Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Perubahan Rasa



Satu Bulan Kemudian...


Semua permasalahan telah selesai, Valonia Jasmine sudah beraktivitas seperti biasanya. Keyan pun kembali bekerja aktif di JFB. Laki-laki ini benar-benar bahagia karena istri tercintanya sudah membaik seperti sedia kala. Tujuh bulan pernikahan mereka banyak warna yang mewarnai rumah tangga mereka sebagai pengisi cerita.


Semenjak kejadian satu bulan lalu, tidak ada lagi sesuatu yang menjadi bumbu tambahan dalam keseharian Valonia Jasmine dan Keyan Ganendra. Tita telah menjalani hukumannya sesuai ketentuan vonis dan Sindy menghilang entah kemana. Pak Anton tak mampu membantu Tita. Pernikahannya dan ibu Tania di ambang perceraian. Meski pak Anton mati-matian mempertahankannya. Ya, konsekwensinya dari perpisahan itu adalah kehilangan hartanya.


Bisnis yang Pak Anton jalani selama ini adalah milik sang ayah mertua. Dengan kata lain, milik ibu Tania sebagai ahli waris. Berbagai upaya, Pak Anton membujuk ibu Tania untuk membatalkan perencanaannya untuk berpisah. Bahkan, Ayah Johan pun turun tangan demi mempertahankan rumah tangga sahabatnya itu.


"Nia, pertimbangkan lagi keputusanmu. Rumah tangga yang kalian jalani tidak hanya setahun. Namun, sudah bertahun-tahun." Ayah Johan mencoba membujuk ibu Tania. Laki-laki paruh baya ini meluangkan waktu untuk bertemu istri sahabatnya itu. Netra nya tertuju pada gelas kopi yang asapnya masih mengepul tipis.


"Bertahun-tahun pula aku menjadi wanita bodoh. Percaya begitu saja hasil pemeriksaan kami dan kamu juga menutupinya ! Apa kamu tidak memikirkan perasaanku ?!" Ibu Tania sangat marah terlihat dari iris matanya yang memerah. Tangannya mengepal menahan diri agar tidak mengamuk di kafe tempat pertemuan mereka.


"Dia hanya takut kehilanganmu."


Ibu Tania tertawa. "Takut kehilanganku ?! Dia tidak takut kehilanganku. Tapi takut kehilangan kejayaan yang dia peroleh dari keluargaku." Tegasnya dengan sedikit lantang. Intonasinya yang sedikit tinggi membuat arah pandang para pengunjung melihat mereka sejenak.


Ayah Johan terdiam tak mudah membujuk wanita di hadapan ini. "Aku pamit kembali ke kantor. Saranku pikirkan lagi keputusanmu." Tanpa menghabiskan sisa kopi di gelasnya, pria paruh baya itu melenggang pergi membawa kegagalan untuk membujuk istri sahabatnya ini.


Ibu Tania membuang wajahnya. Dalam hatinya sangat yakin kalau keputusan yang di ambilnya sudah tepat. Nafasnya terdengar kasar akibat emosi yang terpendam di dadanya bercampur dengan rasa sesak sakit hati.


...----------------...


Kilas Balik


Matahari merangkak naik, kedatangan pengacara ibu Tania ke rumah pak Anton membuatnya terkejut. Hatinya panas mengalahkan teriknya panas siang itu. Ia tak menyangkan jika istrinya benar-benar menggugatnya saat ini. Sekarang rasa takut kehilangan dan karamnya kapal rumah tangga begitu terasa di hati Pak Anton.


"Bisa pertemukan saya dengan Nia?" Suara Pak Anton terdengar bergetar. Ia bersusah payah menekan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Manik matanya tak sanggup melihat wajah pengacara dari istrinya.


"Saya akan menanyakan terlebih dulu pada ibu Tania"


"Ini penting !" Tegas Pak Anton. Ini adalah kesempatan untuk mengatakan segalanya pada ibu Tania. Ia berharap selepas ini ada kesempatan ke dua untuknya.


