
Tiga tahun kemudian...
Di temaramnya cahaya rembulan malam. Seorang gadis cantik tengah berolahraga. Entah kenapa malam ini ia merasa gelisah ? Akhirnya, ia memutuskan untuk lari. Dengan begitu gadis ini berharap agar merasa lelah dan bisa tidur nyenyak. Aktivitas seperti ini rutin ia lakukan selama dua tahun terakhir.
Gadis itu adalah Valonia Jasmine, dua tahun belakangan ini ia menderita insomnia. Berbagai macam ia lakukan agar tubuhnya lelah dan bisa tidur nyenyak. Valonia sudah bosan minum obat yang diberikan oleh Sonny.
Valonia banyak berubah, jika dulu ia gadis manis berambut panjang. Maka sekarang gadis ini berpenampilan dengan rambut sebahu, jauh dari kata anggun. Valonia lebih berani dan mandiri dari lima tahun lalu.
Keringat sudah bercucuran di tubuhnya, Valonia berhenti di depan butiknya. Kepalanya mendongak ke atas menatap papan nama yang bertuliskan Jasmine Boutique. Perjuangannya lima tahun ini sudah membuahkan hasil. Valonia sukses mengembangkan butik itu.
Banyak air mata, keringat dan lelah melebur menjadi satu menimpanya hingga membuatnya menjadi gadis yang mandiri dan kuat. Tapi apakah ada yang tahu di balik kuatnya seorang Valonia Jasmine ada kerapuhan yang tersembunyi dengan baik.
Valonia melirik jam di pergelangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia pun merasa tubuhnya lelah. Gadis itu melangkah ke samping di mana ada pintu lain untuknya masuk ke lantai atas.
"Semoga kamu bisa tidur nyenyak Valo"
Sonny yang baru pulang dari rumah sakit berhenti di depan butik Valonia. Ia melihat gadis itu baru saja naik ke lantai atas. Hampir setiap malam ia melewati jalan itu dan mampir hanya sekedar ingin melihat keadaan Valonia. Cukup lama ia melihat dari dalam mobilnya sampai lampu di lantai tiga mati. Itu tandanya Valonia sudah beristirahat.
...----------------...
Lingkaran hitam di bawah mata Valonia nampak sangat jelas, ia termenung di depan cermin. Bagaimana lagi car nya agar dia bisa tidur nyenyak ? Tak ingin berlama-lama menatap pantulan dirinya di cermin, Valonia bergegas turun menemui karyawannya.
"Selamat pagi semuanya"
Valonia menyapa sambil menuruni undakan tangga. ia tersenyum melihat karyawannya sudah hadir semua.
"Selamat pagi, Kak."
Mia salah satu karyawan Valonia sebagai orang kepercayaannya. Gadis itu menatap lekat wajah Valonia yang terlihat pucat. Hatinya terasa ter-iris karena melihat kondisi Valonia yang jauh dari kata baik.
"Kakak tidak tidur lagi ?" Mia menghampiri Valonia. Gadis mungil ini terlihat cemas.
Valonia menoleh dan tersenyum. "Aku tidur hanya dua jam. Tapi tiba-tiba bangun dan tidak tidur lagi sampai pagi" ceritanya sambil mengecek pakaian yang dipajang.
"Kakak boleh tidur lagi, biar aku yang mengurus butik hari ini" Mia merasa iba karena hampir tiap malam Valonia susah untuk tidur.
"Tidak apa-apa Mia, aku belum mengantuk. Apa sebelum aku turun Varen kesini ?" Valonia duduk di sofa menyandarkan tubuhnya. Tak di pungkiri ia merasa lemas.
"Iya, Kak Varen menitipkan sarapan, tadi aku taruh di atas meja kerja kakak." Mia ikut duduk di sebelah Valonia. "Apa perlu kupijit, sepertinya kakak lelah." Mia semakin cemas karena Valonia seperti tidak memiliki tenaga.
"Kak Valo !!" Pekik Mia terkejut. Ia gemetar karena Valonia tidak sadarkan diri.
Mendengar pekikan Mia, beberapa karyawan langsung menghampiri sofa. Mereka dibuat terkejut dengan kondisi Valonia yang tidak sadarkan diri. Kenapa ? Owner Jasmine Boutique yang mereka kagumi itu. Tumbang tak berdaya di atas sofa. Diantara mereka sudah ada yang menangis sambil membantu menyadarkan Valonia.
"Ada apa ?"
Varen tiba-tiba muncul bersama Rara. Ia terkejut melihat Valonia tergeletak di atas sofa. "Valo" Ia segera menghampiri sepupunya itu. "Ra, telpon Sonny."
"Iya Ren, Valo kamu kenapa ?" Netra Rara memerah dan berkaca-kaca. Ia sedih melihat keadaan sahabatnya itu.
Varen menggendong tubuh Valonia. "Ayo kita ke lantai tiga."
Mia bergegas menekan tombol lift agar mereka segera sampai di lantai tiga. Gadis itu sudah terisak ketakutan. Usai menelpon Sonny, Rara juga menyusul ke lantai tiga.
"Apa dia sudah sarapan?" Varen bertanya pada Mia. Karena tadi ia menitipkan sarapan untuk sepupunya itu.
"Belum, Kak ! Tadi rencananya kak Valo berniat sarapan tapi tiba-tiba jatuh di sofa." Jelas Mia mengusap buliran air matanya.
"Apa dia ada bercerita padamu." Rara bertanya pada Mia sambil duduk di tepi kasur.
"Kak Valo hanya tidur dua jam, tapi dia tiba-tiba bangun dan tidak tidur lagi sampai pagi." Cerita Mia dengan tatapan sendu ke arah Valonia.
Varen menghela nafas berat, lalu duduk di samping Rara. Dua tahun sepupunya ini mengalami insomnia. Tidur nyenyak hanya karena mengonsumsi obat.
"Apa yang terjadi ?" Sonny datang dengan raut wajah cemas. Netranya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemas di atas kasur. Tanpa bicara lagi, ia langsung melakukan rangkaian pemerikasaan. "Semakin hari, kekebalan tubuhnya menurun. Kita harus membantunya agar bisa tidur nyenyak. Awal mula terjadinya insomnia pada Valo adalah saat meninggalnya Om Danu. Dia butuh kita. Jadi mulai saat ini jangan biarkan dia sendiri, beri dia kata-kata positif dan kenyamanan. Sepertinya kita harus sedikit keras padanya agar dia bisa mengatur pola hidup sehat. Dengan begitu dia bisa sembuh." Jelas Sonny dengan raut wajah serius.
"Langkah awal, ayo kita rubah tata ruang dalam ruangan ini. Agar dia merasa nyaman. Biar hari ini aku ambil cuti tidak masuk bekerja." Usul Rara.
"Iya, aku akan panggil Bang Levin." Varen meraih ponselnya untuk menelpon Levin.
"Kalau begitu, aku akan membuat jadwal untuk kak Valonia dan dia harus mematuhinya." Mia ikut andil untuk kesembuhan Valonia Jasmine.
"Ide bagus cantik !" Sonny tersenyum manis sehingga Mia merasa malu.
Valonia mengalami insomnia bertepatan dengan meninggalnya Papa Danu. Hal itu adalah pukulan terberat untuknya. Sejak saat itu ia mulai stres apalagi butiknya mengalami penurunan dalam pemasukannya saat itu. Valonia menguras tenaganya untuk bekerja siang dan malam sambil kuliah. Hingga pola hidup sehat tidak ia jalankan lagi.