Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Amarah Varen



Temaram senja tiba menjemput. Matahari di ufuk barat perlahan tenggelam, lengkungan langit pun ikut menggelap. Burung-burung senja berlomba pulang ke sarangnya. Semakin lama cahaya bintang dan bulan semakin terang menggantikan  matahari yang telah sepenuhnya kembali ke peraduan. Keadaan sedikit menyepi, orang-orang mengurung diri di dalam kediamannya masing-masing.


Jauh di ketinggian lantai gedung apartemen. Hembusan nafas seorang laki-laki yang tengah berdiri di balkon kamarnya itu, terdengar berat dan resah. Netra nya terkunci pada beberapa pot bunga Jasminum atau melati yang ia tanam dari berbagai jenis. Kecintaannya pada bunga itu hadir saat ia mengenal gadis yang bernama Valonia Jasmine.


Aroma dari bunga melati sangat tajam dan manis. Terlebih lagi bunga melati merah muda atau yang orang sering sebut Jasminum polyanthum. Dia akan mengeluarkan aroma manisnya saat malam hari.


Melihat kuncup bunga melati, terlintas di benak Keyan untuk berbisnis. Kepandaiannya dalam melukis tidak diragukan lagi. Sekarang ia berpikir akan membuatkan sebuah kalung yang bermata kuncup bunga Jasminum.


Selain sebagai bentuk rasa suka Keyan pada bunga itu. Bisa juga sebagai lambang rasa cintanya pada Valonia Jasmine. Sebab, gadis cantik itu juga memiliki jiwa dan hati seputih bunga Jasminum. Semanis dan setajam aromanya, Secantik kuncup bunga itu. Sekuat batang pohon bunga melati.


Membayangkannya saja, Keyan bisa tersenyum senang. Apa lagi semuanya akan terealisasi dengan baik. Sangat membuatnya bahagia. Cukup lama mengamati pertumbuhan bunga-bunga itu. Keyan beranjak dari sana untuk membersihkan dirinya.


Wajah suram tadi berganti ceria dan penuh semangat. Malam ini, Keyan akan menemui Valonia kembali. Laki-laki ini baru menyadari jika mereka satu jalur dalam hal menggambar.


Usai bersiap, Keyan langsung pergi ke kediaman sang pujaan hati. Senandung senang terlantun di bibir laki-laki berwajah tampan itu. Di tambah seulas senyum yang tidak luntur. Pantulan lampu penerangan di jalanan menimpa wajahnya hingga terlihat mempesona.


Dengan langkah tegap ia menaiki anak tangga hingga lantai tiga. Keyan tertular Valonia lebih suka menaiki tangga ketimbang lift yang ada di sana. Tangannya terangkat mengetuk daun pintu.


Tidak lama menunggu, Valonia membuka pintu. Gadis itu terlihat manis dalam balutan piyamanya yang terlihat besar di tubuh kurusnya.


"Key, silahkan masuk."


"Terimakasih, kamu sudah makan malam ?"


Keyan mengikuti langkah Valonia ke ruang tengah. Gadis itu kembali duduk berselonjor sembari menonton televisi.


"Sudah."


"Makan pakai apa ?"


Keyan menoleh pada Valonia yang melihat padanya. Dirinya tidak yakin jika gadis itu sudah makan. Keyan langsung ke dapur melihat sendiri apa yang dimakan gadisnya.


"Aku makan sama sayur, tadi Mia sebelum pulang mengajari aku masak sayur. Aku berhasil !" Valonia terlihat senang saat menceritakannya.


"Benarkah ?" Keyan juga senang melihat keceriaan terpancar dari wajah Valonia Jasmine .


"Iya, kamu sudah makan ?"


"Belum, rencananya aku akan memasak di sini."


Valonia melangkah menghampiri Keyan lalu meraih piring untuk laki-laki itu. Valonia mengambil nasi dan menyiapkan sayur serta yang lainnya.


"Sekarang kamu cicipi dulu masakan ku bersama Mia. Masih panas karena dia baru juga pulang."


"Baiklah, aku akan mencicipinya. Sekarang kamu duduk saja. Biar aku ambil sendiri."


Keyan menuntun Valonia untuk duduk di kursi. Kemudian ia mengambil alih piring dari tangan gadis itu. Valonia nampak antusias menunggu penilaian Keyan atas masakan pertamanya.


"Bagaimana ?"


"Enak, kamu berhasil. Besok aku yang mengajarimu."


