
Usai mendengarkan klarifikasi dari Keyan. Kini akun resmi Jasmine Boutique banjir permintaan maaf. Mereka tak menduga jika seorang Valonia Jasmine adalah cinta pertama Keyan Ganendra. Kisah percintaan mereka memang cukup rumit. Namun bertahan dalam beberapa tahun hingga akhirnya bisa bersama.
...----------------...
Di kamarnya yang luas. Tita menghamburkan barang-barangnya. Ia tak menyangka jika Keyan membocorkan pembahasan dijamuan makan siang waktu itu. Padahal dirinya sudah senang Jasmine Boutique tutup dan Valonia mendapati sorotan tajam dari para pelanggannya. Bahkan Tita bahagia banyak yang mendukung Keyan kembali padanya.
Namun, kenapa hari ini terbalik ? Hujatan itu menghantam dirinya. Banyak cacian yang ia terima. Bahkan banyak yang menduga ia hanya terobsesi bukan cinta.
"KEYAN KAMU SANGAT JAHAT ! Sangat jahat !" Teriak Tita penuh emosi. Wajahnya banjir air mata. Tubuhnya gemetar tak karuan. Dadanya menyesak karena kesal.
"Tenang, Ta ! Kita cari cara lain untuk membalas ini semua." Sindy menonaktifkan kolom komentar di akun resmi milik kantor Pak Anton.
"Valonia ! aku sangat membencinya !" Gumam Tita mengusap kasar air matanya. Tampilannya yang kacau sangat jelas memperlihatkan jika diri tidak baik-baik saja.
Tak jauh berbeda di akun resmi milik kantor ayah Johan juga banjir dengan kritikan yang mempertanyakan dirinya sikap sebagai seorang ayah. Pria baru baya itu mengusap dadanya berulang kali. Berusaha menetralkan buncah amarah dalam dadanya. Terlebih keterlibatan sang istri dalam klarifikasi putranya.
Api kebencian dalam hati Ayah Johan semakin besar pada Valonia Jasmine. Gagalnya rencana yang ia susun selama ini terlempar pada istri Keyan.
...----------------...
Kilas Balik...
Ayah Johan mengatur rencana untuk mengadakan jamuan makan siang bersama Keyan. Setelah pertemuan tak sengaja nya pada Valonia Jasmine di mall. Kegelisahan Ayah Johan semakin menjadi setelah itu. Ia harus bergerak cepat untuk membawa putranya kembali bersamanya. Dengan begitu Ayah Johan bisa mengatur kembali Keyan. Disinilah Ayah Johan berada, di restoran bersama Pak Anton dan Tita.
"Kamu yakin, Keyan akan datang ?" Pak Anton bertanya sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
"Aku yakin, dia tidak mewakilkannya pada orang lain." Ayah Johan menutupi keraguannya yang sebenarnya tidak yakin jika Keyan akan datang.
"Om, apa cara ini akan berhasil ?" Tita meremas kedua tangannya. Takut jika kegagalan yang ia dapatkan.
"Om yakin. Kamu bersiaplah mengambil kesempatan ini."
Hentakkan sepatu yang membentur lantai menarik perhatian orang yang tengah menunggu. Keyan datang seorang diri tanpa Endi. Sementara Derry ditugaskan untuk menunggu di mobil.
Keyan terlihat sangat tampan. Ditambah lagi dasi bewarna maroon yang dikenakannya sangat cocok dengan jas dan Coat yang ia kenakan. Iris matanya hanya tertuju pada satu orang yaitu Ayah Johan. Ada kerinduan yang tak bisa ia perlihatkan begitu saja di depan sang ayah.
"Selamat siang, maaf saya terlambat."
Keyan memposisikan dirinya sebagai CEO JFB. Laki-laki ini mengangguk kepalanya tanda menyapa Pak Anton dan Tita. Tak ada senyum hanya sorot datar terlihat dari wajahnya.
"Tidak apa-apa. Terimakasih sudah memenuhi undangan kami." Ayah Johan sedikit canggung berhadapan dengan putranya setelah sekian lama terpisah.
"Apa kabar, Key ?" Tita menyapa dengan lembut dan tersenyum. Intonasi suaranya sedikit dirubah manja.
"Baik." Jawab Keyan seadanya. Ia masih menunggu topik pertemuan ini akan mengarah kemana.
