Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Permintaan Tak Sederhana



Hari-hari dilewati terasa sangat cepat,  beberapa minggu lagi akan menempuh ujian akhir. Valonia dan kawan-kawannya belajar dengan giat. Kedekatan Valonia dan Keyan pun mulai terlihat.


Banyak hal yang mereka lewati berdua. Seperti mencari buku bersama, pergi ke perpustakaan berdua. Keyan tidak lagi menutupi rasa sukanya pada Valonia Jasmine, ia memperlihatkan perhatiannya secara nyata. Meski Valonia menanggapi  seadanya. Tapi sudah cukup membuat Keyan merasa senang.


"Key, persiapkan dirimu untuk ke Amerika. Setelah kelulusan kamu langsung berangkat." Ayah Johan duduk di kursi kebesarannya. Saat ini mereka sedang di kantor. Netranya memberi isyarat titah tanpa bantahan.


"Yah, bisakah ? aku kuliah di sini saja." Tawar Keyan. Ia berat hati untuk meninggal tanah kelahirannya. Tak hanya itu, ada hati yang belum ia miliki disini.


"Kenapa ?" Ayah Johan melepaskan kaca matanya. " Ayah ingin kamu menjadi yang terbaik, Key !" Nada bicara ayah Johan sedikit meninggi.


"Yah, teman-temanku disini semua, aku tidak bisa ke Amerika." Tolak Keyan. Nada bicaranya pun ikut meninggi.


"Ada Tita, dia juga akan kuliah disana !  Jika perlu, Alvan juga ikut. Ayah akan bicarakan pada Om Andre.  Kamu harapan Ayah. Key ! Jangan kecewakan Ayah." Tegas Ayah Johan. Nada yang tadinya meninggi perlahan menurun.


"Disini pun, aku bisa belajar dengan baik. Aku janji akan belajar dengan giat."  Keyan  memohon dengan tatapan matanya. Ia benar-benar tidak bisa meninggalkan kota ini.


Ayah Johan menatap garang putranya. " Apa karena gadis itu ?!" Tebaknya dengan raut wajah datar. "Ayah senang kamu belajar dengannya, tapi jangan jadikan dia sebagai alasan untuk kamu menolah permintaan Ayah."


Keyan tersentak. "Yah, Jasmine tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Ayah dan keinginan ku." Ia terlihat emosi karena Ayah Johan menyeret nama Valonia Jasmine.


"Kalau begitu, kenapa kamu berat mengabulkan keinginan ayah ?!" Ayah Johan begitu marah. "Selama ini Ayah memantaumu dan kalian begitu dekat." Beliau sangat yakin. Jika Valonia penyebab putranya tidak bisa menuruti keinginannya.


Keyan tidak menjawab, ia langsung memutuskan keluar tanpa pamit dari ruangan ayah Johan.


Aku berat meninggalkan Jasmine, aku menyukai nya


...----------------...


Di atas langit nampak menggelap malam ini, tidak ada rembulan atau bintang yang bersinar. Sama seperti hati seseorang yang sedang muram.


Selepas perbincangan siang tadi di kantor Ayah Johan, Keyan merasa tidak tenang. Ya, diakuinya. Keyan jatuh cinta pada seorang Valonia Jasmine. Hal itu pulalah yang membuatnya berat untuk pergi ke Amerika. Meski ungkapan cintanya belum ia sampaikan.


Tapi, Keyan sangat yakin jika dirinya mampu menjadi sosok yang di impikan ayah Johan. Meski tidak melanjutkan kuliahnya di Amerika.


Kesal, marah bercampur dalam dada Keyan. Sampai kapan hidupnya selalu di dikte sesuai dengan kemauan sang Ayah ? Rasanya Keyan sudah menjadi anak penurut selama ini. Tapi haruskah, pilihan ini juga diambil alih orang tuanya ?


Suara Valonia Jasmine sudah menjadi candu untuk Keyan. Hingga hampir setiap malam, ia akan menelpon dan mendengarkan suara gadis pujaan hatinya itu. Suara yang begitu lembut, mendinginkan hatinya yang sedang panas.


