
Derry sopir pribadi Keyan tersenyum melihat Valonia larut dalam lamunannya. Owner Jasmine Boutique itu masih teringat kejadian beberapa menit lalu. Saat suaminya malas untuk melakukan perjalan bisnisnya karena hanya ingin menghabiskan waktu bersama.
"Nona, boleh saya panggil anda kakak ? Usia kita terpaut tiga tahun."
Kaca lamunan Valonia pecah. Netra nya teralihkan pada Derry di depan. Meski larut dalam lamunannya tapi pendengar Valonia tidak salah. Kenapa sopir ini ingin memanggil dirinya dengan sebutan kakak?
"Terserah padamu, tapi kenapa kamu ingin memanggilku kakak?"
Derry tersenyum. "Saya suka."
Valonia terdiam sejenak lalu berkata. "Apa kamu dan Keyan sudah lama kenal ?"
"Saya mengenal kak Keyan sebelum dia pergi ke Amerika. Waktu itu saya butuh pekerjaan. Dan melalui dokter Sonny kami saling berkenalan."
"Maaf, dimana keluargamu ?" Valonia melontarkan pertanyaan karena Sonny tidak sembarangan untuk merekomendasikan seseorang.
Derry melirik Valonia sekilas lalu berkata. "Saya hanya tinggal bersama mama di apartemen."
"Kapan-kapan kenalkan aku pada ibumu, pendidikan terakhir kamu apa ?" Rasanya Valonia tidak percaya jika sopir pribadi mereka orang putus sekolah. Dari sikapnya ia adalah seorang berpendidikan.
"Saya S-1."
"Kenapa melamar jadi sopir ? Kamu bisa bekerja kantoran sesuai jurusan yang kamu ambil. Jangan bicara formal padaku karena kamu sudah memanggilku kakak." Valonia melemparkan arah pandangannya ke luar kaca jendela.
"Saya lebih suka jadi sopir."
Valonia tak bertanya lagi. Ia membuka iPad nya untuk melihat-lihat gaun pengantin yang tengah dikerjakannya. Derry juga fokus mengemudi. Tinggal satu belokan maka mereka tiba di Jasmine Boutique.
"Kita sampai, Kak."
Valonia mengangguk dan turun dari mobil. "Terimakasih, Der." Ucapnya seraya menutup pintu.
"Kak, boleh saya pulang dulu, hari ini tidak ada jadwal kemana-mana. Mama ingin di antar ke mall, ada yang ingin beliau beli." Derry merasa tidak enak karena pulang saat masih jam kerja. Tapi waktu yang luang hanya hari ini saat Keyan pergi ke luar kota.
"Ke Mall ? Aku juga ingin ke sana ada beberapa barang yang akan aku beli. Apa kita berangkat sekarang saja ?" Usul Valonia. Ia mengubah rencananya yang akan pergi belanja setelah pulang dari butik.
"Boleh."
Valonia masuk kembali ke dalam mobil. Ia langsung menelpon Mia untuk mengatur butik lebih dulu. Selama ini Derry tak akan mengijinkan ibunya untuk pergi ke luar rumah sendirian.
...----------------...
Mobil yang membawa Valonia berhenti di area apartemen. Di sana seorang wanita paruh baya duduk di sebuah kursi taman. Wajahnya cantik dan juga berpenampilan anggun. Polesan make up yang tidak tebal membuatnya sedikit lebih muda dari bunda Arini.
"Sebentar, Kak."
Derry melepaskan sabuknya lalu keluar dari mobil dan berlari kecil menghampiri wanita yang tersenyum melihat ke datangannya.
"Ayo Nak. Kamu sudah ijin, 'kan?" Wanita itu berdiri mengikuti langkah Derry.
"Sudah Ma, kebetulan hari ini. Kak Keyan pergi keluar kota. Jadi aku ada waktu luang. Tapi aku bersama seseorang nanti aku perkenalkan."
Di dalam mobil Valonia mengamati interaksi Derry dan wanita paru baya itu. Dapat ia tebak jika itu adalah ibu Derry.
"Silahkan masuk, Tante." Valonia tersenyum membuka pintu mobil dari dalam.
