
Ingin rasanya melihatmu lagi
Mendengar suaramu ...
Merasakan alunan nafasmu
Tapi apa dayaku ?
Aku hanya menulis dan menulis lagi
Berharap kau memahami
Antara sedih dan rinduku...
Keluhku, resahku, hanya ingin melihatmu lagi...
Sebisa mungkin bersamamu.
Aku rindu...
Inilah bukti yang telah tertulis di dalam hatiku...
Valonia Jasmine.
...----------------...
Terik matahari tak mampu meruntuhkan semangat dan tekad Valonia Jasmine. Ia menyusuri jalanan kota menggunakan taksi, untuk mencari penjual kain yang bisa ia bawa bekerja sama. Valonia butuh kain yang bagus untuk membuat pakaian yang berkualitas baik. Disela kesibukannya kuliah,Valonia menyempatkan diri untuk mengurus butiknya.
Kini butik itu sudah berpindah tangan menjadi miliknya. Karena Mama Merry dan Papa Danu sudah memutuskan pindah ke kampung halamannya. Valonia tinggal seorang diri, sekarang ia jarang pulang ke rumah. Waktunya dihabiskan di butik miliknya. Valonia menempati lantai tiga dari bangunan butik itu.
Tata ruang yang nyaman membuat Valonia betah tinggal di sana. Setelah mengurus beberapa keperluannya, gadis itu singgah di kafe yang Varen kelola. Rasa lelah membingkai wajah cantiknya. Tapi sekali pun ia tak pernah mengeluh.
"Lelah ya..." Levin meletakkan satu gelas jus melon kesukaan Valonia di atas meja.
Valonia tersenyum. "Hari ini terik sekali, Bang. Mungkin nanti malam hujan." ia menyeruput jus melon itu melepaskan dahaganya.
Levin tertawa."Bagaimana sudah menemukan tempat membeli kain yang bagus." Tanyanya tentang perjalanan gadis itu hari ini.
Valonia mengangguk. "Sudah, mereka mau bekerja sama denganku. Toko ini baru buka. Jadi mereka juga senang." Ia merasa lega karena tanpa susah lagi mencari pasokan kain untuk butiknya.
"Syukurlah, semoga Jasmine Boutique berkembang." Doa tulus dari Levin.
"Terimakasih, Bang. Tanpa dukungan kalian semua aku mana mampu berdiri sendiri" Valonia terharu mengingat perjalanan usahanya dua tahun ini tak lepas dari dukungan Levin, Varen dan Rara.
Varen datang menemui Valonia setelah pekerjaannya selesai. " Kita masih ada kelas " Ia mendaratkan tubuhnya di kursi samping sepupunya itu.
"Iya, aku tidak lupa. Ayo berangkat." ajak Valonia menghabiskan sisa jusnya. "Terimakasih jusnya." ucapnya lagi pada Levin.
"Makan dulu, Jasmine. " Levin selalu menunjukkan perhatiannya pada gadis itu.
"Masih kenyang, Bang !" Valonia berdiri dari kursinya.
"Kami berangkat"
"Hati-hati setelah pulang dari kampus mampir kesini. Aku memasak sesuatu untukmu." Levin mengantarkan Valonia dan Varen sampai keluar kafe.
Di perjalanan, Valonia kembali membisu. Tubuhnya sangat lelah, setelah hampir seharian berkeliling. Selama dua tahun ini Valonia mengambil kain dari langganan sang ibu. Tapi toko kain itu tidak bisa lagi menjual kain. Terpaksa ia harus mencari tempat lain.
Motor Varen berhenti di parkiran kampus. Rupanya Rara sudah menunggu kedatangan dua sahabatnya itu." Valo" Panggilnya sambil melangkah menghampiri.
"Aku bukan Raja yang patut kamu sambut, Ra." Varen tersenyum usil pada gadis itu.
"Aku tidak menyambutmu, aku menunggu Valonia !" Ketus Rara melirik pada Varen.
