Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Reuni Yang Kacau



Malam ini adalah malam pertemuan setelah dua tahun meninggalkan bangku SMA. Tempat yang banyak menorehkan cerita, ada yang indah ada juga yang tidak.


Banyak kisah yang terukir di sana. Tidak mudah melupakannya begitu saja, terlebih menyangkut urusan hati yang sensitif. Karena segumpal daging lembut itu ada yang bisa menerima ada juga yang tidak.


Di dalam sebuah gedung milik keluarga Ganendra. Seluruh angkatan yang akan mengadakan reunian malam ini sudah hadir satu persatu. Di sana ada yang saling berpasangan dengan satu angkatan ada pula yang tidak.


Ada yang datang berkelompok ada pula yang sendiri. Dekorasi ruangan begitu indah. Ada sebuah ukiran kata penyambut yang tergantung di panggung. Sama seperti dulu seorang ketua OSIS yang kini menjadi mantan. Membuka acara tersebut.


Gelak tawa meramaikan acara itu, karena sang pembuka acara sengaja menggoda mereka yang memulai kisah percintaan sesama angkatan.


Di meja ukuran besar, ada laki-laki tampan duduk dengan tenang. Sesekali ia menyesap minuman di gelasnya. Ia tak sendiri ada dua orang bersamanya. Tatapan angkuh terpancar dari netra ketiganya.


"Valonia !"


Lengkingan suara seseorang menyebutkan nama gadis cerdas angkatan itu mengalihkan perhatian mereka. Semua mata tertuju padanya. Valonia terlihat sangat cantik dan anggun. Tampilannya dewasa dan berwibawa.


"Maaf aku terlambat."


Lembutnya suara ini masih seperti dulu. Tak jauh dari Valonia, netra seseorang menatapnya tajam dan dingin. Dia adalah Keyan, jujur ia terkagum dengan kecantikan yang Valonia miliki, tapi rasa benci itu mengikis rasa kagumnya.


"Maaf kami terlambat." Varen menggandeng lengan Valonia.


Mereka berdua datang bersamaan, Varen membawa Valonia duduk di meja yang diduduki oleh Rara dan Sonny.


"Kamu cantik sekali Valo." Puji Rara senang. Jarang-jarang sahabatnya ini menghias dirinya.


"Kamu juga cantik." Pujian itu dibalas oleh Varen. Tak lupa seulas senyum ia berikan pada Rara. Gadis itu tersipu malu.


"Acaranya sudah dimulai sejak tadi. Sekarang kalian mau makan apa ? Biar aku ambilkan." Sonny meletakkan gelas minumannya.


"Nanti saja Son, aku belum lapar. Aku ingin menyapa teman-teman kita dulu." Valonia menarik tangan Rara untuk ikut dengannya.


Dua gadis itu menyapa teman-teman sekelasnya dulu. Dari jauh Keyan masih menatap pada Valonia. Alvan dan Tita bisa melihatnya.


"Key, kamu kenapa?" Tita bergelayut di lengan Keyan.


"Tidak apa-apa." Jawab Keyan pendek kemudian menghabiskan minumannya. Matanya masih belum beralih dari Valonia Jasmine.


"Sapalah jika kamu mau. Jangan melihatnya dari kejauhan seperti ini." Goda Alvan. Sekarang laki-laki ini sependapat dengan Keyan. Jika alasan Valonia menolak sahabatnya itu adalah karena tidak ingin menerima Keyan apa adanya.


Waktu terus bergulir, usai menyapa teman-temannya. Kini Valonia dan Rara kembali ke meja mereka lagi. Ia belum melihat sosok Keyan yang memperhatikannya.


"Aku ambilkan makanan dulu." Sonny berdiri dari tempatnya duduk.


"Aku saja Son." Valonia menghentikan pergerakan Sonny.


"Baiklah kalau begitu." Sonny duduk kembali ke kursinya.


"Aku temani, sekalian ambil minuman buat Varen." Rara mengikuti langkah Valonia.


Dari meja di tempati Keyan, Tita melihat Valonia menuju meja minuman. Ia berniat menyapanya dan memberi tahukan jika dia sekarang bersama Keyan dan Alvan.