Keyan meraih ponselnya, kemudian membuka galeri foto untuk melihat wajah Valonia Jasmine. Banyak foto yang ia ambil diam-diam selama ini. Rasa rindu itu membuncah di dadanya, Keyan merasa tidak sabar untuk bertemu esok hari di sekolah. Kenapa malam ini begitu panjang terasa ?


"Iya, Key..."


Sahutan suara yang begitu lembut mampu menerbangkan Keyan ke dunia bahagia. Mengembalikan suasana hatinya yang sedang risau.


"Sedang apa? " Keyan melangkah maju  mendekat ke pagar balkon. Ia tersenyum dengan sendirinya, seolah lawan bicaranya itu melihat lengkungan bibirnya.


"Membaca buku." Valonia menjawab sambil membalik halaman bukunya. Gadis ini menghabiskan waktunya membaca berbagai macam buku.


"Jasmine, ayo ke Amerika." Keyan tiba-tiba mengajak Valonia ikut kuliah bersamanya. Mungkin, ini solusi terbaik yang ada dipikirannya. Dengan begitu ia tidak berpisah pada gadis pujaan hatinya ini.


Di seberang sana Valonia terdiam. Ada apa? Kenapa tiba-tiba Keyan membicarakan Amerika?


"Ada apa, Key ?" Valonia menutup bukunya dan keluar menuju balkon kamarnya. "Kenapa tiba-tiba mengajak ku ke Amerika ? Kamu ada masalah ?" Ia merasa jika laki-laki itu sedang gundah. Meski mereka sering berkomunikasi di telpon. Tapi tidak pernah Keyan membahas tentang kuliah.


"Ayo kuliah di Amerika." Suara Keyan terdengar berat dan putus asa. " Ayah ingin aku melanjutkan Kuliah di Amerika." Ia menjelaskan sedikit pokok permasalahannya. "Aku tidak mau pergi, Jasmine. Aku ingin di sini kuliah bersama mu."


Valonia mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan Keyan. Sepertinya ini adalah pembahasan serius. "Key, lebih baik kita bicarakan ini besok saja ya, sekarang kamu istirahatlah." Putus Valonia. Ia merasa hal ini harus dibicarakan sambil tatap muka.


"Tapi aku butuh jawaban kamu, Jasmine. Ikutlah dengan ku." Keyan masih enggan mematikan sambungan telpon. Ia tidak sabar mengunggu siang hari.


"Key, aku tahu. Mungkin, saat ini kamu gelisah. Aku belum tahu betul penyebabnya apa ? Dan kenapa kamu tiba-tiba mengajak ku untuk kuliah di Amerika ? Sekarang lebih baik kamu istirahat. Besok kita bahas lagi ya..." Bujuk Valonia dengan sabar.


"Baiklah, Jasmine. Selamat malam !" Keyan akhirnya menuruti kata-kata Valonia.


Usai menelpon perasaan Keyan sedikit membaik. Ia berharap Valonia Jasmine bisa ikut dengannya kuliah di Amerika. Entahlah Keyan menaruh harap besar pada sosok Valonia  Jasmine. Mungkin karena ia baru pertama jatuh cinta jadi Keyan tak berani kecewa.


Keyan masuk dan menutup pintu balkon, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit-langit kamar. Mengingat kembali, pertemanan singkatnya pada Valonia. Hingga menumbuhkan rasa yang berbeda dalam hatinya.


Perasaan itu nyata, Keyan rasakan. Ia belum pernah merasakan ini semua. Takut berpisah dan ingin selalu bersama. Menghabiskan waktu berdua.


"Jasmine, aku sayang kamu...." Gumam Keyan menatap lekat foto Valonia di ponselnya.


Sementara di tempat lain, Valonia masih berdiri di balkon kamarnya. Ia membiarkan angin malam menerpanya. Masih terpikirkan atas permintaan Keyan.


" Permintaan mu, tidak sederhana, Key..." Gumam Valonia.


Cukup lama berdiam diri di balkon kamar, akhir nya Valonia memutuskan untuk masuk  kedalam kamarnya.