Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Ungkapan Cinta



Pergerakan kecil di atas kasur menandakan jika sebentar lagi pemiliknya akan bangun. Hawa dingin memeluknya erat tak membiarkan ia beranjak dari tempat ternyaman. Rintik hujan dini hari pun seolah nyanyian merdu di indra pendengaran Valonia, hingga membuatnya ingin tetap tidur. Tunggu ! Mengingat tentang tidur. Valonia merasa dirinya tidur sangat lama. Hingga tidak menyadari datangnya pagi. Apakah mimpi buruk itu tidak datang ?


Sekilas netra nya menangkap pantulan dari kaca pintu lemarinya. Ada tangan yang melingkar di tubuhnya berlapis selimut. Dada Valonia berdebar, siapa yang lancang masuk dan menyusup ke dalam kamarnya? Valonia perlahan membalik tubuhnya, harum parfum ini tercium kembali setelah dua belas bulan lamanya. Tidak mungkin dia, 'kan ? Begitu pikirnya. Valonia mencoba menekan rasa takutnya, sekuat hati ia bersikap tenang.


Dada Valonia semakin berdegup kencang ketika tengkuknya merasakan sensasi hangat dari hembusan nafas yang beraturan dibelakangnya. Apa yang telah dilakukan orang ini ? Tubuh Valonia separuh berbalik setelah perlahan-lahan mengangkat tangan berat yang menimpa tubuhnya. Ia sengaja tidak bergerak refleks atau berteriak histeris. Karena dengan begitu ia mudah mencekik orang yang telah lancang memeluknya.


Mata Valonia membulat sempurna, ketika tahu pemilik tubuh itu adalah Keyan. Ya ! Keyan Ganendra telah kembali. Laki-laki berparas tampan ini terlihat lelah dan lelap. Bahkan dia tidak menyadari hari sudah pagi.


Valonia mengabsen tiap sudut wajah tampan Keyan. Alis tebal dan rapi, mata yang berkelopak ganda. Hidung mancung dan bibir kemerahan. Kulitnya halus dan putih, memang benar-benar tampan.


Jari Valonia tergerak merapikan poni yang jatuh di kening Keyan. "Kapan kamu kembali ?" Bisiknya pelan. Manik matanya kembali menyusuri lekuk wajah Keyan, hingga tatapannya terhenti di dada laki-laki itu.


Valonia tersadar lalu perlahan melihat dadanya sendiri. Tidak terjadi apa-apa semalam. Tapi ia tidak ingin gegabah dengan penilaiannya. Valonia harus memeriksa dirinya sendiri, ia pasti merasakan perubahan jika hal yang tak diinginkan terjadi.


Valonia bergerak perlahan untuk turun dari kasur. Meski ada pergerakan, Keyan masih saja terlelap. Valonia segera ke kamar mandi. Ia melihat tubuhnya di kaca. Tidak ada tanda-tanda yang tertinggal di sana. Ia yakin memang tidak terjadi apa-apa. Meski nyenyak Valonia pasti merasakan jika Keyan ingin menjahatinya.


Valonia bergegas keluar dari kamar dan membiarkan Keyan untuk tidur. Di ruang tengah Valonia dikejutkan dengan beberapa koper serta pakaian yang Keyan kenakan semalam tergeletak di atas sofa. Rupanya laki-laki itu tak pulang ke rumah orang tuanya atau pun di apartemennya. Tapi kenapa ?


Valonia memungut pakaian yang tergeletak itu lalu memasukannya ke tempat pakaian kotor. Ia juga menyisihkan koper-koper Keyan. Setahun ini Valonia tidak lagi merepotkan orang untuk masalah makan. Gadis ini sudah mahir di dapur. Valonia belajar dengan giat untuk bisa memasak bersama Varen dan Levin.


"Selamat pagi sayang."


Keyan berdiri di belakang Valonia, suaranya terdengar serak. Rambutnya acak-acakan. Tapi tak mengurangi ketampanannya meski pun berwajah bantal. "Aku sangat merindukanmu, Jasmine ! Mereka menghukum ku." Sambungnya lagi. Tangannya melingkar erat di tubuh Valonia saat menata piring di atas meja.


