
Keyan bekerja seperti biasanya. Namun hari ini nampak berbeda raut wajah pak Andre terlihat sedih. Alvan juga merasa bingung ada apa dengan ayahnya ?
"Key, ke ruangan Om sebentar."
"Baik, Om."
Panggilan dari interkom di atas meja menghentikan sejenak pekerjaan Keyan. Laki-laki itu segera menemui Pak Andre. Ia bertemu Alvan di luar ruangannya.
"Kemana, Key ?"
"Ke ruangan Om Andre." jawab Keyan.
"Aku juga di panggil Papa, ada apa ya ?" Alvan bertanya-tanya. Sambil mengimbangi langkah sahabatnya itu.
Mereka masuk ke dalam ruangan Pak Andre. Di sana pria paru baya itu menatap lekat pada Keyan. Di atas meja tamu ada satu amplop coklat.
"Ada apa, Om ?" Keyan bertanya setelah duduk di sofa. Netra nya tertuju pada amplop di atas meja.
"Papa, juga terlihat berbeda hari ini." Sambung Alvan.
Pak Andre menghela nafas panjang lalu menyodorkan amplop coklat itu ke hadapan Keyan. "Ini surat pemberhentianmu."
...----------------...
Kilas Balik...
Setelah terusirnya Keyan dari rumah Johan Ganendra, Pertemuan secara pribadi para orang tua itu pun jarang diadakan. Terlebih Pak Andre secara terang-terangan membantu Keyan. Hingga rencana ayah Johan tidak berjalan lancar. Kemarin Ayah Johan mengajak Pak Andre bertemu.
"Ada apa, Han ? Mengajakku bertemu." Pak Andre menyeruput kopi miliknya setelah agak dingin.
"Waktunya melepaskan, Key !"
"Maksudmu ?" Tanya Pak Andre bingung.
"Pecat Keyan, aku sudah menutup akses agar dia tidak bisa bekerja di perusahaan lain. Dengan langkah buntu, dia akan kembali ke rumah."
"Kamu egois, Han !"
Pak Andre kesal, tak mengerti pemikiran sahabatnya itu. Hanya demi menikahi putri pak Anton dia harus menekan putra tunggalnya.
"Aku terikat janji pada Anton, Keyan dijodohkan dengan Tita. Tapi Keyan menolak karena gadis itu. Dan kemarin gadis itu membuat calon menantuku menangis dan mengurung diri di kamar." Ayah Johan terlihat geram saat menceritakan kondisi Tita. Manik matanya menyorot ketidak sukaan nya.
"Jangan memaksakan kehendak, Han. Bicarakan pada Anton. Keyan tidak menerima perjodohan itu. Kasian putramu. Biarkan dia memilih Valonia, gadis itu juga baik." Bela Pak Andre.
"Baik ?! Gadis hamil diluar nikah tanpa tahu siapa laki-lakinya, kamu pikir baik ! Gadis itu sudah melahirkan seorang putra. Dia mengakuinya kemarin di hadapan Tita. Jadi dia pasti sengaja menahan Keyan, di sampingnya untuk jadi ayah putranya itu."
Pak Andre terkejut lalu tertawa. "Gadis itu belum melahirkan, dia juga belum menikah. Jangan mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak jelas."
"Benar atau tidak itu bukan urusanku. Yang jelas, pecat Key ! Dengan begitu dia akan kembali ke rumah. Apabila sudah tidak bisa bertahan di luaran, dan pernikahannya dengan Tita akan terjadi. Hubungan bisnisku dan Anton juga akan berjalan lancar." Tegas Ayah Johan
Ayah Johan menoleh lalu berkata. "Bersiaplah kehilangan satu proyek"
"Kamu mengancam ku ?!"
"Itu konsekuensinya." Ayah Johan tersenyum licik. Merasa berhasil menekan sahabatnya ini. Ia sangat yakin rencana ini akan berhasil.
Pak Andre mengangguk pelan. "Baiklah, kamu ambil saja proyek itu. Dan aku akan tetap memecat. Keyan ! Aku ingin lihat, apa anakmu itu akan kembali padamu ? Atau sebaliknya." Tanpa pamit pria paruh baya terlihat bijak ini melenggang pergi meninggalkan Ayah Johan yang termangu.
