingin."
"Apa tidak masalah Valonia di tinggal sendiri ?" Bunda Arini enggan meninggalkan menantunya seorang diri dalam keadaaan tidur.
Dua wanita paruh baya itu meninggalkan kamar rawat Valonia setelah menitipkannya pada pengawal.
...----------------...
Hampir tiga puluh menit, Mama Merry juga belum kembali. Di atas brankar Valonia membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Ia menatap sekelilingnya kosong. Ia menekan pangkal keningnya karena terasa pusing. Ya, dia benar-benar demam sekarang.
Nafasnya berhembus terasa panas tak umum. Valonia kini paham jika dirinya tengah demam. Netra nya tertuju pada jam dinding yang tergantung di dinding ruang bernuansa putih itu. Di sana jarum jam telah menunjukkan pukul dua siang. Ia berusaha bangkit dari posisinya untuk meraih ponsel yang Mama Merry letakkan di atas nakas. Tak ada panggilan telpon atau pun pesan masuk dari Keyan.
Valonia merasa tenggorokannya kering, ia berusaha menjangkau gelas terletak sedikit jauh dari tempat ponselnya tadi. Valonia berhasil menjangkau gelas air dan meminumnya hingga tandas. Ia terperanjat ketika terdengar langkah kaki masuk ke dalam ruangannya. Valonia menoleh dengan iris mata terlihat datar ketika melihat pembesuknya siang ini.
"Kenapa ini? Nyonya Keyan tak berdaya di sini." Tita duduk di sofa dengan angkuhnya. Sudut bibirnya terangkat lebar melihat lemahnya seorang Valonia Jasmine di atas brankar.
"Mana keangkuhan mu itu ?!" Sindy melangkah ke sisi brankar. Kemudian berbisik "Pembunuh !" Bibirnya tersenyum senang melihat raut terkejut di wajah Valonia Jasmine.
"Apa maksudmu?" Valonia menatap tajam dua wanita yang bisa masuk ke dalam ruangannya padahal ada pengawal yang berjaga di luar ruangan.
"Apa kamu sadar? Alvan tertusuk karena kamu. Apa dia jadi korban kedua?" Tita ikut melangkah ke sisi brankar. Gadis itu tersenyum senang melihat wajah Valonia dengan tatapan heran kearahnya. "Kamu wanita sial !" Lanjutnya terkekeh.
"Keluar kalian ! Pengawal, usir mereka !" Valonia sedikit berteriak meminta pengawalnya menyeret dua gadis itu. Ia tak yakin bisa mengendalikan dirinya saat kondisinya lemah.
Tita dan Sindy terbahak karena bisa mengelabui para pengawal di luar ruangan untuk pergi ke kantin dan makan siang. Waktu berpihak pada mereka, ketika Mama Merry meminta pegawai kantin mengantarkan makanan ke ruangan Valonia. Tita memintanya kembali ke kantin dan para pengawal itu akan datang sendirinya untuk makan siang.
"Mereka tidak ada, percuma kamu berteriak." Sindy duduk di tepi kasur. Tangannya merapikan anak rambut Valonia yang berantakan. Serta senyum kepuasan tak pudar dari bibirnya.
"Aku ingin bercerita padamu." Tita meraih kursi dan duduk sambil berpangku tangan menatap penuh benci pada Valonia yang tak berdaya.
Valonia menoleh ke arah pintu karena nampak bergoyang. Ia melihat ibu Merry dari kaca. Namun wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk masuk karena melihat ada dua orang wanita di dalam bersama putrinya.
Terlihat mereka sangat akrab. Mungkin itu teman-teman dari Valonia begitu pikir Ibu Merry. Beliau memilih masuk ke ruangan sebelah tempat pak Ardi dirawat tanpa menyadari jika tidak ada satu orang pun pengawal berjaga. Setelah melihat bayangan ibu Merry tidak ada lagi di kaca, Tita langsung melanjutkan niatnya.
"Valonia Jasmine, tahukah kamu ? Kenapa ingatanmu hilang ?" Tita menyentuh kepala Valonia dengan telunjuknya.
"Kamu mengalami kecelakaan disaat kuliah dulu." Sambung Sindy. Ia beralih duduk di sofa sambil menikmati perubahan air muka Valonia.
"Kecelakaan itu tidak hanya merenggut memori kamu saja. Tapi juga merenggut nyawa seseorang. Kamu tahu siapa dia?" Lanjut Tita. Tak beralih pada posisinya.
"Hentikan omong kosong mu, sekarang pergilah." Valonia berusaha tidak menanggapi kata-kata Tita. Ia menggenggam gelas bekasnya minum. Tubuhnya bereaksi gelisah dan gemetar. Kilatan keringat dingin terlihat di pelipisnya. Namun ia tetap menguasai dirinya.
"Itu bukan omong kosong ini fakta ! Dalam kecelakaan itu. Ada Ayahmu yang sekarat lalu meninggal saat kecelakaan itu dan pengemudinya, adalah kamu sendiri. Secara tidak langsung, kamu adalah penyebab kematian ayahmu sendiri. Keluargamu menutup fakta itu agar kamu tidak merasa bersalah. Akibat dari kecelakaan itu, ibumu depresi. Ayahmu meninggal dan kamu sendiri koma serta kehilangan ingatan. Jangan sampai Keyan jadi korban mu berikutnya."
Fakta yang diungkapkan Tita tepat memanah ke dalam otak Valonia Jasmine. Ingatan tentang mimpi buruknya selama ini langsung terhubung begitu saja. Bak pengingat, itu bukan hanya mimpi. Tapi fakta nyata yang terjadi hanya saja, ia melupakannya. Tubuh Valonia lemas seketika, tangannya meremas pinggiran kasur dan tatapannya kosong disertai denyutan luar biasa di kepalanya.
Namun, sakit itu tak membangunkan Valonia dari dunia yang menghentikan segala pergerakannya. Ia diam mematung tak bersuara, nafasnya naik turun dengan keringat sudah membanjiri pelipisnya. Tita dan Sindy tertawa puas. Kedatangan mereka mampu menghancurkan tembok kekuatan Valonia.