Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Hanya berdua



Satu bulan kemudian...


Di sekian banyak bangunan yang menjulang ke langit. Ada pesta disebuah hotel. Pesta pernikahan yang digelar sangat mewah dan juga meriah. Alunan musik menggema di dalamnya. Tak jauh dari para tamu undangan, berdiri sepasang pengantin yang menjadi objek hari ini.


Varen berdiri dengan gagahnya mengenakan jas berwarna hitam. Dengan tatanan rambut disisir kebelakang. Hingga tato yang terbuat tidak permanen itu terpampang jelas di leher kanannya. Make up tipis melapisi ketampanannya hingga berkali lipat. Senyum Varen merekah menyambut tamu-tamu yang hadir. Disisinya berdiri seorang wanita yang baru saja resmi ia nikahi beberapa jam lalu.


Rara begitu cantik mengenakan gaun pengantin yang simpel dan manis ditubuhnya. Gaun tanpa lengan itu terlihat pas dipadukan dengan tatanan rambut yang menjuntai kebelakang menutupi punggung mulusnya dan dihiasi mahkota kecil sebagai bandana nya.


Rona bahagia sangat jelas terukir di wajah keduanya. Mereka tak hentinya tersenyum terlebih para sahabat mereka menyumbangkan lagu di pernikahan mereka. Tak mau ketinggalan Valonia juga ikut serta bernyanyi hingga Keyan ketar ketir dibuatnya. Bagaimana tidak? Pesona wanita hamil itu memancar dengan sendirinya saat menarik nafas bernyanyi.


Telinga Keyan merah bukan karena hawa dingin. Namun kepanasan saat mendengar para lelaki sebayanya memuji istri cantiknya itu. Mata Keyan menajam melihat beberapa orang di sampingnya membicarakan sosok owner Jasmine Boutique itu disertai tatapan kagum


Ruangan yang mendominasi warna pink putih ini terlihat segar dari segala sudut ruangan. Sementara tamu diwajibkan mengenakan pakaian berwana navy atau berwarna gelap agar pesona sang pengantin tidak tersaingi.


"Kak Rara sangat cantik." Gumam Mia. Ia pun berharap suatu hari nanti akan berdiri di sana bergandengan tangan bersama Sonny. Mengucap sumpah pernikahan dengan khidmat.


"Kamu mau pernikahan berkonsep seperti apa?" Sonny tersenyum sambil bertanya. Jemarinya meraih tangan mungil Mia di atas meja. Tatapan penuh cinta dari netra nya tak berubah sedikit pun.


"Tidak mewah seperti ini. Aku ingin pernikahan kita dilaksanakan di Desa ku. Karena tidak mungkin memboyong keluargaku ke sini semua. Lebih baik acaranya di sana saja."


"Kamu yakin ?" Sonny menatap tak percaya atas keinginan sederhana kekasihnya itu.


Mia mengangguk dan tersenyum. "Iya."


...----------------...


Segala yang telah terencana berjalan dengan baik. Baru saja pesawat mengudara di ketinggian langit membawa sepasang pengantin baru untuk mereguk manisnya kebersamaan.


Sementara di bandara, seorang laki-laki menatap dalam pada gumpalan awan putih di atas sana. Ada rasa sedih terbesit di hatinya. Dia adalah Keyan Ganendra. Mematung seorang diri mengingat kembali kisah cinta yang ia rajut bersama ratu hatinya Valonia Jasmine. Banyak hal yang mereka lewati sebagai bumbu rumah tangga mereka.


"Sayang, kenapa melamun?" Valonia melangkah pelan menghampiri suaminya yang masih bergeming di luar mobil. Merasa suaminya masih di luar. Ia menyusulnya.


"Tidak apa-apa." Keyan tersenyum tipis. Berusaha menutupi kesedihan hatinya.


Valonia menatap penuh selidik dan tanya dibenaknya. Ini bukan sikap biasa suaminya. "Kamu memikirkan apa?" Tanyanya lembut sambil menyentuh lengan suaminya.


"Sayang, apa kita perlu pergi honeymoon ?"


Pertanyaan Valonia dibalas pertanyaan juga dari Keyan. Iris mata sepasang suami istri itu saling mengunci. Menyelam rasa pasangan masing-masing.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Aku belum mengajakmu honeymoon dengan benar." Keyan terlihat merona setelah mengatakan itu. Ia juga nampak gugup dan salah tingkah.


