
Usai mendengarkan segala cerita tentang Valonia Jasmine. Keyan tidak lagi berniat kembali ke kantor. Ia duduk termenung sambil menatap gelas jusnya di atas meja. Kini ia mengerti, Valonia mengambil keputusan yang matang demi kelangsungan hidupnya agar berkecukupan. Terbukti, Keyan bisa kuliah dengan baik tanpa harus memikirkan dari mana mendapatkan uang untuk biaya hidup dan kuliah.
"Key, di dalam meja itu ada sesuatu untukmu. Sudah lama tersimpan di sana. Kunci lacinya sudah hilang entah kemana dilemparkan Jasmine. Meja itu aku ambil saat renovasi butiknya." Levin menunjuk meja yang ia simpan selama tiga tahun ini. Meja itu masih terawat dan bagus.
Keyan menoleh ke arah meja yang dimaksud. Ia berdiri dan melangkah dari tempatnya duduk. Tangannya meraba meja itu lalu menarik lacinya. Sayangnya laci itu terkunci rapat.
"Di rusak saja kuncinya, Key." Usul Alvan juga berdiri melangkah menyusul Keyan.
Varen datang membawa pahat dan palu. Laki-laki ini berusaha membuka laci yang terkunci itu. Tidak butuh waktu lama lacinya terbuka. Varen melangkah mundur dan menyimpan peralatan itu kembali.
Keyan menarik gagang laci dengan perlahan. Perasaannya berdebar-debar, apa isi laci ini? Apa yang di simpan Valonia untuknya? Setelah laci ditarik ia melihat ada kotak hitam di sana.
Kotak hitam itu sudah terlihat berdebu masih terikat pita merah dengan rapi dan cantik. Keyan meraihnya lalu membawa kotak itu ke kursi tempatnya duduk. Ia mengambil tissue untuk membersihkan kotak hitam itu. Dengan penuh kehati-hatian ia menggosoknya.
"Ini adalah hadiah yang akan Valonia berikan padamu saat kelulusan. Tapi dia mengurungkannya setelah ibumu mengirim vidio pertengkaran pagi itu. Dia juga mengantarmu saat di bandara. Hanya dari jauh dia sudah puas melihatmu." Varen datang menjelaskan tentang kotak hitam itu. Netra laki-laki ini berkaca-kaca dan merah. Masih teringat di benaknya. Valonia tersenyum dalam tangisnya melihat Keyan berpamitan pada keluarganya saat akan berangkat dan masuk ke dalam ruang tunggu.
"Bukalah ! Hadiah itu dia beli bersamaku."
Levin meminta Keyan membuka kotak itu. Dengan perlahan laki-laki ini membukanya, ada dasi berwarna maroon terlipat rapi di dalamnya. Mata Keyan berembun melihat dasi itu.
Tidak ingin membuang waktu lagi, tanpa pamit ia langsung pergi begitu saja dari sana. Dengan langkah terburu-buru Keyan menyelipkan dasi itu ke dalam sakunya. Varen dan yang lain menggeleng kepala melihat tingkah Keyan.
...----------------...
Valonia sudah merasa sedikit lebih baik setelah mendapatkan perawatan. Gadis ini masih berada di ruang kerjanya bersama Rara.
"Val, tidur malam jam berapa ?" Rara berusaha mencari cara herbal agar sahabatnya itu bisa tidur nyenyak.
"Paling cepat jam sepuluh malam." Valonia merapikan meja kerjanya. Ia berniat akan pergi jalan-jalan bersama Rara.
Rara mengangguk sambil membaca informasi pengobatan herbal di internet. "Saran ku, jika kamu mengantuk entah itu malam atau siang coba kamu tidur."
Valonia memberikan satu kaleng minuman dingin pada Rara. "Aku sudah mencobanya tapi mimpi itu pasti datang. Jika terbangun aku tidak bisa tidur lagi."
Ia melangkah ke sisi kaca besar yang menjadi dinding ruangannya, dari atas sana. Valonia Jasmine bisa melihat pemandangan luar. Ia sesekali menenggak minuman kalengnya. Ia dan Rara sama-sama saling berpikir untuk mengatasi insomnia nya. Dosis obat yang diberikan Sonny semakin tinggi itulah sebabnya Valonia enggan meminumnya.
