Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Hari mengharukan



Persiapan untuk menyambut si buah hati hampir sempurna. Valonia dan Keyan semakin tak sabar menunggu kehadiran bayi mereka. Namun, dibalik rasa antusias itu. Valonia memohon kelahiran bayinya setelah pernikahan Alvan dan Nanda yang terhitung beberapa hari lagi.


Hari ini cuaca tidak panas dan juga tidak mendung, namun sedikit berangin. Aura semacam ini membawa hati semua orang pada beberapa kenangan masa lalu dan tiba-tiba kerinduan itu datang sendirinya.


Di ruangan CEO JFB, Keyan kedatangan tamu yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Alvan datang berkunjung siang ini, laki-laki ini sudah mengambil cuti mengurus pernikahannya. Ya, wajahnya dipenuhi binar cinta dan kebahagiaan.


"Terimakasih, sudah melupakan Jasmine dan merelakan aku bahagia bersamanya."


Netra Alvan melebar karena terkejut. "Kamu tahu ?" Tanyanya salah tingkah. Tak menyangka jika sahabatnya itu tahu tentang perasaannya


"Sangat tahu, kita bersahabat bukan hanya satu atau dua hari. Namun, bertahun-tahun. Aku tahu kamu menyukai Jasmine lebih lama dariku, hanya saja kamu tidak memiliki keberanian mendekatinya. Maaf, menyakiti hatimu. Aku merampas orang yang kamu sukai seolah tidak tahu perasaanmu sesungguhnya."


Alvan menghela nafas panjang dan berkata. "Aku menyukainya sejak di bangku SMA kelas 11. Tapi seperti katamu tadi, aku tidak memiliki keberanian. Melihat Valonia bahagia bersamamu, aku juga bahagia. Meski pun tidak mudah mengikis namanya. Semua sudah berlalu, aku mencintai Nanda lebih besar dari rasa sukaku dulu pada Valonia."


"Ya, tugas kita sekarang membahagiakan mereka dan juga menjamin masa depan yang bagus untuk anak-anak nanti." Keyan menyeruput teh hangatnya.


"Kamu benar."


Keyan bangkit dari tempatnya duduk lalu meraih dua kotak segi empat berwarna hitam. "Ini untuk Nanda, di dalamnya juga ada sepasang cincin pernikahan rancangan khusus."


Alvan gegas membuka kotak itu. Iris matanya memerah terharu, Keyan mewujudkan keinginannya memiliki cincin pernikahan yang mirip dengan goresan tangan sang ibu. Ya, mendiang Ibunya Alvan adalah perancang berbakat. Beberapa tahun lalu Pak Andre menemukan map yang berisi rancangan cincin pernikahan dalam sebuah kertas yang sudah lusuh hingga nampak buram, hanya orang berbakat seperti ibunya yang bisa mengartikan tiap goresan desainnya.


"Terimakasih, Key ! Tapi dari mana kamu mendapatkan contoh desain ini?"


Keyan meletakkan satu kertas lagi berukuran 5A yang telah di laminating. "Dua bulan yang lalu, Om Andre datang menemui ku. Beliau memberikan selembar kertas lusuh berisi rancangan Tante, Aku memperbaikinya. Goresan tangan Mama mu bermakna dalam. Beliau memberikan sentuhan logo hati di lingkarannya pertanda kesetiaan dan di akhiri kelopak mata tertutup. Yang artinya setia sampai menutup mata. Rancangan itu sebenarnya memang untukmu, hanya saja beliau tidak sempat mewujudkannya."


Tanpa terasa air mata Alvan mengalir di pipinya. Bibirnya tersenyum penuh bahagia bercampur haru. "Iya, aku mengerti. Mama secara tidak langsung meminta aku untuk setia pada pasanganku, seperti Papa yang selalu setia meski pun. Ujian rumah tangga mereka banyak. Papa setia pada Mama hingga saat ini."


"Ini sertifikat sepasang cincin itu atas nama Tante Novia."