Valonia tersenyum senang sambil mengangguk. Keyan tidak berbohong soal rasanya. Karena memang masakan itu enak dan pas di lidahnya. Mereka bak pasangan suami istri, Valonia menemani Keyan makan sampai dengan selesai.


"Mau jalan-jalan denganku?"


"Kemana ?"


Keyan dan Valonia sudah kembali duduk di ruang tengah. Tak lupa ia membersihkan piring kotornya, Keyan tidak mau meninggalkan pekerjaan untuk Valonia Jasmine.


"Kemana saja, biar kamu tidak suntuk di rumah."


"Tapi, aku malas ganti baju."


Keyan gemas, melihat gadis pujaannya itu bisa bersikap manja. Valonia melirik jam di dinding masih jam tujuh malam. Tapi dirinya sudah mengenakan piyama tidur.


"Tidak usah ganti baju. Piyama mu juga panjang. Pakai coat saja biar tidak dingin." Keyan meraih long coat blazer nya lalu menyampirnya ke pundak Valonia.


"Tapi kam—"


"Aku tidak dingin."


Potong Keyan cepat. Dia segera menarik tangan Valonia ke genggamannya, gadis itu menurut dengan tatapan tak lepas dari Keyan.


Kenapa dia terlihat bertambah tampan ? Genggamannya begitu hangat dan nyaman. Siapa dia sebenarnya ? Rasanya baru beberapa bulan bertemu  tapi kenapa terasa sudah lama mengenalnya


Keyan melirik dengan sudut matanya, ia tersenyum tipis. Genggamannya semakin ia pererat kan. Ia tahu jika Valonia dengan memperhatikannya.


Aku tidak akan terburu-buru lagi, aku punya banyak cara agar bisa dekat denganmu. Untuk menguasai Varen, aku harus berada lebih tinggi di atasnya. Dengan begitu dia tidak bisa menolak ku lagi


Keyan mengajak Valonia ke suatu tempat, di mana mereka bisa melihat orang-orang menghabiskan waktu bersama keluarga dan pasangan.


"Ayo kita duduk di sana."  Keyan mengajak Valonia duduk di salah satu kursi.


Pemandangan berlatar belakang sungai itu memberikan kesan yang indah. Apa lagi kapal kecil yang hilir- mudik mengantar penumpangnya menyeberang melalui jalur sungai begitu memanjakan mata.


"Jadi ini, gadis perebut calon tunangan mu itu ?!"


Suara seseorang mengalihkan perhatian Valonia dan Keyan. Sindy berdiri dengan angkuhnya di hadapan Valonia. Gadis itu tidak sendiri tapi bersama Tita.


"Jaga bicaramu Sindy !" Bentak Keyan. Ia menarik Valonia sedikit lebih dekat dengannya.


"Dia calon istrimu, Key."


"Dia temanku Jasmine. Bukan calon istriku."


Keyan berucap sangat lembut pada Valonia lalu beralih melihat pada Sindy. Tatapan hangat yang biasa ia perlihatkan pada Valonia. Berganti datar ketika netra nya tertuju pada Sindy


"Apa kabar, Key ?" Tita tersenyum tipis dengan tatapan sendu. Laki-laki yang lima tahun bersamanya ini, sudah menjauh dan sangat jauh.


"Kabarku baik, Ta." Keyan berusaha tersenyum pada Tita sambil menutupi rasa kesalnya pada Sindy.


"Hei, Kamu Valonia. Apa tidak malu merebut calon suami orang !" Sindy masih berniat membalas sakit hati Tita.


"Jangan melewati batasan mu Sindy. Ini keputusanku tidak ada kaitannya pada Jasmine." Tegas Keyan. Darahnya mendidih mendengar penuturan Sindy. Tapi Keyan berusaha untuk sabar.


"Dia siapa, Key ?"


Pertanyaan Valonia sontak membuat Sindy terkejut. Setelah ia pindah kuliah tiga tahun lalu. Sindy tidak pernah bertemu lagi pada Valonia, Varen dan Rara.


"Orang tersesat !" Keyan menatap tajam pada Sindy.


"Maaf, saya tidak mengenal anda ! Perlu diperjelas, saya tidak merebut siapa pun. Dan masalah kegagalan pertunangan Keyan dan Tita bukan urusan saya. Karena kami juga baru kenal !" Tegas Valonia. Aura angkuhnya mengalahkan Sindy.


"Permainan macam apa ini ?" Sindy berdecak kesal. "Gara-gara kamu ! Keyan memutuskan rencana pertunangannya dengan Tita. Dan gara-gara kamu juga, Keyan di usir dari rumahnya !"


