
Beberapa hari kemudian, kantor JFB beroperasi dengan lancar dan normal. Karyawan yang berada di kantor lama Keyan pindahkan ikut bersamanya. Hari-hari yang ia lalui bersama Valonia penuh warna dan cerita.
Layaknya pengantin baru mereka terlihat begitu bahagia. Meski pun mengekspresikan perasaan masih malu-malu dan canggung, pernikahan mereka terjadi bukan karena di dasar sebagai sepasang kekasih atau pacaran seperti anak muda pada umumnya.
Namun ada sedikit paksaan dari Keyan dan otomatis Valonia harus menerimanya karena CEO JFB itu telah mengantongi restu keluarganya sejak lama. Valonia tak ingin membuat malu keluarga, apa lagi menyakiti hati Keyan yang tulus padanya. Valonia juga tak menampik ada rasa cinta untuk Keyan.
"Sayang, ayo berangkat !" Keyan berdiri di ikuti oleh Valonia. Laki-laki ini selalu mengumbar senyum penuh cintanya.
Sepasang suami istri itu melangkah dengan hati yang bahagia. Sejauh ini tidak ada masalah serius yang terjadi, hanya pertengkaran kecil bumbu rumah tangga.
"Key, aku sepertinya pulang malam. Pesanan gaun pengantin dari rekan kerjamu tinggal dua puluh lima persen lagi." Valonia bersandar manja di dada Keyan, kecupan kecil penuh kasih sayang ia rasakan dari sang suami.
"Iya, selepas pulang bekerja. Aku akan ke butik."
Mobil Keyan berhenti di halaman butik Valonia. Tak mengantar sampai ke dalam, namun ia selalu menunggu istrinya itu masuk dan berdiri di depan kaca lantai dua ruangan kerja Valonia.
...----------------...
Di kantor Johan Ganendra, pria paruh baya itu merasa malu atas penilaiannya pada Keyan putranya. Ia juga tak bisa memenuhi janjinya pada Pak Anton untuk menikahkan anak-anak mereka.
Tak ingin berputus asa, Ayah Johan memikirkan rencana lain. Untuk menarik Keyan ke sisinya. Tak perduli dengan adanya Valonia bersama Keyan.
Ayah Johan bergegas keluar dari ruang kerja. Wajahnya yang menua nampak tak bersahabat, ada kemarahan mendalam yang terpendam. Tubuh yang tak lagi tegap itu memasuki mobil mewahnya.
"Jasmine Boutique."
Sopir pribadi Ayah Johan mengangguk pelan. Kakinya menginjak pedal gas meninggalkan basemen kantor. Dalam hati pria yang sedikit lebih muda dari Ayah Johan ini bertanya, untuk apa lagi ? Tidak cukupkah selama ini mengawasi Valonia Jasmine hanya untuk tahu keberadaan Keyan. Namun apa ? Hasilnya tetap nihil, Ia kecolongan oleh putranya sendiri.
Mobil milik Ayah Johan berhenti di halaman butik Valonia. Semenjak orang-orang tahu bahwa owner Jasmine Boutique adalah istri pendiri JFB . Tak jarang para istri rekan kerja Keyan datang hanya untuk sekedar mampir dan berkenalan. Di balik itu semua ada penjilat yang memberi perintah agar istri mereka bisa menarik simpatik seorang Valonia Jasmine. Agar jadi jembatan bisa menjalin kerja sama dengan JFB.
"Di mana wanita itu ?!"
Mia terhenyak. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Gadis ini ragu-ragu untuk menyapa, melihat tatapan garang dari Ayah Johan Ganendra. Nyalinya sedikit menciut.
"Se—selamat siang Pak Johan." Sapa Mia gugup. Tubuhnya terasa panas dingin.
"Di mana wanita itu ?!"
"Saya di sini ?"