Tangan Alvan bergetar hebat ketika membaca nama pemilik rancangan cincin pernikahannya. Nama sang mama terukir besar dan resmi, hatinya semakin merindu ketika melihat lembaran lain begitu lusuh termakan usia. Goresan tangan sang mama nampak pudar di atas kertas itu.


"Terimakasih, Key. Kamu membuat mama ku hidup kembali. Aku akan menyimpan rancangan ini dengan baik, biar bisa aku perlihatkan pada anak-anakku kelak. Agar mereka tahu jika Papanya terlahir dari wanita yang hebat dengan begitu mereka akan lebih menyayangi ibunya nanti."


...----------------...


Siang perlahan merangkak menuju sore, Keyan dan Alvan meninggalkan kantor untuk menemui seseorang yang sudah terlupakan beberapa bulan ini. Amarah memang masih merajai, namun hati berkata lain. Mobil mewah milik Alvan berhenti di suatu tempat, segala bujuk rayu ia layangkan untuk Keyan agar ikut bersamanya.


Usai memenuhi segala prosedur, Keyan dan Alvan duduk di kursi berbatas kaca. Manik mata mereka menatap tak berkedip, ketika seseorang yang ingin mereka kunjungi melangkah pelan menghampiri mereka. Hati mereka terasa diremas melihat tampilan seorang wanita yang amat kurus dan juga lusuh.


"Tita." lirih Alvan hampir tidak terdengar.


"Kalian datang ?" Pita suara Tita bergetar. Manik matanya berembun memproduksi kristal bening. Sedikit senyum terlihat di wajah pucat nya.


"Apa kabar mu." Alvan bertanya dengan hati yang miris melihat kondisi sahabatnya itu.


"Seperti yang kamu lihat. Apa kabar, Key ?" Kristal bening yang terproduksi pecah di sudut mata Tita. Jujur, hatinya sakit melihat pria yang pernah jadi obsesinya itu diam tanpa bicara.


"Baik."


"Bagaimana dengan Valonia, apa sudah melahirkan?" Tita masih berusaha mengajak sahabat yang pernah dicintainya itu bicara.


"Sebentar lagi."


Tita menghembus nafas pelan, seberapa pun usahanya untuk kembali seperti semula. Keyan tetap saja dingin padanya, semua memang salahnya karena menyentuh sesuatu yang sensitif dalam hidup laki-laki itu.


"Ta, sebentar lagi aku menikah. Aku harap kamu sudah memperbaiki diri saat berada di dalam sana, jadilah orang terlahir baru dengan segala kebaikan. Saat kamu keluar nanti maka kebahagiaan akan datang, semua tergantung dengan cara kamu menempati diri."


Tita mengangguk mendengar nasehat Alvan, dalam hatinya sudah bertekad menjadi manusia lebih baik agar mendapatkan kebaikan pula. Hatinya menghangat setelah mendengar semua kata-kata positif dari Alvan.


"Terimakasih kalian sudah menjenguk ku. Untuk kamu, Key. Aku minta maaf padamu dan juga Valonia atas kesalahanku di masa lalu. Boleh aku berharap, kita berteman seperti waktu kecil dulu? Jujur aku merindukan kalian. Aku juga ingin berteman pada Valonia dan juga istri Alvan. Sampaikan permintaan maaf ku pada Valonia, Varen dan juga Sonny. Ketika masa hukuman ini habis, aku akan minta maaf secara langsung pada mereka. Hati-hati di jalan." Tita bangun dari tempatnya duduk dan melangkah masuk ke dalam.


"Jaga kesehatanmu, keluarlah dengan kondisi sehat."


Suara Keyan menghentikan langkah Tita, gadis itu berbalik dan tersenyum. Iris matanya berkaca-kaca terharu. Akhirnya ia bisa mendengar kalimat terpanjang dari bibir sahabatnya itu. Tita kembali melanjutkan langkah dengan perasaan senang.