"Hentikan, Sin. Ayo kita pergi dari sini." Bujuk Tita. Ia ketakutan ketika melihat raut tak biasa dari wajah Keyan.


"Tunggu, aku belum selesai ! Hei kalian yang ada di sini. Perhatikan gadis ini, dia adalah perebut calon suami orang ! Dan korbannya adalah sahabatku."


Teriak Sindy begitu lantang. Semua orang mulai bergumam dengan opini masing-masing. Sindy tertawa puas, namun tidak pada Tita. Ia meremas tangannya ketakutan karena Keyan terlihat begitu marah.


"Kamu, terlalu ikut campur Sindy !"


Geram Keyan melangkah pelan maju menghampiri Sindy. Sementara gadis itu tersenyum sinis pada Valonia.


"Le—lepaskan !"


Nafas Sindy tiba-tiba sesak. Netra nya membulat saat satu tangan kokoh tiba-tiba mencekik lehernya. Jantungnya berdegup kencang ketika mengenali pemilik tangan itu. Rasa rindu dan sakit di tenggorokannya bercampur jadi satu.


"Jaga bicaramu atau malam ini terakhir kamu bernafas ! Aku diam selama ini, karena masih menghargai mu."


Intonasi rendah, namun tegas dan terdengar mengerikan di telinga. Sekujur tubuh Sindy gemetar, belum lagi pasokan oksigennya mulai menipis. Membuatnya semakin tak karuan.


"Va—Varen. Sa—sakit, le—lepaskan ! A—aku."


"Apa aku perlu membuatmu bisu ?!"


Seringai mengerikan terlihat di wajah laki-laki itu. Suara terbata dan keluh kesakitan dari Sindy terdengar indah di telinga Varen. Tita sudah pucat dan berkeringat dingin, sementara itu Keyan terpaku karena keterkejutannya atas kehadiran Varen yang tiba-tiba. Tempat itu langsung sepi, orang-orang berhamburan pergi karena takut terlibat dengan masalah ini.


"Ren, biarkan dia bernafas ! Tapi jika esok hari dia tetap berkoar. Selesaikan dengan caramu atau caraku ! Aneh tiba-tiba muncul dan bicara yang tidak-tidak !" Valonia tersenyum santai. Tidak menunjukan ketakutan atau keterkejutan.


"Pergi sebelum aku berubah pikiran !"


Varen menarik tangannya dari leher Sindy mematuhi ucapan Valonia. Gadis itu terbatuk-batuk, kenapa ia bisa jatuh cinta pada pria seperti Varen ? Bahkan sisi lainnya seperti ini ia tidak tahu. Yang Sindy tahu Varen laki-laki baik dan ramah. Namun malam ini, pria pujaan hatinya itu begitu mengerikan dan mengancam jiwa.


Valonia tersenyum sinis. "Urusan kita selesai Nona. Saya tidak mengenal anda jadi berhenti bicara omong kosong. Dan untuk anda Nona Tita perlu saya tegaskan masalah pertunangan kalian yang batal. Bukan urusan saya ! Jadi, jangan pernah melibatkan saya dalam masalah pribadi kalian ! Kita baru kenal dan juga tidak dekat !"


Sindy dan Tita langsung pergi meninggalkan tempat itu. Membawa kepedihan hati masing-masing. Sampai saat ini Tita belum mengetahui jika Sindy menyukai Varen. Kekasih yang ia campakkan dulu. Malam ini, Tita seakan tidak mengenali lagi laki-laki itu karena jauh berbeda dari masa dulu.


"Kenapa kamu ada di sini ?" Valonia mengajak Varen duduk untuk menenangkan sepupunya itu.


"Tadi aku ingin ke tempatmu, tapi aku melihat mobil Keyan keluar dari samping butik mu. Jadi aku mengikuti kalian."


"Ayo pulang." Valonia mengajak Varen dan Keyan untuk pulang. Namun Keyan bergeming masih diam membisu di tempatnya berdiri "Key. Ayo pulang !"


"A—ayo."


Keyan tergagap. Ia lebih gugup lagi setelah netra nya tak sengaja bertemu dengan Varen. Tatapan sepupu Valonia ini begitu mengerikan.


"Bertindaklah tegas, jika ingin aku mempercayai Valonia padamu. Karena selama ini seperti itulah aku menjaganya."


Varen menarik tangan Valonia untuk mengikutinya menuju mobil miliknya. Keyan menghembuskan nafas panjang. Ya, andai dia tegas pada Sindy mungkin gadis itu tidak melakukan hal seperti tadi. Dan Varen tidak menunjukkan sisi kekejamannya.