
Persiapan sudah sempurna, pernikahan sederhana Sonny dan Mia bukan sederhana dalam kata sebenarnya. Pernikahan itu cukup mewah. Dengan kekuatan uang, orang-orang bekerja dengan maksimal
Sonny begitu tampan berbalut tuxedo pasangan dari gaun pengantin yang dikenakan Mia. Laki-laki itu semakin tampan dengan tatanan rambut poni jatuh di kedua sisi keningnya. Kesan imut membingkai wajah Sonny.
Tak kalah dengan pesona sang pengantin laki-laki. Mia juga sangat manis mengenakan gaun pengantin yang mengembang bagian bawahnya. Rambutnya disanggul sempurna tanpa sisa dilengkapi mahkota kecil di kepalanya. Cincin pernikahan tersemat cantik di jari manisnya. Pertanda Mia sudah resmi menjadi istri dokter tampan di sisinya.
Senyum bahagia tak pudar menghiasi wajah Sonny dan Mia. Meski tak semegah pernikahan Keyan dan juga Varen. Dokter tampan ini sudah sangat bahagia. Senyum malu-malu Mia menambah rona merah di wajahnya. Laki-laki yang baru saja resmi jadi suaminya itu selalu saja membahas tentang malam pertama mereka.
"Selamat untuk kalian berdua." Varen datang bersama Rara. Sepasang pengantin itu juga masih melekat aura pengantinnya. Mereka mempercepat kepulangan dari berbulan madu karena ingin menghadiri pernikahan Sonny.
"Kalian datang ! Terimakasih." Sonny langsung memeluk Varen ala laki-laki.
"Semua gara-gara kamu. Aku belum puas berbulan madu kamu malah menyusul."
Sonny tertawa mendengar penuturan Varen. "Kita bisa atur jadwal ulang untuk honeymoon" Ucapnya melirik Mia.
"Mia selamat ya, kamu cantik sekali." Rara memeluk singkat Mia. "Ini untukmu." Ia memberikan paper bag berukuran besar.
"Apa ini ?" Mia menerima paper bag dan mengintip isinya.
"Itu oleh-oleh dan juga hadiah pernikahanmu."
"Terimakasih, Kak"
"Kalau begitu aku menyapa Valonia dulu, dimana dia ?" Rara melebarkan penglihatannya mencari sosok sahabatnya itu.
"Mereka di sana." Tunjuk Varen kearah Valonia dan yang lainnya.
Varen dan Rara meninggalkan panggung pelaminan. Mereka sudah merindukan para sahabatnya. Di sana Valonia masih saja mengisi perutnya dengan kudapan yang tersedia.
"Kalian sudah sampai?" Valonia berdiri dari kursi untuk menyambut kedatangan sepupu dan sahabatnya itu.
"Baru saja, bagaimana kabarmu?" Rara mendaratkan tubuhnya di samping kursi Valonia. Ia mengusap perut sahabatnya dengan gemas.
"Kabarku baik, Bagaimana perjalan honeymoon kalian?"
"Lancar. Oleh-oleh untukmu saat kita pulang nanti ya." Rara menerima piring berisi makanan yang dibawakan Varen.
Para suami- suami romantis ini sigap memanjakan lidah para wanitanya. Keyan dan Varen tipe suami pengertian. Keyan sangat senang melihat selera makan istrinya mulai membaik, melihat perhatian Keyan dan Varen pada istri mereka membuat Endi merasa iri. Tak kalah unjuk perhatian Alvan pun memperlakukan Nanda dengan manis.
Endi tak ingin gegabah mengungkapkan perasaannya. Ia tidak ingin Sera menjauhinya karena terburu-buru. Endi harus memberi ruang agar Sera merasa nyaman dan mempercayainya. Ia siap menunggu wanita pemilik hatinya itu membuka hati bersamanya.
...----------------...
Pernikahan Sonny dan Mia masih berlangsung. Waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Keyan dan yang lainnya tengah beristirahat di rumah yang mereka tempati beberapa hari ini. Sambil berkemas untuk mempersiapkan kepulangan mereka ke kota. Valonia menyeka keringat di keningnya, tak biasanya ia berkeringat dingin seperti hari ini.
"Sayang kamu kenapa ?" Keyan masuk ke dalam kamar. Ia terkejut melihat wajah istrinya penuh keringat. Tak hanya itu, bibir Valonia juga terlihat pucat.
"Perutku tidak enak dan kepalaku pusing," Valonia tiba-tiba muntah ditempatnya karena tidak sempat ke kamar mandi.
"Sayang, kamu sa—"
"Kak !"
Kalimat Keyan terpotong karena Derry masuk dengan kondisi sama seperti Valonia. Laki-laki ini semakin tak karuan melihat kondisi istri dan adiknya tidak jauh berbeda.
"Perutku sakit dan juga pusing." Derry berlari ke kamar mandi di dalam kamar yang ditempati Keyan dan Valonia. Laki-laki itu muntah di sana.
