
Valonia Jasmine merasa bingung, kenapa Alvan dan Varen datang menjemput lalu membawanya ke apartemen. Yang tidak ia tahu kepemilikannya siapa, Namun ia tetap menuruti saat Varen dan Alvan mengajaknya.
Kenapa kesini ? Ada apa ?
Gadis ini hanya bersuara dalam hati tapi kakinya masih melangkah mengikuti Varen dan Alvan. Dua laki-laki itu sambil mengomel karena bertugas membawa koper milik Keyan yang ia tinggalkan di dalam mobil. Ya, Apartemen itu tempat unit huniannya yang baru.
Entah bagaimana caranya Keyan membawa empat koper itu tadi malam saat dirinya terusir. Berselang beberapa menit, Rara datang dengan terburu-buru. Ia juga melemparkan tatapan bingung saat di minta datang ke apartemen itu.
"Kalian sudah sampai."
Senyum Keyan merekah, terlebih melihat wajah gadis pujaan hatinya berdiri tepat di depan pintu. Meski pun wajah cantik itu hanya menampilkan aura datarnya.
"Apa isinya ini ? berat sekali !" Varen mendorong koper di tangannya sambil masuk.
"Itu barang ku semua, terimakasih sudah membawanya naik." Keyan mempersilahkan mereka masuk.
"Tunggu."
Semua orang menoleh ke sumber suara, Rara datang sambil setengah berlari. Rasanya begitu kesal, ketika sibuknya bekerja ada undangan dadakan dari Varen.
"Ra, kamu ke sini juga?" Valonia tersenyum. Artinya dia tidak sendiri diantara tiga laki-laki itu.
"Iya, Varen meneleponku. Kenapa kita kesini?" Rara masuk bersama Valonia. Mereka mengamati tiap sudut ruangan itu.
"Bantu bersih-bersih."
Alvan menjatuhkan tubuhnya di samping Valonia. Melihat hal itu mata Keyan membulat sempurna. Ia menyela antara Valonia dan Alvan. Netra nya menatap lekat wajah Valonia yang terlihat acuh.
"Jadi, datang kesini jadi babu ?!" Sinis Rara melipat kedua tangannya. Kesalnya sudah memuncak, ia rela meninggalkan pekerjaannya hanya demi bersih-bersih di tempat itu. Ingin rasanya ia menjambak rambut Varen.
"Dia di usir, Ra." Varen meletakkan kepalanya di bahu sahabatnya itu. Ia tahu saat ini gadis cantik itu tengah kesal padanya.
"Malang sekali."
Valonia bergumam masih mengamati isi dalam unit Keyan. Tidak ada kesan iba atau semacamnya terlihat.
Keyan terkekeh. "Maka dari itu, kasihanilah aku yang malang ini. Jadi bantu aku bersih-bersih."
"Aku akan memasak untuk makan siang." Alvan berdiri dari tempatnya duduk lalu membuka kantong belanjaan. Ia sengaja menghindar.
"Tidak, aku saja Jasmine belum pernah makan masakan ku."
Keyan berdiri lalu mengikuti langkah Alvan. Mereka saling berebut mengeluarkan isi dalam keresek.
"Aku yang akan memasak. Valonia tidak boleh makan sembarang." Varen menyusul dua laki-laki yang memperebutkan apron.
Lengkingan suara Rara menghentikan perdebatan tiga laki-laki yang ingin memasak. Rara berdiri lalu meraih ember, sapu dan pel.
"Varen, nyapu !" Rara meletakan sapu di tangan sahabatnya itu. "Alvan, bagian pel. Dan kamu Key, bersihkan kamar mu bawa koper-koper ini. Valonia... kamu bagian yang ringan-ringan saja ya bagian tata ruang biar mereka yang mengerjakannya dan aku yang cantik, akan memasak untuk kalian." Rara tersenyum puas setelah mengatur pekerjaan teman-temannya. "Cepat kerjakan !" Tegasnya lagi.
Varen, Alvan dan Keyan. Berhamburan segera melaksanakan tugasnya masing-masing. Sementara Valonia mulai memikirkan bagaimana menata ruangan itu agar nyaman.
Di dalam kamar, terlintas ide cemerlang dibenak Keyan. Kesempatan ini akan ia gunakan dengan baik. Waktunya untuk berdua dengan sang pujaan hati pikirnya.
"Jasmine." Keyan memanggil dengan sedikit berbisik. "Jasmine." Ulangnya lagi.
Valonia yang merasa terpanggil namanya, langsung mencari suara terdengar setengah berbisik itu. Ia menoleh ke arah kamar Keyan. Laki-laki itu tersenyum melambaikan tangannya.
"Ada apa ?" Valonia melangkah menghampiri Keyan. Masih seperti sebelumnya tidak ada manis-manisnya. Kesan pertama saat bertemu membuat Valonia menilai Keyan tipe pemarah.
"Bantu aku sebentar." Keyan menarik tangan Valonia membawanya masuk ke dalam kamar.
"Lepaskan tanganku ! Jangan sentuh-sentuh !" Ketus Valonia menarik tangannya dari genggaman Keyan. Wajah angkuh itu sangat terlihat menggemaskan.
Sabar, Key...Dia bukan Valonia Jasmine lima tahun lalu.
"Maaf, sekarang bantu aku menata kamarku. Bagaimana menurutmu, ada yang perlu dibenahi ?" Keyan duduk di atas kasurnya sambil tersenyum menatap wajah Valonia.
Hati Keyan sakit melihat tubuh wanita yang melupakannya ini begitu kurus. Ingin ia rengkuh memberikan hangatnya sebuah pelukan, tapi itu tidak mungkin. Gadis di hadapannya ini bukan gadis lima tahun lalu. Mengingat semua yang telah dilewati Valonia. Sangat membuat hati Keyan semakin sakit. Terlebih penghinaan orang tuanya.
Valonia mengitari seluruh isi di dalam kamar. Menurutnya tidak banyak yang perlu dirubah semuanya sudah tertata sempurna dan nyaman. Keyan begitu bahagia saat sang pujaan hati ikut andil dalam mengurus huniannya itu.
Pandangan Valonia tertuju pada benda di atas kasur. Kotak hitam yang terbuka ada dasi di sampingnya. Mata Keyan melotot saat tangan Valonia meraih dasi itu. Perasaannya berdebar bercampur rasa takut. Bagaimana reaksi gadis itu melihat dasi di tangannya.
"Milikmu?"
Valonia melipat dasi itu dan memasukannya ke dalam kotak hitam yang terbuka. Keyan bernafas lega karena Valonia tidak bereaksi apa-apa.
"Iya, itu milikku. Hadiah yang diberikan oleh calon kekasihku. Cantik, 'kan ?"
"Jelek sekali selera calon kekasihmu itu."
Tanggapan Valonia sangat mengejutkan Keyan. Bukankah? itu barang pilihan gadis itu sendiri. Kenapa menyebutnya jelek ? Keyan menahan tawa, antara sedih dan lucu menghadapi situasi ini.
"Meski pun kamu mengatakan dasi itu jelek. Tapi bagiku sangat cantik karena pilihan gadis pujaan hatiku." Bela Keyan pada pemberi hadiah itu. Lagi-lagi ia menahan tawanya.
"Dasar budak cinta ! Hal jelek bisa bagus, hal bagus bisa jelek. " Ejek Valonia. Gadis itu melenggang pergi keluar kamar.
Keyan meraih kotak hitam itu lalu mengeluarkan dasinya. "Ini pilihanmu sayang." Ia terkekeh lalu menyimpannya di laci lemari.