"Kamu iri ?" Tebak Valonia sambil menyembunyikan senyumnya. Agar suaminya itu tidak merasa malu atas keinginannya barusan.


Kepala Keyan mengangguk pelan. Laki-laki itu tersenyum manis menyembunyikan rasa malunya. "Ayo honeymoon."


Valonia tak mampu lagi menyimpan tawanya. "Sayang, kamu benar-benar iri ?" Tanyanya sekali lagi dengan nada tak percaya. "Dengarkan aku, sekarang kondisiku sedang hamil. Untuk berpergian jauh kita harus dapat ijin dari dokter mengingat kehamilanku masih kecil."


"Padahal aku ingin mengajakmu honeymoon sebelum ulang tahun JFB dan kamu sendiri."


Valonia nampak berpikir. Bagaimana menyenangkan hati suaminya itu? Keheningan menyela keduanya yang masih larut dalam pemikiran masing-masing.


"Sayang, bagaimana kalau kita berkemah ?"


Keyan menatap lekat istrinya yang terlihat berbinar. Apakah ini sebagian dari ngidam? Begitu pikirnya.


"Berkemah? Di mana?" Tanyanya penuh semangat.


Valonia tersenyum, sepertinya Keyan menanggapi dengan senang atas rencananya itu. Setidaknya hal ini bisa menyenangkan hati suaminya yang ingin pergi honeymoon.


"Di halaman belakang rumah. Kita bikin tenda dan barbeque. Hanya kita berdua."


...----------------...


Di taman belakang rumah milik Keyan Ganendra. Sudah berdiri tenda gelembung transparan berbentuk kubah berukuran besar. Di dalamnya ada satu kasur angin king size. Di lengkapi beberapa perlengkapan tidur. Taman belakang di sulap Keyan begitu cantik dengan lampu Tumbler warna warni hingga tidak terkesan horor.


Tak jauh dari sana ada pemanggang barbeque berdiri di atas rerumputan lengkap dengan daging dan bumbunya. Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dan saling menyuapi. Tak ingin kesepian merajai, Keyan menyetel lagu romantis genre ballad dari ponselnya. Cuaca malam mendukung kegiatan Keyan dan Valonia. Bintang di langit berkedip cantik bersama rembulan.


Angin begitu pengertian tidak berhembus dengan kencang. Seolah tahu jika wanita hamil ini berada di luar rumah malam ini. Valonia meraih jus dari atas meja lalu menyesapnya hingga tandas. Hal sama juga dilakukan Keyan, laki-laki ini tersenyum pada sang istri karena terlihat cantik dalam balutan baju hangat.


"Sayang sini." Keyan meminta Valonia untuk berbaring di sisinya dengan berbantal lengannya.


"Langitnya cantik ya..." Valonia melingkarkan tangannya di atas tubuh suaminya. Ia berbaring dengan posisi miring menghadap Keyan.


"Tapi masih cantik kamu sayang." Gombalan receh meluncur bebas di bibir Keyan. Laki-laki ini membenamkan kecupan lama di kening istrinya. "Malam ini kita berdua dan beberapa bulan lagi kita bertiga." Ucapnya sambil mengusap lembut perut rata Valonia Jasmine.


"Kamu senang ?"


"Hm, aku senang. Terimakasih... Ide ini tidak buruk. Aku mencintaimu sayang." Keyan meraih jemari Valonia dan mengecupnya lembut. "Jangan pernah meninggalkan aku. Meski aku yang memintanya." 


"Aku bukan wanita yang selalu pemakai perasaan. Jadi, ketika kamu meminta aku pergi. Detik itu juga aku akan meninggalkanmu. Karena aku akan memakai otak disaat seperti itu."


"Mengerikan. Kalau seperti itu aku tidak akan memintamu pergi dariku." Keyan terkekeh. "Tidurlah !"


"Kita akan tidur di sini." Valonia mendongakkan kepalanya. Alhasil bibir nakal suaminya mendarat sempurna di bibirnya.


"Hm."