"Baiklah."


Usai pembicaraan yang memberikan efek panas dingin di rumah pak Anton. Pengacara ibu Tania langsung mengabarkan kliennya. Berbicara cukup panjang lebar. Ibu Tania menyetujui pertemuannya dengan Pak Anton.


Disinilah sesuai tempat janji temu. Ibu Tania datang sendiri sementara diseberang meja Pak Anton datang bersama Ayah Johan. Netra mereka saling beradu dan mengunci. Di dalam sana masih terlihat cinta yang dalam. Namun tetap kalah dalam dari rasa kecewa yang ibu Tania rasakan.


"Apa kabarmu, Nia?" Pak Anton bertanya dengan intonasi lembut. Ada kerinduan terpendam yang terpancar dari netra nya. Ingin rasanya memeluk wanita yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun ini. Tapi ia tak memiliki keberanian yang besar untuk melakukannya.


"Baik."


Pak Anton menghembuskan nafas kasar. Selama berumah tangga bersama ibu Tania, baru hari ini ia mendapatkan sahutan datar dari sang istri.  "Syukurlah." Balasnya sembari tersenyum tipis.


"Nia, Anton mengajakmu bertemu ada yang ingin disampaikannya. Sebagai sahabat, aku tidak mau rumah tangga kalian hancur. Ada fakta yang harus kamu tahu sebelum kamu tahu dari orang lain. Aku harap setelah mengetahuinya. Kalian bisa berdamai." Ayah Johan beranjak dari tempatnya duduk memberikan waktu pada sepasang suami istri itu untuk menyelesaikan masalah mereka.


Punggung Ayah Johan tidak terlihat lagi. Kini hanya tersisa sepasang suami istri itu, keheningan menyela keduanya. Masing-masing mereka menguasai perasaan yang berkecamuk di dalam hati. Hingga, suara orang pegawai kafe memecahkan kesunyian.


"Permisi." Waiters itu meletakkan dua cangkir minuman di atas meja. Kemudian disusul kudapan di piring kecil.


"Terimakasih."


Tak ingin lama saling diam, Pak Anton mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih berlogo rumah sakit besar. Ia meletakkannya di atas meja lalu mendorongnya perlahan ke hadapan ibu Tania. 


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu selama ini. Aku bukan laki-laki baik sepeti yang kamu pikirkan. Aku serakah dan egois ! Aku minta maaf Nia. Aku tidak ingin kamu tahu kebenaran ini dari orang lain. Aku berharap dengan tahu kebenaran ini kita bisa berdamai."


Iris mata ibu Tania fokus pada amplop di hadapan pak Anton. Dadanya berdebar hebat dan hatinya bertanya-tanya. Apa isi amplop itu ? Kenapa wajah suaminya terlihat sendu dan tertekan.


"Katakan "


Pak Anton menghembuskan nafasnya untuk mengusir rasa sesak di dadanya. Tangannya terangkat melonggarkan dasi yang terasa mencekik di leher. Setelah merasa cukup nyaman Pak Anton berkata. "Aku yang tidak bisa memberimu keturunan Nia. Karena tidak mau ditinggalkan olehmu. Aku memalsukannya dan membuatnya jika kamulah yang tidak bisa memberiku anak. Setiap hari aku terpikirkan lambat laun aku mencari pelarian agar tidak terlalu memikirkannya. Maafkan aku."


Tangan ibu Tania bergetar meraih amplop itu, tak lama iris matanya melebar setelah membaca hasil yang disembunyikan suaminya selama bertahun-tahun ini. Dengan bodohnya ia percaya begitu saja dan bersedih hati selama ini karena tidak bisa memberikan anak pada Pak Anton.