"Key, bisakah ? Kita menghapus jarak dulu saat ini. Lupakan jabatan kita, pertemuan ini sengaja di atur ayahmu untuk kita." Pak Anton bicara dengan intonasi rendah dan ramah.
"Benarkah ?"
Keyan menoleh ke arah Ayah Johan. Netra nya menatap lekat wajah tua sang Ayah. Ingin Keyan memeluk dan memperbaiki hubungan mereka namun tidak secepat itu ia lakukan.
"Iya, Ayah sengaja mengadakan jamuan makan siang ini. Mari perbaiki masa lalu. Ayah bangga pada keberhasilan mu." Ungkap Ayah Johan tulus. Ada seulas senyum tipis dari bibirnya. Ia benar-benar bangga atas pencapaian putranya.
Hati Keyan menghangat. Benarkah yang ia dengar ? Ayah Johan mengakui keberhasilannya. Ia terharu mendengar semua itu.
"Terimakasih, Yah."
"Minum, Key." Tita menggeser gelas minuman ke hadapan Keyan.
Tangan Keyan terangkat untuk meraih gelas yang disodorkan Tita. Namun kalimat pencegah dari Valonia untuk tidak sembarangan menerima makanan dan minuman saat perjamuan selalu menjadi benteng kokoh untuknya.
Keyan memilih air kemasan botol yang ia bawa dan masih tersegel lalu meminumnya.Ya ! Tadi ia sempat singgah membeli air mineral. Keyan mengabaikan wajah Tita yang terlihat kesal.
"Mari kita makan dulu." Pak Anton merubah suasana yang kembali canggung.
Keyan menarik piring makanan penutup. Dan memindahkan piring yang berisi makanan. Tita melirik Ayah Johan dan Pak Anton bergantian. Dengan terpaksa ia meraih sendok dan garpu nya. Selera makannya tiba-tiba hilang ketika Keyan memilih hidangan penutup.
Mereka makan dalam diam. Keyan lebih dulu selesai karena hanya makan makanan penutup dan minum air putih dari botol yang ia bawa.
"Key, Om juga senang melihat keberhasilan mu hingga berdirinya JFB." Pak Anton mulai mencari perhatian Keyan dan mencoba menarik simpatiknya.
"JFB berdiri karena istriku. Demi bisa bersamanya aku harus memantaskan diri."
Tita merasa kesal, lagi-lagi Keyan mengikuti sertakan Valonia Jasmine dalam pembicaraannya.
"Key, kenapa kamu begitu yakin jika semua itu karena Valonia ?" Tita bertanya dengan rasa kesal dan benci menjadi satu.
"JFB adalah hasil sentuhan istriku. Dia yang membuatku sampai ke tahap ini. Dan orang yang bersamanya selalu mendukungku dari nol."
Ayah Johan menghela nafas panjang. Mendekati Keyan tak semudah ia bayangkan. Putra yang telah lepas dari genggamannya itu. Sangat susah untuk digenggam lagi.
"Key, apa kamu tidak berkeinginan kembali ke rumah?" Ayah Johan menoleh ke arah Keyan.
"Apa Ayah menerima istriku?"
Pertanyaan dijawab oleh pertanyaan juga dari Keyan. Titik keputusannya adalah Valonia Jasmine. Ia tak akan membiarkan sedikit saja keluarganya menyakiti hati istrinya.
"Ayah sudah tua, usaha Ayah tidak ada yang mengurusnya nanti. Siapa lagi kalau bukan kamu ? Meski pun kamu memiliki JFB tidak masalahkan jika kamu juga mengurus milik Ayah ? Lupakan ucapan Ayah waktu itu." Ayah Johan mencoba merayu Keyan dengan perlahan-lahan.
"Apa Ayah menerima istriku. Dan merestui pernikahan kami?" Keyan kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
"Apa dengan menerima istrimu. Kamu akan kembali ke rumah dan membantu Ayah mengurus kantor?"
"Tergantung bagaimana Ayah memperlakukan istriku." Keyan kembali minum dari botol.
"Jasmine tidak mau mencium ku nanti jika ada bau alkohol."
Jawaban Keyan membuat Tita cemburu. Haruskah laki-laki ini menjawab seperti itu ? Terlebih wajah Keyan terlihat biasa saja mengatakannya. Tanpa Tita sadari jika Keyan curiga dengan gelagatnya.