Keyan menyahut tanpa melepaskan pautan bibir mereka. Laki-laki itu semakin memperdalam ciumannya. Saling membalas, ******* dengan lembut dan semakin menuntut. Ciuman berdurasi itu terpaksa Keyan lepaskan karena pasokan oksigen istrinya menipis.


Saling menatap penuh cinta dan mengunci iris mata. Keyan merapikan helaian rambut Valonia yang menutupi pandangannya. Jari-jarinya menyisipkan rambut istrinya ke belakang. Lalu mengecup lembut kening Valonia begitu lama.


"Tidurlah sayang." Keyan tersenyum lalu mengecup singkat bibir istrinya. Ia menarik tubuh Valonia agar lebih menempel padanya.


...----------------...


Di kasur berukuran king size ini, Valonia membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Pandangan buramnya semakin jernih. Semenjak insomnia nya mulai membaik, wanita itu sudah mulai tidur teratur. Netra Valonia mengitari sekitarnya, Ia menoleh ke segala arah.


"Sudah bangun."


Keyan keluar dari kamar mandi mengenakan kimono berwarna hitam. Laki-laki ini terlihat segar dengan rambutnya yang masih setengah basah. Keyan melangkah ke sisi kasur dan duduk di tepinya. Ia menundukkan tubuhnya lalu mengecup kening Valonia.


"Kenapa aku ada di kamar? Bukankah? kita di luar tadi malam." Tanya Valonia sambil berusaha bangun.


"Aku tidak mungkin membiarkan istriku tidur di luar hanya beratapkan langit. Meski pun di dalam tenda gelembung, tapi bagiku sama saja tidur di luar."


"Kamu belum bersiap ?" Valonia melirik jam di atas nakas. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding kasur.


"Sebentar lagi." Keyan meraih gelas susu dari atas nakas. "Minum susunya."


"Tunggu, aku belum cuci muka." Valonia turun perlahan dari atas kasur. Ia melangkah hati-hati ke kamar mandi. Karena suaminya selalu mengawasi pergerakannya.


Keyan masih duduk di tepi kasur sambil memegang susu. Sesekali ia mencium aromanya begitu menggoda untuk ia cicipi. Saking penasarannya, Keyan meminum susu itu sedikit.


"Mana susunya ?"


Keyan tersentak. "Ini ! Tadi aku mencicipinya ternyata enak ya sayang."


Valonia tertawa. "Kamu mau?"


Keyan menggeleng lalu menyingkap piyama Valonia dan menempelkan kedua telapak tangannya di sana. Ia tersenyum dan berkata. "Aku tidak akan mengambil asupan untuk bayiku." Satu kecupan lembut keyan tinggalkan untuk sang bayi. Yang masih kecil di rahim Valonia.


...----------------...


Valonia dan Keyan menuruni anak tangga. Bersiap untuk sarapan, di ruang makan Bi Noni berdiri menunggu keduanya untuk duduk baru beranjak pergi.


"Kemarin Sonny menelpon, katanya dua Minggu lagi dia akan melamar Mia ke desanya. Apa kita ikut?"


Valonia mengangguk cepat. "Iya aku mau ikut. Sudah lama aku tidak pernah ke desa. Sebenarnya aku ingin sekali membuatkan mereka baju. Tapi kondisiku seperti ini tidak boleh lelah."


"Tidak perlu membuat pakaian baru sayang. Ambil baju yang ada di butik mu saja. Minta Sonny dan Mia memilih sendiri." Usul Keyan mengikis rasa sedih di hati istrinya. Laki-laki ini tidak membiarkan Valonia merasa sedih atau terpikirkan sesuatu yang mengganggu kehamilannya


"Kamu benar. Aku akan meminta Mia menghubungi Sonny nanti." Aura wajah Valonia berubah seketika menjadi sumringah usulan suaminya sangat bagus .


"Aku perhatikan beberapa hari ini, kamu tidak lagi memakai kacamata. Apa kamu sudah bisa melihat cahaya matahari?"


"Iya. Aku sudah tidak pusing lagi. Sekarang aku sering merasa lapar. Mual dan muntah juga berkurang." Valonia tersenyum menjelaskan perkembangannya.


Tangan Keyan terulur mengusap perut Valonia. "Dia lucu ya sayang." Ucapnya sambil tersenyum. "Ayo kita berangkat."