Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Mempertaruhkan Hak Istimewa



Dua Minggu Kemudian...


Ujian akhir baru saja di tempuh. Beban yang terasa berat kini melonggar sudah. Tapi, mereka belum tenang jika hasilnya belum keluar. Penentuan atas perjuangan tiga tahun mereka akan segera diketahui.


Memuaskankah?


Luluskah ?


Itu yang sekarang menjadi tanda tanya di hati tiap murid SMA. Termasuk Valonia Jasmine. Meski dirinya cerdas tapi rasa takut itu tetap ada. Perjalanan menuju bangku kuliah membutuhkan nilai yang baik.


...----------------...


Di penghujung senja. Valonia dan teman-temannya masih berada di pantai. Memberi ruang untuk paru-paru mereka agar menampung oksigen sebanyak-banyaknya. Melepas penat atas pertempuran dengan buku-buku dua minggu lalu.


"Apa kamu yakin, Valo memerimamu ?" Alvan berjalan di sisi Keyan. Dua laki-laki ini melangkah di belakang Valonia dan dua sahabatnya.


Keyan tersenyum sambil menatap punggung Valonia. "Aku yakin, dia menerimaku. Aku juga sangat yakin jika Jasmine ada rasa yang sama denganku."


"Kamu siap, hak istimewamu sebagai penerus usaha keluargamu dicabut ? Apa kamu sudah siap hidup dengan biasa-biasa saja. Jika menentang keinginan Ayahmu." Pertanyaan kedua dan sama Alvan lontarkan. Dalam hati kecilnya ia sangat meragukan sahabatnya itu.


Keyan menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah laut. Ia mengirup udara yang panjang sebelum menjawab pertanyaan Alvan. Ada perasaan takut di hatinya, takut jika dirinya tak mampu bertahan di luar sana. Jika segala fasilitasnya di cabut sang Ayah.


"Aku akan belajar. Aku mencintai Jasmine karena itulah aku menolak keinginan Ayah. Aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh." Keyan akhirnya menjawab setelah terdiam sesaat.


"Aku hanya bisa mendukungmu. Ini adalah keputusan yang besar. Ancaman Ayah Johan tidak main-main. Aku harap kamu berpikir ulang." Alvan menepuk pundak Keyan. Kemudian meninggalkannya sendiri.


Keyan masih berdiri di bibir pantai, menatap kejauhan. Hatinya sudah terpaut pada seorang wanita bernama Valonia Jasmine. Entah kapan perasaan itu tumbuh hingga menjadi kuat. Konyol memang ! Tapi itu ah untuk pemula seperti Keyan dalam dunia percintaan. Cukup dirinya sendiri yang tahu ke dalaman cintanya.


"Kenapa melamun?" Suara Valonia memecahkan kaca lamunan Keyan. Gadis ini sangat cantik sore ini.


"Memikirkan jawaban apa yang kamu berikan nanti." Keyan menoleh pada Valonia dan tersenyum. "Aku pertama jatuh cinta. Baru merasakan bagaimana menyukai seseorang, merindukan dan takut kehilangan. Aku juga takut kecewa karena aku tidak mempersiapkan hatiku untuk itu." Sambungnya lagi.


Valonia terdiam, membiarkan angin meniupkan rambut panjangnya. Ia menatap mega-mega merah yang mulai pudar dan berganti gelap.


"Key, kamu tahu konsekuensinya jika menentang Ayahmu. Hak istimewamu sebagai putra dan pewaris usaha keluarga Ganendra akan dihapus. Apa kamu siap kehilangan semua itu ?" Valonia menoleh ke arah Keyan. "Saranku, turutilah Ayahmu. Perjalanan kita masih panjang. Tentang perasaanmu padaku. Mungkin itu hanya sementara, setelah kamu  kuliah disana nanti. Maka banyak macam rupa gadis yang kamu temui." Paparnya berusaha menggoyahkan keputusan Keyan


"Jasmine, perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku benar-benar menyukaimu. Aku tidak ingin jauh dari kamu. Mengertilah dengan keputusanku. Tanpa hak istimewa itu, aku yakin bisa." Keyan masih keras dengan pendiriannya.


Valonia tersenyum. "Hidup ini tidak sederhana, Key. Perlu mental baja. Persaingan di luaran sana sangat tinggi terlebih bidang ekonomi." Ia kemudian berpaling  menghadap Keyan. "Jika aku menolakmu bagaimana?" Tanyanya menatap lekat netra laki-laki itu.


Keyan tersentak. "Jangan katakan itu, Jasmin ! Aku tidak bisa menerimanya." Ia sedikit meninggikan suaranya. Hingga mengundang perhatian teman-teman mereka.


"Katakan saja, bagaimana jika aku menolakmu." Desak Valonia memajukan langkahnya.


"Aku akan membenci mu !" Keyan menatap tegas manik mata gadis cantik di depannya ini.


Valonia tersenyum. "Sudah gelap ayo pulang." Ucapnya dengan lembut.


Keyan bergeming, masih menatap mata Valonia Jasmine. Pertanyaan yang baru dilontarkan gadis itu mengganggunya. Valonia menarik tangan Keyan agar mengikutinya meninggalkan bibir pantai.


"Jangan tanyakan itu lagi, aku akan hancur Jasmine." Keyan tiba-tiba memeluk Valonia dari belakang. "Aku benar-benar mencintaimu. Aku siap hidup tanpa fasilitas dari Ayah, asal kamu selalu mendukungku. Aku tidak bisa jauh dari kamu." Ucapnya lirih sambil mengeratkan lingkaran tangannya.