"ENDI ! "
"Ada Apa, Key ?" Endi melangkah cepat dari ruang tengah mendengar namanya dipanggil, "Kenapa berteriak?" Tanyanya sambil melangkah masuk.
Netra nya terbelalak melihat kondisi Valonia yang bersandar di dinding kasur, tak hanya itu Keyan juga membersihkan muntahan istrinya.
"Bantu Derry di kamar mandi, dia juga muntah."
Endi masuk ke kamar mandi. Ia semakin bingung melihat kondisi Derry sama seperti Valonia Jasmine. "Kamu sakit juga ?" Tanyanya sambil memapah tubuh Derry untuk duduk di atas kasur bersama Valonia. "Kalian salah makan apa ?" Endi bertanya sambil menuangkan air putih.
"Tidak ada." Valonia dan Derry menjawab bersamaan sambil menerima gelas air putih yang diberikan Endi.
Belum air itu habis dari gelas kini Valonia dan Derry muntah bersamaan lagi. Keyan dan Endi terkejut bercampur panik. Mereka sibuk merawat Valonia dan Derry yang mengeluh sakit perut dan kepala.
"VALO !"
Suara Varen menggema dalam rumah itu. Hentakan sepatunya begitu nyaring terbentur dengan keramik lantai. Laki-laki itu berlari dengan wajah panik masuk menerobos kamar. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan nafas naik turun. Iris matanya melebar melihat kondisi Valonia yang masih muntah bersama Derry.
"Mereka muntah sudah dua kali." Jelas Keyan sambil menyeka mulut istrinya menggunakan tissue. Tubuhnya sudah gemetar dengan perasaan gugup.
"Key, ini tidak wajar, di luar banyak orang muntah. Nanda juga muntah sekarang Alvan membantunya."
Endi menoleh mendengar perkataan Varen. "Bagaimana Rara dan Sera ?" tanyanya dengan raut wajah cemas.
"Mereka tidak apa-apa. Rara sedang memanggil Om Ariel untuk memeriksa Nanda. Warga sini banyak juga yang muntah keluhannya pusing dan sakit perut." Jelas Varen. Ia menghampiri Valonia lalu memijit tengkuk sepupunya itu karena muntah lagi.
"Valonia, apa dia juga muntah dan pusing." Sonny setengah berlari masuk ke dalam kamar. Ia langsung memeriksa Valonia dan Derry bergantian. "Key, bawa mereka ke rumah sakit terdekat. Dari gejalanya mirip muntaber. Tapi belum pasti karena tingkat penyebarannya cepat sekali, warga sini juga sudah banyak yang kena dalam waktu bersamaan." Jelas Sonny.
"Ayo En, kita berangkat !" Keyan menyelipkan tas dan dompet istrinya ke dalam tas. Tak lupa perlengkapan lainnya yang dibutuhkan diperjalanan.
Sementara Endi bersiap dan menyiapkan mobil. Varen membantu menyiapkan barang Derry. Laki-laki ini berpendapat lain tentang kejadian yang menimpa sepupunya itu. Rara datang bersama Sera ikut membantu Keyan bersiap.
Di luar mulai sepi, pesta pernikahan dihentikan tiba-tiba karena banyaknya warga mulai merasakan pusing dan juga muntah. Pak Ariel bersama ibu Neta sibuk membantu warga yang mulai merasakan gejalanya.
Keyan menggendong tubuh lemah Valonia. Raut wajahnya begitu tegang ada ketakutan yang luar biasa dirasakannya. Ada tiga nyawa dalam pangkuannya saat ini. Nyawa istri, bayi dan juga adiknya. Endi duduk di bagian depan mengambil alih kemudi.
"Sayang kamu ikut mereka, aku akan menyusul." Varen menuntun tubuh Rara untuk duduk disebelah Endi. "Kamu juga bisa membantu Derry."
"Iya kamu hati-hati." Rara duduk lalu memasang sabuk pengamannya.
Keyan duduk di tengah dan disebelahnya ada Valonia dan Derry. Istri dan adiknya itu tidak bersuara lagi. Hanya muntah dan memejamkan mata saja. Di sebelah mobil Keyan ada mobil Alvan yang juga siap membawa Nanda.
"Kamu tidak apa-apa?" Endi menoleh ke sisinya setelah membuka kaca mobil. Iris matanya menatap penuh kekhawatiran pada gadis di dalam mobil Alvan.
"Aku baik-baik saja."
Dua buah mobil itu melaju perlahan bergerak keluar desa. Sonny dan Varen menatap mobil Keyan dan Alvan dengan perasaan khawatir. Terlebih Valonia yang sedang hamil.
"Di mana Mia ?"
Sonny tersentak mendengar pertanyaan Varen. Ia baru menyadari jika istrinya tidak terlihat menyusulnya ataupun berkeliaran di tempat pesta.