Tanpa berkata apa-apa ibu Tania langsung beranjak pergi. Ia membawa tubuhnya yang semakin bergetar dan lemas memasuki mobil. Ibu Tania tidak bisa menangis, tatapannya kosong dan membiarkan sopir membawanya pulang.


Kilas Balik Selesai


...----------------...


Siang menjelang dengan sedikit lebih terik dari biasanya. Panasnya tak umum pertanda akan turun hujan. Di meja kerjanya, Valonia fokus menggambar. Ia harus menyelesaikan pesanan yang telah terbengkalai beberapa Minggu saat dirinya sakit.


Istri Keyan itu nampak cantik mengenakan gaun berwarna navy tanpa lengan. Kulit mulusnya terlihat bercahaya dipadu dengan warna itu. Rambut panjang Valonia di ikat satu hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu menggoda.


Iris mata Valonia melihat dari balik kaca mata putih yang bertengger di hidungnya ke arah jam dinding. Sudah jam makan siang begitu pikirnya. Jari-jari lentik Valonia berhenti menggores warna atas kertas desainnya. Ia meraih gagang interkom di atas meja.


Valonia berkata dengan intonasi lembut. "Mia, pesankan es buah didepan dan ajak anak-anak makan siang di atas."


"Iya, Kak."


Valonia meletakan kembali gagang telpon itu. Ia merapikan lembaran kertas di atas mejanya. Netra nya menatap puas disertai senyum manis di bibirnya. Valonia puas dengan hasil gambarnya. Ia berharap konsumennya akan puas berbelanja di Jasmine Boutique.


Valonia mendongakkan wajahnya, lalu melemparkan pandangannya ke arah pintu kaca ruangannya. "Masuk." Titahnya setelah melihat siapa di balik kaca pintu.


"Kak, makanan siap. Ayo kita makan sama-sama." Ajak Sera salah satu staf Jasmine Boutique. Gadis bertubuh tinggi itu sedikit lebih datar dibanding yang lainnya. Ia akan bicara seperlunya saja disaat penting.


"Baiklah."


Valonia melangkah anggun. Tubuh rampingnya sangat ideal dengan tingginya. Dalam balutan gaun berwana navy itu Valonia terlihat elegan. Sebagai istri dari CEO JFB. Ia harus jaga penampilan yang jarang dulu ia lakukan. Aroma parfum Valonia begitu manis menyeruak dari tubuhnya, hingga Sera memejamkan mata menikmatinya. Ini lah seorang Valonia Jasmine dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sebagai wali disaat dirinya tengah menghadapi masalah.


Di lantai tiga Jasmine Boutique, Valonia berkumpul bersama karyawannya untuk makan siang. Menu makanan terlihat menggugah selera. Namun Sera dan yang lainnya masih menunggu Mia dan Nanda membeli es buah.


"Sayang."


"Kamu sudah makan siang?" Pertanyaan lembut Valonia menggetarkan jantung Keyan. Apalagi senyum manis di bibir istrinya sangat menawan hasrat untuk segera menyesapnya. Namun itu hanya ada dalam angannya sebab Keyan tidak ingin mengumbar hal intim itu depan karyawan Jasmine Boutique.


"Belum sayang, aku mau makan siang bersamamu." Keyan sumringah penuh bahagia. Padahal, wanita cantik di sisinya ini telah jadi istrinya. Tapi masih saja membuatnya berdebar dan jatuh cinta berkali-kali.


"Ehm ! Anak dibawah umur tutup mata. Maklumi saja CEO JFB ini sedang jatuh cinta." Seru Sonny menatap sinis pada Keyan. Ia harus menunda luapan rindunya karena Mia tidak berada di tempat. Dirinya sedikit iri karena Keyan bebas mengekspresikan rasa rindu dan cintanya. Sonny tiba-tiba ingin segera melamar sang kekasih.


"Mengganggu saja !" Ketus Keyan melepaskan jas dari tubuhnya. "Kenapa belum makan ?" Tanyanya sambil meraih tangan Valonia untuk di genggamnya.


