
Perbedaan waktu dan tempat cukup memberikan perubahan. Masih seperti sebelumnya. Aktivitas keseharian hanya berkutat di kampus dan apartemen.
Seperti itulah hari-hari yang dijalani Keyan, sepulang dari kampus maka dirinya akan berdiam diri di unit apartemennya. Mempelajari bisnis yang dijalankan keluarganya. Keyan mencoba terjun membantu sang Ayah dari kejauhan.
"Key, makan dulu."
Tita hampir setiap hari memasak untuk Keyan dan Alvan. Jika dirinya tidak disibukkan dengan tugas kuliah.
"Iya, Ta ! sebentar lagi." Keyan mematikan laptopnya. Kemudian ia bergegas duduk di kursi makan.
Selama ini, Tita berusaha menunjukkan rasa perhatiannya. Namun Keyan masih menganggapnya sebagai teman. Rasa sakit penolakan Valonia Jasmine waktu itu. Masih melekat di hatinya.
"Key, kabarnya akan diadakan reunian. Apa kita pulang ?" Alvan bertanya sambil menyantap makanannya.
"Entahlah." Keyan masih belum terpikir untuk itu. Ia pun baru mendengar informasi ini. Selain malas untuk pulang, Keyan sangat yakin dirinya akan bertemu dengan Valonia Jasmine di acara itu.
"Pulang ya. Key, Al ! Aku merindukan Sindy. Aku juga rindu suasana di sana." Bujuk Tita berbinar penuh harap.
"Kaliankan, sering vidio call. Sama saja !" Ketus Alvan. Sejak dulu hubungannya dan Tita memang tidak pernah akur.
"Beda, Al. Kita pulang ya, Key !" Bujuk Tita lagi. Tangannya bergelayut dilengan Keyan.
"Nanti aku pikirkan. Sekarang makan dulu." Keyan melepaskan tangan Tita dari lengannya. Ia harus menengahi antara Alvan dan Tita agar tidak lanjut jadi perdebatan.
Malam semakin larut, jam di dinding menunjukkan jam sepuluh malam. Namun Keyan belum juga mengantuk. Ia kembali teringat pada kenangan dua tahun lalu. Ketika dirinya jatuh cinta, merasakan bahagianya berdekatan dengan gadis pujaan hatinya. Hanya selisih waktu bahagia itu terganti dengan kekecewaan.
Keyan bangkit dari kasurnya, ia melangkah menuju balkon kamarnya. Netranya tertuju pada bintang malam yang nampak jauh, namun sangat memukau. Kilaunya begitu indah meski terlihat kecil dan jauh. Tapi bintang itu mampu menciptakan keindahan. Sehingga membuat siapa saja betah berlama-lama menatap kejauhan langit malam.
Sama seperti saat itu, dari kejauhan Keyan sangat senang melihat seorang Valonia Jasmine. Senyumnya, kelembutannya dan kebaikannya. Menyamakan kilau bintang di langit, sangat bersinar dan cantik. Keyan ingin memilikinya tapi sangat disayangkan. Bintang itu dekat dengannya namun tidak bisa ia genggam, rasanya begitu sakit. Sangat sakit !
"Aku tidak menyangka Jasmine, kamu tidak ingin berjuang bersamaku. Kamu tidak bisa menerimaku tanpa apapun. Aku bodoh mengharapkan perasaanku terbalas. Aku membencimu ! Sangat membencimu !" Keyan bergumam. Tangannya menggenggam erat pagar balkon, rindu dan bencinya membaur menjadi satu.
"Lupakan ! Cukup dua tahun ini kamu menikmati sakit hatimu. Buktikan jika bukan hanya Valonia gadis yang bisa membuatmu jatuh cinta."
Suara Alvan sangat mengejutkan Keyan. Laki-laki itu berdecak kesal. Tapi perkataan Alvan benar adanya. Cukup dia merawat sakit hatinya selama dua tahun ini. Sudah waktunya hati Keyan sembuh.
"Kamu benar. Ayo pulang ! Aku siap jika harus bertemu dengannya." Keyan merangkul pundak Alvan. Seulas senyum tipis terlihat di bibirnya. Senyum yang nyaris tak terlihat dua tahun belakangan.
...----------------...