Wanita paruh baya itu terperangah melihat orang yang membuka pintu dari dalam. Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Marisa." Ucapnya memperkenalkan diri
"Valonia Jasmine." Valonia tersenyum menyambut tangan ibu Marisa.
"Kak, Valo ! Ini Mamaku. Nah, ini istrinya Kak Keyan, Ma."
Ibu Marisa menoleh pada Derry yang memperkenalkan dirinya dan Valonia Jasmine. Usai perkenalan singkat itu, ibu Marisa memilih duduk di belakang bersama Valonia.
Derry membawa mereka ke tujuan awal. Di perjalanan ibu Marisa dan Valonia kembali canggung. Tidak ada percakapan di sana. Ibu Marisa merasakan aura Valonia Jasmine sangat berbeda.
Setelah diam beberapa menit, Ibu Marisa tak tahan tidak bicara. Memang berbeda saat berada satu mobil bersama Valonia. Dilihat dari tampilannya, Valonia memang tampil elegan meski tak terkesan berlebihan. Semua barang yang melekat pada tubuhnya merupakan barang bermerk. Selain memang Valonia Jasmine seorang perancang yang seharusnya memperhatikan penampilan. Dia pun juga membawa status Nyonya JFB.
"Nak Valo. Apa tidak apa-apa saya mengganggu jam kerja Derry ? Karena keperluan kali ini sedikit mendesak. Derry tidak mengijinkan saya untuk naik taksi sendirian." Ibu Marisa memecahkan kesunyian.
Ibu Marisa kembali terdiam, tak tahu apa yang harus mereka bicarakan lagi. Rasanya benar-benar lancang satu mobil bersama istri bos anaknya. Meski pun seorang Valonia Jasmine sosok lembut dan hangat. Tetap saja ibu Marisa merasa tidak enak hati.
Derry sesekali melihat interaksi Valonia dan ibunya. Ia bersyukur karena sikap Valonia yang ramah dan lembut berbeda dengan istri para pengusaha muda lainnya.
"Apa kita berpisah tujuan dan bertemu kembali di sini ?" Derry memarkirkan mobil setelah tiba disalah satu mall ternama di kota itu.
"Kita antar Tante Marisa dulu, aku juga tidak ada teman. Tidak apa-apa, 'kan? Tante."
"Kalau kamu tidak keberatan, ayo ! Tante senang hati." Ibu Marisa mencoba mendekatkan diri karena melihat pribadi Valonia yang baik padanya.
Derry bak pengawal mendampingi Valonia dan ibu Marisa. Sesekali mereka tertawa saling bercanda. Derry selalu mengawasi Valonia atas perintah Keyan.
Valonia tak segan lagi bergelayut di lengan ibu Marisa. Pemandangan ini sangat menghangatkan hati Derry. Ibu yang ia cintai selama ini bisa tersenyum lepas tanpa beban seperti hari ini.
Mereka berkeliling memasuki toko-toko mencari keperluan. Valonia merasa senang, andai Mama Merry ada di sini pasti lebih menyenangkan. Di tangan Derry sudah ada beberapa paper bag belanjaan ibu Marisa dan Valonia. Sebagian lagi dibawa oleh Kedua wanita yang tengah tersenyum sambil bercerita ini.
"Tante, kita makan dulu ya. Hari sudah siang ternyata kita lupa waktu." Valonia tertawa setelah melihat jam di pergelangan tangannya menunjuk jam sebelas siang. Sangat lama mereka menghabiskan waktu di mall itu.
"Apa kamu tidak repot ? Bagaimana kalau kita makan di apartemen saja. Kebetulan tante sudah masak tadi sebelum kita kesini."
"Ide bagus, Ma."
Derry setuju, sesuai kesepakatan kini akan pulang. Namun, langkah Valonia terhenti ketika ada tiga pasang mata menatapnya dari kejauhan. Tak jauh dari hadapannya, ada Ayah Johan dan Pak Anton serta Tita. Raut wajah mereka terlihat tidak senang.
Tita melangkahkan kakinya menghampiri Valonia. "Apa bagusnya dirimu untuk Keyan ?! Hanya bisa menghamburkan uang. Cih ! Malang sekali dia bekerja keras, tapi lihat kamu malah mengajak asisten rumah tanggamu menghabiskan uangnya. Aku maklum mungkin kamu baru merasakan memiliki uang banyak."