"Menunggu Mia dan Nanda. Aku memintanya pesan es buah."


"Kenapa karyawan mu cantik-cantik, Val? Jasmine Boutique gudangnya gadis cantik." Endi melancarkan aksi fukboy nya. Netra nya memindai satu persatu karyawan Valonia. Sebagai ahli dalam hal merayu Endi mulai tebar pesona.


Karyawan wanita menunduk malu. Mereka tak menyanggah jika Endi memiliki pesona yang melebihi Keyan dalam masalah wanita. Sifat ramahnya telah jadi modal utama Endi dalam menaklukan para wanita. Meski begitu, dirinya bukan pemain yang akan merusak seorang wanita. Karena Endi sendiri pun ingin mendapatkan pasangan yang baik pula.


"Kak, ini es buahnya "


"Ya ampun sayang, kamu pasti lelah." Sonny bangkit dari tempatnya duduk lalu mengambil alih kantong plastik dari tangan Mia. Laki-laki itu mengusap kening Mia penuh perhatian. Padahal, satu butir pun tak ada keringat di wajah kekasihnya itu.


"Kamu lihat sayang, siapa yang jadi budak cinta ?!" Sinis Keyan berbaring manja di pangkuan istrinya. "Mia, jangan percaya padanya itu hanya modus untuk menyentuh wajahmu." Provokasi  Keyan.


"Sama-sama budak cinta tidak usah mengatai." Sahut Endi. Netra laki-laki itu tak beralih dari wajah Sera yang terlihat cantik dimatanya. Tanpa sadar Endi meraba dada kirinya dan berucap "Ya Tuhan cantik sekali."


"Sakit jantung ?" Goda Keyan perlahan bangun untuk menyantap es buah yang telah tersedia. Keyan memang bisa bersikap manja. Namun tak melebihi kemanjaan sosok yang jadi idola dan panutannya di dalam dunia usaha.


"Iya..." Polos Endi tak melepaskan tatapannya pada Sera. Namun sayang, yang mendapatkan tatapan itu bersikap biasa saja. "Dia tidak melirikku. Apa hari ini aku terlihat jelek ?" Gumamnya lagi.


"Kamu baru sadar." sahut Keyan tersenyum mengejek. Apa lagi wajah Endi seperti orang linglung.


"Ayo makan." Ajak Valonia setelah menyiapkan makanan untuk Keyan. Suaminya itu masih saja menggoda Endi.


"Seperti ada yang kurang ya. Rara, Alvan dan Varen tidak ada. " Seru Sonny menyantap es buahnya. Laki-laki ini menempel bak perangko di sisi Mia.


"Kami disini." Varen datang membawa rantang makanan bersama Rara dan Alvan. Tangan Rara dan Varen bergenggaman mesra. Meski Rara menolak Varen tetap memaksa.


"Sini-sini." Valonia nampak antusias menerima makanan yang dibawa Varen. Ia tak menghiraukan tatapan suaminya. Dengan tak sabar Valonia mencicipi makanan yang dibawa Varen. "Kenapa hambar ?"


"Hambar ?" Varen mencicipi makanan yang dibawanya. "Tidak hambar, rasanya enak. Ini aku sendiri yang memasaknya." Varen menyuapi Rara untuk mencicipinya. "Bagaimana?" Tanyanya pada Rara.


"Enak, rasanya sudah pas."


"Sini, biar aku cicip." Keyan mengambil alih sendok dari tangan Valonia dan mencicipinya. "Enak, ini tidak hambar sayang." Ia bisa melihat ada rasa tak puas di netra istrinya atas makanan yang dibawa Varen.


Valonia mengambil makanan yang dimasak oleh Mia di butiknya. "Ini tidak hambar. Padahal, aku ingin sekali makan itu." Tunjuknya pada rantang makanan yang di atas meja. Selera makannya lenyap. Valonia bersandar di dinding sofa memakan es buahnya.