"Ayah akan merestui pernikahanmu dan menerima dia jadi istrimu. Dengan satu syarat kembalilah ke rumah dan nikahi Tita jadi istri kedua."
Keyan terbahak. Dadanya panas dan kecewa. Rasanya ia menyesal datang ke jamuan makan siang ini. Rupanya hal seperti ini akan mereka bahas.
"Aku siap, Key ! Jadi istri kedua. Aku juga bisa menerima Valonia jadi maduku." Tita berkata penuh harap dan tanpa rasa malu. Bahkan ia tersenyum manis menunjukkan kalau dirinya tulus dan menerima sebagai istri kedua
"Tita juga tidak akan satu rumah dengan istrimu. Tinggal kamu berlaku adil." Dengan tak tahu malunya Pak Anton ikut bicara.
"Aku menolak syarat itu ! Dan aku tidak butuh restu Ayah, cukup Bunda dan keluarga istriku memberi restu. Aku sudah bahagia. Untuk pengganti Ayah di kantor silahkan pikir sendiri. Untukmu Tita aku tegaskan. Aku Keyan Ganendra tidak akan pernah membagi diri dan hatiku untuk wanita lain. Meski pun istriku sendiri memintanya."
Keyan meninggalkan meja dan tiga orang yang terpaku mendengar jawabannya. Tanpa ia sadari sejak kedatangannya sudah ada yang mengambil foto dirinya dan membuat berita seolah pertemuan itu membicarakan tentang perjodohan yang terputus. Dan menuding Valonia Jasmine sebagai penyebabnya.
Kilas Balik Selesai
...----------------...
Terimakasih Bunda sudah mau membantu Keyan." Valonia duduk bersama Bunda Arini di sofa.
"Ini memang kemauan Bunda, Nak. Setelah Bunda tahu jika Keyan menghadiri jamuan makan siang bersama ayahnya. Untuk membicarakan pernikahan kembali. Bunda sangat marah. Di tambah lagi penyerangan di butik mu kemarin bunda sangat tidak terima."
"Semuanya sudah selesai, kita tunggu saja tindakan apa lagi yang di ambil mereka." Sahut Keyan langsung berbaring manja di pangkuan istrinya.
"Jadi, penyebar foto itu adalah penguntit suruhan Tita dan Sindy ? Kenapa kamu tidak melaporkannya, mereka yang menyebarkan berita itu, 'kan ? Dan memprovokasi sekelompok orang untuk menyerang butik istrimu."
"Iya, aku membiarkannya. Agar bisa menangkap mangsa yang lebih besar." Keyan menaruh telapak tangan Valonia di atas kepalanya meminta di belai rambutnya.
...----------------...
Kilas Balik...
Para pengawal berhasil mengejar pelaku pelemparan batu. Mereka membawanya ke salah satu ruang kosong di kantor JFB. Dengan penjagaan ketat para keamanan kantor menjaga pria itu.
Usai dengan klarifikasi, Keyan melangkah menuju ruang kosong. Hentakan sepatu menggema di lorong ruangan yang sedikit sepi ini. Keyan melepaskan kancing jasnya kemudian duduk di kursi. Tatapannya terlihat santai dengan raut wajah yang tak terbaca.
Ia melirik dan menggerakkan tangan kanannya seolah meminta sesuatu dari pengawal di sampingnya. Laki-laki tegap itu segera menyerahkan batu yang mengenai punggung CEO JFB pagi ini.
Kemudian tangan kirinya juga bergerak memberi kode pada pengawal sebelahnya. Tanpa bicara lagi laki-laki berpakaian serba hitam ini meletakkan sekeranjang batu yang berukuran sama.
Mata pelaku pelemparan batu itu terbelalak melihat sekeranjang batu di atas meja. Tubuhnya gemetar dan lemas. Baru saja ingin menikmati uang atas keberhasilannya kemarin hari ini malah terperangkap di ruang kosong ini. Gara-gara memenuhi permintaan terakhir sang pemberi uang padanya.
Tak ingin menginterogasi, Keyan menunggu Endi datang keruangan itu. Tak ada percakapan, hanya terdengar deru nafas ketakutan si pelempar batu. Keringat dinginnya bercucuran duduk di salah satu kursi dengan kedua tangan terikat. Kepalanya menunduk tak berani menatap wajah Keyan secara langsung.
