
Hari-hari berlalu tanpa terasa, lima bulan sudah Keyan hidup sendiri. Tidak ada kabar yang ia berikan pada sang bunda atau ayahnya. Bukan tidak merindu tapi lebih ingin mencari aman.
Di apartemen, Keyan membersihkan tanaman bunganya. Rasanya lega melihat bunga-bunga itu tumbuh dengan baik. Aromanya begitu manis dan menenangkan. Rasa lelah Keyan berkurang dengan sendirinya setelah menghirup aroma bunga itu.
Tengah menatap langit senja, bel berbunyi. Keyan gegas bangkit dan melangkah menuju pintu. Siapa yang bertamu pikirnya? Sementara, tidak ada yang banyak tahu selain teman-temannya tentang apartemen itu.
"Bunda." Lirih Keyan. Netra nya sendu dan penuh kerinduan menatap wajah cantik Bunda Arini.
"Key, Bunda merindukanmu."
Ibu dan anak itu saling berpelukan di ambang pintu melepaskan kerinduan. Bunda Arini terharu hingga menitikkan air mata. Lima bulan hidup terpisah dari putra semata wayangnya sangat menyiksa batinnya.
"Ayo, Bun. Masuk." Keyan menuntun Bunda Arini agar duduk di sofa. Laki-laki itu langsung melangkah ke dapur untuk mengambil air putih.
Bunda Arini mengusap pipinya, membersihkan buliran air mata yang tadi ia tumpahkan. "Kamu sehat, 'kan?" Tanyanya sembari menerima gelas air putih dari putranya.
"Minum dulu, Bun ! Aku sehat." Keyan tersenyum sambil menggenggam hangat tangan Bunda Arini.
Setelah minum Bunda Arini mengamati tubuh putranya dari atas sampai bawah. "Kamu makan dengan benar, 'kan? Jaga pola makan kamu. Bunda tidak mau kamu sakit, Nak. Cukup dengan hidup terpisah seperti ini."
"Aku sehat, makan dan tidur teratur juga. Bunda tidak usah cemas. Ini pilihanku."
"Syukurlah, maafkan Bunda. Waktu itu bunda tidak bermaksud menekan Valonia. Tapi Bunda tidak tahu mesti berbuat apa lagi. Sebagai orang tua Bunda hanya takut kamu tidak hidup dengan baik. Sekarang, Bunda percaya kamu bisa ! Karena, Key. Sudah dewasa."
Hati Keyan menghangat. Bundanya baru saja mempercayainya. Ini adalah salah satu kekuatan untuknya. Ibu dan anak itu larut dalam perbincangan hingga makan malam bersama.
"Aku antar ya, Bun." Keyan mengganti baju rumahannya. Laki-laki itu menarik coat nya lalu berdiri di samping sofa.
"Iya, Nak !" Bunda Arini meraih tas lalu mengikuti Keyan keluar dari unit apartemennya.
Keyan mengantarkan sang Bunda hanya sampai depan rumah. Ia tidak berniat masuk ke dalam. Kekecewaannya pada Ayah Johan masih belum mereda. Apalagi pandangan Ayah Johan terhadapnya. Hati Keyan semakin yakin agar bisa dapat pengakuan jika dirinya bisa bangkit dan berbisnis seperti ayahnya.
Mobil Keyan melaju menuju Jasmine Boutique. Ia rindu pada gadisnya. Sudah beberapa hari, Keyan tidak menemuinya. Tidak juga berkirim pesan atau menelpon. Laki-laki ini sibuk dengan urusannya.
"Mobil, Al ?" Keyan turun dari mobilnya dengan terburu-buru. Setelah melihat ada mobil sahabatnya di sana. Ia naik menggunakan lift agar cepat sampai. Kenapa Alvan ada di sini ? Terjadi sesuatukah? Dada Keyan berdebar, perasaannya tidak karuan. Takut jika terjadi hal buruk pada Valonia.
"Key."
Alvan terkejut, saat ingin membuka pintu. Keyan juga ingin menekan sandinya. Mereka saling tatap sejenak. Lalu membuang pandangan masing-masing. "Kenapa kamu terlihat panik?" Tanyanya.
"Di mana Jasmine ?"
"Ada di dalam, masuklah. Aku ingin ke supermarket dulu." Alvan mengganti sendal dengan sepatu lalu meninggalkan Keyan di ambang pintu.
"Jasmine." Panggil Keyan. Sambil melangkah masuk. Netra nya mencari keberadaan gadis pujaan hatinya itu.
"Key, masuklah." Rara menyahut dari arah dapur. Di tangannya membawa nampan air. "Valo, di dalam."
Keyan mengangguk. Ia mengikuti langkah Rara sampai ke ruang tengah. Ia bernafas lega, Valonia terlihat baik-baik saja berbincang dengan Mia. Di sana juga ada Varen dan Sonny.
"Baru saja aku ingin menelpon mu." Sonny mengangkat ponsel di tangannya. Sambil melihat ke arah Keyan yang berdiri.
"Aku kebetulan lewat, jadi mampir dulu ke sini." Keyan mengambil posisi di sebelah Valonia. Yang ia yakini tempat Alvan duduk karena aroma parfum laki-laki itu masih melekat di sana.
"Kamu sudah makan ?"