...----------------...


Keyan baru saja membersihkan tubuhnya, ia tersenyum sendiri mengingat dengan beraninya. Ia memeluk Valonia Jasmine. Rasanya benar-benar bahagia, jika banyak menghabiskan waktu bersama gadis pujaan  hatinya itu.


"Ada apa, Bi ?" Keyan melihat asisten rumah tangganya yang mengetuk.


"Ditunggu Tuan dan Nyonya untuk makan malam, Nak." Jawab wanita paru baya yang bernama Sari ini


"Iya, aku turun sekarang." Keyan menarik pintunya dan mengikuti langkah Bi Sari menuruni undakan tangga.


Di meja makan, Ayah Johan dan Bunda Arini sudah duduk menunggu. Melihat kedatangan Keyan, Bunda Arini segera mengambil piring dan mengisinya untuk Ayah Johan.


"Ayo makan." Bunda memberikan piring pada Keyan. Beliau membiarkan putranya itu mengambil sendiri makanan nya.


"Kamu dari mana, Key ?" Ayah Johan membuka suara. Karena melihat Keyan pulang ke rumah saat hari sudah menggelap.


"Jalan-jalan, Yah. Sama teman-teman." Keyan menjawab setelah menelan makanannya.


Mereka tidak lagi melanjutkan percakapan. Hanya fokus untuk makan saja.  Usai makan malam, Ayah Johan masih duduk di meja makan, sementara Bunda Arini membantu Bi Sari membersihkan meja.


"Key, dihari pengumuman kelulusanmu. Saat itu juga keberangkatanmu. Siapkan semuanya." Ayah Johan mengungkit kembali rencananya.


"Yah, aku menolak untuk pergi ! Jangan paksa aku. Disini pun aku bisa kuliah." Keyan tetap pada keputusannya.


"Kenapa, Key ?! Disana kamu tidak sendiri ada Tita dan Alvan yang akan menemanimu. Kamu akan tinggal bersama Alvan !" Ayah Johan terpancing emosi.


"Ayah tidak boleh memaksaku, pokoknya aku tidak mau pergi ke sana." Keyan beranjak dari kursi berniat meninggalkan meja makan.


"Apa karena gadis itu ?! Ayah tahu kamu menyukainya. Tapi jangan korbankan masa depan kamu. Key !" Ayah Johan kembali membentak.


"Iya. Karena dia aku tidak mau pergi. Aku mencintainya. Aku tidak bisa jauh darinya. Kami bisa belajar sama-sama seperti sebelumnya." Keyan berpaling melihat pada Ayah Johan.


"Key, dengarkan Ayahmu dulu. Nak ! Segala keputusan yang diambil Ayah adalah untuk kebaikanmu dan masa depanmu." Bunda Arini ikut bersuara karena kondisi sedikit memanas.


"Apa kamu siap, jika hak istimewamu dicabut ?! Kamu tidak bisa apa-apa Key ! Lebih baik menurut pada Ayah, kuliah di Amerika. Dan pulang siap menjadi pemimpin di perusahaan kita." Ayah Johan meragukan kemampuan putranya.


"Cabut saja aku tidak perduli. Aku tetap kuliah disini." Tegas Keyan.


"Baik ! Mulai sekarang, kamu cari uang untuk biaya pendaftaran kuliahmu. Jangan gunakan fasilitas yang Ayah berikan ! Terhitung dari hari ini. Berjuanglah mendapatkan uang. Ayah ijinkan kamu tinggal disini hingga hari kelulusan mu, setelah itu cari tempat tinggalmu sendiri." Ayah Johan pergi ke ruang kerjanya.


Keyan mematung. Ayahnya tidak main-main. Ia pun tetap pada keputusannya. Ya ! Mulai malam ini, Keyan harus mencari pekerjaan dan tempat tinggal yang akan ditempatinya nanti.


"Nak, menurutlah ! Belum terlambat." Bunda Arini sudah banjir air mata. Ketika keputusan sudah ditetapkan suaminya.


Keyan mengusap air mata yang membasahi wajah bundanya dan berkata. "Bun, aku tidak bisa ! Biarkan aku berjuang. Aku tidak bisa jauh dari Jasmine, aku mencintainya."


"Kenapa tidak  menjalin hubungan jarak jauh saja. Sekarang zaman digital." Bujuk Bunda Arini masih mengusap air matanya.


"Aku yang tidak bisa, Bun ! Jasmine nyaris sempurna. Selain cantik ! Dia juga cerdas, lembut dan baik. Jasmine juga dewasa. Banyak laki-laki yang ingin hidup bersamanya. Aku takut dia jadi milik orang lain jika aku pergi."  Keyan duduk di sofa mengusap wajahnya frustasi.


Bunda terdiam menatap wajah putranya, cuplikan tentang kisah dirinya dan suami muncul begitu saja. Saat muda Ayah Johan seorang pekerja keras. Kehidupan yang susah sudah pernah ia jalani saat mulai merintis usahanya. Kerap kali mendapatkan penolakan dan remehan dari orang-orang.


Tapi, Keyan bukan Ayah Johan. Itulah membuat Bunda Arini bersedih. Putranya begitu manja. Selama ini Keyan tidak pernah bekerja hanya menerima dan menikmati.


Demi seorang gadis, Keyan rela kehilangan segalanya. Apa cinta sudah membutakannya ?