
Valonia sudah membaik, berkat bantuan dan penjagaan ekstra dari para sahabatnya. Gadis ini mau tidak mau harus mengikuti jadwal yang dibuat oleh Mia. Tapi tidak langsung mendapatkan hasil, semuanya harus diterapkan secara perlahan.
Mereka harus berjuang keras membantu Valonia, beberapa hari ini ia sudah makan dengan teratur, istirahat tepat waktu. Banyak masukan positif yang mereka berikan. Sehingga Valonia tidak merasa kesepian.
Tapi penyakit insomnianya tidak langsung sembuh, setidaknya tubuhnya tidak terlalu lemas seperti kemarin. Ada Vitamin dan makan tepat waktu yang memulihkan tenaganya.
Seperti malam sebelumnya, Valonia kembali keluar dari butik. Jika kemarin malam ia lari agar cepat lelah dan ngantuk. Maka malam ini ia memutuskan untuk jalan kaki.
Valonia melangkah di atas trotoar. Dengan tangan dimasukan ke dalam saku jaketnya. Meski menjalani kehidupan yang terbilang berantakan tapi Valonia tidak terjerumus dalam kehidupan dunia malam.
Kakinya terus melangkah dengan tatapan lurus ke depan. Dalam langkahnya Valonia berusaha mencari sesuatu yang hilang dari diri nya. Ya, dia merasa kesepian ditengah keramaian. Merasa buta ketika matanya bisa melihat dengan jelas, merasa tuli saat pendengarannya masih berfungsi. Valonia kesal. Kenapa terjebak dengan kehampaan itu selama bertahun-tahun.
Rasanya sangat lelah, ingin Valonia menyerah tapi ia tidak bisa. Ada kepingan cerita yang sangat berharga di hidupnya. Namun kepingan cerita itu hilang, kemana ia harus mencarinya ?
"Valonia..." Lirih Alvan. Netranya menangkap sosok yang tengah menyeberang bersama banyaknya pejalan kaki di depan mobilnya yang berhenti. "Benar itu Valonia, kemana dia malam-malam seperti ini?"
Lampu berubah hijau, Alvan terburu-buru menepi dan mencari keberadaan Valonia. Alvan melihat kesana-kemari, akhirnya ia bisa melihat sosok yang ia cari.
"Valonia awas !" Teriak Alvan saat ada sepeda melintas. Dengan sigap ia menarik tubuh Valonia . Jantungnya berdegup kencang andai dia terlambat bisa saja Valonia terserempet sepeda itu. "Apa yang kamu pikirkan ! Sepeda itu hampir menabrak mu." Bentaknya kesal.
Valonia hanya diam mengamati wajah laki-laki yang menolongnya. Ia bisa melihat raut cemas di wajah Alvan. "Terimakasih..." Ucapnya pendek.
Alvan menyadari jika ia masih memegang lengah Valonia. "Kamu mau kemana? Ini sudah malam." Ia melepaskan tangannya.
"Mau pulang." Valonia melangkah meninggalkan Alvan.
"Valo tunggu ! biar aku antar, kamu pulang ke mana?" Alvan mengejar Valonia dan menyentuh bahunya.
Gadis itu berbalik. "Anda tahu nama saya?" Tatapan Valonia bingung dari mana laki-laki ini mengenalnya ? Seingatnya, ia tidak pernah berkenalan dengan seseorang secara pribadi.
Alvan tak kalah herannya, bahkan ia terkejut. "Aku Alvan, kamu lupa ?" Ia tertawa karena merasa lucu.
Valonia terlihat biasa saja, tatapannya juga dingin tidak seperti lima tahun lalu. "Maaf, tapi saya merasa tidak mengenal anda, saya harus pulang." Ia melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Alvan yang tercengang.
Kenapa Valonia bersikap seperti itu? Ada apa ini ?
Karena masih penasaran, Alvan melangkah mengikuti Valonia diam-diam. Setibanya di halaman butik. Alvan dibuat terkejut karena ada Sonny di sana menunggu gadis itu.
"Dia bersikap tidak mengenalku, tapi pada Sonny biasa-biasa saja. Apa karena kejadian waktu reunian itu? Tapi Valonia bukan tipe pendendam. Dan kenapa tadi tatapannya terlihat dingin." Alvan mengamati dari jauh.