"Aku pulang dulu, nanti aku jemput ya." Rara pamit untuk pulang. Ia langsung dari kantor mampir ke butik Valonia.
"Hati-hati ! Aku juga akan bersiap. Butik juga sebentar lagi tutup." Valonia mengantarkan Rara ke depan pintu.
Selang berapa menit, terdengar derap langkah begitu tergesa-gesa. Di iringi teriakan Mia dari bawah.
"Tuan ! kami sudah tutup kenapa anda menerobos masuk ?!" Mia berteriak sambil menaiki anak tangga.
Orang yang tengah diteriakinya bergeming masih melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Valonia Jasmine. Tanpa sepatah kata ia masuk begitu saja lalu memeluk erat tubuh Valonia yang menghadap kaca.
Valonia tersentak merasakan tubuhnya dipeluk erat dari belakang. Gadis ini terpaku, siapa yang berani memeluknya?
"Lepaskan ! Siapa ini ?!"
Valonia berusaha berbalik. Tapi lingkaran tangan itu begitu kokoh. Hingga gadis itu tak bisa bergerak sedikit pun.
"Maaf kak, Valo . Tuan Keyan menerobos masuk begitu saja. Aku sudah melarangnya karena butik kita sudah tutup." Jelas Mia dengan nafas tersengal. Gadis itu bercucur keringat karena berlari mengejar Keyan
"Tuan. Key ! Apa -apaan ini ? Anda tidak sopan." Bentak Valonia. Tubuh kurusnya berusaha memberontak. Tapi Keyan bergeming masih memejamkan mata memeluk erat tubuh gadis itu.
"Tuan, Key ! Jaga sikap anda." Mia maju berusaha membantu Valonia. Gadis itu sudah memegang pas bunga yang terbuat dari kaca.
Dengan persetujuan Valonia. Mia menurut, tapi ia tetap waspada. Bagaimana pun juga dia adalah kepercayaan tiga pria tampan yang selalu menyayangi Valonia Jasmine.
"Jelaskan, atas kelancangan anda hari ini !"
Valonia berdiri sambil bersedekap tangan di dada. Raut wajahnya datar tidak bersahabat. Keyan menuntun Valonia untuk duduk di kursi kerjanya. Laki-laki itu berlutut di lantai menyamakan tinggi Valonia yang duduk di kursi.
"Maaf, maafkan aku Jasmine. Maaf... aku sempat menyimpan benci padamu. Maaf... aku tidak ada di sisimu saat masa-masa terberat mu." Keyan berucap dengan intonasi rendah dan lembut. Manik matanya begitu dalam menatap wajah Valonia Jasmine. Lama-lama kaca-kaca air terlihat di matanya. Bahkan semakin banyak dan akhirnya tumpah. "Maafkan aku, Jasmine." Keyan terisak menundukkan kepala di atas pangkuan Valonia.
"Kenapa tiba-tiba begini ? Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan. Sudah sore, sebaiknya anda pulang. Untuk perlakuan anda hari ini. Saya maafkan ! lain kali jangan di ulangi lagi. Saya tidak mau ada fitnah, karena anda calon suami orang." Tegas Valonia. Ia masih tidak mencerna perkataan Keyan. Gadis ini berpikir mungkin tuan muda Ganendra itu suasana hatinya kurang baik.
Keyan menggeleng cepat. "Jangan bicara formal padaku. Intinya aku minta maaf dan aku bukan berstatus calon suami orang. Hubungan antara kita sangat dekat Jasmine ! Karena kesalahpahaman hubungan itu memburuk. Kamu tidak perlu memikirkannya, cukup terima aku dan maaf ku. Jangan berusaha memikirkan dan mencari tahu."
"Aku memang tidak ingin memikirkannya. Aku bukan tipe orang yang suka membuang energi untuk memikirkan hal yang tidak penting." Ketus Valonia. Ia sudah merubah bahasanya saat bicara. Sudah tidak memakai kata anda dan saya.
