
Masalah seolah tanpa henti menyambangi. Di kediaman Pak Anton sudah bak boiler yang panas. Suasana sangat tidak stabil penuh amarah dan air mata. Kebahagiaan yang dulu tak terusik, kini mulai retak menanti pecah.
Isak tangis bersahut-sahutan di ruang tengah rumah mewah milik Pak Anton. Jika melihat dari luar, orang-orang akan berpikiran mereka hidup bahagia. Bergelimang harta, memilik putri yang cantik dan jauh dari gosip miring. Tapi siapa yang tahu ada kecacatan dalam cangkang yang terlihat cantik.
"Jadi, apa benar yang di katakan Keyan?" Tita baru saja pulang ke rumah setelah semalam bermalam di rumah tua tempat penyekapan nya. Gadis ini pulang dengan tampilan kacau dan juga sudut bibir membiru. Meski begitu Tita tidak menceritakan sepenuhnya apa yang telah di alaminya.
Pak Anton dan Ibu Tania terdiam menunduk. Tak bisa menyembunyikan apa-apa lagi. Karena memang kenyataannya, Tita bukanlah anak kandung mereka.
"Benar sayang. Tapi kami sangat menyayangimu." Ibu Tania tak bisa menghentikan lajunya air mata yang berselancar di pipinya.
"Apa perselingkuhan Papa dan Sindy juga benar ?"
Ibu Tania mengangkat wajahnya. Jantungnya berpacu lebih kuat. Ia menatap tajam pada gadis yang ia panggil sebagai putrinya. "Jangan fitnah Papamu, Ta ! Gagalnya perjodohanmu dan Keyan bukan kuasa Papa. Jangan memfitnah seperti itu, Sindy sahabatmu." Intonasi Ibu Tania sedikit nyaring disertai jari telunjuknya mengarah pada Sindy yang hanya diam menunduk penuh penyesalan.
"Itu bukan fitnah, Ma ! Keyan dan Varen yang mengatakannya !" Tita kesal meluapkan emosinya. Tangannya terkepal. Meski pun bukan anak kandung. Namun Tita tetap menyayangi ibu Tania dan hati kecilnya tak terima ibunya disakiti.
Tubuh ibu Tania terhuyung dan jatuh di sofa. Ia melayangkan tatapan penuh pertanyaan pada suaminya yang nampak frustasi. Pak Anton duduk di sofa sambil meremas rambutnya. Dirinya benar-benar kacau. Melihat suaminya bergeming, ibu Tania yakin pernyataan Tita benar adanya.
Hatinya sakit, serasa diremas dan ditarik paksa. Air mata Ibu Tania semakin deras ketika mengetahui fakta yang baru saja didengarnya. Selama ini Ibu Tania mempercayai suaminya dengan sepenuhnya. Ia menangis pilu tak menyangka jika laki-laki yang puluhan tahun mendampinginya telah mengkhianati pernikahan mereka.
"Pa, jawab ! Apa itu benar ?"
Pak Anton langsung berdiri dan menjatuhkan tubuhnya di hadapan ibu Tania. Tangannya gemetar menggenggam tangan istrinya itu. Buliran bening menetes dari bola mata Pak Anton. Ada sebongkah penyesalan terpancar dari netra nya.
"Maafkan aku." Pak Anton tertunduk di pangkuan istrinya. "Maafkan aku." Tangisnya semakin terdengar. Bahunya berguncang. Tak ada lagi wibawa atau rasa malu baik terhadap putrinya atau Sindy wanita simpanannya.
"Dia cocok untuk putrimu. Bukan jadi wanita simpanan mu. Kenapa ? " Suara ibu Tania melemah hatinya terlalu sakit saat ini.
"Aku kesepian dan dia butuh uang. Maafkan aku." Pak Anton berulang kali mengucap maaf pada istrinya.
"Kesepian?" Ibu Tania tertawa sumbang. "Aku tahu ke kekuranganku yang tak bisa memberimu keturunan. Disini kamu tidak bersalah. Akulah yang egois menahanmu di sampingku yang tidak sempurna ini. Jadi hari ini aku bebaskan kamu. Carilah kebahagiaanmu sendiri. Cukup sudah kamu hidup dalam kesepian selama bertahun-tahun bersamaku. Pengacara akan datang padamu."
"Tidak, Nia. Jangan katakan itu, aku yang bersalah. Aku bahagia bersamamu selama ini. Aku hanya tersesat. Tolong jangan tinggalkan aku, Tita butuh kita berdua. Maafkan aku." Pak Anton panik dan berusaha kuat menahan pergelangan tangan istrinya.
"Bahagia? Kamu tidak bahagia bersamaku. Kalau memang kamu bahagia, kesepian apa pun kamu. Tetap bukan pengkhianatan yang kamu pilih. Pasti ada cara lain agar kamu tidak kesepian. Usia kita tidak muda lagi. Mainan kata tak akan mengubah segalanya, jiwa kita tidak labil lagi. Sebagai orang telah berusia kita akan memakai perasaan dan akal dalam bertindak." Ibu Tania mengusap wajahnya kasar. Lalu melangkah menghampiri Sindy. "Aku menganggap mu seperti putriku. Inikah balasan mu ?"
"Maafkan aku Tante. Maafkan aku." Sindy tertunduk menangis. Ia sangat menyesal. Karena uang, ia tega mengkhianati dua wanita yang telah baik padanya selama ini.