Ia melihat, Sonny meninggalkan tempat itu setelah berbicara pada Valonia. Alvan juga melihat jika gadis itu naik ke lantai atas melalui tangga. Ia menebak jika Valonia tinggal di lantai tiga.
Alvan kembali ke mobilnya, dengan sejuta tanya di benaknya. Kenapa Valonia bersikap dingin padanya ? Bahkan seolah tidak mengenalnya.
Hari ini Keyan sudah resmi menduduki jabatan wakil direktur di kantor Ayah Johan. Laki-laki ini nampak serius dalam bekerja, sejak kedatangannya tadi pagi hampir seluruh karyawan wanita menjadi semangat untuk bekerja. Mereka seakan mendapatkan Vitamin mata yang mujarab.
Baru satu hari bekerja secara langsung di balik meja. Keyan hampir saja melewati makan siangnya. Ia meregangkan ototnya yang terasa pegal kemudian Keyan mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk."
"Key, aku bawakan makan siang untukmu." Tita datang membawa makan siang untuk laki-laki yang di cintainya itu.
"Kebetulan aku belum makan siang." Keyan tersenyum lembut.
Tita merasa heran, sikap Keyan tiba-tiba lembut dan hangat dari biasanya. "Ayo makan dulu. Jangan lewatkan makan siangmu." Gadis berambut panjang ini menyiapkan makanan untuk Keyan.
Beberapa hari lalu, Keyan sudah memikirkan perkataan Alvan. Jika dilihat lagi Tita adalah gadis baik, tidak salahnya bila Keyan mencoba membuka hatinya untuk gadis pilihan orang tuanya itu. Mengingat dukungan Tita yang selalu bersamanya lima tahun ini.
"Apa Om Anton sudah bicara padamu?" Keyan bertanya di sela suapannya.
"Iya, apa kamu menerima perjodohan kita ?" Tita sangat berhati-hati dalam bertanya.
Keyan mengangguk sambil tersenyum. "Iya aku menerimanya." Jawaban yang tanpa ragu ia ucapkan.
Tita tersenyum haru, perasaannya sangat bahagia. Akhirnya penantiannya tidak sia-sia. Keyan laki-laki pujaan hatinya itu menjadi miliknya sekarang. "Terimakasih Key. Aku bahagia." Ucapnya sambil menangis.
Keyan meletakkan piringnya di atas meja. Lalu menarik Tita ke dalam pelukannya dan berkata. "Maafkan aku, terlalu lama mengabaikanmu. Terimakasih selalu berada di sampingku selama lima tahun ini. Ayo kita bertunangan."
Tita menarik tubuhnya dari pelukan Keyan. Netranya menatap lekat wajah tampan itu. "Kamu tidak bercanda, 'kan ? "
"Aku serius. Nanti akan aku bicara pada kedua orang tua kita. Setelah itu baru kita pesan cincin pertunangan serta bajunya." Keyan mengusap sisa air mata di wajah Tita. Gadis itu mengangguk dan kembali menenggelamkan wajahnya di pelukan Keyan.
Apakah ini sudah benar ? Sebagai laki-laki Keyan harus mempertanggung jawabkan perkataannya. Ini langkah yang telah diambilnya. Apakah nanti ada penyesalan ?
Gadis di pelukannya adalah Tita sahabatnya. Namun, di benaknya muncul wajah Valonia. Ada secuil rindu di dalam dirinya. Tapi, Keyan menepis itu semua.
Ia bahkan berpikir, dengan sengaja mengundang Valonia Jasmine nanti di acara pertunangannya. Keyan ingin melihat reaksi gadis itu.
"Key, aku harus kembali ke kantor Papa. Jam istirahat hampir habis." Tita merapikan bekas makan siang Keyan.
"Iya, aku tidak bisa mengantarmu. Lihat meja itu setumpuk berkas harus aku kerjakan hari ini." Keyan menunjuk ke atas meja kerjanya.
Tita tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku pulang ya." Pamitnya meninggalkan ruangan itu
Keyan menghembuskan nafas panjang, lalu bersandar di dinding sofa. Ia memijit pangkal keningnya. Kata yang baru saja ia ucapkan pada Tita. Apakah ia sudah yakin ?