Suara Valonia membuat Mia bernafas lega. Ayah Johan menoleh kebelakang. Ia melangkah menghampiri Valonia. Tangannya mencengkram pundak wanita ini dengan kuat. Amarahnya meletup ketika melihat wajah wanita yang dicintai oleh putranya.
"Tuan !" Mia datang melihat Valonia meringis. "Anda menyakitinya." Sambungnya seraya mencengkram pergelangan Ayah Johan.
"PENIPU ! BERPURA-PURA TIDAK TAHU DAN MENYEMBUNYIKAN PUTRAKU !" Teriak Ayah Johan meluapkan amarahnya. "Lepaskan dia. Sebaik apa pun rupa mu. Tetap, kamu tidak pantas mendampingi Keyan !" intonasinya merendah.
"Sebelum anda datang kemari, harusnya anda tanya dulu pada Keyan. Kemana dia ? Bersama siapa ? Dan apa saja yang dilakukannya ? Bukan menuduhku secara sembarangan !" Valonia juga terlihat marah. Keinginannya berkata ramah dan lembut pada Ayah Johan sirna karena sikap kasar mertuanya itu sendiri.
"Tinggalkan putraku ! Apa kamu sadar sudah menjauhkan anak dari Ayahnya?! Demi memilihmu, Keyan melupakan kami orang tuanya ! Aku terpaksa mengusirnya karena kamu ! Apa kamu pernah berpikir jika Keyan juga merindukan kami ?! Hanya karena egonya untuk bersamamu, Keyan memulai segalanya dari nol. Lihat setelah kesuksesan yang dia peroleh dengan mudahnya ia menyerahkannya padamu. Apa kamu tidak merasa jika kamu serakah ?! Bagaimana kamu bisa merasakan antara aku dan putraku sedang kamu sendiri sudah tidak memiliki Ayah."
Valonia terhuyung, kedua kakinya lemas. Telinganya panas mendengar kata-kata Ayah Johan yang tidak berperasaan. Tua, namun tidak bersikap seperti layaknya orang tua. Kesalahannya, ia lemparkan pada Valonia. Padahal telah nyata Ayah Johan lah yang egois memaksa Keyan untuk ikut pengaturannya.
"Kak..." Lirih Mia. Gadis ini menitikkan air matanya. Melihat raut wajah Valonia begitu sedih.
Meski pun memori Valonia hilang setidaknya ia tahu papa Danu ayah kandungnya. Dan rindu serta rasa sayang itu sudah ada di hatinya.
"Jika kamu tidak bisa melepaskan Keyan. Maka, terimalah Tita jadi madu mu. Akan aku pastikan jika Keyan menikahinya." Ayah Johan seperti pria tua pengecut. Meninggalkan butik itu dengan amarahnya.
Valonia luruh ke lantai, telaga bening di matanya tumpah ruah mewakili perasaannya. Air mata yang jarang ia keluarkan hari ini tumpah begitu banyak. Tangis Valonia pecah, kenapa sesakit ini ?
Para karyawan menghampiri Valonia setelah menyaksikan dari kejauhan. Mereka ikut kesal atas sikap Ayah Johan. Bukankah itu seperti kekanakan ?
"Kak, minum dulu." Salah satu karyawan laki-laki memberikan segelas air. Mereka mengerumuni Valonia.
Mia mengambil alih gelas dan mendekatkan pada bibir Valonia. Perlahan-lahan istri Keyan itu meminumnya. Isak kecil masih terdengar diantara sesenggukan. Ya ! Hari ini adalah kerapuhan yang Valonia perlihatkan di balik ketegasannya selama ini. Bahkan karyawannya pun merasa ini pukulan keras untuk owner mereka yang tak pernah terlihat kerapuhannya.
"Sayang !"
Seperti pangeran berkuda putih. Keyan datang meski sedikit terlambat. Kedatangan sang Ayah ke butik istrinya membuat laki-laki sibuk ini mengakhiri pertemuan pentingnya dengan cepat. Keyan segera merengkuh Valonia ke dalam pelukannya. Mengecup lembut kening dan kelopak mata istrinya.