Keyan tersenyum, manis sekali pikirnya. "Baiklah, tapi jangan menolak ku. Karena mulai detik ini aku akan selalu di sampingmu." Laki-laki ini mengeluarkan sepasang gelang tali yang ia bawa setiap hari. "Ini gelang milik kita, bukan milik orang lain. Kamu menyukainya, 'kan ? Sekarang kamu pakai lagi dan jangan pernah dilepas." Keyan meraih pergelangan Valonia. Tanpa perlawanan gadis itu menerima gelang tali dipasang. "Sekarang pasang juga untuk ku." Keyan memberikan gelang satunya pada Valonia.
Lagi-lagi gadis itu hanya menurut. Ada rasa yang aneh di dalam hatinya. Kenapa ia tidak bisa menolak? Apa memang dia sangat menyukai gelang itu hingga tidak menolak.
"Sudah."
Valonia selesai memasang gelang tali itu di tangan Keyan. Senyum di wajah laki-laki ini mengembang sempurna. Ya ! Keyan bahagia. Mulai detik ini ia sudah siap menghadapi apa pun. Dan memperjuangkan Valonia.
"Apa kita sedekat ini ?" Valonia masih melihat gelang tali di tangannya. "Aku anggap gelang ini sebagai permintaan maaf mu atas sikap buruk mu dan calon istrimu tempo hari." Sambungnya lagi. Tatapan tajam terpancar dari manik mata Valonia.
"Iya sangat dekat, ingat jangan memikirkannya. Cukup terima aku saja." Keyan kembali menggenggam tangan gadis itu. "Anggap saja sesuai pemikiran mu."
Yang terpenting gelang ini kembali pada pemiliknya
Valonia merasakan perasaan berbeda. Tangan ini begitu hangat dan nyaman. Levin dan Sonny kadang menggenggam tangannya juga.Tapi ia tidak merasakan apa pun. Ada apa ? Siapa laki-laki ini ?
"Lepaskan tanganku ! Sekarang pulanglah, aku mau tutup." Valonia kembali ketus. Ia menutup gorden kaca di dalam ruangan itu.
"Aku mau pulang ke rumahmu." Keyan berdiri dari tempatnya berjongkok sambil tersenyum.
Valonia menoleh pada Keyan. "Rumahku bukan penampungan. Sana pulang. Orang tuamu pasti cemas nanti." Gadis ini melenggang pergi.
Tanpa merasa malu, Keyan masih mengikuti Valonia hingga naik ke lantai tiga. Kini ia yakin gadis itu tinggal di situ. Keyan mengikuti Valonia masuk, matanya begitu jeli melihat tangan Valonia menekan sandi pintu rumahnya.
"Tempat tinggal mu nyaman. Aku ikut tinggal di sini ya." Keyan menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Aku tidak menerima anak kost." Valonia meletakkan tas lalu mengambil air di dalam kulkas. "Ini minumlah, tidak ada makanan, aku tidak bisa memasak." Jujurnya sambil menuang air putih dingin di dalam gelas.
Keyan menegakkan duduknya dan berkata. "Kalau kamu tidak bisa masak, terus makan apa ?" Ia tidak percaya jika gadis cantik ini tidak bisa memasak.
"Aku bisa masak nasi dan air, tapi tidak bisa masak sayur. Bang Levin dan Varen akan mengirim makanan ke sini. Atau Sonny yang datang memasak. Kemarin Alvan memasak untuk kami." Jelas Valonia sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Alvan ! Dia kesini ? Masuk ke sini, dan memasak." Keyan tidak percaya
Valonia mengangguk. "Iya. Sekarang sudah senja. Aku harus bersiap !" Usir nya halus pada laki-laki yang masih menatapnya tidak percaya.
"Aku akan memasak untukmu. Jangan sampai ada orang lain masuk ke sini dan memasak lagi untukmu." Keyan tiba-tiba posesif. Ia tidak membiarkan laki-laki mana pun, mendekati gadisnya. Apa lagi mencari perhatian Valonia.
"Tidak perlu. Mia juga bisa memasak." Tolak Valonia. Ia masih belum percaya. Kenapa Keyan datang meminta maaf dan bersikap manis. Patut dicurigai pikirnya.