Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Curahan Hari Keyan



Masih seperti kemarin, Keyan mendatangi butik Valonia Jasmine. Di sakunya tersimpan sepasang gelang tali. Ia berharap hari ini bisa membuktikan ke pura-puraan Valonia. Entah kenapa dia kesal sekali, karena belum bisa membuktikan jika gadis itu sengaja bersikap seperti itu.


"Jasmine, berhenti bersikap konyol seperti ini !" Nada Keyan sedikit membentak.


"Anda yang bersikap konyol Tuan ! Hampir setiap hari anda datang dan membawa gelang itu. Meski saya menyukai gelang tali ini. Bukan berarti saya ingin memilikinya" Tegas Valonia berusaha menahan amarah agar tidak meledak.


"Kamu mau gelangnya ambillah..." Lirih Keyan pelan setengah memaksa.


"Terimakasih, Tapi itu milik calon istri anda. Pulanglah Tuan ! Anda mengganggu waktu berharga saya !" Valonia duduk kembali ke kursi kerjanya dan mengabaikan laki-laki yang menatapnya penuh emosi itu.


Keyan meninggalkan butik Valonia dengan ragam macam perasaan. Ia tidak menyangka jika respon Valonia seperti tadi. Ia berharap dari sepasang gelang tali itu Valonia berhenti dari kepura-puraannya.


Mobil Keyan melaju untuk pulang. Tapi bukan ke rumahnya. Namun, menuju kediaman Alvan. Ia butuh teman untuk bicara.


"Key, kamu baru pulang ?" Pak Andre kaget melihat Keyan datang dengan masih mengenakan pakaian kerjanya.


"Iya Om, hari ini jadwal sangat padat." Keyan masuk mengikuti langkah pak Andre.


"Al, di kamarnya temuilah ! Om mau ke ruang kerja dulu. Kalau belum makan minta sama Bibi." Pak Andre menepuk pundak anak sahabatnya itu.


Keyan membalas dengan anggukan. Ia bergegas naik menuju kamar Alvan. Tanpa mengetuk ia langsung masuk begitu saja.


"Key !" Pekik Alvan terkejut. Laki-laki ini baru keluar dari kamar mandi. "Kamu kenapa ? Sudah makan ?" Tanyanya lagi.


Keyan menggeleng lemah lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Aku menemuinya tadi " ia memejamkan matanya sambil berkata. "Dia masih berpura-pura."


"Bertemu siapa ? Eh tunggu !  Kamu belum pulang. Key ?" Alvan baru menyadari jika sahabatnya ini masih mengenakan pakaian kerja.


"Aku malas pulang, aku tidur di sini saja." Keyan melepaskan jas yang melekat di tubuhnya.


Alvan melangkah menuju ruang ganti lalu mengambil salah satu kaosnya. Ia melemparkannya ke atas kasur. "Mandi sana, aku ambilkan makanan dulu. Baru kamu bercerita." Laki-laki itu langsung menarik daun pintu dan keluar dari kamar.


Sesuai dengan yang diperintahkan, Keyan mandi kemudian makan. Ia juga mengacak-ngacak isi lemari Alvan mencari pakaian dalam yang baru untuk dikenakannya. Alvan berdecak kesal tapi tetap diam karena tidak biasanya Keyan seperti itu.


"Jadi ceritakan kamu bertemu siapa?" Alvan membuka pintu balkon dan mengajak Keyan duduk di sana.


"Jasmine, aku menemuinya. Aku berpikir dia hanya berpura-pura tidak mengenal kita. Maka dari itu aku memastikannya lagi. Kemarin aku juga menemuinya malam hari. Tapi, sikapnya masih sama. Dan tadi pun juga begitu, aku ke sana datang bukan dengan tangan kosong, tapi membawa ini." Keyan bercerita dan mengeluarkan gelang tali dari dompetnya.


Alvan meraih gelang itu dan mengamatinya. "Apa reaksinya ?" Ia menoleh pada Keyan.


"Dia juga tidak mengenalnya. Tapi sepertinya dia masih menyukai gelang itu. Dia tersenyum dan mengatakan gelang itu cantik,  aku menawarkannya jika dia mau ambil saja." Seulas senyum di bibir Keyan terlihat ketika mengingat senyuman Valonia Jasmine begitu manis.


"Jasmine menolak, dia mengatakan jika gelang ini milikku dan Tita." Perasaan Keyan kembali merasa diremas mengingat kalimat itu.