"Sudah." Hati Keyan bahagia dapat perhatian kecil dari Valonia Jasmine. Rasa rindunya terbayar melihat wajah cantik itu.
"Ayo putar filmnya. Tidak perlu menunggu Kak Fanny." Rara meraih bantal dan rebahan di karpet bulu.
Melihat hal itu Varen segera bergerak dan berbaring di samping Rara. "Tunggu saja sebentar." Laki-laki itu menaruh ujung rambut Rara di hidungnya. Aroma shampoo nya begitu wangi tercium.
"Apa yang kamu lakukan ?" Rara menarik rambutnya dari hidung Varen.
"Aku cuma mencium aroma rambutmu. Di cuci atau tidak ?" Tanggapan santai dari Varen membuat Rara kesal.
"Aku tidak sabar untuk menikahkan kalian. Sudah lima tahun aku tidak pernah melihat kalian akur." Sonny tersenyum menyebalkan di atas sofa.
"Aku normal ya, Ra !" Sonny melototkan matanya tak terima. Sudut matanya melirik pada Mia.
Jika, Sonny dan Rara sibuk saling usil. Maka berbeda dengan Keyan. Ia hanya tersenyum di sisi Valonia. Ia memperhatikan wajah pujaan hatinya itu dengan lekat. Tak lama Alvan datang bersama Levin dan Fanny berserta putra mereka Fendi.
"Mami." Anak laki -laki berusia dua tahun itu langsung menaiki pangkuan Valonia.
Mata Keyan membulat, beraninya anak kecil ini memanggil Jasmine nya dengan sebutan Mami. Padahal dia ingin panggilan itu disebutkan oleh anak-anaknya nanti.
"Fendi makan apa ?" Valonia meraih tissue membersihkan wajah menggemaskan anak laki-laki itu.
"Dia makan kue tadi yang dibeli, Al." Fanny ibu Fendi menyahut sambil membawa piring.
"Nak, sini sama Papa nanti Mami Valo ikut kotor." Bujuk Levin. Agar anaknya itu turun dari pangkuan Valonia.
"Biarkan saja, Bang." Valonia mencium gemas pipi Fendi. Anak ini memiliki tempat sendiri di hatinya.
"Papi, Key..."
Fendi tersenyum melihat Keyan. Semua mata tertuju pada anak itu. Lebih tepatnya pada Sonny yang meracuni telinga Fendi untuk memanggil Keyan Papi. Laki-laki itu tersenyum tanpa dosa.
"Kamu meracuni telinga anakku." Levin melemparkan Sonny dengan kulit kacang.
"Bang, kalau hanya ada Maminya tidak ada Papinya ! Kan, lucu Benarkan Mia ?" Sonny mencari dukungan.
"Iya, Kak." Mia mengangguk cepat.
"Kalian pasangan serasi." Cibir Rara duduk di karpet bulu.
"Kita juga pasangan serasi." Varen berguling lalu berbaring di pangkuan Rara.
"Ren, pakai bantal." Rara mencoba mengangkat kepala Varen. Namun, sahabatnya itu sudah memeluk erat pinggulnya.
"Papi, Key."
Sonny cekikikan melihat wajah Keyan memerah. Apalagi Fendi langsung berpindah ke pangkuannya.
"Kamu sudah cocok untuk jadi Papi." Alvan menepuk pundak Keyan. Candaan itu perih di hatinya. Tapi Alvan tetap tersenyum. Dia sadar ini waktunya bercanda.
"Terserah kalian saja yang penting Maminya tidak keberatan." Keyan menatap lekat netra Valonia. Gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Ren, ayo cepat putar filmnya." Valonia mengubah topik pembicaraan. Wajahnya terasa panas saat Keyan menatapnya intens.
Malam semakin larut, satu persatu mereka mulai mengantuk dan tidur.
Malam itu, ruang tengah kediaman Valonia Jasmine jadi tempat tidur para sahabatnya. Mereka memang sengaja menginap di sana.
...----------------...
Pagi menjelang, Levin lebih dulu bangun bersama Alvan. Dua laki-laki ini sama-sama menuju dapur, mereka berdua sepakat membuat sarapan pagi.
"Kalian sudah bangun ?"
Levin dan Alvan terkejut mendengar suara wanita di belakang mereka. Rupanya Fanny juga menyusul bangun.
"Kami akan buat sarapan. Apa Fendi sudah bangun?" Levin menyahut sembari meracik bumbu di hadapannya.
"Belum, biarkan dia bangun siang. Mungkin Jasmine juga masih tidur." Fanny mengambil beberapa gelas lalu membuat teh hangat. Ya, Putranya itu tidur bersama Valonia.
"Sayang, airnya belum dimasak." Levin mengambil panci dan memasukan air.
Fanny mengangguk dan menarik tangannya dari gagang termos. Sudut bibir Alvan tertarik, begitu bahagianya jika punya pasangan saling membantu seperti Levin dan Fanny.
Ingatan Alvan kembali pada tadi malam, ia bisa melihat bagaimana sigapnya Keyan membantu Valonia agar tidur kembali setelah mengalami mimpi buruk. Ya, akhir-akhir ini Valonia sudah mulai jarang mimpi buruk, meskipun terbangun di malam hari. Tapi ia bisa tidur kembali. Terlebih Keyan dengan sabar menemani Valonia.
Haruskah Alvan egois ?