Sejak mendengarkan informasi reunian dari Rara, kini Valonia Jasmine sangat gelisah. Bagaimana jika bertemu Keyan di acara itu ? Apakah laki-laki itu masih membencinya ?
Valonia termenung di meja kerjanya. Menatap kotak hitam yang baru ia ambil dari dalam laci setelah terkunci rapat selama ini. Di dalamnya ada hadiah untuk seseorang.
Valonia memilih tetap berada di balik batu itu. Karena memang tidak memiliki kemampuan untuk memecahkannya. Ia mengintip untuk mencari jalan lain, namun kerikil dari batu-batu itu berserakan di mana-mana. Hanya satu pilihan ! mundur kebelakang. Kembali ketempatnya semula. Mengabaikan segala keinginannya.
"Melamun lagi"
Valonia terhenyak merasakan pundaknya disentuh seseorang. Ia tersenyum pada orang itu, senyum yang selalu ia perlihatkan jika ia baik-baik saja.
"Maaf Bang, aku tidak menyadari jika kamu di sini." Valonia tidak mengetahui ada orang lain masuk ke dalam ruangan nya.
"Ini makan siang untukmu, aku menelpon beberapa kali tapi tidak di jawab." Levin menaruh rantang nasi di atas meja. Lalu naik ke lantai tiga mengambil peralatan makan.
Valonia meraih ponselnya, benar saja ada lima panggilan tidak terjawab. Rupanya ia benar-benar larut dalam lamunannya. Levin menghela nafas panjang di anak tangga melihat dari jauh jika Valonia kembali melamun.
Rasanya sangat sesak, kenapa hari ini kembali seperti hari-hari yang telah lalu ? Valonia tenggelam dalam dunianya sendiri. Levin melangkah menghampiri gadis itu. Ia mengeluarkan rantang satu persatu dan memindahkan isinya ke dalam piring.
"Terimakasih Bang." Valonia meraih piring yang berisi makanan dari Levin
Levin mengangguk. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi depan meja. Iris matanya terkunci pada kotak hitam di hadapannya.
"Kenapa dibuka lagi?"
Pertanyaan Levin menghentikan tangan Valonia yang ingin menyuap makanan. Ia meletakkan sendoknya di piring lalu melihat ke kotak hitam itu.
"Aku menyakitinya... Dia pasti membenciku sangat besar. Aku harus apa ?" Suara Valonia bergetar. Tak lama air matanya luruh membasahi pipinya. "Aku tidak menyesal atas keputusanku waktu itu, tapi aku tidak ingin dimusuhi." Tangis Valonia semakin terdengar.
Levin merasa bersalah, lalu berdiri dan melangkah ke sisi Valonia. Ia membawa gadis itu ke pelukannya. "Maaf...tidak seharusnya aku membahas ini saat kamu makan."
Valonia menarik tubuhnya dari pelukan Levin, ia menyeka pipinya lalu tersenyum. "Tidak apa-apa Bang. Aku yang terbawa perasaan."
Levin menatap dalam netra gadis itu. "Tunjukkan kerapuhanmu ini hanya padaku. Jangan pada orang lain ! Aku siap menguatkanmu Jasmine. Semua sudah berlalu, cukup untuk berpura-pura baik-baik saja. Sekarang waktunya untuk benar-benar baik." Tangannya terulur mengusap sisa air mata di pipi Valonia.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Ia meraih kotak hitam itu lalu menaruhnya kembali ke dalam laci. Setelah terkunci Valonia mencabut kunci itu dan melangkah ke sisi jendela.
"Waktunya aku baik sesungguhnya !" Valonia melemparkan kunci laci itu ke udara.
Levin tersenyum. "Ayo makan lagi ! Aku tidak mau kamu kurus. Jika tubuhmu kurang gizi bagaimana melahirkan anak-anak kita nanti." Pria ini mengedipkan matanya genit.
Valonia tertawa. "Jangan terlalu baik padaku, Bang ! Karena aku tidak mampu membalasnya." Ia meraih kembali piringnya
Levin duduk di kursi lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Jangan membalas kebaikanku. Cukup simpan aku di memorimu dan juga hatimu."
Valonia mengangkat wajahnya. Netra mereka saling mengunci. Menyelami kedalamnya. Pria ini begitu baik dan lembut. Dewasa dan hangat, selama ini Levin selalu ada di belakangnya berdiri bersama Varen untuk mendukungnya.