Alvan meletakkan gelang di atas meja. Lalu berpindah duduk di samping sahabatnya itu. Kini Alvan mengerti satu hal, Keyan tidak membenci Valonia. Dan perasaan cintanya masih ada. Keyan hanya marah tidak terima atas penolakan Valonia


"Key, sekarang aku bertanya. Apa kamu benar-benar membenci Valonia ?"  Alvan bertanya dengan raut wajah serius. Ia menatap tajam netra Keyan.


"Entahlah, Al. Mengingat penolakannya aku sedih dan sakit hati. Tapi, melihat sikapnya seperti ini... aku kesal, aku tidak terima dia seolah tidak mengenalku." Ungkap Keyan mengusap wajahnya.


"Kamu masih mengharapkan Valonia. Kamu hanya marah, Key . Kamu tidak terima jika gadis itu menolakmu." Alvan menyampaikan kesimpulannya dari cerita Keyan.


"Apa benar begitu ?"


"Begini Key, jika kamu memang sudah tidak menyukainya. Maka dengan sikap Valonia seperti ini tidak jadi masalah untukmu. Terlebih kamu juga akan bertunangan dengan Tita." Jelas Alvan lagi.


Keyan mengangguk dan berkata."Aku masih merasa seperti dulu saat berhadapan dengannya. Tapi amarahku mengendalikan hatiku."


"Sekarang, kamu pikirkan baik-baik dan rasakan dengan hatimu. Apa masih menyukai Valonia ? Jika memang masih ada rasa, berjuanglah sekali lagi, bicarakan baik-baik dengan keluargamu dan Tita. Jika kamu memang tidak bisa meneruskan perjodohan ini. Tapi bila memang rasa itu sudah hilang, abaikan segalanya fokuslah pada Tita. Sebelum terlambat dan kalian saling menyakiti." Solusi baik Alvan berikan. Dalam hal seperti ini ia lebih dewasa.


"Aku mengerti." Keyan merasa lega. Ya ! dia harus memikirkannya dengan kepala dingin. Jika memang cinta itu masih ada, ia akan melepaskan Tita dengan harus menanggung resiko kemurkaan Ayah Johan.


"Setelah kamu yakin, baru kita temui Varen. Kita cari tahu apa yang terjadi selama tiga tahun ini ? Dari yang ku lihat... Valonia tidak dalam keadaan baik-baik saja."


Perkataan Alvan benar adanya, Keyan juga bisa merasakan jika gadis itu bukan dalam keadaan baik. Alvan berpindah berdiri menghadap kaca balkon kamar,  melemparkan jauh pandangannya.


Jika kamu maju aku akan mundur, Key. Meski harus kalah sebelum maju. Sejak lama perasaan ini masih ada untuk Valonia. Meski aku sempat berpikir buruk tentangnya saat itu, tapi satu hal yang aku yakini ada kebaikan dari penolakannya waktu itu


Alvan tersenyum pahit pada bintang-bintang di langit. Laki-laki ini sangat pandai dalam menyimpan rahasia hatinya. Tidak ada orang tahu jika dirinya pun menyukai Valonia Jasmine selama ini.


"Al, bagaimana jika Jasmine sudah menikah dengan Bang Levin. Dan anak laki-laki yang kita lihat waktu itu adalah putra mereka." Keyan baru teringat tentang hal itu.


Alvan tertawa. "Bang Levin memang sudah menikah tapi dengan Kak, Fanny kasirnya dulu. Anak laki-laki itu putra mereka, kemarin aku langsung bertanya pada Kak Fanny." Jelasnya serius.


"Syukurlah, aku juga tidak melihat adanya foto pernikahan atau cincin di jari Jasmine kemarin di butiknya." Keyan merasa tenang. "Apa dia juga ditolak Jasmine ? Kitakan tahu bagaimana perasaan Bang Levin waktu itu."


"Mungkin Valo memang menolak Bang Levin. Tapi lihat hubungan keduanya masih seperti dulu. Bang Levin tidak membenci Valonia, bahkan terlihat menyayanginya. Benar apa yang dikatakan Rara, sudah hukum dalam percintaan antara ditolak dan diterima tergantung hati yang menyikapinya. Lapang dada atau tidak."  Papar Alvan panjang.


Keyan rasa tertampar. Semua yang diucapkan sahabatnya itu benar, disini dia yang kekanak-kanakan. Harusnya tidak memendam kemarahan dalam hatinya untuk Valonia.