"Key, kemana saja kamu selama ini ?" Valonia berbalik menghadap Keyan. Netra nya berembun ada kerinduan yang tak terungkap di sana.


"Kamu merindukanku ?" Keyan tersenyum semakin merapatkan tubuhnya. Rasanya sangat bahagia bisa memeluk wanita kesayangannya ini.


"Orang-orang mencari mu, termasuk keluargamu." Lirih Valonia. Embun di bola matanya mencair perlahan. Ia mendorong sedikit dada Keyan agar tak terlalu menghimpitnya.


"Syutt, jangan menangis ! Aku sudah di sini." Keyan membawa tubuh Valonia di pelukannya lagi. Ia mengecup penuh cinta pucuk kepala cinta pertamanya itu. "Aku mencintaimu, Jasmine. Sejak dulu hingga sekarang. Biarkan aku berada di sisimu. Sepanjang hidupmu nanti." Ungkap Keyan dengan penuh perasaan.


Valonia menarik tubuhnya. Tak ingin Keyan merasakan degup jantungnya. Ia hanya menunduk tak mampu menatap wajah laki-laki di hadapannya ini, Valonia terlalu malu.


"Ke—kenapa kamu ada di rumahku tadi malam ?" Pertanyaan untuk mengalihkan topik ungkapan cinta.


Ciuman pertamaku


"Kemana aku harus pulang ? Jika istriku disini." Keyan kembali memeluk Valonia. Kalimat penjebak itu sengaja ia lontarkan.


"Tapi, Key ! Kita belum menikah."


"Pernikahan kita sudah terdaftar." Perkataan Keyan seperti bom waktu.


"Ta—tapi, kamu belum melamar ku." Valonia sangat menyesal setelah mengeluarkan kalimat itu. Wajahnya semakin merah. Entah kenapa cuaca sedingin pagi ini terasa gerah.


"Valonia Jasmine. Maukah? Kamu menikah denganku." Lamaran dadakan jauh dari kata romantis dari Keyan mampu membuat tubuh gadisnya bergetar.


"Apa tidak ada tempat yang bagus selain dapur ?!"


Suara tegas dan berat itu mengalihkan perhatian Keyan dan Valonia. Di ambang pintu, Varen berdiri bersama Sonny dan Alvan. Wajah ketiganya terlihat datar.


"Kalian mengganggu saja." Gerutu Keyan kesal. Ia menarik tangan Valonia yang tertunduk malu melangkah menuju ruang tengah.


"Kamu yang tidak tahu aturan. Aku meminta Alvan mengantarmu ke hotel kenapa kamu kabur ?!" Varen meninju perut Keyan.


"Apa yang kamu lakukan pada Valonia ?!" Sonny ikut meninju.


"Harusnya aku  mengurungmu di kamar hotel. Dasar penyusup !" Alvan juga tak ketinggalan. Bahkan tinjunya sedikit lebih keras dari Varen. Ia sengaja melakukannya karena merasa kesal pada sahabatnya itu.


"Kalian tahu, Keyan pulang ?"


Seketika tiga laki-lagi yang menjadi tamu pagi ini menelan Saliva nya. Mereka melangkah pelan duduk di sofa. Valonia yang sangat malu tadi berganti kesal. Netra nya tajam menatap satu persatu ke empat laki-laki itu.


"Aahh ! Perutku kram pasti karena mereka memukulku." Rintihan Keyan menarik perhatian Valonia guna menyelamatkan para sahabatnya itu.


Valonia langsung menoleh pada Keyan. "Sebaiknya kita sarapan saja. Mungkin perutmu kosong saat menerima pukulan." Ia membantu Keyan berdiri. Melupakan pertanyaannya tadi.


Senyum licik terbit di bibir Keyan. Ia menoleh ke belakang mengejek tiga laki-laki yang melihatnya kesal.