Ibu Marisa menunduk merasa terhina atas kata-kata Tita. Memang benar Valonia ada sebagian membelikannya barang, itu pun atas paksaan Valonia sendiri.
"Ayo tante, biarkan dia menggaung !"
Valonia mengapit lengan ibu Marisa dan membawanya melanjutkan langkah menyusul Derry yang lebih dulu.
"Hei ! Apa maksudmu ?" Tita tak terima dengan kalimat yang Valonia lontarkan. Hatinya semakin panas ketika melihat sekilas bekas samar kemerahan di leher samping saat Valonia mengibaskan rambutnya.
"Wah selain pandai berkata tidak pantas, kamu juga tuli ! Ck Memalukan !"
"Jangan menghina calon menantuku !" Teriak Ayah Johan melangkah menghampiri Tita dan Valonia. Sorot matanya begitu tajam menahan amarah.
"Kenapa ? Apa ada putra anda yang lain untuk calon suaminya ?" Seluruh pasang mata refleks melihat ke arah Valonia Jasmine. "Jika yang anda maksud itu adalah suamiku sebagai calon suaminya, maka kubur mimpi kalian dalam-dalam. Karena Keyan tidak ingin membagi dirinya pada orang lain. Padahal aku sudah baik hati menawarkannya untuk menikahi wanita ini. Namun sayang, suamiku itu menolaknya mentah-mentah !" Valonia membalas dengan senyum meremehkan.
"Ada apa ini ?"
"Ayo pergi !"
Ayah Johan langsung mengayunkan langkahnya ketika melihat kedatangan Derry. Begitu pun pak Anton dan Tita.
"Mama dan kak Valo tidak apa-apa ?" Derry menatap lekat wajah Ibu Marisa dan Valonia bergantian. "Apa mereka menyakiti kalian ?"
"Kami baik-baik saja. Ayo pulang !"
Suasana menjadi hening tidak ada lagi pembicaraan. Derry melajukan mobil dengan perasaan amarah yang menggebu. Namun, ia tetap fokus menyetir. Kenapa dirinya harus terlambat ?
Ibu Marisa juga melemparkan tatapan kosongnya ke arah luar. Rasanya begitu sakit mendapatkan penghinaan seperti tadi. Tapi ia beruntung Valonia Jasmine wanita baik.
"Tante, jangan dipikirkan perkataan wanita tadi. Dia sangat terobsesi pada Keyan. Jadi dia melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan ku. Dia adalah mantan calon tunangan Keyan."
Ibu Marisa menghela nafas panjang lalu menoleh pada Valonia dan tersenyum. "Terimakasih, Nak." Ucapnya kemudian menatap ke arah depan. "Sebenarnya Tante sudah kebal dengan penghinaan selama ini. Hidup tante dan Derry tidak mudah." Kaca-kaca bening terlihat dari netra ibu Marisa.
Sementara Derry sengaja membiarkan ibu Marisa bercerita untuk mengurangi rasa sesak yang menderanya selama ini. Ibunya butuh teman untuk melepaskan beban. Derry yakin, Valonia orang tepat untuk berbagi keluh kesah.
"Aku minta maaf Tante, kejadian hari ini luar kendaliku. Tapi sebaiknya jangan selalu menundukkan kepala di hadapan orang seperti mereka. Angkat kepala balas keangkuhan mereka."
Seolah mendapat angin segar Ibu Marisa menoleh kembali dan berkata. "Kamu benar, semakin kita lemah mereka akan merasa senang dan berkuasa atas diri kita." Wanita paruh baya ini merasa bersemangat. "Cukup selama ini Tante menahan penghinaan."
Derry tersenyum menggenggam erat setir mobil. Ucapan Valonia seolah bubuk mesiu yang membentuk semangat dan kekuatannya. Hari ini ia bertekad menggantikan air mata kesedihan ibunya selama puluhan tahun dengan air mata bahagia. Cukup membiarkan orang-orang pengecut yang bahagia di atas derita mereka.