"Key." Sudut mata Valonia masih basah. Netra nya mengunci manik mata suaminya. "Ayahmu datang."
"Aku tahu." Keyan menangkup wajah istrinya. Lalu mengusap jejak air mata yang masih mengalir. "Mia mengirim pesan." Tak ingin disaksikan orang banyak kesedihan Valonia. Keyan segera menggendong istrinya untuk naik ke lantai tiga.
Mia mengatur kembali karyawan. Lalu membalik tulisan untuk buka kembali. Valonia memiliki karyawan yang perduli. Tidak ingin menjadi pembicaraan kurang baik salah satu karyawan menutup butik.
...----------------...
Keyan meletakkan tubuh Valonia di atas sofa. Lalu mengambil karet rambut dan mencepol tinggi rambut istrinya. Keyan bersandar di sofa dan meraih tubuh Valonia untuk bersandar di dadanya.
"Maaf. Aku terlambat, aku pastikan kejadian hari ini tidak terulang lagi." Keyan merasa kecolongan. Di sela belaiannya pada punggung Valonia. Tangan Keyan terkepal erat.
"Apa kamu mau menikah lagi ?"
Keyan tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Valonia. "Aku hanya menikah sekali dan itu hanya padamu.
"Ta—"
"Hanya kamu istriku. Apa pun kondisinya, aku tidak akan membagi diri dan cintaku sendiri pada wanita lain. Mendapatkan mu saja susah dan penuh perjuangan. Kenapa aku harus mendua ?" Potong Keyan cepat. Dan mengecup buku-buku jari istrinya.
"Dari mana kamu tahu ?" Valonia merasa sedikit tenang dan bingung. Bukankah ia belum bercerita ? Wanita ini merubah posisi duduk menghadap pada Keyan.
"Mia mengirim pesan mengatakan Ayah ada di sini. Mia meneleponku, ia tidak mengatakan apa pun hanya mengaktifkan pengeras suaranya. Agar aku bisa mendengarkan pembicaraan kalian."
"Bagaimana keputusanmu ? Sejauh ini, semua orang memojokkan aku karena batalnya pertunangan mu, hilangnya kamu selama setahun. Menikah denganku dan berdirinya JFB. Semua karena aku ! Apa aku egois ? Katakan di mana letaknya. Apa pun pilihanmu bukan aku yang menghasut mu, semuanya berasal dari hatimu. Tentang perasaanmu, aku juga tidak memintamu untuk mencintaiku. Lalu... Apa kesalahanku ? Hingga orang-orang menekan ku." Valonia berucap tanpa jeda. Nafasnya naik turun meluapkan perasaannya. Disertai buliran air mata mengalir deras di pipinya.
Keyan kembali memeluk Valonia. Mengusap lembut pundaknya agar tenang. "Semua pilihanku. Memutuskan perencanaan tunangan, menikah dengan mu, mencintai mu dan mendirikan JFB. Itu semua karena dari hatiku bukan paksaan atau pun hasutan mu. Aku mencintaimu.Terbentuknya JFB agar aku kuat untuk berdiri di sampingmu dan mampu melawan masalah yang aku sebabkan untukmu. Intinya aku memilihmu karena hatiku yang menginginkanmu sejak lama."
"Aku juga merasakan kalian saling merindukan hanya saja terbatas oleh dinding gengsi. Tapi perkataan ayahmu menyakiti hatiku."
"Kamu benar. Aku merindukan Ayah dan Bunda. Tapi mereka sendiri yang mengusirku. Jadi, biarkan saja dulu suatu hari nanti pasti bisa berkumpul. Sekarang jangan sedih lagi ya. Aku juga minta maaf atas nama Ayahku." Keyan tersenyum menangkup wajah Valonia.