Valonia mengambil satu gelas minuman dan Rara mengambilkan untuk Varen. Tak lupa mereka mengambil satu piring kue.


"Aaa, kamu sengaja ya !" Bentak Tita. Karena terburu-buru ia menyenggol lengan Valonia. Hingga minuman di gelas tumpah mengenai gaunnya sendiri.


"Maaf, Ta. kamu yang menyentuh lenganku. Sini aku bantu bersihkan." Valonia meletakkan kembali gelasnya di meja lalu meraih tissue untuk mengeringkan gaun Tita.


"Jauhkan tanganmu !" Bentak Tita lagi. Suaranya terdengar nyaring.


Varen, Sonny, Keyan dan Alvan bersama melihat ke arah Valonia dan Tita. Mereka sama-sama menghampiri para gadis itu.


"Ada apa?" Keyan sudah berdiri di samping Tita. Tatapannya dingin ke arah Valonia.


"Key, dia sengaja menyiram gaunku. Lihatlah ! Gaunku kotor." Adu Tita bergelayut manja di lengan Keyan.


"Makanya punya mata itu digunakan dengan baik." Varen maju selangkah berdiri di samping Valonia. Tatapannya fokus pada Tita.


Suasana menjadi tegang. Semua orang melihat ke arah Valonia dan yang lainnya. Mereka saling bertanya kenapa ? Ada apa ? Cuma masalah kecil kenapa diperbesar ?


"Valo benar, Tita yang menyenggol lengannya." Rara ikut menjelaskan.


"Hei kamu, jangan ikut campur !" Bentak Sindy. Ia semakin tidak menyukai Rara.


"Ayo Ra kita kembali ke meja." Sonny menarik lengan Rara. Lalu di ikuti Varen dan Valonia.


"Tunggu ! Jadi seperti ini cara kalian menyelesaikan masalah ?! Pergi begitu saja !"


Suara Keyan kembali terdengar. Ia menghentikan langkah Valonia.  Alvan menyentuh pundak Keyan, memberi isyarat jangan diperpanjang lagi.


"Aku sudah meminta maaf dan berniat membantunya. Dia saja yang menolak." Valonia berbalik menghadap Keyan. Sorot mata keduanya sama-sama terlihat dingin.


"Bersihkan gaun kekasihku !" Titah Keyan masih menatap manik mata Valonia.


Tanpa bicara lagi, Valonia meraih tissue dan membersihkan gaun Tita. Senyum kepuasan terlihat di wajah gadis itu. Meski pun ucapan Keyan tadi hanya palsu menyebutnya sebagai kekasih. Tapi Tita sungguh bahagia.


Tangan Valonia tiba-tiba dicekal Keyan. Laki-laki itu melihat lengan Valonia dengan tajam, cengkeramannya terasa kuat hingga Valonia meringis karenanya.


"Apa kamu menyesal menolakku ? Lihatlah gelang tali ini masih kamu pakai !" Tuding Keyan penuh percaya diri. Ia melupakan masalah gaun Tita yang kotor karena melihat gelang tali di tangan Valonia Jasmine.


Semua orang terdiam, ingin melihat kelanjutan pertengkaran kecil yang tak seharusnya diperpanjang. Hampir semua dari orang yang hadir terkejut mendengar perkataan Keyan. Benarkah Valonia menolak seorang Keyan Ganendra ?


Valonia menarik tangannya kasar. "Kenapa aku harus melepaskannya ?" Ia mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit dan berkata."Bukankah ? Dari awal aku memang menyukai gelang ini ? Bukan karena cerita di baliknya. "


Keyan semakin kesal. "Aku bersyukur kamu menolakku dulu. Jadi aku tidak hidup dalam kesusahan demi bersamamu." Seulas senyum sinis terlihat di bibir laki-laki ini. "Lepaskan gelang itu, karena aku yang membelinya. Satu lagi ! Aku sudah memiliki kekasih, kamu lihat. Bukan hanya kamu saja yang bisa membuatku jatuh cinta. Jadi demi menjaga perasaan kekasihku, lepaskan gelang itu !" Keyan menarik paksa tangan Valonia.


