
Alam semesta bersedih, permukaan langit nampak muram sejak pagi hari. Udara pun kian kencang berhembus. Hingga, debu jalanan berterbangan mengusik pemandangan.
Di dalam sebuah mobil mewah, seorang laki-laki paru baya memijat pangkal keningnya. Ia baru saja berhasil mengusir para pemburu berita dari halaman kantornya.
Johan Ganendra, tak menyangka jamuan makan siang bersama Keyan. Akan berdampak seperti itu, jauh dari rencananya. Tita ambil tindakan tanpa ijin darinya. Padahal, dipertemuan itu. Ayah Johan hanya ingin merayu Keyan dan saling ajukan syarat.
Syarat pun gagal, rayuan juga tak mempan. Yang ada malah kehebohan diciptakan Tita. Gadis itu bertindak sendiri di luar rencana. Sekali lagi Ayah Johan menghela nafas panjang menekan rasa emosinya yang membara.
Belum tiba di rumah, hujan pun mengguyur bumi. Ayah Johan menatap pantulan air yang mengenai kaca jendela mobilnya. Netra nya terpaku pada butiran-butiran hujan. Kenangan masa lalu sangat menghantuinya akhir-akhir ini.
Ayah Johan tak ingin kehilangan kejayaannya. Tak ingin hancur di mata keluarganya. Apa yang telah diraihnya selama ini akan tetap ada dan seterusnya ada. Kuncinya, hanya ada pada Keyan Ganendra putranya yang terusir. Ayah Johan harus menarik kembali putranya. Jika tidak ingin semua kejayaannya lenyap dalam sekejap mata.
Mobil Ayah Johan berhenti tepat di halaman rumahnya. Sang sopir membukakan pintu mobil dan memayungi Ayah Johan hingga masuk ke dalam teras rumah.
Langkah kaki Ayah Johan terdengar nyaring terpantul di atas lantai. Siapa pun yang mendengarnya tahu, jika langkah itu lebar dan tergesa-gesa. Iris mata Ayah Johan langsung membidik tajam pada Bunda Arini yang duduk di ruang tengah.
"Kamu puas Ikut memojokkan aku ?! Apa kamu sudah merasa hebat ?!" Cecar Ayah Johan. Amarah telah meliputinya. Hingga, tak ada salam manis sebagai pertemuan setelah seharian bekerja meninggalkan sang istri.
"Yang aku lakukan adalah yang seharusnya aku lakukan sejak dulu untuk putraku." Bunda Arini menoleh ke arah suaminya. Netra nya tak setajam Ayah Johan namun lebih datar dan terkesan acuh.
"Arini, kamu boleh menerima dan mengakui wanita itu jadi menantu mu. Tapi tidak untukku !" Tekan Ayah Johan dengan sangat jelas.
"Apa salah Valonia padamu?"
"Dia tidak pantas untuk Keyan. Wanita dari kalangan biasa tak sederajat. Dia bahkan mempengaruhi Keyan selama ini ! Sebelumnya anak itu menurut padaku !" Ayah Johan setengah berteriak. Kemarahannya memuncak ketika istrinya terdengar membela Valonia Jasmine.
"Apa kamu lupa ? Jika aku juga orang biasa tidak sederajat denganmu." Nada suara Bunda Arini merendah. Ada belati kasat mata menggores segumpal daging lembut di tubuhnya. Rasanya begitu ngilu dan sesak.
"Justru itu, kamu harus bersyukur. Karena aku telah mengangkat derajat mu ! Sehingga kamu jadi wanita terpandang karena statusku."
Bunda Arini berdiri dari tempatnya duduk. Manik matanya penuh amarah yang tak pernah ia perlihatkan selama ini. Suami yang ia cintai menjadi sosok yang sombong atas kejayaannya. Lupakah dirinya ? Dalam setiap jengkal langkahnya ada doa utama untuk keberhasilannya.
Ayah Johan bungkam, dadanya bergemuruh hebat. Emosi yang tak terkendali dari hatinya, membuat kalimat hinaan pun terucap dari bibirnya. Kisah masa lalu terungkap kembali, perjalanan cintanya yang berbeda tipis dari sang putra. Bunda Arini dipaksa menikah dengannya karena rasa cinta Ayah Johan yang besar. Meski menikah paksa tapi Bunda Arini perlahan menerima Ayah Johan dan hidup bahagia.
Tapi kenapa, ketika kisah cinta itu terjadi pada putranya, Ayah Johan tak menerima Valonia sebagai menantu ? Di sini pernikahan Keyan dan Valonia bukan sepenuhnya paksaan melainkan saling mencintai. Kenapa Ayah Johan masih keras hati untuk menikahkan Tita dan Keyan ?
...----------------...
Tak jauh berbeda panasnya dengan kediaman Johan Ganendra. Di rumah Pak Anton sedang terjadi adu mulut. Saling tuding dan menyalahkan.
"Kamu gegabah, Ta ! Lihat hasil kecerobohan mu !" Ayah Anton menjatuhkan tubuhnya di sofa serta mengusap kasar wajahnya. "Kantor Papa jadi sorotan dan menuai kritik yang pedas."
"Itu semua aku lakukan karena pergerakan Papa dan Om Johan begitu lambat. Lihatlah, Keyan dan wanita itu telah menikah." Tita tak menerima begitu saja untuk di salahkan.
"Tapi bukan seperti itu caranya. Percuma kamu menyerang istrinya. Karena Keyan akan berdiri di depan wanita itu sebagai pembelanya. Yang harus kamu lakukan adalah membuat Keyan ada dalam genggaman mu dengan cara yang halus."
"Cukup, Pa ! Jangan salahkan Tita terus. Kalian juga ikut andil dalam masalah ini." Ibu Tania menengahi debat antara suami dan putrinya.
"Aku tidak tahu jika dia punya cara lain saat itu. Andai dia mengatakannya lebih dulu mungkin aku bersiap untuk itu."
"Memangnya, apa yang kalian rencanakan untuk Keyan?" Selidik ibu Tania. Wanita paruh baya ini telah hilang rasa untuk menjadikan Keyan sebagai menantunya.
"Aku dan Johan ingin menjebak Keyan, sebagai bahan untuk menekannya. Tapi anak itu seolah tahu."
"Karena aku tak yakin rencana itu berhasil. Makanya aku minta seseorang untuk membuat berita itu dan mengambing-hitamkan Valonia atas semua yang terjadi pada keluarga Ganendra." Seru Tita. Raut wajahnya sangat kesal mengingat gagalnya rencana yang ia buat.
"Berhenti sampai disini, Ta ! Mungkin awalnya Mama setuju perjodohan kalian. Tapi setelah melihat apa yang dilakukan Keyan, tidak ada tempat untukmu di hatinya. Jangan sakiti dan membuang harga dirimu hanya untuk laki-laki itu. Mama tidak setuju." Tegas Ibu Tania.
"Aku tidak akan berhenti !"
Tita bangkit dari tempatnya duduk dan melangkah kasar ke arah kamarnya. Hatinya benar-benar geram. Padahal untuk menyerang Valonia Jasmine adalah rencana B. Yang seharusnya diandalkan adalah rencana A nya. Yaitu menjebak Keyan melalui minuman dan makanannya. Namun sayang gelagat itu telah Keyan baca.