"Makan ya sayang." Bujuk Keyan mengarahkan sendok ke mulut istrinya. Dibalas gelengan oleh Valonia.


"Begini saja, kamu nanti mampir ke kafe biar aku masak lagi buat kamu. Atau... Aku ke rumahmu nanti ya." Varen melanjutkan makannya begitu pun yang lainnya.


Disaat makan bersama, Derry datang menyusul. Laki-laki itu hanya menurunkan Keyan saat datang tadi. Karena harus mampir ke supermarket dulu membelikan pesanan ibu Marisa.


"Der, ayo makan." Endi memberikan satu piring kosong pada Derry. Laki-laki itu merasa senang bisa berkumpul bersama karyawan Jasmine Boutique.


"Terimakasih Kak. Sebenarnya aku tadi niat pulang ke apartemen. Karena Mama memasak semur daging."


"Semur daging? Sepertinya enak." Valonia tiba-tiba berbinar. Ia meletakkan cup es buahnya di atas meja. "Sayang antarkan aku ke apartemen Tante Marisa."


"Ha?? Kenapa ke sana sayang ? Kamu belum makan." Keyan menyudahi makannya lalu menyeka mulutnya dengan tissue.


"Makan di tempat Tante Marisa."


Keyan menoleh pada teman-temannya. Hanya Sonny yang tak tertarik dengan pembahasan di hadapannya. Laki-laki itu sibuk mengekspresikan rasa cintanya pada Mia.


"Key, dari pada Valo lapar. Lebih baik kamu antarkan dia. Tapi minta Derry untuk menelpon Tante Marisa." Usul Alvan yang sejak tadi hanya menyimak.


"Ayo, tapi janji harus makan ya." Keyan  memasang kembali jasnya lalu berkata. "En, kamu dan Derry kembali ke kantor ikut Alvan saja."


"Iya."


"Tidak apa-apa ya, aku tinggal. Kalian makan saja." Valonia meraih tasnya di dalam kamar. "Ra, kamu ikut ?"


"Jangan, aku tidak ada teman kembali ke kantor nanti." Varen posesif melingkarkan tangannya ke pundak Rara.


"Kamu dengar ? Sepupumu ini posesif padaku. Padahal, aku bukan siapa-siapanya." Cibir Rara melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu calon istriku !" Tegas Varen. Namun terlihat santai. Semua orang di sana melototkan matanya pada Varen.


...----------------...


Valonia begitu senang. Hingga membuat sudut bibir Keyan terangkat. Sepasang suami istri itu nampak bahagia. Disepanjang perjalanan, Valonia bersandar manja di bahu suaminya. Keyan merasa senang Valonia bermanja dengannya.


"Sayang pelan - pelan. Aku mau itu." Tunjuk Valonia pada kedai yang menjual manisan kedondong. Entahlah dari jauh manisan kedondong yang ada di dalam toples itu sangat menggugah selera. Valonia tak sabar ingin mencicipinya, terik matahari memang cocok untuk memakan buah.


"Kamu mau manisan kedondong?" Keyan menepi lalu melepaskan sabuk pengaman nya. "Ayo..." Ajaknya sembari menurunkan kaki ke tanah. Meski pun cukup heran dengan keinginan istrinya. Tapi Keyan tak menolak sedikit pun.


Valonia membeli lima mika. Dengan tak sabar ia langsung membukanya. Keyan terperangah istrinya begitu sudah tak sabar untuk mencicipi manisan kedondong itu.


"Cuci tangan dulu sayang itu tempatnya."


Valonia menoleh lalu mencuci tangannya. Ia menggigit kedondong itu dengan ekspresi puas karena hasilnya segar di lidah. Ada manis dan juga asam,  Keyan meringis sambil menelan salivanya, bukan tergoda dengan bibir istrinya atau cara Valonia menikmati buah kedondong. Tapi Keyan merasa kecut sendiri.