"Jangan ketus begitu sebagai calon istri." Goda Varen kembali.
"Iih, aku tidak mau ya jadi istrimu." Rara semakin ketus pada sahabatnya itu.
"Varen"
Suara seseorang mengalihkan perhatian mereka bertiga. Di hadapan mereka ada gadis cantik tersenyum pada Varen.
"Ayo ke kelas" Varen mengalungkan tangannya di pundak Rara. Ia tidak senang dengan kedatangan gadis yang memanggil namanya tadi.
"Varen, tunggu !" Gadis itu kesal karena Varen mengabaikannya. Dia adalah Sindy sahabat Tita.
Gadis ini telah lama menyimpan perasaan pada Varen, tanpa menyerah ia mengejar sepupu Valonia itu. Varen tidak menyukainya karena selalu mengganggu Rara. Sindy berpikiran karena Rara, laki-laki tambatan hatinya itu susah didapatkannya. Varen melangkah acuh tanpa perduli pada panggilan Sindy.
Merasa tidak tega, Valonia menghentikan langkahnya. "Ren, tanya dulu apa maunya" ia menoleh pada Varen.
Laki-laki ini berdecak kesal.
"Ada apa ? Berhenti mengikuti ku !" Varen bicara sangat ketus. Netranya terlihat sangat tajam.
Sindy tersenyum senang. "Apa nanti malam kamu ada acara ? Aku ingin mengajakmu nonton."
"Aku sibuk" Varen melangkah kembali. Lingkaran tangannya tak lepas dari pundak Rara.
Sindy mengepalkan tangannya, entah sudah berapa kali Varen menolaknya. Ia menatap tidak suka pada Rara. Karena tidak bisa dekat bersama laki-laki pujaan hatinya itu.
Mata kuliah terlewati dengan baik. Valonia, Varen dan Rara sudah berencana untuk pulang. Tapi teringat pesan Levin. Valonia memutuskan mampir ke kafe lagi.
"Kamu langsung pulang atau ke butik lagi?" Rara bertanya sambil mengenakan helmnya. ia terlihat kesusahan mengancingnya. Hingga Varen turun tangan.
"Kami ke kafe Varen dulu, tadi bang Levin memintaku ke sana." Valonia selesai mengenakan helmnya.
"Ikut" Rara bergelayut di lengan Valonia.
"Iya, kalau begitu aku ikut kamu saja." Valonia melangkah menuju motor milik Rara.
"Kalian berangkat lebih dulu. Aku di belakang." Varen akan mengikuti Rara dan Valonia.
Setiba di sana, Levin sudah menyelesaikan masakannya. Laki-laki itu tahu jam kepulangan Valonia. Ia dengan senang hati menghidangkan makanan di atas meja. Tanpa menunggu lama mereka melahap makanan yang tersaji.
Levin tersenyum melihat Valonia lahap memakan makanan buatannya. "Jasmine, itu sudah aku siapkan untuk kamu bawa pulang" Ia menunjuk rantang yang diletakkannya di meja kasir.
"Wah, Bang ! Kamu sangat memanjakan lidah Valo." Rara tersenyum menggoda Levin.
"Tidak masalah, aku siap memasak untuknya setiap hari. Agar tubuhnya ini tidak kekurangan gizi. Bagaimana melahirkan anak-anakku nanti jika tubuh ibunya tidak sehat" Giliran Levin yang menggoda Valonia.
"Aku merestuimu, Bang !" Varen mengangguk memberi dukungan.
Valonia hanya tersenyum, sudah biasa bagi nya mendapatkan godaan atau gombalan dari Levin setiap hari. Bukannya dia tidak mengerti atas sikap yang ditunjukkan laki-laki itu. Hanya saja Valonia tidak ingin melibatkan cinta dalam kesehariannya.
"Aku dengar kabar dari mantan ketua Osis kita dulu di SMA. Liburan semester ini akan diadakan reunian" Rara menyampaikan informasi yang baru saja didapatkannya.