"Hei jangan kasar !" Varen menepis tangan Keyan. Ia tidak suka perlakuan laki-laki itu.


"Kenapa ? Apa dia berharap aku menyatakan cinta lagi padanya?" Keyan tersenyum mengejek. "Itu tidak akan terjadi karena aku sangat membencinya !" Lanjutnya lagi merasa puas.


"Jaga ucapanmu !" Varen melayangkan tinjunya pada Keyan. Ia sudah geram melihat tingkah laki-laki ini


"Jangan main pukul dong !" Bentak Alvan maju ingin membalas untuk Keyan. Namun langkahnya lebih dulu dihadang Sonny.


"Hati-hati, Key ! Kekasih yang kamu sebutkan ini. Bisa saja menjadikanmu barang taruhan seperti Varen dulu."  Sonny melihat sinis pada Tita. Sementara gadis itu menunduk meremas sisi gaunnya.


Keyan dan Alvan sama-sama menoleh pada Tita. Mereka tidak tahu cerita di balik putusnya Varen dan Tita. Mereka tidak percaya jika gadis itu bisa melakukan hal konyol seperti itu.


"Key, tadinya dipertemuan ini aku berniat meminta maaf padamu dengan benar karena sudah melukai hatimu. Bukan aku mengharapkan kamu menyatakan cinta padaku atau apa pun itu. " Valonia melepaskan gelang tali di tangannya. "Kenapa aku tidak melepaskan gelang ini ? karena aku memang menyukainya. Tapi jika gelang ini akan jadi masalah pada hati kekasihmu. Baiklah, aku akan melepaskannya. "Ia meraih telapak tangan Keyan dan meletakan gelang itu. "Terimakasih sudah hidup dengan baik, terimakasih sudah bekerja keras menepis perasaanmu padaku. Terimakasih kamu sudah belajar dengan benar. Aku hanya berharap tidak ada bayang-bayang kebencian lagi diantara kita. Aku minta maaf telah mengacaukan acara ini dan aku juga minta maaf karena mengotori gaun kekasihmu." Valonia melangkah meninggalkan tempat itu. Hatinya terluka tapi bibirnya masih bisa tersenyum.


Semua orang terdiam, termasuk Keyan. Ia tak menyangka rasa bencinya pada Valonia malah mengacaukan acara reunian mereka.


Rara tersenyum tipis lalu berkata. "Jangan lupakan ! Jika kalianlah yang menerobos masuk ke dalam kehidupan kami dua tahun lalu. Sebelum kehadiran kalian berdua kami sangat damai. Cih ! Dalih belajar kelompok, tapi kalian menginginkan sahabatku itu. Setelah dapat penolakannya kebencian yang kalian berikan. Bukankah ? Sudah hukum dalam dunia percintaan ada yang ditolak ada yang diterima. Pikirkan itu baik-baik !"


Rara menyusul langkah Valonia, Varen dan Sonny. Ia sangat kesal atas sikap Keyan. Sementara itu di dalam gedung tempat acara. Mereka saling diam dan bergosip.


Keyan merasa malu. Ia melihat gelang di tangannya. Rasa bencinya semakin kuat. Hari ini merasa kalah oleh Valonia.


"Jangan kamu tanggapi ucapanku tadi ." Keyan memperingatkan Tita.


Sementara Alvan terdiam, ia menyesal karena ikut membenci Valonia memang benar perkataan Rara, merekalah lebih dulu masuk dalam kehidupan Valonia dan teman-temannya.


...----------------...


Setelah kejadian kemarin, Valonia menyelesaikan pekerjaan nya sesuai jadwal nya. Kini ia berniat pulang ke kampung halaman Nenek nya.  Ia akan di antar oleh Varen.


Di tempat lain, Keyan dan teman-temannya kembali ke Amerika. Kejadian kemarin masih melekat diingatannya. Melihat Valonia bersikap biasa-biasa saja, kebenciannya semakin besar. Ia harus membuat Valonia merasakan sakit hatinya.