"Ayo Ma kita pergi. Kita mulai hidup yang baru. Aku melepaskan Keyan dia bukan laki-laki tepat untukku." Tita menguatkan hatinya. Dan percaya jodoh itu nyata tak bisa ia atur.
"Iya, Nak. Kita akan pergi. Obati lukamu." Ibu Tania melangkah meninggalkan ruang tengah. Tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya yang telah mematung.
Di kantor JFB, Keyan baru saja selesai dengan pertemuannya. Laki-laki itu menatap jauh ke arah luar ruangannya. Pikirannya bercabang-cabang. Dunia Keyan sepi tak berpenghuni. Semangatnya redup tak menyala, seiring redupnya sang mentari hatinya.
Semenjak beberapa hari ini, Keyan mengingat dengan baik rentetan masalah yang ia hadapi. Pertama penyerangan terhadap istrinya, kedua kedatangan Tita yang mengungkapkan fakta tentang kecelakaan yang di alami Valonia. Ketiga, istrinya sempat menghilang ke atas roftoop.
Hingga detik ini Keyan belum tahu, apa yang ada di dalam pikiran Valonia Jasmine? Melihat kondisinya bak mayat hidup. Keyan bisa menafsirkan, jika istrinya hanya berada dalam dunia penyesalannya. Yaitu merasa bersalah atas kejadian itu. Entah Valonia sudah mengingat kembali atau belum, Keyan juga tidak bisa menebaknya.
"Key, mobil sudah siap. Kamu bisa kembali ke rumah sakit." Endi masuk ke dalam ruangan Keyan.
"Iya, aku percayakan kantor JFB padamu. Sebelum Jasmine pulih total aku hanya menghadiri pertemuan penting saja." Keyan meraih tas kerjanya sembari berpamitan pada asistennya itu.
Keyan gegas turun. Langkahnya begitu lebar tak sabar untuk segera ke rumah sakit. Para karyawan berpapasan dengannya menyapanya dengan hormat. Langkah Keyan terhenti ketika netra nya tertuju pada salah satu pot di pojok pintu masuk.
Ia melangkah pelan dengan dada berdegup kencang. Perasaan Keyan tak dapat terbaca melihat kelopak bunga melati berjatuhan. Nafasnya berat seolah tertindih. Tangan Keyan terulur dan gemetar menyentuh ranting Melati yang mengering. Kenapa bunga itu layu dan kering ? Bukankah? Bunga ini tak mudah untuk mati.
Tubuh Keyan melemas, kakinya mundur selangkah. Pikiran buruk langsung menyelinap di otak cerdas nya. Tidak ! Keyan tidak mau bunga itu layu dan mati. Keyan tidak mau kehilangan dunianya. Laki-laki ini setengah berlari dengan raut wajah yang panik.
"Cepat ! Der. Kita ke rumah sakit." Keyan melonggarkan dasi di lehernya. Ia melepaskan jas yang melekat ditubuhnya dan hanya menyisakan kemeja saja. Perasaannya benar-benar takut. Keyan tidak ingin Valonia Jasmine seperti bunga tadi. Kering, layu dan mati.
Membayangkannya saja. Dada Keyan bertambah sesak mengingat istrinya seperti kehilangan rohnya. Seketika ingatan Keyan kembali pada kejadian tadi malam saat di roftoop. Apakah Jasmine nya berniat bunuh diri ?
"Ada apa, Kak ?" Derry bertanya karena melihat kegelisahan Keyan.
"Tadi malam, Jasmine tiba-tiba bangun dan datang ke roftoop. Apa menurutmu dia berencana bunuh diri ?"
Derry tersentak, ia belum tahu kabar itu. "Aku rasa tidak, Kak. Mungkin Kak Valonia hanya butuh sendiri."
"Semoga saja. Sekarang kondisinya seperti tak memiliki semangat untuk hidup. Hanya ada tatapan sedih dan kosong. Aku yakin dia menyalahkan dirinya atas kecelakaan itu."
"Kita harus menghiburnya. Jangan sampai Kak Valo merasa sedih lagi." Derry tersenyum berniat menghibur Keyan. "Aku juga minta maaf, seharusnya hari kemarin Kakak tetap bersamanya dan tidak ikut ke apartemen."
"Jangan menyalahkan dirimu. Kita tidak tahu hal ini akan terjadi." Giliran Keyan yang menghibur Derry.
Mobil Keyan berhenti di halaman rumah sakit. Laki-laki ini berlari menyusuri lorong tanpa perduli tatapan puja dari kaum hawa yang berpapasan dengannya. Keyan yang hanya mengenakan kemeja dan bagian lengan dilipat hingga sikutnya, menjadi tampan berkali lipat.
Tubuh tingginya begitu mempesona saat berlari. Keyan sudah terbiasa berolah raga tak membuatnya lelah hanya berlari di lorong rumah sakit. Keyan menghembus nafasnya beberapa kali lalu mendorong pintu perlahan.
Tubuh Keyan terpaku di ambang pintu. Melihat beberapa orang di dalam ruangan istrinya. Ada yang saling berpelukan ada pulang yang menangis. Iris matanya memerah tak lama telaga beningnya tumpah. Detik berikutnya Keyan berlari dari ambang pintu ke arah brankar.
"Sayang."