Kilas Balik Selesai
...----------------...
Keyan menunduk menatap nanar pada amplop coklat di tangannya. Ia tertawa miris, semakin ke sini ia paham jika ayahnya ingin mengadakan pernikahan bisnis pada keluarga Pak Anton. Dia memanfaatkan rasa cinta Tita untuk putranya.
"Maafkan, Om." Pak Andre merasa sangat bersalah karena tidak bisa lagi membantu anak muda ini.
"Tidak apa-apa, Om. Terimakasih atas kebaikan Om selama ini." Keyan berusaha tersenyum. Terngiang kembali perkataan Varen jika dirinya tidak cukup kuat untuk berdiri di samping Valonia. Rasanya begitu sakit cinta dan karirnya tidak berjalan mulus.
"Tapi, Om. Ada kabar baik untukmu. Perhiasan yang kamu pesan di pabrik sudah selesai. Kemarin tak sengaja Om menunjukkan gambarnya pada seorang pebisnis di luar negeri. Dia menyukainya, Bahkan ingin membeli perhiasan itu untuk istrinya dengan harga mahal." Pak Andre begitu antusias menyampaikan berita baik itu. Kesedihan sempat terlihat tadi berganti aura senang.
"Benarkah ? Aku akan membuatkan untuknya. Tapi perhiasan yang sudah selesai itu untuk Jasmine, Om." Keyan sangat senang mendengar kabar itu.
"Untuk Valonia, kamu bisa membuat yang baru dengan spesial. Perhiasan yang telah jadi itu kamu lepaskan saja. Ini langkah awal mu, Key ! Di perhiasan itu juga ada sentuhan Valonia anggap saja ide yang tercantum darinya itu dewi keberuntungan mu untuk memulai karir di dunia bisnis." Usul Alvan juga ikut senang.
"Di mana aku menemui orang itu, Om ?"
"Kamu berangkatlah menemuinya, dia sudah meninggalkan alamatnya disini. Firasat Om, Langkahmu akan dimulai dari sana." Pak Andre menatap Keyan lekat. Netra nya berkaca-kaca. Laki-laki berbakat seperti Keyan sayang jika hanya jalan ditempat sementara dia masih bisa berkembang.
"Aku siap, Om." Keyan menatap yakin kartu nama di tangannya.
"Tapi, bagaimana dengan Valonia ?" Alvan jadi bingung sendiri. Bukankah ? Sahabatnya ini rela terusir demi cintanya pada gadis itu. Kenapa sekarang akan ditinggalkan ?
Keyan tersenyum. "Aku harus lebih kuat untuk berdiri di sampingnya. Varen pasti menceritakan kejadian kemarin padamu. Jika aku terus memaksa untuk tetap berada disisinya dalam kondisi seperti ini. Dengan apa aku melindunginya? Aku masih dibawah Varen atau Bang Levin. Mereka bisa melindungi Jasmine sementara aku pergi. Varen memiliki kekuasaan karena dia memiliki hak atas Jasmine sebagai saudaranya. Sedangkan aku hanya bermodal cinta, orang-orang tidak akan memandangku atau mudah menyingkirkan ku. Dalam artian aku tidak bisa jadi tameng untuk Jasmine dari Ayahku atau Tita." Ucapnya panjang lebar.
"Kamu benar, Nak. Om pernah mengalaminya." Pak Andre terkekeh pelan mengingat peliknya masa lalu.
"Aku ingin pergi. Tapi tidak ada orang lain pun yang tahu."
"Varen atau Sonny bisa membantumu. Mereka memiliki akses untuk itu. Mereka berandalan sukses ! Jadi memiliki teman yang banyak juga." Alvan tertawa kala mengingat dua temannya itu selalu di cap berandalan.
...----------------...
Keyan sudah siap dengan keputusannya. Laki-laki ini tidak berniat kembali ke dalam pelukan keluarganya dan jadi boneka sang ayah.
Suatu hari nanti, Keyan berharap dapat pengakuan dari kerja kerasnya. Lalu membuktikan pada dunia bisnis jika pernikahan bisnis tak selamanya bisa mempertahankan bisnis yang digeluti. Namun, dengan sepak terjang dan strategi lah. Usaha itu bisa maju dan berkembang.