"Apa sudah dimulai?" Endi datang dengan membawa koper hitam kecil. Ia meletakkannya di atas meja. Kemudian ada amplop coklat juga di sana. "Tempelkan." Endi meminta salah satu dari pengawal yang berdiri menempelkan isi dalam amplop.
"Kamu tahu cara olahraga tolak peluru ? Aku sudah melupakan tekniknya saat sekolah dulu." Keyan memutar-mutar batu di tangannya.
"Lebih baik kamu nonton tutorialnya dulu. Dari pada salah sasaran." Endi tertawa menggaruk kepalanya.
"Aku ingin olahraga tolak peluru." Keyan melepaskan jasnya lalu membuka kancing lengan kemejanya dan menariknya hingga sikut. Laki-laki ini melihat ke arah foto yang tertempel. "Tunjukan, yang mana memberimu uang ?" Tanyanya sembari memainkan batu di tangannya. Keyan sengaja meminta Endi menyiapkan foto-foto yang ia curigai.
Si pelempar batu bergeming, ia masih menundukkan kepalanya takut. Ia tak ingin kehilangan pundi-pundi uangnya. Yang ia pikirkan bagaimana bisa keluar dari ruangan itu tanpa melakukan perlawanan.
"Kamu tidak perlu menyebut namanya atau bicara panjang lebar. Cukup tunjuk fotonya." Endi ikut bersuara dan memberi isyarat pada pengawal untuk membawa pelaku itu ke dinding.
Masih bergeming si pelempar batu hanya diam dan menunduk. Ia tak ingin menunjuk foto-foto itu.
"Baiklah, punggungku masih sakit dan memar. Sepertinya aku perlu olahraga. Dan tolak peluru adalah pilihanku." Keyan meregangkan otot-otot jarinya setelah menonton tutorial tolak peluru.
Para pengawal mengarahkan si pelempar batu ke dinding dengan posisi membelakangi Keyan. Suami Valonia itu bersiap dengan aksinya. Batu pertama yang ia gunakan adalah batu yang digunakan untuk melempar istrinya.
Keyan bersiap diposisi. Sementara Endi dan para pengawal menahan tawa ketika celana panjang yang dikenakan si pelempar batu mengeluarkan air dari atas.
"Wah, aku harus membayar OB mahal untuk hari ini." Keyan berdecak kesal karena si pelempar batu kencing di celana.
"Aaahh" Rintihan pelempar batu itu. Menahan sakit di pundaknya karena batu pertama mendarat di tubuhnya.
"Seperti itu, 'kan? Kamu melempar istriku."
"AAAAHH" Teriak si pelempar. Karena batu kedua kembali ia rasakan di pundaknya.
"Ada berapa batu ini ?"
"50 biji,Tuan." Jawab pengawal yang bertugas mengumpul batu.
Keyan terus melemparkan batu hingga tujuh lemparan. Ia tak perduli kesakitan laki-laki yang jadi korbannya. Ia tak mampu membayangkan bagaimana jika wajah istrinya terkena batu itu tadi pagi.
"Saya menyerah..." Si pelempar batu ambil solusi aman. Mempertahankan pundi rupiah yang belum ia dapatkan, atau mati mengenaskan di ruangan itu.
Keyan menurunkan tangannya lalu memberi isyarat untuk membawa laki-laki itu kembali kearah dinding yang tertempel foto. Telunjuk laki-laki itu menunjuk foto Tita dan Sindy.
"Terimakasih kerja samamu, sekarang pergilah dan bawa uang itu. Jumlahnya lebih banyak dari yang mereka berikan, hari ini kamu beruntung karena batu itu mengenai ku. Tapi jika istriku yang terluka tidak ada kebebasan untukmu." Keyan meraih jasnya lalu meninggalkan ruangan itu.
"Obati lukamu dan jangan pernah menemui mereka lagi. Aku mengawasi mu." Endi menyusul langkah Keyan.
Sementara laki-laki itu tertatih mengikuti langkah pengawal yang mengantarkannya keluar. Tangannya memeluk erat koper uang yang diberikan Keyan. Cukup sekali ini saja berurusan dengan Keyan, laki-laki gila yang menyiksa barusan.
Kilas Balik Selesai